Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Qosidah Roiyyah al-Khoqoniy dan Terjemahnya

Qosidah Roiyyah al-Khoqoniy dan Terjemahnya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah

BLOGGURU –  Studi tentang ilmu tajwid sebenarnya sudah lama dibahas pada kurun abad ke -2 sampai3 Hijriah, pada kurun waktu itu ulama-ulama terbagi menjadi beberapa golongan yaitu golonganyang membahas Nahwu dan Lughowiyah (kebahasaan) dan para ahli Qira‟at, meskipun Golongan-golongan ini memiliki pembahasan yang sama,akan tetapi memiliki perbedaan dalam fokus pembahasannya. 

Kalangan Ulama Nahwu dan Lughowy lebih fokus pada pembahasan kalam Arab yang berupa Nadzom (Bait-Bait) dan Natsar (deskriptif), sedangkan Ulama Qira‟at lebih berfokus pada dialek-dialek bangsa Arab (al-Aswat al-Arabiyyah) dan mengaplikasikannya pada ayat-ayat al-Qur‟an. Meskipun pada kurun abad ke 2 dan 3 Hijriah kajian tentang Bahasa, Tajwid, dan Qira‟at sudah populer dan banyak dikaji, akan tetapi studi mendalam ini tidak menghasilkankarya atau kitab yang secara komprehensif membahas tentang al-Aswat al-Arabiyyah  hingga masuk pada masa Abu Muzahim al-Khaqani, beliau lah yang meletakkan pondasi awal dalamkajian ini.

Oleh karena itu Abu Muzahim menyusun Qasidah yang bertujuan untuk memperindah bacaan al-Qur‟an dan mengembangkan kaidah-kaidahnya lewat karyanya tersebut. Menurut Ghanim Qadduri, studi tentang al-Aswat al-Arabiyyah sebelum masa Muzahimal-Khaqani hanya terfokus pada beberapa karya diantaranya :

1. Muqaddimah kitab al-Ain karya al-Kholil bin Ahmad (w. 170 H) yang membahastentang Makharij al-Huruf dan sifat-sifat huruf.

2. Imam Sibawaih (w. 180 H) dalam “al-Kitab”, itupun hanya terdapat dalam Bab al- Idgham yang dalam bab tersebut diterangkan tentang al-Aswat al-Arabiyyah.

3. Al-Mubarrad (w. 285 H) dalam karyanya “al-Muktadham” yang juga membahas tentang al-Aswat al-Arabiyyah yang juga terdapat di  Bab-bab Idgham. 

Jadi menurut Ghanim Qadduri dapat disimpulkan bahwa perkembangan ilmu tajwid pada masa sebelum Abu Muzahim al-Khaqani belum ada karya yang secara komprehensifmembahas tentang al-Aswat al-Arabiyyah

Berikut ini Qasidah Roiyyah al-Khoqoniy yang dianggap sebagai pelatak dasar Ilmu Tajwid

BAHAGIAN PERTAMA

Bait 01
Nasihat Senantiasa Rendah Hati

‬

Artinya:

“Aku akan mengatakan sebuah perkataan yang menakjubkan bagi orang-orang yang berakal, (dan aku berharap ketika mengatakannya) tidak diisertai dengan bangga diri, sesungguhnya bangga diri itu akan membawa seseorang pada kesombongan.”

Bait 02
Tujuan Penulisan Qasidah

 

Artinya:

“Aku akan membicarakan beberapa hal yang berkaitan dengan tilâwah Al-Qur`ân.  Seraya memohon perlindungan dari Allâh agar terhindar dari keburukan rasa ingin menunjuk dan membanggakan diri sendiri.”

Bait 03-04
Mohon Doa dan Perlindungan

 

Artinya:

“Dan aku berdoa kepada-Nya agar sentiasa menolong ku terhadap apa yang telah aku niatkan, juga senantiasa memeliharaku dalam urusan agama hingga berakhirnya umurku. Dan aku juga berdoa kepada-Nya agar Dia memaafkan aku pada hari esok (kehidupan akhirat), dan sesungguhnya Allâh S.W.T adalah sebaik-baik Pemberi Maaf lagi Maha Pengampun.”

Bait 05
Kepentingan Membaca Al-Quran dengan Baik

 

Artinya:

“Wahai para Qâri` (pembaca Al-Qur`ân) perelokkanlah cara membaca Al-Qur`ânmu, agar Allâh melipatgandakan balasan bagimu berupa pahala yang banyak.”

