
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
9. Kesabaran dan Kegelisahan Hati
Sesungguhnya kesabaran itu termasuk akhlak yang agung. la merupakan taufik yang baik dari Allah bagi hambaNya yang beriman dan termasuk tanda-tanda yang menunjukkan kebahagiannya. Kesabaran terbagi menjadi tiga macam: dalam melakukan ketaatan: tidak berbuat maksiat: dan dalam menghadapi musibah.
Macam pertama: lalah bersabar untuk mematuhi perintah-perintah Allah Ta’ala. Dia pun bersabar dalam menegakkan shalat, baik pada waktu sehat atau sakit, dalam perjalanan atau menetap di rumah, serta dalam semua keadaan dengan melakukan seluruh syarat dan rukunnya, dan tidak ceroboh dalam mengerjakan sunnah-sunnahnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabariah kamu dalam mengerjakannya …” (QS. Thaha: 132). Bersabar dalam menyempurnakan wudhu. Rasulullah saw, bersabda: “Maukah kutunjukkan sesuatu, yang dengannya Allah dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sempurnakanlah wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan (musim dingin) dan perbanyaklah langkah menuju masjid serta menunggu shalat demi shalat. Itulah perjuangan. Itulah perjuangan.”
Bersabar pula dalam mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan haji ke Baitullah, menuntut ilmu dan berbakti kepada kedua orang tua serta mengerjakan perintah-perintah lainnya. Allah Ta’ala berfirman: “… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabariah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). “.. dan bersabarlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). ”Rasulullah saw. bersabda: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan.api neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan.”
Macam kedua: Bersabar untuk meninggalkan maksiat. Ini adalah macam kesabaran tertinggi dan paling utama. Kesabaran ini dilakukan dengan meninggalkan hal-hal yang terlarang, misalnya, mendurhakai ibu-bapak, mengganggu orang-orang, memakan harta mereka, mencuri, membunuh jiwa. minum khamar, berzina, memandang pada hal-hal yang diharamkan dan lainnya. Terutama perbuatan-perbuatan maksiat yang tersebar dan menjadi kebiasaan di antara orang. orang, misalnya, menggunjing orang, mengadu domba, bersikap sombong, dendam dan dengki.
Alangkah perlunya manusia bersabar untuk me. ninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut, karena hal itu adalah macam kesabaran terberat dan dengan itu ia men. dapat ridha Allah serta selamat dari kemurkaan dan kebencian-Nya.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shaiatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (werbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemuiuannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka aalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-11).
Macam ketiga: Kesabaran dalam menghadapi musibah dengan menerima keputusan Allah dan takdir-Nya serta menghindari keluh kesah (kegelisahan), karena ia adalah amalan yang haram dan menghilangkan pahala. Tidak banyak mengeluh kepada orang-orang, apabila dia sakit, kehilangan Sesuatu, diganggu orang, salah satu dari keluarga atau orang yang dicintainya meninggal dunia, penghidupannya terasa Sempit, atau tidak dapat mencapai suatu cita-citanya. Akan tetapi, dia harus menyerahkan urusannya kepada Allah yang menguasai segala urusan. Hendaklah dia mengeluh kepada Allah Azza wa Jalla atas cobaan yang menimpanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang Sayyidina Ya’gub as.: “Sesungguhnya hanyalah Kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku . (QS. Yusuf: 86).
Juga firman Allah Ta’ala yang mengabarkan tentang Sayyidina Ayub as.: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya, Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang’.” (QS. AlAnbiya’ : 83).
Hendaklah menghadapi semua musibah dengan segala kesabaran dan ketabahan. Dengan demikian dia pun mendapat pahala yang besar dan Allah membebaskannya dari kesedihan serta menyampaikan pada tujuannya di dunia atau menyimpan baginya di akhirat pahala yang lebih besar dari itu.
