
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Ayo Memahami Al-Qur’an dan Hadits-Bahan Ajar Semester 3 Kelas VIII SMP/MTs
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat terus sajian kenikmatan ilmu dan berbagi pemahaman dalam Web Blog Guru ini, demi menyambung ilmu para ulama, khususnya mereka yang ingin menyambungkan sanad keilmuannya dalam Bidang Ilmu Tajwid dan Ilmu Qiraat.
Ilmu Qiraat sebagaimana kita ketahui, berjalan berdampingan dan beriringan dengan Ilmu Tajwid. Kalau Ilmu Tajwid memperlajari Kaidah dan Hukum Bacaan Al-Qur’an, maka Ilmu Qiraat mempelajari tentang cara membaca Al-Quran yang baik. Untuk membaca Al-Qur’an dengan benar, maka umat muslim harus mempelajari bahasa Arab dengan baik dan benar dan untuk memahami isi Alquran, mempelajari dan memahami Alquran perlu dengan membaca terjemahan Alquran, maka hadirlah kemudian Ilmu Qiraat, yang secara etimologis kata “qira’ah” itu sendiri merupakan bentuk jamak dari Qiraah dan bentuk masdar dari Qaraa, Yaqrau, Qiratan, yang artinya adalah menghubungkan antara huruf dan kalimat satu sama lainnya dalam bacaan (bacaan yang dimaksud adalah Al-Qur’anul Karim).
Ash-Shabuni, mendefinisikan Qiraah sebagai cara membaca Al-Quran dari seorang Imam Ahli Qira’ah yang berbeda dengan cara membaca imam yang lainnya berdasarkan sanad yang menyambung sampai kepada Rasulullah SAW, sehingga dapat disimpulkan bahwa Qiraah sebenarnya bukan hanya sekedar membaca Al-Quran, tapi cara membaca Al-Quran dengan rujukan yang dipilih oleh ahli qiraah dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
Qiraah itu ada dua macam, yaitu Qira’ah dari segi jumlah, ada tiga macam qiraat yang terkenal, yaitu Qiraat Sab’ah dan Qiraat ‘Asyrah. Sedangkan, Ibn al-Jazari membaginya dari segi kaidah hadits dan kekuatan sanadnya. Akan tetapi, kedua pembagian ini saling terkait satu dengan yang lainnya.
Jenis Qiraat yang muncul pertama kali adalah Qiraat Sab’ah. Qiraat ini telah akrab di dunia akademis sejak Abad ke-2 Hijriyah. Tapi, pada masa itu Qiraat Sab’ah ini belum dikenal secara luas di kalangan umat Islam. Untuk qiraah Sab’ah sendiri adalah cara membaca Al-Quran dari 7 Imam Ahli Qiraat, yaitu Nafi‘ ibn ‘Abd Rahman ibn Abu Nu‘aim, Abu Ma‘bad yang lebih di kenal dengan Ibn Katsir, Abu ‘Amr Zabban ibn al-‘Ala’ ibn ‘Ammar, Abu ‘Imran Abdullah ibn ‘Amir, Abu Bakr ‘Ashim ibn Abu Najud al-Asadi al-Kuf, Abu ‘Imarah Hamzah ibn Habib ibn ‘Imarah, dan yang ketujuh Al-Kisa’i. Selengkapnya buka link berikut: Mengenal Imam Qira’at As-Sab’ah
Jenis Qiraah yang kedua adalah Qiraat ‘Asyarah, yaitu cara membaca Al-Quran dari 7 Imam yang telah disebutkan diatas ditambah dengan 3 Imam lainnya seperti Imam Abu Ja‘far Yazid ibn al-Qa‘qa‘, Imam Abu Muhammad Ya‘qub bin Ishaq bin Zaid bin ‘Abdullah bin Ishaq al- Hadrami, dan Imam Abu Muhammad Khallaf ibn Hisyam al-Bazzar. ‘Asyarah disini berarti sepuluh. Jadi, Qiraat Asyarah adalah Qiraat yang berasal dari 10 Imam Ahli Qiraat yang dijadikan rujukan cara membaca Al-Qur’annya. Lihat: Mengenal 10 Imam Qiro’at yang Mu’tabar
Di berbagai wilayah negeri Islam, berkembang aneka ragam seni membaca Alquran. Dalam Pelajaran Nadzam, dikenal berbagai jenis seni membaca Alquran, seperti Nahawan, Bayati, Hijaz, Shaba, Ras, Jiharkah, Syika, dan lainnya. Seni baca Alquran menampakkan geliatnya pada awal Abad ke-20 M yang berpusat di Makkah dan Madinah serta di Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang sangat aktif mentransfer ilmu-ilmu agama (termasuk nadzam) sejak awal Abad ke-19 M.
Hingga hari ini, Makkah dan Mesir merupakan kiblat nadzam dunia. Masing-masing kiblat nadzam memiliki karakteristik sendiri. Dalam Makkah, dikenal lagu Banjakah, Hijaz, Mayya, Rakby, Jaharkah, Syikah, dan Dukkah. Sementara, di Misri terdapat Bayyati, Hijaz, Shoba, Ras, Jiharkah, Sikah, dan Nahawan.
Pada Abad ke-20, kedua model lagu tersebut masuk ke Indonesia. Transmisi lagu-lagu tersebut dilakukan ulama-ulama yang mengkaji ilmu-ilmu agama di sana yang pulang ke Tanah Air untuk mengembangkan ilmunya, termasuk seni baca Alquran.
Demikianlah Pengertian Qiraah Sab’ah dan Qiraah Asyarah, semoga dapat dipahami. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.