Bait 06
Kreteria Guru Al-Quran (Muqri)

 

Artinya:

“Maka tidaklah setiap orang yang membaca Al-Qur`ân itu mampu menegakkannya (membacanya dengan tepat dan mengamalkan isi kandungannya), dan juga tidaklah setiap orang yang mengajarkan Al-Qur`ân kepada Manusia itu disebut Muqri`.”

Bait 07
Manhaj Pembelajaran al-Quran

 

Artinya:

“Dan sesungguhnya manhaj yang kami yakini sesuai sunnah dalam mengambil bacaan Al-Qur`ân adalah mengambilnya dari Muqrî generasi pertama yang mulia, yakni orang-orang yang menutupi aib dirinya dan aib orang lain.”

Bait 08
Pengenalan Imam-Imam Qiraat

 

Artinya:

“Maka bagi para Imâm Qiraat yang tujuh memiliki hak atas kita generasi yang datang kemudian, disebabkan mereka telah menjadi perantara penukil Al-Qur`ân dari Rabb mereka Allâh Yang Maha Esa, serta mengajarkannya hingga sampai kepada kita.”

Bait 9-11
Nama Imam Qiraat 7

 

Artinya:

“Maka di Dua Tanah Haram (Makkah dan Madinah) ada (1) Al-Imâm Ibn Katsîr dan (2)Al-Imâm Nâfi`. Di Bashrah (Irak) ada putra dari Al-‘Alâ, yaitu (3)Al-Imâm Abû ‘Amr bin Al-‘Alâ. Kemudian di Syâm ada (4)Al-Imâm ‘Abdullâh yang lebih dikenal dengan nama Ibn ‘Âmir, dan (5)Al-Imâm ‘Âshim Al-Kûfiy (Kûfah, Irak) yang dijuluki Abû Bakr. Kemudian (6)Al-Imâm Hamzah juga berasal dari Kûfah, begitu juga setelahnya (7)Al-Imâm Al-Kisâ`iy, yang terkenal kecerdasannya dalam ilmu Al-Qur`ân, nahwu, dan sya’ir.”

Bait 12-14
Martabat Bacaan Al-Quran

 

Artinya:

“Maka orang yang cerdas pasti akan memberikan setiap huruf hak-haknya, baik pada saat mereka membaca Al-Qur`ân secara tartîl (perlahan-lahan) ataupun hadr (secara cepat), Dan membaca Al-Qur`ân secara tartîl jauh lebih baik kerana kita diperintahkan untuk melakukannya, dan hendaklah kita membacanya secara tenang (tidak tergesa-gesa) sambil merenungkan maknanya, Adapun ketika membaca hadr kerana ingin mengulang-ulang bacaan dan memperbanyak kebaikan darinya, maka tidak mengapa sebagai sebuah keringanan bagi kita, disebabkan agama ini mudah untuk diamalkan para hamba-Nya.”

Bait 15
Keutamaan Menghafaz Qasidah

 

Artinya:

“Perhatikanlah! Hafazlah seluruh penjelasanku yang telah aku ringkas untukmu, agar kamu mengetahui tentang apa yang sebelumnya tidak kamu ketahui.”

Bait 16
Jauhi Sembunyi Ilmu

 

Artinya:

“Seandainya dalam segelas minuman ini berisi ilmu dan pengetahuanku, maka sungguh aku akan menuangkannya pada kalian untuk kalian minum, dan aku tidak akan menyembunyikan dari kalian seluruh ilmu ini dengan cara menimbunnya.”

Bait 17-19
Perihal Penyusunan Qasidah

ِ

Artinya:

“Dan sesungguhnya aku telah menyusun sebuah Qashîdah berkaitan husnil adâ` (perbaikan cara membaca Al-Qur`ân), dan aku berharap pada Allâh, agar menghapus dosa-dosaku dengan sebab qashîdah ini. Dan jumlah baitnya adalah 51 bait, setiap baitnya disusun secara berurutan dan saling berkaitan dengan yang lainnya. Dan hanya kepada Allâh aku berharap taufîq dan balasan atas usaha ini, mengajarkan ilmu dan pengetahuan i’râb Ayat-ayat-Nya yang harum ini.”

Bait 20
Menjadi Ahli al-Quran Yang Sebenar

 

Artinya:

“Barangsiapa yang menegakkan lafaz-lafaz Al-Qur`ân sebagaimana ia menegakkan anak panah yang tidak ada bengkok padanya, maka sudah semestinya  dia menjadi orang yang mentaati perintah Allâh, baik dalam keadaan sunyi ataupun ramai.”

