
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
17. Sifat Rendah Hati dan Kesombongan
1. Sesungguhnya sifat rendah hati adalah akhlak yang mulia. Allah telah memerintah Nabi-Nya untuk bersifat rendah hati. Allah Ta’ala berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’: 215)
“… Sekiranya kamu bersifat keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu …..” (QS. Ali-Imran:159).
Didalam menyifati para wali-Nya, Allah Azza wa Jalla berfirman: “….. yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir ….” (QS. Al-Maidah:54)
“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orangOrang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan:63).
Dengan bersifat rendah hati, naiklah derajat manusia di dunia dan akhirat. Maka, hendaklah kamu mewajibkan atas dirimu akhlak yang mulia ini. Nabi saw. bersabda: “Apabila hamba bersikap rendah hati, Allah mengangkat (derajatnya) sampai ke langit tujuh.” Selanjutnya beliau bersabda: “Sifat rendah hati itu hanyalah menambah kemuliaan manusia, maka bersikaplah rendah hati, semoga Allah merahmati kamu.”
2. Apabila manusia mengenal dirinya dengan sebenar-benarnya, maka tahulah dia, bahwa dirinya rendah dan hina – serta tidaklah layak baginya, kecuali bersifat rendah hati. Dia pun akan mengenal Tuhannya Yang Maha Tinggi dan Maha Besar serta hanya Allah Ta’ala sajalah yang patut memiliki keagungan dan kebesaran.
Dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Kesombongan itu selendang-Ku, sedang keagungan itu sarung-Ku. Maka, barang siapa menentang-Ku mengenai sifat itu atau salah satu dari keduanya, Aku pun melemparkannya ke neraka Jahanam dan Aku tidak peduli,” Yakni, keagungan dan kesombongan itu dua sifat yang khusus dimil.k: Allah Ta’ala dan diserupakan-Nya dengan sarung dan selendang.
3. Waspadalah dari sifat sombong dan membanggakan diri. Allah telah mencela kesombongan di beberapa ayat dari AI-Our’an. Firman-Nya: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. AlA’raf:146). l
“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orangorang yang sombong.” (QS. An-Nahl:23)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin:60)
Allah Ta’ala berfirman tentang menggambarkan musuh-musuh-Nya: “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.” (AS. Ash-Shaffat:35)
“Dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong (di muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu),” (QS. Al-Ankabut: 39).
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orany yang paling kami cintai di antara kamu dan paling dekat di antara kamu terhadap kami di akhirat aaalah orangorang yang terbaik akhlaknya di antara kamu. Dan sesungguhnya orang yang paling kami benci di antara kamu dan paling jauh di antara kamu terhadap kami adalah orang-orang yang banyak bicara tanpa guna dan suka membual serta Al-Mutafaiqihuun.”
Para sahabat berkata: “Wahai Rasululah, telah kami ketahui orang-orang yang banyak bicara tanpa guna dan pembual, lalu apa itu Al-Mutafaigihuun?” Rasulullah saw. menjawab: “Orang-orang yang sombong.” Dilanjutkan: “Orang-orang yang sombong dibangkitkan pada hari Kiamat dalam bentuk seperti semut-semut kecil yang diinjak oleh orang-orang. Kemudian mereka digiring ke penjara di neraka Jahanam yang bernama ‘Bulas’ yang dipenuhi api, sedang mereka diberi minum thiinatul khabaal, yaitu keringat penghuni neraka.”
4. Sebab-sebab kesombongan adalah banyak, di antaranya kesombongan dengan ilmu. Nabi saw. bersabda: “Cacat ilmu adalah kesombongan.” Adalah buruk sekali bila orang alim sombong. Lebih patut baginya bersikap rendah hati, sebagaimana kata penyair:
Apabila bertambah ilmu manusia ia semakin merendahkan diri.
Jika manusia semakin bodoh, ia pun semakin tinggi hati.
Begitulah ranting yang memikul buah dapat kamu capai walaupun ia semakin kuat karena memikul buah.