Allah Ta’ala berfirman: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6). Allah juga berfirman: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Dalam hadits: “Rasulullah saw. ditanya: “Manusia manakah yang paling keras cobaannya?” Beliau men. jawab: “Para Nabi. Kemudian orang-orang yang terbaik (sahabat-sahabat Nabi), lalu orang-orang pilihan (para ulama).” :
Manusia diuji menurut kadar agama mereka. Maka, barangsiapa yang kuat agamanya, semakin beratlah cobaannya. Dan barangsiapa yang lemah agamanya, semakin ringanlah cobaannya. Ada orang yang ditimpa cobaan hingga dia berjalan di atas bumi tanpa dosa.”
Dalam hadits lain: “Menunggu kebebasan adalah ibadah.” Dalam hadits lain lagi: “Barangsiapa berusaha untuk sabar, maka Allah menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.”
Termasuk macam ini adalah kesabaran dalam menghadapi berbagai musibah yang ringan. Sebagaimana tersebut dalam hadits, ketika lampu Nabi saw. padam. Lalu beliau mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kemudian Aisyah ra. berkata: “Ini hanya lampu!” Maka Nabi saw. bersabda: “Setiap sesuatu yang mengganggu orang mukmin adalah musibah.”
Disunahkan bagi orang mukmin. ketika mengalami musibah, agar mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa mengucapkan, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun pada waktu menghadapi musibah, maka Allah memberinya pahala dalam musibah itu, dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Maka, hendaklah kamu selalu menjalankan kesabaran dalam segala keadaan, niscaya kamu mencapai cita-cita mulia dan selamat dari ketakutan. Renungkanlah hadits yang Mulia berikut:
“Kesabaran itu ada tiga macam, yaitu: Kesabaran dalam menghadapi musibah, kesabaran untuk melakukan ketaatan dan kesabaran untuk menjauhi maksiat. Maka, barangsiapa bersabar pada waktu menghadapi musibah hingga menyatakan kembali kepada Allah dengan sebaikbaik kesabaran, niscaya Allah menetapkan baginya 300 derajat, sedang jarak antara dua derajat seperti antara langit dan bumi.
Barangsiapa bersabar untuk melakukan ketaatan, maka Allah menetapkan baginya 600 derajat dan jarak antara dua derajat seperti antara perbatasan bumi hinaga akhir bumi itu. Dan barangsiapa bersabar untuk meninggalkan maksiat, maka Allah menetapkan baginya 900 derajat, jarak antara dua derajat seperti antara perbatasan bumi hingga puncak ‘Arsy, dua kali.”
Penyair berkata :
Sabarlah sedikit dan berlindunglah kepada Allah.
Jangan terburu-buru, karena kegagalan itu dalam ketergesaan.
Kesabaran itu seperti namanya dalam Setiap bencana, tapi akibatnya lebih manis daripada madu.
Penyair lain berkata :
Dan sedikit sekali orang yang bersungguhsungguh dalam suatu perkara yang diusahakannya dan menjadikan sabar sebagai sahabatnya, melainkan ia mendapatkan kesuksesan.
Kata penyair yang lain :
Janganlah kamu berputus asa, walaupun lama tuntutannya
Jika kamu andalkan kesabaran akan kamu lihat kebebasan.
Orang yang sabar akan terpenuhi keperluannya dan orang yang selalu mengetuk pintu akan masuk.
Diceritakan, seorang badawi (orang arab yang hidupnya di padang pasir) mengucapkan takziah (belasungkawa) kepada sahabat Jbnu Abbas ra. atas kematian ayahnya.
Maka dia berkata :
Sabarlah, kita akan menjadi sabar denganmu.
Kesabaran rakyat adalah sesydah kesabaran pemimpin lebih baik dari Abbas adalah pahalamu sesudahnya dan Allah lebih baik darimu, bagi Abbas.
Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Tidaklah seseorang mengucapkan takziah kepadaku yang lebih baik daripada takziahnya.”
10. Akibat Orang-orang yang Sabar
1. Allah telah mengutus para Nabi kepada kaum-kaum mereka dan menjadikannya sebagai ulul ‘azmi, yakni tabah dan sabar dalam menghadapi kesulitan. Yang paling utama di antara mereka adalah Nabi kita, Muhammad saw. Sudah berapa banyak beliau diganggu, sejak pertama kali diutus hingga wafatnya. Maka, beliau sangat bersabar karena mematuhi firman Allah Ta’ala: “Maka bersabariah kamu, seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-Rasul …,” (Al-Ahgaf: 35).
Ketika gangguan kaum musyrikin terhadapnya Meningkat, beliau berkata kepada pamannya, Abu Thalib: Demi Allah, hai Paman, seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku tinggalkan sedikit saja dari agama yang aku bawa dari Tuhanku, tentulah aku tidak menyetujuinya . sampai Allah menampakkan kebenarannya atau aku binasa dalam membelanya.”
Mereka meletakkan kotoran unta di atas tubuhnya pada saat beliau sedang sujud di depan Ka’bah. Mereka mencekik dan ingin membunuh serta mengusirnya dari tanah kelahirannya (Makkah). Mereka patahkan gigi dan melukai wajah sehingga berdarah serta menjatuhkannya dalam sebuah lubang pada waktu Perang Uhud.
Mereka memaki dan mendustakannya, menyihir dan meracunnya serta gangguan-gangguan lainnya yang keras dan berlebihan. Mereka juga mengganggu keluarga dan para sahabatnya. Namun beliau tetap sabar dalam menghadapi semua itu, sampai Allah memenangkan agama dan menyenangkannya dengan keberhasilan tugasnya hingga beliau wafat.
2. Sayyidina Nuh as. bersabar dalam menghadapi gangguan kaumnya dan tinggal di antara mereka selama 950 tahun. Mereka memukulnya sampai pingsan. Sayyidina Ibrahim as. bersabar dalam menghadapi api Raja Namrud dan ketika disuruh menyembelih putranya, Sayyidina Ismail as., hingga Allah menyelamatkannya dari kedua cobaan itu. Sayyidina Ya’qub as. bersabar atas kehilangan anaknya, Yusuf, hingga memutih kedua matanya karena sedih. Sayyidina Yusuf as. bersabar ketika dimasukkan ke sumur dan penjara serta mengalami berbagai ujian lainnya. Sayyidina Musa as. bersabar dalam menghadapi Bani Israel, Fir’aun dan Qarun. Sayyidina Isa as. bersabar dalam menghadapi gangguan Yahudi. Para Nabi yang lainnya bun bersabar. Di antara mereka ada yang dipotong dengan gergaji, ada yang dikupas kulit kepala dan wajahnya, dan ada yang dibakar dengan api.
3. Diantara kisah-kisah Sayyidina Ayub as.: Bahwa Allah memberi kekayaan yang banyak berupa unta, berbagai jenis ternak dan kebun. Allah mengaruniainya istri dan anak laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi itu semua tidak melalaikannya dari menyembah Tuhan dan menunakar kewajiban-kewajibannya.
Beliau seorang yang menyayangi orang-orang Miskin menghormati tamu dan memelihara anak-anak yatim serta para janda. Kemudian Allah mengujinya dengan berbagai cobaan berat pada badan, keluarga dan hartanya, agar menjadi pe. lajaran baginya dan orang lain, di samping agar mereka mengetahui bahwa dunia adalah tanaman untuk akhirat, sedang yang wajib atas manusia adalah bersabar da am keadaan susah dan senang.
Sayyidina Ayub terserang penyakit di tubuhnya selama 18 tahun dan rumahnya roboh menimpa anak-anaknya h ngga semuanya meninggal. Harta bendanya terkena gangguan hingga binasa. Kemudian setan menimbulkan perasaan waswas ke dalam dirinya. Namun Allah melindunginya dari kejahatan dan menyelamatkannya dari fitnah setan. Beliau menghadapi semua itu dengan kesabaran dan penyerahan diri di samping menghadapi kenikmatan dengan pujian dan syukur.
Maka Allah Ta’ala memujinya: “Sesungguhnya kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (AQ. Shaad: 44). Beliau berdo’a dan memohon perlindungan kepada Tuhannya dalam menolak cobaan dari“Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya, Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.
Maka, Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84).
Kemudian Allah memberi karunia kepadanya dengan menjadikan Ayub muda dan sehat kembali serta melipatgandakan keluarga, anak dan harta yang pernah dimilikinya, sehingga keadaannya pun menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
4. Demikian juga kesabaran Sayyidina Dawud, Sulaiman, Yunus, Zakaria dan Yahya. Jejak mereka diikuti oleh para wali dan ulama. Mereka pun bersabar dan mendapat pahala yang banyak. Di antara mereka ada yang tersebut dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
Sesungguhnya ada orang di zaman dahulu yang diuji: pertama, dalam hal mencintai anak-anaknya, dia pun bersabar dan selamat dari mendurhakai ibu-bapak. Kedua, dalam hal mencintai putri pamannya, dia pun bersabar dan selamat dari perbuatan zina. Ketiga, dalam hal mencintai hartanya, dia pun teguh di atas kebenaran dan menyampaikan amanat serta selamat dari khianat. Lafazh hadits tersebut ialah:
“Ada tiga orang dari umat sebelum kamu bepergian, mereka masuk dan bermalam di dalam sebuah gua. Tibatiba jatuh sebuah batu besar dari gunung hingga menutupi gua itu terhadap mereka. Maka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya tidak ada yang menyelamatkan kamu dari batu ini, kecuali, bila kamu berdoa dengan perantaraan amal-amalmu yang shalih.’ Salah seorang dari mereka berkata: ‘Ya, Allah, dahulu aku mempunyai ibu dan bapak yang sudah lanjut usianya, sedangkan aku tidak memberi minum susu seorang pun, baik keluarga maupun hamba Sahaya, sebelum kedua orang tuaku.
Pada suatu hari, aku mencari pohon untuk makanan ternak di tempat yang jauh hingga aku belum menjumpai kedua orangtuaku, sampai mereka tidur. Maka, kuperah Susu bagi mereka dan aku dapati kedua orangtuaku sedang tidur. Akan tetapi aku enggan membangunkan dan tidak ingin memberi keluarga maupun hamba sahaya. Aku tetap diam sambil memegang gelas di tanganku. Aku menunggu mereka bangun hingga terbit fajar, sementara anak-anakku menjerit-jerit di kakiku. Ketika kedua orangtuaku telah bangun, lalu mereka meminumnya.
Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap ridha-Mu, maka bebaskanlah kami dari batu ini.’ Maka, tersingkirlah batu itu sedikit. Namun, mereka tidak bisa keluar dari goa itu.
Orang kedua berkata: ‘Ya, Allah, aku mempunyai putri paman yang paling aku cintai. Aku menginginkan dirinya, namun dia menolak keinginanku hingga dia mengalami musim paceklik (kemarau panjang). Kemudian dia datang padaku. Aku pun memberinya 120 dinar dengan syarat dia mau menyerahkan dirinya kepadaku. Dia setuju hingga aku berhasil menguasainya. Namun perempuan itu berkata: Takutlah kepada Allah dan jangan melepas cincin,’? kecuali dengan haknya.”
Kemudian dia kutinggalkan, padahal dia orang yang paling aku cintai. Aku tinggalkan pula emas yang kuberikan kepadanya. “Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap ridha-Mu, maka bebaskanlah kami dari kesulitan yang kami alami.” Maka batu itu tersingkir sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar dari tempat itu.”
Orang ketiga berkata: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku (majikan) menyewa orang-orang dan kuberi upah, kecuali satu orang yang membiarkan upahnya, kemudian pergi. Aku pun mengembangkan upahnya hingga menjadi banyak hartanya. Setelah beberapa waktu, dia (buruk itu) datang kepadaku. Dia berkata:
Wahai hamba Allah, berikan upah yang dulu kepadaku. Aku berkata: Semua yang engkau lihat adalah dari upahmu, yakni, unta, sapi, kambing dan budak. Orang itu berkata: Hai hamba Allah, janganlah kamu mengejek aku. Kemudian aku berkata: Aku tidak mengejekmu. Orang itu pun mengambil semua miliknya. Dia mengambil harta seluruhnya tanpa meninggalkan sedikit pun.
Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap ridha-Mu, maka bebaskanlah kami dari kesulitan yang kami alami.’ Kemudian, tersingkirlah batu itu dan mereka keluar sambil berjalan.”
(Bersambung ….. )