
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Menjadi seorang guru di pondok pesantren adalah sebuah kemuliaan. Namun, ketika sosok guru tersebut juga memikul amanah sebagai Humas, Penanggung Jawab Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta memiliki “gudang” kompetensi berupa puluhan gelar profesional dan ratusan ijazah sanad kitab, muncul sebuah pergulatan batin yang sangat manusiawi: “Apakah potensi sebesar ini akan layu jika hanya terkungkung di dalam tembok pesantren?”. Inilah pertanyaan yang setiap saat muncul berkecamuk dalam benak penulis.
Dilema ini bukan sekadar tentang ambisi pribadi, melainkan tentang manajemen amanah dan optimalisasi khidmah (pengabdian). Jika terus berada di titik ini, apakah penulis sedang berdiri di persimpangan antara stabilitas pengabdian tradisional dan ekspansi kebermanfaatan modern. Tulisan ini boleh dibilang upaya menghisab diri, muhasabah, sekaligus berupaya membedah langkah-langkah strategis yang bisa penulis ambil untuk menyelaraskan kapasitas/kompetensi dengan realitas pengabdian di pesantren.
Hal pertama yang penulis pahami adalah bahwa pengabdian di pesantren tidak boleh menjadi “kuburan” bagi potensi diri. Justru, terkadang dalam sebuah pesantren modern membutuhkan sosok “super-user” untuk memajukan dan mengembangkan lingkungan akademik dan non akademik di Pesantren. Meski, di satu sisi, penulis menyadari bahwa seringkali struktur birokrasi pesantren yang konservatif belum siap menampung energi sebesar itu.
Bertahan di pondok bukan berarti harus stagnan. Ada banyak tentunya jalan untuk menyalurkan bakat, skill dan kompetensi, apalagi di kekinian, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, semuanya memiliki saluran tersendiri. Masalahnya tentu bukan pada lokasinya, melainkan pada model distribusinya. Gelar profesional penulis di bidang TIK, Manajemen, atau komunikasi justru adalah perangkat perang (wasilah) untuk menaikkan kelas pesantren tersebut ke level nasional dan internasional.
Jika harus memilih Strategi “Hybrid Khidmah” untuk memperluas Spektrum Kebermanfaatan, tentu penulis tidak perlu terburu-buru memilih antara “tetap di pondok” atau “keluar pondok”. Di era digital ini, dikotomi tersebut sudah usang. Anda bisa menerapkan strategi Hybrid Khidmah, yaitu tetap menjaga akar pengabdian di pondok sembari melebarkan dahan ke luar. Beberapa saran dan nasehat yang penulis terima dari sahabat, dan bahkan dari istri sendiri, penulis bisa memanfaatkan Mengajar Online (Digital Outreach). Ratusan ijazah sanad kitab yang penulis miliki adalah harta karun. Jika hanya diajarkan di kelas yang berisi 30 santri, maka kebermanfaatannya terbatas secara ruang.
Karena itu aksi berikutnya adalah mulai membangun platform pengajian bersanad secara online. Oleh teman dan sahabat, penulis disarankan membuka kelas khusus melalui Zoom atau YouTube untuk audiens yang lebih luas. Ini bukan “sambilan” yang melalaikan tugas pondok, melainkan perluasan dakwah pesantren ke dunia siber. Efek kejutnya, Nama pesantren bisa akan ikut terangkat karena memiliki pakar yang diakui secara luas.
Selain itu, penulis disarankan menjadi Konsultan Profesional di Luar Pondok (Offline/Online). Puluhan gelar profesional di bidang TIK dan Kehumasan adalah bukti kompetensi industri, sehingga penulis disarankan bisa mengambil peran sebagai konsultan atau narasumber ahli di lembaga lain tanpa harus meninggalkan pondok. Ya, penulis tentunya membutuhkan sinergi dan kolaborasi yang lebih luas, dengan menggunakan keahlian membangun jaringan (networking) bagi pesantren. Saat mengajar atau memberikan pelatihan di luar, penulis juga dengan sendirinya sedang melakukan fungsi Humas tingkat tinggi untuk Pondok Pesantren.
Ya, saatnya naik level menjadi Arsitek Sistem. Dengan kompetensi profesional, penulis seharusnya tidak lagi sibuk memperbaiki kabel yang putus atau sekadar memposting foto di media sosial, tetapi harus melakukan pendelegasian wewenang dan kaderisasi, membangun tim TIK dan Humas yang mandiri, namun tetap di bawah supervisi. Jika ini tercipta dengan baik, penulis bisa mengalihkan energi untuk membuat cetak biru digital pesantren (Digital Roadmap), terkait bagaimana integrasi sistem akademik, strategi komunikasi krisis pesantren, atau mengembangkan digitalisasi manuskrip kitab-kitab bersanad.