BAHAGIAN KEDUA

Bait 21-22
Kelebihan Kefasihan Bacaan

 

Artinya:

“Ingatlah! Ketahuilah saudaraku bahawasanya kefasihan itu menghiasai bacaan Al-Qur`ân, sepanjang dia berulang-ulang untuk berzikir dan mempelajarinya. Apabila pembaca Al-Qur`ân sentiasa membacanya, maka lidahnya akan menjadi lembut, dan yang membiasakan dengan terus-menerus membacanya akan menghilangkan penyakit yang ada di dalam dada.”

Bait 23
Keutamaan Mempelajari Lahn

 

Artinya:

“Maka seawal-awal ilmu yang mesti dikuasai dan ditekuni dalam Al-Qur`ân adalah menguatkan hafalannya, dan kemudian memahami dengan baik akan LAHN (kekeliruan dalam membaca Al-Qur`ân) yang mengalir keluar dari mulut engkau ketika membacanya,”

Bait 24
Hukum al-Lahn

Artinya:

“Maka jadilah engkau seorang ‘ârif, iaitu orang yang benar-benar memahami persoalan lahn agar engkau tidak tergelincir padanya. Karena tidak ada keuzuran bagi orang yang tidak mahu memahami persoalan lahn.”

Bait 25-26
Berlebihan Pada Bacaan

Artinya:

“Maka apabila engkau berusaha menyempurnakan bacaanmu, berhatilah jangan berlebihan dalam menunaikannya, dan mintalah pertolongan dari Allâh Yang Maha Perkasa. Tunaikanlah huruf sesuai dengan timbangannya dan janganlah engkau melampaui batasnya, sesungguhnya menunaikan hak huruf Al-Qur`ân sesuai dengan timbangannya termasuk dalam kebaikan yang paling utama.”

Bait 27
Bersabar dan Bertahap dalam Belajar

Artinya:

“Dan apabila engkau ingin mengambil riwayat Al-Qur`ân serta mempelajarinya kepada seorang guru, maka janganlah engkau melebihi sepuluh ayat dalam sehari.”

Bait 28-29
Hukum Izhar, Idgham dan Ikhfa’

Artinya:

“Maka bacalah dengan jelas (izhâr) pada tempat yang semestinya dibaca jelas, dan bacalah dengan idghâm pada tempat yang semestinya dibaca idghâm, dan bacalah ikhfâ pada tempat yang semestinya dibaca ikhfâ’. Bacalah semuanya dengan lembut dan tanpa kepayahan. Dan sesungguhnya huruf-huruf yang dibaca ikhfâ tidaklah sama sebagaimana huruf-huruf yang dibaca idghâm. Dan diantara keduanya terdapat perbezaan, maka pahamilah perbezaan keduanya dengan mudah.”

HARAKAT I’RAB

Bait 30

 

Artinya:

“Dan katakanlah: “Sesungguhnya setiap huruf yang menjadi sukun (mati) adalah disebabkan jazm, sedangkan huruf berharakat (berbaris) adalah disebabkan raf’ (baris hadapan), nashb (baris atas), dan jarr (baris bawah).”

Bait 31
(Kesempurnaan Harakat (Baris)

 

Artinya:

“Maka sempurnakanlah pengucapan harakat pada huruf-huruf yang berharakat, sukunkanlah dengan sempurna huruf-huruf yang sukun, putuslah semua kalimat yang terputus dan sambunglah semua kalimat yang tersambung. Tempatkanlah setiap huruf pada makhrajnya yang tepat, dan perjelasan perbedaan antara huruf yang dibaca madd dengan huruf yang dibaca qashr.”

Bait 32-33
Mad dan Qasr

 

Artinya:

“Dan tidak ada mad kecuali pada tiga huruf yang disebut juga dengan huruf lîn, sehingga penjelasanku (pada bait berikutnya) telah menjadi jelas. Yaitu huruf Alif yang sudah dikenal dengan keadaan sukunnya, kemudian Waw sukun yang sebelumnya dhammah, serta Ya sukun yang sebelumnya kasrah, maka ketahuilah.”

Bait 34
Penyebutan Harakat dan Mad

 

Artinya:

“Dan ringankanlah bacaan huruf yang sukun, kuatkanlah huruf yang bertasydid, dan lafazlahlah tasydidnya dengan tepat. Dan janganlah engkau berlebihan dalam melafazkan huruf yang berharakat samada fathah, dhammah, atau kasrah.”

BAHAGIAN KETIGA

Bait 35-36
Huruf Hamzah

Artinya:

“Dan apabila engkau membaca huruf Hamzah yang tahqîq, maka bacalah dengan jelas, jangan engkau baca Hamzah tahqîq apabila ia mesti dibaca dengan sembunyi (tashîl), dan Hamzah tahqîq itu memiliki keadaan dimana ia dibaca dengan nabr (meninggi suara) yang berbeza dengan Hamzah tashîl. Dan jika sebelum Ya’ dan Wau berbaris atas dan selepasnya Hamzah tahqiq maka engkau jelaskan hamzah tersebut atas timbangannya”.