Hal itu disebabkan orang alim menyadari kebesaran tanggung jawab ilmu. Sesungguhnya dia tidak dapat menunaikan syukur kepada Allah atas nikmat ilmu dan takut bahaya kesudahan hidupnya. Oleh karena itu, dia pun tetap tunduk kepada Tuhannya. Khawatir atas dirinya dan rendah hati kepada orang lain, karena dia tahu bahwa kesombongan itu tidak patut, kecuali bagi Allah.
Apabila dia sombong, Tuhan membencinya: dan apabila dia bersikap rendah hati, maka Tuhan akan mencintal dan memimpinnya. Dalam hadits Qudsi dijelaskan “Sesungguh nya kamu mempunyai derajat di sisi-Ku, selama kamu tidak melihat derajat bagi dirimu. Jika kamu melihat de rajat bagi dirimu, maka tiada derajat bagimu di sisi-Ku,”
5. Di antaranya: Menyombongkan Ibadah dan kesha lihan, harta dan ketampanan, nasab (keturunan) dan kekuatan serta sebab-sebab lainnya. Oleh karena itu, jauhilah silat sombong, walaupun sedikit. Dalam hadits disebutkan: “Tidaklah masuk surga orang yang terdapat sedikit sifat sombong di dalam hatinya.” Hal itu disebabkan sifat sombong mencegah pemiliknya dari memiliki akhlak yang baik, yang merupakan pintu-pintu surga. Maka dia tidak dapat bersikap rendah hati dan tidak mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri. Dia pun tidak dapat memaafkan dan bersabar.
Sebaliknya, kesombongan mendorongnya untuk berakhlak buruk, yang merupakan pintu-pintu neraka, misalnya dendam, dengki, dusta, marah, penghinaan terhadap orang lain dan keengganan menerima nasihat. Orang yang sombong tertutup hatinya dan petunjuk yang diberikan, sedikit pun tidak akan dihiraukan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “….. Demikianlah Allah menutup hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. Al-Mukmin: 35).
Iblis dahulu menyembah Allah bersama para malaikat selama ribuan tahun. Ketika ia sombong, Allah melaknat dan mengusirnya dari surga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. la enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).
Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. A-A’raf: 13).
6. Termasuk tanda-tanda sombong, ialah meninggikan diri di majlis-majlis dan mendahului teman-teman, memuji dirinya dan mence’a orang lain serta enggan menerima: kebenaran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Kesom’ bongan adalah menolak kebenaran dan tidak mau menerimanya serta menghina orang lain.”
Dia tetap melakukan kesalahannya. Karena tidak ingin dibantah oleh siapa pun. Orang yang sombong menggunakan kekerasan dan kekasarannya apabila menasihati orang lain. Memalingkan pipi dan mencemberutkan wajahnya. Berjalan dengan sombong, menghentakkan kedua kakinya di bumi dan tidak suka orang lain mendahuluinya pada waktu berjalan.
Orang yang sombong suka bila orang lain berjalan di belakang dan orang-orang berdiri menyambutnya di dalam majlis, tidak mau mendahului memberi salam kepada orang lain dan apabila orang lain memberi salam kepadanya, dia tidak menjawab salamnya.
Termasuk tanda-tanda orang sombong pula, ialah apabila dia memandang kepada orang lain dengan mengejek. Dia ingin dikunjungi dan tidak mau berkunjung kepada orang lain. Dia tidak suka menghadiri majlis-majlis yang terdiri dari o: rang-orang lemah dan miskin. Tidak mau makan bersama mereka dan tidak memenuhi undangannya bila diundang. Juga tidak mau menjenguk orang sakit atau berlaku sopan terhadap mereka.
Orang yang sombong tidak mau melakukan pekerjaanpekerjaannya sendiri, tetapi menggunakan orang lain dan enggan membawa barang dengan tangannya. Orang yang sombong tidak memakai pakaian biasa, kecuali yang mewah dengan tujuan menyombongkan dan membanggakan diri. Dan lain-lainnya.
1. Seorang laki-laki makan di dekat Rasulullah saw dengan tangan kirinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Makanlah dengan tangan kananmu.” Orang itu berkata: “Aku tidak bisa.” Rasulullah saw. berkata: “Engkau tidak akan dapat melakukannya. Dia menolak karena dia sombong.” Nabi berkata lagi: “Maka orang itu tidak bisa meng. angkat tangan ke mulutnya.”