Ke depan, penulis perlu belajar tata kelola “Intellectual Overload” sebagai upaya Sinkronisasi Sanad dan Teknologi. Ya, memang ini perpaduan langka antara Deep Spirituality (Sanad) dan Modern Competency (Gelar Profesional). Penulis berupaya untuk tidak melihat keduanya sebagai beban yang saling tarik-menarik. Karena itu, penulis akan menciptakan Diferensiasi, bisa menjadi pelopor “Teologi Digital” atau “Etika Komunikasi Berbasis Kutub Turats sekaligus menggunakan ratusan ijazah sanad yang dimiliki untuk memberikan pendalaman spiritual pada teknologi informasi yang dikuasai. Ini mungkin yang tidak dimiliki oleh pakar TIK murni di luar sana. Berikutnya, penulis akan tetap Menulis dan Publikasi. Dengan ratusan ijazah sanad, sebagai seorang guru bersanad maka wajib menulis. Baik itu artikel ilmiah, buku, atau tulisan di blog profesional. Publikasi adalah cara paling efektif untuk menyalurkan kompetensi tanpa harus meninggalkan lokasi fisik pondok.
Kapan Harus “Melangkah Keluar Pondok”? Ya, penulis akan mempertimbangkannya jika berbagai inovasi dan kreatifitas pengembangan pesantren tetap merasa “dikebiri” oleh kebijakan pimpinan atau lingkungan yang toksik yang tidak menghargai kompetensi, barulah mempertimbangkan reposisi. Keputusan ini tentu mengacu kepada Prinsip Maslahat. Jika menetap di pondok justru membuat stres, merasa sia-sia, tidak produktif dan akhirnya tidak ikhlas dalam mengajar, maka menetap bisa menjadi mafsadat (kerusakan) bagi kesehatan mental. Barangkali memang betul apa yang disuarakan beberapa teman yang mengatakan bahwa seseorang itu perlu keluar sejenak untuk membuktikan nilainya di dunia luar, mengumpulkan sumber daya lebih banyak, lalu kembali ke pesantren dengan posisi tawar yang lebih kuat untuk melakukan perubahan.
Beberapa Tips Manajemen Waktu bagi penulis dari beberapa teman sebenarnya ikhlas diterima. Hal ini karena memang pesantren kekurangan sumber daya, sehingga terkadang harus “Multitasker” dalam Pondok. Memegang jabatan Humas, TIK, sekaligus Guru dengan banyak skill membutuhkan disiplin tingkat tinggi, diantaranya harus memperhatikan Time Blocking dimana penulis dituntut menentukan jam khusus untuk urusan teknis TIK, jam untuk tugas Humas, dan waktu khusus untuk aktualisasi diri (seperti mengajar online atau menulis). Begitu pula halnya dengan Otomatisasi tugas-tugas administratif pesantren, serta Prioritas Sanad. Ya, Jangan sampai gelar profesional membuat diri jauh dari Al-Qur’an dan Kutub Turots. Penulis membutuhkan waktu khusus dalam membaca kitab-kitab kuning sebagai pembelajaran khazanah keilmuan Islam, sebagai “refueling” energi spiritual.
Meski berstatus guru, penulis sebenarnya lebih senang dianggap sebagai santri atau pembelajar, seorang yang tidak pernah mau berhenti belajar. Ya, seorang santri global. Karena itu, keputusan untuk bertahan atau berekspansi ke luar bukan tentang hitam dan putih. Idealnya, tetap menjadi pilar di dalam pondok sebagai penjaga nilai (sanad) dan penggerak modernisasi (TIK/Humas), namun dengan syarat dan kemudahan diberikan ruang untuk berekspansi secara intelektual ke luar. “Jangan biarkan ratusan ijazah itu hanya menjadi tumpukan kertas. Mereka adalah mandat untuk mencerahkan umat, baik melalui mimbar masjid di pondok maupun melalui “mimbar digital” di layar smartphone”, kira-kira demikianlah suara batin penulis. Ya, semoga saja semuanya dimudahkan Allah SWT. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
Minasatene-Pangkep, 12 Mei 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep, Sulsel.