Bait 37
Huruf Ra dan Lam

Artinya:

“Dan nipiskanlah dengan jelas pada huruf Ra dan Lam yang mesti dibaca nipis, menjadi fasih akan lidahmu sehingga tersusun lafazmu bak umpama mutiara.”

Bait 38
Huruf ‘Ain dan Ha’

Artinya:

“Dan bersungguh-sungguhlah pada menjelaskan huruf ‘Ain dan Ha’ dimanapun engkau membaca dan mempelajarinya. Serta jadilah orang yang bersikap Adil (tidak melampau) dalam membaca dan mempelajari Al-Qur`ân.”

Bait 39
Hukum Waqaf dan Ibtida’

Artinya:

“Dan berhentilah pada kalimah yang telah sempurna, sesuai dengan mushaf kita yang dibaca di daratan ataupun di lautan.”

Bait 40
Hukum Mim Sakinah

 

Artinya:

“Dan jangan engkau idghâmkan huruf Mim apabila selepasnya terdapat huruf selainnya, karena Mim hanya diidghâmkan apabila bertemu dengan Mim, maka terimalah ilmu ini dengan penuh rasa syukur.”

Bait 41
Al-Isyba’ (Memenuhkan)

 

Artinya:

“Dan bacalah dhammahmu sebelum Waw dengan bacaan yang sempurna (penuh) baginya. Sepertimana para ulama telah menyempurnakan penuhnya pada huruf dhammah iaitu pada kalimah “iyyâka na’budu” ketika menyambung bacaan dengan kalimah selepasnya.”

Bait 42-43
Mad Lazim dan Sebabnya

 

Artinya:

“Dan apabila huruf lîn (huruf mad) berada sebelum huruf yang diidghâmkan (bertanda tasydîd), seperti pada akhir surat “Alhamd” (Al-Fâtihah: ‫ )ولا الضالين‬maka panjangkanlah ia dan patuhilah, Engkau panjangkanlah bacaan padanya kerana terdapat dua huruf sukun yang bertemu (huruf mad dan huruf yang diidghâmkan), maka huruf yang diidghâmkan menjadi satu dengan huruf yang berbaris, sebagaimana disampaikan oleh para ulama.”

Bait 44-45
Hukum Nun Sakinah dan Tanwin

 

Artinya:

“Dan aku menyebutkan huruf-huruf yang enam, disebabkan kekhususannya, diizharkan huruf Nun Sâkinah apabila berada sebelum Huruf-huruf ini. Ketentuan ini berlaku sepanjang zaman. Hurufnya adalah Ha, Kha, kemudian Ha, Hamzah, ‘Ain, dan Ghain. Tiada yang mengingkari pendapat yang aku kemukakan ini.”

Bait 46-47
Perihal Izhar Halqy

 

Artinya:

“Maka inilah huruf-huruf Halqy (huruf yang keluar dari kerongkong), yang terkadang tersembunyi kejelasannya, maka hendaklah engkau menjelaskan bacaan huruf-huruf tersebut dan janganlah engkau mengengkari arahanku, Dan jangan pula engkau mentasydîdkan huruf  Nun yang mesti dibaca izhhâr, sebagaimana pada saat engkau membaca ayat (min khaylin) pada surat AlHasyr.”

Bait 48
Hukum Tanwin

 

Artinya:

“Dan bacaan tanwîn dengan jelas merupakan qias dari Nun Sâkinah, sehingga Nun Sâkinah dan tanwîn adalah sama hukumnya. Maka qiaskan bacaan tanwîn dengan bacaan Nun Sâkinah, semoga engkau mendapat kurniaan bidadari yang sangat cantik jelita.”

Bait 49
Nasihat Terus Menuntut Ilmu

 

Artinya:

“Dan sesungguhnya masih terlalu banyak permasalahan yang ada berbanding apa yang sedikit dibicarakan di sini, hendaklah semuanya itu ditekuni secara serius dan mempelajarinya dengan penuh kesabaran.”

PENUTUP DAN DOA

Bait 50-51

 

Artinya: 

“Maka aku memohon doa bagi Ibn ‘Ubaidillâh Mûsâ kepada siapa saja yang telah mendapatkan pelajaran yang baik ini, berupa kebaikan pada setiap awal harinya, Semoga Allâh menerima segala doa yang engkau panjatkan buat kami, dan doa yang kami panjatkan buat engkau iaitu berupa keampunan darinya dan pertolongan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Âmin.”

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR