Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Menjaga Resolusi dan Mental Resilience

Menjaga Resolusi dan Mental Resilience

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Sebagai seorang guru/pengasuh dalam lingkungan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, dengan amanah tambahan sebagai Humas dan Penanggung Jawab Teknologi Informasi Komunikasi (TIK)/Pengelola Website Sekolah, Sekretaris Masjid “Ashabul Kahfi” yang terkadang sebagai “Imam Pengganti”, Sekretaris Program Tahfidzul Qur’an, Penanggung Jawab PMR dan Tapak Suci, tentu harus memiliki semangat dan mental resilience.  Bagaimana tidak? Penulis disatu sisi harus memenuhi kewajiban, tugas, dan amanah tersebut, disisi lain, penulis juga merasa masih perlu mengembangkan kapasitas diri dan tambahan pemasukan untuk pembiayaan beragam kegiatan produktif. Menjadi seorang guru pesantren yang memegang amanah IT sekaligus aktif sebagai blogger dan pejuang ilmu (Kuliah S2 Non Reguler Program Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar) adalah peran yang sangat mulia namun menantang. Kuncinya bukan pada “bekerja lebih keras”, melainkan pada Integrasi Sistem dan Efisiensi Waktu.

Berikut adalah rancangan Strategi dan Resolusi 2026 yang sekiranya dapat membuat daya tahan penulis lebih terakomodir dalam melakukan pelbagai kegiatan produktif, baik dalam lingkungan pondok maupun di luar lingkungan pondok.

Resolusi Strategis 2026 (The Integrated Path)

1. Transformasi IT Pesantren (Work Smarter)

Sebagai penanggung jawab TIK, target penulis adalah membangun sistem yang “berjalan sendiri”. Yang harus dilakukan adalah Automasi Website dengan fitur scheduled posts pada website sekolah. Penulis memerlukan sistem di mana santri/pengurus lain bisa menyetor tulisan, dan selanjutnya penulis hanya berperan sebagai kurator/editor. Berikutnya penulis tentu memerlukan Smart Boarding School dengan mengimplementasikan satu sistem informasi pesantren (SIP) yang terintegrasi untuk mengurangi beban admin manual, sehingga penulis memiliki lebih banyak waktu luang.

2. Kapasitas Diri (The Spiritual Core)

Jangan jadikan tugas IT sebagai penghalang ibadah. Karena itu, penulis sangat butuh untuk mengintegrasikan keduanya, yaitu antara Tahfidz Digital, dengan menggunakan aplikasi mutaba’ah atau rekaman suara di HP untuk menyetor hafalan secara mandiri atau kepada syeikh saat jeda mengajar, dengan Majelis Ilmu sebagai Konten. Penulis akan tetap meluangkan waktu untuk menghadiri dauroh/pengajian kitab (offline maupun online), bukan hanya sebagai jamaah, tapi sebagai “pencatat”. Apa yang dipelajari di majelis, jadikan draf tulisan blog segera setelah acara selesai.

Strategi Menambah Pemasukan (The Teacher-Blogger Income)

Sebagai guru blogger, penulis tentu saja perlu memiliki otoritas moral dan intelektual,  tanpa mengganggu muruah (wibawa) sebagai guru. Karena itu, diperlukan:

1. Monetisasi Berbasis Keahlian (High Value).

Hal ini bisa dilakukan dengan jalan membuka Jasa Pembuatan Website Lembaga Islam. Saat ini banyak pesantren atau masjid membutuhkan website profesional. Gunakan keahlian IT ini (tentu bisa dengan bantuan profesional, web developer yang dikenal) untuk menawarkan jasa ini secara freelance. Berikutnya bisa dengan jalan membuat E-Book Materi Kitab/Pelajaran. Ubah catatan pengajian kitab menjadi e-book (PDF) yang rapi dan menarik. Jual melalui landing page blog atau platform seperti TipTip/Karyakarsa.

2. Monetisasi Blog (Passive Income)

Bisa dilakukan dengan jalan Affiliate Marketing Buku & Alat Sekolah. Cantumkan link afiliasi (seperti Shopee/Tokopedia) untuk kitab-kitab referensi, alat tulis, atau perangkat teknologi yang Anda ulas di blog, atau bisa pula dengan Google AdSense khusus Niche Keislaman. Pastikan blog memiliki trafik tinggi dengan membahas isu-isu santri, metode tahfidz, atau tutorial IT untuk pendidikan Islam.

Manajemen Waktu: Metode “Satu Waktu, Dua Hasil”

Agar tetap semangat dan tidak burnout, gunakan pembagian waktu berbasis Ritme Pesantren:

Waktu Kegiatan Output Ganda
Ba’da Subuh Tahfidz & Muroja’ah Ketenangan jiwa + Bahan tulisan “Tips Menghafal”.
Jam Kerja Mengajar & Kelola IT Gaji pokok + Dokumentasi kegiatan untuk web sekolah.
Ba’da Ashar Majelis Ilmu / Kitab Ilmu baru + Kerangka (outline) postingan blog.
Malam (1 Jam) Deep Work (Menulis/Coding) Konten blog / Proyek IT sampingan.
Weekend Dauroh & Rekreasi Refreshing + Networking dengan sesama asatidz/IT.

1. Niatkan sebagai Dakwah Digital. Pandanglah mengetik di blog dan mengelola web sekolah sebagai bagian dari jihad intelektual. Ini akan menjaga motivasi saat lelah.

2. Kurangi Media Sosial Konsumtif. Alihkan waktu scrolling menjadi waktu membaca kitab atau muroja’ah.

3. Gunakan AI sebagai Asisten. Gunakan tools AI (seperti Gemini ini) untuk membantu menyusun struktur tulisan blog atau mencari bug pada kode website sekolah agar kerja IT Anda lebih cepat.

“Seorang pengajar yang menulis sedang membangun jembatan peradaban yang melampaui usia hidupnya.”

Demikian catatan singkat ini, lebih kepada memotivasi diri sendiri, menjaga Resolusi 2026 dan Mental Resiliensi. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR