Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 2 (7): Kewajiban terhadap Kerabat

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 2 (7): Kewajiban terhadap Kerabat

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

12. Apa Kewajibanmu terhadap Para Kerabatmu? 

1. Sesungguhnya orang-orang yang terdekat sesudah ibu bapakmu dan saudara-saudaramu adalah para kerabatmu seperti: Saudara-saudara ayahmu yang laki-laki dan yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang laki-laki dan yang perempuan, anak-anak mereka dan anak-anak. dari saudara-saudaramu laki-laki dan perempuan.

Dalam hadits: “Bibi (saudara perempuan ibu) itu sederajat dengan ibu. Paman (saudara laki-laki ayah) seseorang adalah sederajat dengan ayahnya. Putra saudara perempuan dari suatu kaum adalah termasuk golongan mereka.” Para kerabatmu mencintaimu dan mencintai ibu bapakmu. Maka apakah yang harus engkau lakukan terhadap mereka?

2. Engkau harus memperlakukan mereka seperti memperlakukan saudara-saudaramu. maka hormatilah orangorang tua di antara mereka dan hendaklah menyayangi anak kecil mereka. Engkau bantu mereka dalam pekerjaan meraka dan hendaklah menolong yang membutuhkan di antara mereka serta mengunjungi mereka dalam waktu-waktu tertentu, khususnya hari-hari raya, hari-hari gembira dan waktu waktu musibah dan kesedihan.

Apabila kerabatmu sakit, segeralah pergi ke rumahnya untuk menjenguknya dan mendo’akan bagi kesehatannya. Apabila ia berpulang ke rahmat Allah, maka segeralah berta’ziah (-Menyatakan bela sungkawa/berduka cita) kepada anak-anak dan keluarganya serta membantu mereka. Janganlah sampai engkau ketinggalan dalam menghadiri shalat atas kerabatmu yang meninggal dan mengantarkan jenazahnya. Dengan itu para kerabatmu gembira, karena engkau gembira bila mereka gembira dan bersedih bila mereka bersedih. Mereka mengetahui bahwa engkau seorang anak terdidik yang menunaikan kewajiban terhadap para kerabat.

3. Bersatulah dengan para kerabatmu dan jauhilah segala sesuatu yang menyebabkan pemutusan hubungan atau pertengkaran dengan mereka. Janganlah mendengarkan pembicaraan pengadu domba dan maafkanlah mereka jika mereka bersalah terhadapmu. Janganlah mendendam kepada mereka karena kesalahan mereka dan jangan pula mendengki atas kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka. Apabila engkau menjalankan adab-adab ini, maka tentulah engkau hidup bersama kerabatmu dengan rukun dan damai, aman dan senang. Kebahagiaan manusia tergantung pada kebahagiaan keluarganya. Mereka seperti sayap bagi burung.

Penyair berkata : Ketahuilah wahai putra paman, manus a adalah sayap bisakah burung elang terbang tanpa sayap ?

4. Allah telah memerintahkan agar berbuat baik kepada para kerabat dan mengaitkan mereka dengan ibu bapak. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dan berbuat baiklah kepada ibu bapak serta sanak kerabat” (An-Nisaa’: 36). “ Dalam hadits: “Barang siapa beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung hubungan kekeluargaannya.”

Orang yang berbuat baik kepada para kerabatnya, maka Allah melapangkan rezekinya dan memanjangkan umurnya. Dalam hadits: “Berhubungan baik dengan kerabat, memperbanyak harta, dan silaturrahmi, menambah umur dan Allah mengampuni dosa-dosanya.”

Datang kepada Nabi SAW. seorang laki-laki, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku berdosa besar, apakah aku bisa bertaubat?” Nabi SAW. bersabda: “Apakah engkau mempunyai seorang ibu?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Nabi SAW. bersabda lagi: “Apakah engkau mempunyai seorang bibi?” Orang itu menjawab, “Ya.” Nabi SAW. bersabda: ”Berbaktilah kepadanya.” Adapun orang yang berbuat buruk kepada para kerabatnya dan mengganggu mereka, maka akibatnya kebalikan dari itu. la terhalang untuk masuk surga.

Dalam hadits: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” – Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dalam hadits lain: “Tiada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan Allah hukuman bagi pelakunya di dunia di samping hukuman yang disimpan Allah baginya di akhirat daripada kezhaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan.”

5. Jika kerabatmu berbuat jahat kepadamu misalnya, maka sabariah. Balaslah kejahatan mereka dengan kebaikan. Dalam hadits: “Seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai kerabat yang aku hubungi, sedangkan mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka sedangkan mereka berbuat jahat kepadaku. Aku bersabar terhadap mereka, tetapi mereka tidak menghiraukan dku.” Maka Nabi SAW. berkata, “Jika benar seperti yang engkau ceritakan, maka seakan-akan engkau memberi mereka makanan abu panas. Dan Allah tetap menolongmu terhadap mereka selama engkau dalam keadaan demikian.”

13. Abu Thalhah al-Anshary dan Para Kerabatnya 

Disebutkan dalam hadits sahih bahwa Abu Thalhah Al-Anshary r.a. adalah seorang Anshar yang paling banyak hartanya yaitu berupa pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah biruha’ (sebidang kebun kurma) dan ia menghadap masjid.

Adalah Rasulullah SAW. memasukinya dan minum dari airnya yang segar. Tatkala turun ayat: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Ali Imran: 92). Datang Abu Thalhah kepada Rasulullah SAW., lalu berkata, “Ya Rasulullah, Allah Ta’ala telah menurunkan kepadamu: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Biruha’ dan ia adalah sedekah karena Allah Ta’ala yang aku harapkan sebagai kebaktian dan simpanan di sisi Allah Ta’ala. Maka pergunakanlah ya Rasulullah, sesuai dengan yang ditunjukkan Allah kepadamu.” Maka Rasulullah SAW. berkata, “Bagus, itulah harta yang beruntung, itulah harta yang beruntung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat agar engkau membagikannya bagi para kerabat.” Maka Abu Thalhah berkata, “Aku lakukan ya Rasulullah.” Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada para kerabatnya dan putra-putra pamannya.

Cerita Lain 

Di saat para sahabat r.a. duduk di dekat Nabi SAW., tiba-tiba beliau berkata, “Janganlah duduk bersama kami seorang yang memutus hubungan kekeluargaan.” Kemudian seorang pemuda berdiri dari majelis itu dan mendatangi bibinya. Sebelumnya kedua orang itu berselisih. Maka ia pun meminta maaf kepadanya, kemudian kembali ke majelis. Maka Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya rahmat itu tidak turun kepada suatu kaum dimana terdapat seorang pemutus hubungan kekeluargaan.” (*)

 

(Bersambung ….. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR