
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
11. Bersyukur dan Mengingkari Nikmat
1. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung memberimu nikmat yang banyak dan besar, khusus dan umum. Nikmat-nikmat yang khusus misalnya, iman, Islam, wujud (terciptanya diri), akal, ilmu, rezeki, kesehatan, keselamatan, makan, minum, tidur serta nikmat lain yang tidak terhitung banyaknya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menghitunghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya ….” (QS. An-Nahi: 18). “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) ….” (QS. An-Nahl: 53).
Adapun nikmat-nikmat umum, yaitu: Allah menciptakan langit dan isinya: berupa matahari, bulan dan bintang-bintang untuk digunakan para hamba-Nya. Begitu pula bumi dan isinya : berupa lautan, sungai-sungai, gunung-gunung, angin, berbagai hewan dan pohon-pohon.
Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu, supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur.
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian Itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jaatsiyah: 12-13).
2. Oleh karena itu, kamu wajib bersyukur kepada Tuhanmu atas nikmat-nikmat ini. Allah Ta’ala berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS: al-Baqarah: 152). “.. maka carilah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17).
Apabila kamu bersyukur kepada Tuhanmu, maka tidaklah diragukan bahwa Allah akan membalasmu atas rasa syukur kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman: “… dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali-lmran: 144). Di samping itu, Allah akan menambah nikmat-Nya bagimu, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu …” (QS. Ibrahim: 7).
Apabila kamu tidak bersyukur kepada-Nya, maka Dia akan murka kepadamu, sebagaimana firman-Nya: “… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas dirinya, maka dia telah membiarkan kehilangan nikmatnikmat itu. Tersebut dalam hadits: “Mensyukuri nikmat itu menimbulkan rasa aman dari kehilangannya.”
Penyair berkata:
Apabila kamu dalam kenikmatan, maka peliharalah kenikmatan itu karena maksiat menghilangkan kenikmatan.
Jagalah kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan cepat menghukum.
3. Banyak orang hanyut dalam nikmat-nikmat Allah Yang Maha Pemurah, tetapi mereka lalai dari mensyukuriNya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Tidaklah diragukan bahwa faedah syukur akan kembali kepadamu, karena Allah tidak membutuhkan dari seorang pun.
Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendirinya, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (AlQS. Lukman: 12).
Di antara doa-doa Nabi saw.: “Ya, Allah, jadikan aku orang yang bersyukur. Jadikan aku orang yang sabar. Jadikan aku kecil di depan pandanganku dan besar dalam pandangan orang-orang.” Dalam hadits lain: “Sungguh mengherankan keadaan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan dan tidaklah hal itu terjadi untuk semua orang, kecuali bagi orang mukmin. Jika mengalami kesenangan, dia pun bersyukur. Maka hal itu menimbulkan kebaikan baginya. Jika mengalami kesusahan, dia pun bersabar. Maka hal itu menimbulkan kebaikan baginya.”
4. Rasa syukur itu ialah: Pengalihan pandangan hamba atas semua kenikmatan yang diberikan Allah kepada-Nya menjadi renungan untuk apa dia diciptakan. Rasa syukur itu dinyatakan dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Pernyataan syukur dengan hati: Apabila kamu selalu mengingat Tuhanmu dengan hati yang disertai ke cintaan dan pengagungan serta menggambarkan Seimuz kenikmatan dari Allah.
Pernyataan syukur dengan lisan: Apabila kamu mengingat-Nya dengan puji-pujian yang menunjukkan rasa syukur kepada-Nya. Yang paling utama menurut hadits ialah mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, dengan pujian yang sesuai dengan kenikmatan-Nya dan setimpal dengan tambahan-Nya.”
Hendaklah kamu gunakan lisanmu untuk membaca AlOur’an, hadits, perkataan ulama dan menyebut nama Allah serta mengucap shalawat atas Nabi saw., di samping berbicara yang baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia ….” (QS. An-Nisaa’: 114).
5. Pernyataan syukur dengan anggota tubuh: Apabila kamu beribadah kepada-Nya. Yaitu mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat untuk hartamu, berpuasa, pergi haji ke Baitullah dan menggerakkan anggota tubuhmu untuk perbuatan yang diridhai Allah SWT. Engkau pun berjalan dengan kedua kakimu untuk menuntut ilmu, menunaikan shalat dan memenuhi keperluanmu serta keperluan orang lain, terutama kedua orang tua dan guru-gurumu.
Hendaklah kamu hindari berjalan kaki menuju maksiat, agar kamu tidak mengingkari nikmat kedua kakimu. Hendaklah kamu bekerja dengan kedua tanganmu dalam melaksanakan berbagai pekerjaan dan mengkhususkan tangan kanan dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersih. Disebutkan dalam hadits:
“Nabi saw. menjadikan tangan kanannya untuk makan, minum, wudhu’, berpakaian, mengambil dan memberi, sedangkan tangan kirinya untuk selain itu.”
Hendaklah kamu hindari mengganggu seseorang dengan kedua tanganmu: baik dengan cara memukul, mencuri harta, mengkhianati dalam suatu amanat atau titipan, ataupun menulis sesuatu yang tidak boleh kamu bicarakan, karena pena adalah satu lisan. Adapun cara mensyukuri nikmat kedua mata ialah, apabila kamu membaca Al-Our’an yang mulia dan hadits yang terhormat serta kitab-kitab yang berguna dengannya.
Di samping itu, untuk memandang orang-orang fakir miskin, anak-anak yatim dan cacat serta mengasihi dan menolong mereka. Kamu juga memperhatikan orang-orang yang bodoh dan sesat, lalu kamu ajari dan bimbing mereka ke jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kedua mata, kamu perhatikan tujuan-tujuanmu yang baik dan keajaiban-keajaiban makhluk ciptaan Allah serta kamu pikirkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Hendaklah kamu tidak menggunakan kedua mata untuk memandang hal-hal terlarang atau aurat. Disebutkan dalam hadits: “Allah melaknat orang yang memandang dan yang dipandang (bilamana terlarang).”Atau jangan menggunakannya untuk menyelidiki aib orang lain dan memandang kepadanya dengan penghinaan dan ejekan.
Dalam hadits dijelaskan: “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya hingga tidak mengurusi aib orang lain.” Dalam hadits lain: Cukuplah kejahatan seseorang bila dia menghina saudaranya yang muslim.”
Mensyukuri nikmat dua telinga: Apabila kamu menggunakannya untuk mendengarkan kebaikan, misalnya, bacaan Al-Our’an, nasihat-nasihat dan ilmu pengetahuan: serta menjaga” keduanya dari kejahatan, misalnya, mendengarkan ghibah (pergunjingan), namimah (mengadu domba) serta perkataan yang keji.
Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya pendengar itu adalah sekutu dari orang yang mengucapkan pergunjingan, dan dia termasuk salah seorang penggunjing.”
6. Kamu harus membesarkan nikmat Allah atas dirinya dengan memandang orang yang di bawahmu dalam berbagai, urusan dunia, agar kamu bersyukur kepada Tuhanmu, Allah Ta’ala, dan tidak meremehkan nikmat-nikmat-Nya. Adapun dalam urusan-urusan agama, maka kamu harus memandang orang yang diatasmu, agar bertambah kegiatanmu dalam ke. baikan dan menjadi besar keinginanmu akan ketaatan. Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa dalam urusan dunia memandang kepada orang yang di bawahnya dan dalam masalah agama memandang kepada orang yang di atasnya, maka Allah menetapkannya sebagai orang yang sabar dan bersyukur. Dan barangsiapa dalam urusan dunia memandang kepada orang yang di atasnya dan dalam masalah agama memandang kepada orang yang di bawahnya, maka Allah tidak menetapkannya sebagai orang yang sabar dan bersyukur.”
Penyair berkata:
Barangsiapa ingin kehidupan yang lapang dalam masa yang panjang atas agama maupun dalam keduniaannya menjadi makmur,
Hendaklah ia memandang kepada orang yang shalih (takwa) di atasnya.
Dan memandang kepada orang yang lebih Sedikit harta daripadanya.
Apabila kamu lihat seseorang terkena musibah dalam agama, akal, badannya ataupun selain itu, maka bagimu disunahkan melakukan sujud kepada Allah atas keselamatan dari cobaan tersebut. Disunahkan pula mengucapkan secara perlahan, aga! tidak terdengar: oleh penderita sehingga dia tidak meras3 sedih atas ucapan itu: “Segala puji bagi Allah yang menye lamatkan aku dari cobaan yang menimpamu dar melebihkan aku dari makhluk banyak yang diciptakan Nya. “
Disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa mengucapkan perkataan itu, maka dia tidak ditimpa cobaan tersebut selama hidupnya.”
7. Termasuk pernyataan syukur kepada Allah Ta’ala Apabila kamu bersyukur kepada orang yang berbuat baik kepadamu, khususnya kedua orangtua dan guru-gurumu. Dalam hadits dijelaskan: “Orang yang paling bersyukur kepada Allah lalah orang yang paling bersyukur kepada manusia.”
Dalam hadits lain: “Barangsiapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah dia. Jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakanlah dia hingga kamu mengetahui bahwa kamu telah bersyukur, karena Allah mencintai orang-orang yang bersyukur.” Sabda yang lain: “Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak beryukur kepada manusia.”
Adapun orang yang tidak berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepadanya, maka dia adalah orang yang hina dan jahat jiwanya. Penyairberkata:
Aku ajari dia memanah setiap hari, ketika sudah tepat bidikannya, dia pun memanahku
Betapa banyak aku ajari dia membuat bait syair, Setelah pandai bersyair, dia mencaci aku.
1. Sayyidah Aisyah ra., berkata: Nabi saw. melakukan shalat pada waktu malam hingga pecah-pecah kakinya. Maka aku bertanya kepadanya: “Mengapa Anda lakukan ini, waha, Rasulullah, padahal telah diampuni dosamu terdahulu dan terkemudian?”” Beliau menjawab: “Bukankah aku harus menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
2. Al-Faqih Abu Ishaq: Muhammad bin Oasim bin Sya’ban Al-Qurtubi rahimahullah —tidak keluar dari rumahnya, melainkan bila beliau memegang kaki ibunya, lalu meletakkan di pipinya seraya berkata: “Ya Allah, Engkau katakan dalam Kitab-Mu: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (OS. Al-Isra’:24). Sesungguhnya aku telah merendahkan diriku kepadanya, maka ampunilah dosaku, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”
3. Diceritakan, seorang laki-laki yang sudah tua digendong oleh putranya dan dipelihara serta diberi makan olehnya seperti anak kecil. Pada suatu hari putranya berkata kepadanya: “Hai Ayahku, aku telah membalas dan memeliharamu sebagaimana engkau memelihara aku. Kita telah sama-sama berbuat begitu.” Maka ayahnya berkata: “Sekalikali tidak.” Putranya berkata: “Bagaimana itu?” Sang ayah menjawab: “Ketika aku memeliharamu, aku mengharapkan hidupmu dan menanti masa mudamu, sedangkan kamu sekarang mengharap kematianku.”
4. Dalam kitab Tarikh Ibnu Khallikan diriwayatkan, seorang laki-taki dari umat terdahulu sedang makan dan di depannya ada seekor.ayam panggang. Kemudian seorang pengemis datang kepadanya, namun dia menolaknya dengan tangan hampa. Padahal orang itu hidup mewah. Pada suatu ketika, terjadi percerdian antara dia dengan istrinya, maka habislah hartanya.
Kemudian pengemis itu kawin dengan istrinya. Di saat suami kedua sedang makan ayam panggang di hadapannya. tiba-tiba datang kepadanya seorang pengemis. Lalu orang itu berkata kapada istrinya: “Berikanlah ayam itu kepadanya.” Maka istrinya memberikan ayam panggang itu dan memandang kepadanya. Ternyata dia adalah suaminya yang pertama. Kemudian diceritakannya kisah itu kepada suaminya. Maka suami kedua itu berkata: “Demi Allah, akulah orang miskin yang pertama itu, yang disia-siakan olehnya. Maka Allah memindahkan kenikmatan dan istrinya kepadaku. karena dia kurang bersyukur.”
5. Seorang laki-laki mengeluh mengenai kemiskinannya kepada seorang arif bijaksana dan menampakkan kesedihannya yang sangat. Orang bijaksana itu bertanya: “Apakah kamu senang apabila dirimu buta dengan imbalan 10.000 dirham?” Orang itu menjawab: “Tidak”. Orang bijaksanra itu bertanya: “Apakah kamu senang apabila dirimu bisu dengan imbalan 10.000 dirham”? Orang itu menjawab: “Tidak.” Kemudian orang bijasana itu bertanya: “Apakah kamu senang apabila kedua tangan dan kedua kakimu buntung dengan imbalan 20.000 dirham?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Orang bijaksana itu bertanya: “Apakah kamu senang ” apabila kamu gila dengan imbalan 10.000 dirham?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka orang bijaksana itu berkata: “Tidakkah kamu merasa malu apabila kamu mengeluh pada Tuhanmu, sedangkan Dia mempunyai harta padamu sebanyak 50.000 dirham?”
6. Ibnu Sammak masuk menemui seorang khalifah, sedang di tangannya membawa kendi air yang diminumnya. Khalifah itu berkata kepadanya: “Nasihatilah aku.” Ibnu Sammak bertanya: “Seandainya kamu tidak diberi minuman ini, kecuali dengan memberikan semua hartamu atau kamu tetap haus, apakah engkau mau memberikannya?” Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnu Sammak bertanya: “Seandainya kamu tidak diberi minum air, kecuali dengan imbalan seluruh kerajaanmu, apakah kamu mau meninggalkannya?” Khalifah menjawab: “Ya.” Ibnu Sammak berkata: “Maka jangan gembira dengan kerajaan yang tidak menyamai seteguk air.” Maksudnya, nikmat Allah atas hamba-Nya dalam meminum air pada waktu haus, lebih besar daripada kerajaan bumi seluruhnya.
13. Sifat Menahan Diri dan Marah
1. Sifat menahan diri, adalah mengendalikan nafsu pada waktu marah. Sifat ini termasuk akhlak paling mulia dan adab yang paling baik. Maka, kamu harus memiliki akhlak itu, agar kehormatan dirimu selamat dari celaan dan hatimu tenang dari kekhawatiran serta mendapat pujian yang baik dan pahala yang banyak. Allah Azza wa Jalla berfirman: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran:134)
Nabi saw. bersabda: “Carilah kemuliaan di sisi Allah.” Para sahabat bertanya: “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sambunglah hubungan dengan orang yang menjauhi kamu dan berilah orang yang tidak memberimu dan menahan diri terhadap orang yang mengganggumu.” Di antara doa Nabi saw.: “Ya Allah, cukupilah aku dengan ilmu. Hiasilah aku dengan sifat menahan diri dan muliakanlah aku dengan takwa serta baguskanlah aku dengan kesehatan.”
Jika seseorang mengganggumu, maka maafkanlah, dan jika dia mengemukakan alasan, maka terimalah alasannya. Disebutkan dalam hadits: “Barangsiapa yang dikemukakan alasan kepadanya oleh saudaranya, sedang dia tidak mau menerimanya, maka dia pun berdosa, Seperti pemungut pajak gelap.”
Dalam hadits lain: “Barangsiapa yang dikemukakan alasan kepadanya oleh saudaranya yang bersalah, sedang dia tidak mau menerimanya, maka dia pun tidak bisa menemui aku di Al-Haudh (telaga Nabi di hari Kiamat).”
Penyair berkata:
Terimalah alasan dari orang yang datang mengemukakan alasan, walaupun ia berkata baik atau buruk kepadamu.
Telah tunduk kepadamu orang yang lahirnya membuatmu ridha dan telah mengagungkanmu orang yang mendurhakaimu secara tersembunyi.
2. Sifat menahan diri mempunyai banyak sebab. Pertama, kasih sayang terhadap orang-orang bodoh. Disebutkan dalam hadits: “Seorang badui kencing di masjid, lalu orang-orang menghampiri untuk memukulnya. Kemudian Nabi saw. bersabda: “Biarkan dia, dan tuangkan di atas kencingnya seember air. Sesungguhnya kamu diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus memberi kesulitan’.
Kedua, kemampuan untuk membalas dendam. Disebutkan dalam hadits: “Apabila kamu dapat mengalahkan musuhmu, maka jadikanlah maaf sebagai rasa syukur atas kemenangan itu.” Rasul saw. telah memaafkan Du’tsur, yang ingin membunuhnya dan orang badui yang menarik serbannya hingga membuat pundaknya membekas dan sakit.
Beliau memaafkan orang yang mengeraskan suaranya ketika dia datang menagih utang. Para sahabat bermaksud memukulnya, namun beliau berkata: “Biarkan dia, karena sesungguhnya pemilik hak boleh berbicara.”
Nabi saw. memaafkan penduduk Makkah yang telah mengganggunya dengan sangat, selama 13 tahun, hingga mereka mengeluarkan dari negerinya, Makkah. Beliau memaafkan banyak orang. Dalam hadits dijelaskan: “Rasulullah saw. tidak mem. balas dendam untuk dirinya sedikit pun, kecuali apabila larangan Allah dilanggar. Jika demikian, beliau membalas karena Allah.”
Ketiga: menghindari caci maki. Dalam hadits diceritakan: “Dua orang yang saling memaki adalah dua setan yang saling memusuhi dan menjauhi”. Terutama laknat. Nabi saw. bersabda: “Orang mukmin bukanlah orang yang suka memaki dan melaknat, serta tidak suka berkata keji maupun kotor.”
Penyair berkata: Katakan apa saja berupa kepalsuan dan dusta Maafku tuli, tapi telingaku tidak. Penyair lain berkata:
Aku menyukai akhlak mulia sekuat tenagaku dan aku tidak suka mencela maupun dicela.
Aku maafkan makian orang karena menahan diri.
Seburuk-buruk orang adalah yang suka mencaci maki.
Diceritakan, seorang laki-laki berkata kepada Dhirar bin Qa’ga’:. “Demi Allah, seandainya kamu katakan kepadaku sekali, tentu kamu dengar sepuluh kali.” Maka Dhirar berkata kepadanya: “Demi Allah, seandainya kamu katakan sepuluh kali, tentu kamu tidak mendengar sekali pun”. Dari Sayyidina Ali bin Husein bin Ali ra.: Bahwasanya Seorang laki-laki memakinya. Maka dia pun melemparkan baju yang dipakainya dan memberi dia uang 1000 dirham.
3. Adapun sifat marah, maka ia sangat tercela dan merupakan kunci setiap kejahatan. Sabda beliau: “Marah itu merusak iman, sebagaimana jadam merusak madu.” Beliau juga bersabda: “Tidaklah seseorang marah, melainkan dia mendekati Jahanam.”
Seseorang bertanya kepada Nabi saw.: “Sesuatu apakah yang paling berat?” Beliau menjawab: “Murka Allah.” Orang itu bertanya: “Apakah yang menjauhkan aku dari murka Allah?” Beliau menjawab: “Jangan marah.” Sayyidina Ali Karramallahu Wajha berkata: “Marah itu sebagian dari gila, karena pelakunya akan menyesal. Jika dia tidak menyesal, maka kegilaannya akan menguat (sempurna).”