2. Sayyidina Ali ra. memberi sahayanya beberapa uang dirham untuk membeli dua baju yang berbeda harganya. Ketika membawa kedua baju itu. Sayyidina Ali memberinya baju yang lebih tipis tenunannya dan lebih mahal harganya serta menyimpan yang lain bagi dirinya. Sayyidina Ali berkata kepadanya: “Kamu lebih berhak memakai yang terbaik daripada aku, karena kamu masih muda dan seleramu suka yang bagus. Sedang aku telah tua dan cukuplah ini bagiku.”
3. Tatkala Sayyidina Umar bin Khattab ra. dipanggil ke negeri Syam untuk melaksanakan penandatanganan perdamaian di salah satu wilayahnya, sebagaimana diisyaratkan penduduknya, maka beliau bergiliran menaiki kendaraan antara beliau dan sahayanya. Ketika mendekati kota, tibalah giliran sahaya itu menaikinya. Akhirnya, tibalah Sayyidina Umar di pangkalan pasukannya sambil berjalan, sementara sahayanya menaiki kendaraan.
4. Sayyidina Husein bin Ali ra. melewati tempat orangorang miskin, sementara mereka makan roti di atas selembar kain. Kemudian mereka berkata: “Wahai Abu Abdillah, marilah makan siang.” Maka Sayyidina Husein ra. turun dari kendaraannya dan membacakan ayat: “Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. An-Nahl: 23).
Sayyidina Husein ra. makan bersama mereka, kemudian dia berkata: “Aku telah memenuhi undangan kalian, maka penuhilah undanganku.” Maka mereka pergi bersamanya. Ketika tiba dirumahnya, beliau berkata kepada sahaya perempuannya: “Keluarkan makanan yang kamu simpan.”
5. Diriwayatkan, pada suatu malam Sayyidina Umar bin Abdul Aziz ra. kedatangan seorang tamu, ketika itu beliau sedang menulis, lampunya nyaris padam. Maka tamunya berkata: “Aku akan menghampiri lampu itu untuk memperbaikinya.”
Sayyidina Umar berkata: “Bukanlah merupakan kemurahan hati apabila seseorang dilayani oleh tamunya.” Orang itu berkata: “Apakah perlu aku bangunkan pelayan laki-laki itu?” Sayyidina Umar menjawab: “Dia baru tidur.” Kemudian Umar berdiri dan mengambil lampu, lalu mengisinya dengan minyak. Tamu itu berkata: “Engkau berdiri sendiri, wahai Amirul Mukminin!” Sayyidina Umar berkata: “Aku pergi dan namaku Umar. Aku pulang dan namaku Umar. Tidak mengurangi dariku sesuatu pun. Sebaik-baik manusia adalah orang yang rendah hati di sisi Allah.” .
6. Diceritakan, Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhirrahimahullah memandang kepada Muhallab bin Abi Shufrah yang memakai pakaian hingga mengenai tanah dan menyeretnya sambil berjalan dengan sombong. Kemudian Mutharrif berkata: “Hai Abu Abdillah, kenapa kamu berjalan seperti ini, yang dibenci Allah dan Rasul-Nya?” Maka Al-Muhallab berkata: “Tidakkah kamu mengenal. aku?” Mutharrif menjawab: “Ya, aku mengenaimu. Pertama kali kamu adalah setetes air mani yang busuk, akhirnya menjadi bangkai yang kotor, sedangkan isi perutmu di antara itu adalah kencing dan kotoran.” Akhirnya, Muhallab tidak lagi berjalan seperti itu.
7. Dari Umar bin Syabbah, dia berkata: “Pada saat aku di Makkah, berada di antara Shafa dan Marwah. Kemudian aku melihat seorang laki-laki yang menaiki baghal betina (peranakan kuda dan keledai) dan di depannya terdapat beberapa anak. Ternyata, mereka membentak orang-orang.
Selang beberapa waktu, aku kembali, kemudian memasuki jembatan. Ternyata, aku melihat seorang laki-laki yang ber. telanjang kaki dan terbuka kepalanya dengan rambut panjang. Lalu aku memandang dan merenungkannya.”
Maka dia berkata: “Mengapa kamu memandang kepa. daku?” , Aku jawab: “Aku serupakan kamu dengan seorang laki-laki yang kulihat di Makkah dan aku gambarkan sifatnya.” Kemudian dia berkata: “Akulah orang itu.” Maka aku bertanya: “Apa yang dilakukan Allah terhadapmu?” Dia menjawab: “Aku meninggikan diri di tempat orangorang merendahkannya (di Makkah). Maka Allah merendahkan aku di mana orang-orang meninggikan diri (di bawah jembatan).”
8. Al-Hajjaj bin Yusuf, seorang yang zalim dan sombong serta sering menumpahkan darah. Berita-beritanya yang buruk tersebut di kitab-kitab sejarah. Pada suatu hari, dia melihat seekor kumbang merayap menuju tempat shalatnya, lalu diusirnya, namun ia kembali. Kemudian diusirnya lagi, tetapi kumbang itu tetap kembali. Maka. dia mengambilnya dengan tangan dan dibuang. Akan tetapi kumbang itu menggigitnya hingga bengkak tangannya, lalu dia meninggal akibat gigitan kumbang tadi.
Demikian Allah menghinakannya, melalui sebab makhluk-Nya yang terlemah, sebagaimana Raja Namrud bin Kan’an, yang terbunuh oleh seekor nyamuk yang masuk ke ” hidungnya. Nyamuk itulah yang menyebabkan kebinasaannya.. Sering kali dia bertindak sewenang-wenang dan sombong hingga mengaku Tuhan. Dia mengganggu Sayyidina Ibrahim as. dan ingin membakarnya dengan api. Maka Allah menyelamatkannya dari api.
Allah Ta’ala berfirman: “Kami berfirman: ‘Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya’: 69).
9. Begitu pula Allah membinasakan Fir’aun dengan menenggelamkannya di Sungai Nil dalam keadaan hina dina setelah dia berbuat sewenang-wenang dan aniaya serta berkata kepada kaumnya: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24).
Dia mengganggu Sayyidina Musa as., membunuh dan memenjarakan banyak orang serta menyiksa mereka dengan sekeras-kerasnya. Begitu pula Garun ketika menjadi sombong. Allah membenamkannya di bumi. Maka, dia pun masuk ke dalamnya hingga hari Kiamat, dan lain-lain.
Demikian pula yang tersebut dalam cerita-cerita kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, Luth dan Syu’aib. Maka Allah menyiksa mereka karena kesombongan dan kerusakan mereka di muka bumi. Sebagian mereka ada yang ditenggelamkan, diterpa angin yang sangat dingin lagi kencang, karena teriakan, karena batu-batu dan api yang menimpa mereka dari langit atau gempa yang keras.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, serta di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ankabut: 40).
1. Ikhlas, adalah dasar dari amal-amal dan jiwanya Amalan tidak sah dan tidak diterima di sisi Allah bilamana tanpa ikhlas. Allah Ta’ala berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5). “Ingatiah, hanya kepunyaan Allah agama yang ber. sih (dari syirik)…” (QS. Az-Zumar: 3).
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kaki tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37). Makna ikhlas, ialah kamu beramal bagi Allah saja, agar Allah meridhai dan memberimu pahala. Hendaklah amalmu bersih dari campuran niat-niat lain, misalnya, mencari ketenaran, harta atau kedudukan.
2. Hendaklah kamu bersikap ikhlas dalam keyakinan dan perkataan, agar menjadi orang mukmin yang benar dan beruntung serta mendapat ridha Tuhan sekalian alam. Waspadalah terhadap riya’ dalam hal itu, agar kamu selamat dari syirik dan dosa, di samping amalmu selamat dari penolakan dan sia-sia (tidak ada faedahnya). Dalam hadits disebutkan: “Serendah-rendah riya’ adalah syirik.”
Rasulullah saw. ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang dengan landasan keberanian, karena harga diri atau riya’.. Manakah di antara semua itu yang fi sabilillah (di jalan Allah)? Maka Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa berperang (berlandaskan) agar kalimat Allah yang diatas, maka dia (termasuk) di jalan Allah.”
Disebutkan dalam hadits pula: “Sesungguhnya amalamal itu bergantung niatnya dan setiap orang itu mendapat hasil sesuai dengan “niatnya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena kesenangan dunia yang ingin dicapai atau perempuan yang ingin dinikahi, maka hijrahnya bergantung pada niatnya pada waktu hijrah.”
3. Ketahuilah, ikhlas itu wajib dan orang yang mukhlis (ikhlas) itu dicintai Allah: sedangkan riya’ adalah haram dan termasuk dosa besar. Orang yang bersikap riya’ dibenci dan dimurkai di sisi Allah.
Allah Azza wa Jalla telah mencela orang-orang yang bersifat riya’ melalui firman-Nya: “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang yang berbuat riya’ dan enggan menolong dengan barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun:4-7).
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’: 142).
“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan hartaharta mereka karena riya’ kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka ia adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS. An-Nisaa’: 38).
Allah Ta’ala Memuji orang-orang yang mukhlis melalui firman-Nya: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9).
Atas dasar ikhlas, Allah menjanjikan kepada orang-orang yang bertobat dari kaum munafik untuk menerima tobatnya dan memberi pahala yang besar bersama orang-orang mukmin yang beramal, melalui firman Allah Ta’ala:
“Kecuali orang-orang yang bertobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus Ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang yang beriman pahala yang besar.” (An-Nisa’: 146).
4. Ketahuilah, orang-orang yang beramal dan tujuannya hanya sekedar riya’, Ia telah membiarkan dirinya untuk menghadapi kebinasaan dan siksa yang keras. Disebutkan dalam hadits: “Pertama kali yang ditanyakan pada hari Kiamat adalah tiga macam, yaitu: Seorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah. Maka Allah bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan dengan ilmumu?’ Orang itu menjawab: ‘Ya Tuhanku, aku mengamalkannya sepanjang malam dan siang.’ Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Kamu berdusta.’ Para malaikat pun berkata: “Kamu berdusta. Kamu hanya ingin dikatakan orang, bahwa si Fulan alim. Ingatlah, telah dikatakan begitu.”
Seorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu Allah Ta’ala bertanya: ‘Aku telah memberimu kenikmatan. Apa yang kamu lakukan?’ Orang itu menjawab: ‘Ya Tuhanku, aku bersedekah dengannya sepanjang malam dan siang.’ ‘Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Kamu berdusta.’ Para malaikat pun berkata: “Kamu berdusta. Kamu hanya ingin dikatakan orang, bahwa si Fulan dermawan. Ingatlah, telah dikatakan begitu.”
Dan seorang yang terbunuh di jalan Allah Ta’ala. Maka Allah Ta’ala bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan?’ Orang itu menjawab: ‘Ya Tuhanku, aku disuruh berjihad. Kemudian aku berperang hingga terbunuh.’ Maka Allah berfirman: ‘Kamu berdusta.’ Para malaikat pun berkata: “Kamu berdusta. Kamu hanya ingin dikatakan orang, bahwa si Fulan pemberani. Ingatlah, telah dikatakan begitu.” Mereka itulah makhluk pertama yang din yalakan api neraka baginya pada hari Kiamat.”
Dalam hadits lain disebutkan: “Barangsiapa belajar ilmu yang sebenarnya mengharapkan ridha Allah Azza wa Jalla dengannya, tetapi dia mempelajari untuk mendapat kesenangan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari Kiamat.”
5. Adapun orang yang mempunyai dua niat untuk beramal, yaitu bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan mendapat kesenangan nafsu, maka keadaannya dalam bahaya pula. Bilamana kedua niat untuk beramal itu sama, maka lenyaplah pahalanya dan orang yang beramal itu tidak mendapat pahala, juga tidak dihukum. Jika niat keagamaannya lebih kuat, maka pahalanya tidak sia-sia, tetapi berkurang menurut kadar niat duniawinya. Adapun bilamana niat duniawinya lebih kuat sehingga apabila tidak terdapat niat tersebut, dia meninggalkan amalnya, maka sia-sialah pahalanya dan berdosalah orang yang beramal itu. Akan tetapi hukumnya lebih ringan daripada hukuman yang niatnya adalah riya’ semata-mata.