Sifat marah terkadang menyebabkan pelakunya bunuh diri, seperti murid yang gagal dalam ujian atau orang yang mengeluh karena kesusahan dan kemiskinan. Semua itu berasal dari was-was setan dan kelemahan iman. Dalam hadits dijelaskan: “Barangsiapa yang menjatuhkan diri dari gunung hingga membunuh dirinya, maka dia masuk neraka Jahanam, menjatuhkan diri ke dalamnya. Dia kekal abadi di neraka untuk selama-lamanya.
Barangsiapa meneguk racun sehingga membunuh dirinya, maka racun itu kelak berada di tangan dan diteguknya di neraka Jahanam. Dia kekal abadi di tempat itu untuk selama-lamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka itu berada di tangan dan ditusukkannya ke perutnya di neraka Jahanam. Dia kekal abadi di tempat itu untuk selama-lamanya.” (HR. Bukhari).
4. Apabila kamu marah, maka tahanlah marahmu itu. Jangan bicara pada waktu marah, agar kamu tidak menguCapkan perkataan yang akan kamu sesali. Dan, duduklah bila kamu berdiri. Dalam hadits disebutkan: “Apabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah dia diam.”Dalam hadits lain: “Apabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah duduk. Jika dia masih marah, hendaklah berbaring.”
Pada waktu marah, janganlah kamu lupa memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah ….” (QS. Al-A’raaf:200).
Hendaklah kamu membaca do’a sesuai dengan hadits: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Ya, Allah, Tuhan dari Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkan kejengkelan hatiku dan lindungilah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.” Jika kamu masih marah, maka berwudhu’lah, sesuai dengan sabda Nabi saw.: “Apabila seseorang di antara kamu marah, hendaklah dia berwudhu’ dengan air, karena marah itu dari api.”
5. Di antara cara-cara menenangkan marah, hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, renungkanlah ayat-ayat Al-Our’an dan haditshadits Nabi, yang menerangkan keutamaan menahan diri dan memberi maaf. Beliau bersabda: “Seorang malaikat berseru di hari Kiamat: ‘Barangsiapa mempunyai pahala yang menjadi tanggungan Allah Azza wa Jalla, hendaklah ia berdiri.’ Maka berdirilah orang-orang yang suka memaafkan orang lain.” Kemudian beliau membaca ayat: “… maka, barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah …” (QS. Asy-Syura:40).
Kedua, hendaklah kamu mengingat Allah dan membayangkan bahwa kekuasaan Allah atas dirimu lebih besar daripada kekuasaanmu untuk membalas orang yang berbuat jahat kepadamu. Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa ….” (QS. Al-Kahfi:24).
Sahabat Ikrimah berkata, yakni, “Jika kamu marah.” Diriwayatkan bahwa Nabi mengutus seorang pelayan dalam suatu keperluan. Ternyata pelayan itu lambat. Ketika dia datang, Nabi saw. bersabda: “Kalau bukan karena takut Oishash, tentu aku telah menyakitimu.” (Qishash yaitu pembalasan hukuman di akhirat).
Ketiga, janganlah kamu mendengarkan perkataan setan, bahwa tidak membalas dendam itu merupakan kerendahan dan kehinaan. Ini adalah kedustaan dari setan terkutuk. Yang benar adalah hal itu merupakan kemuliaan dan kehormatan. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Sifat rendah hati tidaklah menambahi seorang hamba, kecuali kemuliaan. Maka, bersikap rendah hatilah kamu. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajatmu. Maaf itu tidaklah menambah seorang hamba, kecuali kemuliaan. Maka, berilah maaf. Semoga Allah memuliakan kamu.”
Keempat, hendaklah kamu memperingatkan diri akan keburukan akibat pembalasan dendam, karena ia menambah permusuhan dan memperbanyak musuh, serta mendatangkan rasa gembira mereka terhadap musibah-musibah (bencana) yang menimpa dirimu, sehingga hidupmu menjadi keruh. Kemarahan itu tidak dapat memusatkan pikiranmu untuk menuntut ilmu dan beribadah, tidak pula untuk pekerjaanpekerjaanmu yang khusus.
Kelima, hendaklah kamu berpikir tentang keburukan rupamu pada waktu marah. Wajah yang cemberut, kedua mata yang memerah, pipi yang membengkak dan anggotaanggota tubuh yang bergetar. Terkadang menginjak bumi dengan kedua kaki dan memukul dadanya serta bersikap Seperti anjing atau hewan buas yang menyerang. Mungkin juga seperti orang gila yang mengamuk. Karena kemarahan telah menghilangkan kesadaran akalnya. Terkadang memaki pintu bila sulit baginya untuk membuka. Mematahkan pena yang digunakan untuk menulis. Melaknat kendaraan yang dinaiki dan memaki angin jika tertiup ke arahnya. Sebagai. mana diriwayatkan, seorang laki-laki diterpa angin hingga serbannya terlepas, kemudian dia melaknatnya. Maka Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu melaknat angin, karena ia diperintahkan dan tunduk. Sesungguhnya orang yang melaknat sesuatu yang tidak patut dilaknat, maka kembalilah laknat itu menimpa dirinya.”
6. Kebalikan dari itu adalah sifat menahan diri. Sifat tersebut bisa menjadikan kamu musuh sebagai teman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fush Shilat:34).
Orang yang pandai menahan diri akan mendapat pertolongan dari orang lain. Sebagaimana kata Imam Ali karramallahu wajha: “Imbalan pertama bagi orang yang pandai menahan diri, adalah orang-orang akan membelanya terhadap orang yang bodoh.”
Maka patutlah orang berakal tidak melakukan permusuhan antara dia dan seseorang menurut kemampuannya. Disebutkan dalam hadits: “Memperlihatkan cinta (kasih sayang) kepada orang lain adalah setengah dari akal.”
Apabila dia tidak pandai menahan diri dan suka membalas dendam, maka boleh jadi kemarahan akan menyebabkan dia membunuh musuhnya. Apabila dia tidak mampu, barangkali dia akan membunuh dirinya, karena sangat marah dan kesal. Semua itu termasuk dosa besar.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam. Dia kekal didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuk serta menyediakan baginya azab yang besar.” (QS. An-Nisa’:93).
Dalam hadits disebutkan: “Membunuh orang mukmin itu lebih besar akibatnya di sisi Allah daripada kelenyapa” dunia.” Sifat menahan diri dan pemaal, termasuk akhlak para Nabi dan Rasul, ulama dan orang-orang shalih. Marah dan balas dendam termasuk akhlak setan yany sombong dan orang-orang yang bodoh serta rendah budinya. Orang yang sangat kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika bangkit kemarahannya.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Bukanlah orang yang kuat itu karena pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”
7. Adapun marah karena Allah, bukan karena menuruti hawa nafsu, adalah sifat terpuji dan diperintahkan melakukannya serta dinamakan keberanian yang bersifat pendidikan. Hal itu disebabkan melihat kemungkaran yang dikerjakan dan kezaliman dilakukan serta kebenaran diingkari. Sifat menahan diri pada waktu itu sangat buruk dan dilarang.
Aliah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar: merekalah orang-orang yang beruntung …” (QS. Ali-Imran:104).
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israel dengan lisan Dawud dan Isa, putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah:78-79).
Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan li’sannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Itulah Selemah-lemah iman.”
Macam kemarahan yang paling utama, ialah kemarahan ‘ terhadap raja yang zalim, atau penguasa yang berkhianat dan menjual negerinya atau merusak urusan-urusan agama dan negara. Dalam hadits diceritakan, Rasulullah saw. ditanya: “Jihad apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Perkataan yang hak di hadapan raja yang zalim.”
8. Maka, jadilah kamu termasuk kaum yang dicinta. Allah dan mereka mencintai-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersifat keras terhadap orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui …” (qS. Al-Maidah:54).
Janganlah kemarahan dan kecemburanmu menjadi lemah ketika menyaksikan kemungkaran, sehingga kamu menjadi penjilat (mencari muka) dan penakut yang tidak berdaya.
(Bersambung …. )