6. Ketahuilah, orang yang riya’ itu mempunyai tiga tanda, sebagaimana Sayyidina Ali Karamalallahu Wajhahu berkata: “Orang yang riya’ itu malas apabila sendiran dan giat bilamana berada di antara orang banyak. Dia menambah amal bila dipuji dan menguranginya bila dicela.” Apabila kamu beramal karena Allah, kemudian orang-orang memujimu atas hal itu tanpa tujuan agar dipuji, maka tidaklah mengapa. Ini merupakan tanda diterima amalmu. Dalam hadits disebutkan:
“Ditanyakan kepada Rasulullah saw.: ‘Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berbuat kebaikan dan dipuji oleh orang-orang?’ Beliau menjawab: ‘Itulah kabar gembira yang segera bagi orang Mukmin’. “Yakni, sebagaimana yang ditunjukkan melalui firman Allah Ta’ala: :
“Bagi mereka kabar gembira dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (QS. Yunus: 64).
7. Contoh-contoh riya’ yang bercampur niat mendekatkan diri adalah banyak. Di antaranya: Apabila seseorang belajar ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ilmunya dan mencapai kebenaran serta kedudukan di sisi manusia atau untuk memperoleh harta: menulis Mushhaf (AlOur’an) agar bagus tulisannya: menunaikan shalat untuk mencegah (menghilangkan) rasa kantuk atau melatih badannya dengan gerakan-gerakannya: berpuasa untuk mendapat manfaat dari pantangan dan kesehatan: melakukan ibadah haji untuk menikmati dan menyaksikan negeri-negeri serta kondisi badan menjadi sehat dengan bepergian: atau berwudhu’ agar menjadi bersih atau dingin: mandi sunnah agar menjadi harum baunya.
Contoh Riya’ lainnya adalah bersedekah agar dikatakan, bahwa dia orang dermawan atau mengurangi pengemis: menjenguk orang sakit agar dia dijenguk bila sakit atau membaca AlOur’an dan menyebut nama Allah agar dikatakan, bahwa dia rajin membaca Al-Our’an dan berdzikir. Maka, dia pun hanya memperoleh jabatan, harta atau kedudukan yang dimaksud. Atau dia melakukan shalat Jumat, berjamaah, Tarawih atau berbakti kepada kedua orangtuanya, bukan karena menghendaki pahala saja, tetapi juga takut kepada manusia.
8. Ketahuilah, tempat keikhlasan dan riya’ adalah dalam hati dan ia merupakan pusat pandangan Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tubuhmu dan tidak pula pada bentuk (rupa)mu, tetapi Dia (Allah) melihat pada hatimu.”
Dalam hadits lain: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik, baiklah tubuh seluruhnya. Dan apabila ia rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.” Oleh kareng itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh dalam membersihkan hati dan jadikan keinginanmu terpusat kepada Tuhan agar memberimu pahala atas amal yang kamu perbuat.
Adapun manusia, maka mereka tidak dapat memberi manfaat dan menimbulkan bahaya bagi diri mereka. Bagaimana pula mereka dapat melakukan ini terhadap orang lain di dunia! Bagaimana pula di akhirat! Allah Ta’ala berfirman: “… suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan . seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.” (QS. Lukman: 33).
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya…” (QS. ‘Abasa: 34-37).
Maka, tidaklah bersikap riya’ dengan amal-amalnya, kecuali orang yang bodoh dan rugi, yang ditipu oleh setan dengan umpan dan perangsang yang dusta. Dalam hadits disebutkan: “Apabila Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan yang kemudian di hari Kiamat pada hari yang tiada keraguan di dalamnya, berserulah seorang malaikat: ‘Barangsiapa mempersekutukan Allah dengan seseorang dalam amalnya, maka biarlah dia meminta pahalanya dari orang itu. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sekutu!.”
(Bersambung …. )