Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (19): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (19): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian kesembilan belas ini memuat Terjemah dari Bab (2): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

 

Dzin Nun Al-Misri berkata, “Orang yang makrifat kepada Allah adalah yang jiwanya tertambat kepada Allah, hatinya melihat dan amalnya banyak semata-mata karena Allah.”

Orang yang makrifat kepada Allah swt. berarti ia terikat oleh kecintaan kepada-Nya, hatinya dihiasi dengan Muraayabah (merasa dekat dengan Allah) dan lahirnya dihiasi dengan Muhaasahah (mengoreksi diri sendiri) dan amalnya banyak semata-mata karena Allah.

 

 

Dzin Nun Al-Misri berkata, “Orang yang makrifat kepada Allah swt. adalah orang yang memenuhi janjinya, hatinya cerdas dan amalnya bersih.”

Orang yang makrifat kepada Allah swt., ialah orang yang memenuhi janji kepada Allah swt., dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya, hatinya cepat menerima nasihat yang baik dan amalnya bertambah dari hari ke hari.

 

 

 

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Pangkal setiap kebajikan di dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah, kunci dunia adalah perut kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah perut lapar.”

Rasa takut Allah dapat mengubah letak buku catatan perbuatan manusia, suatu ketika digeser ke kanan setelah berada di tangan kiri.

Pangkal segala kebaikan menurut Abu Sulaiman ada tiga, yaitu: Takut kepada Allah, menjauhi keduniaan dan mengejar pahala akhirat.

Jadi, bagi hamba Allah ketika sehat harus merasa takut dan selalu ‘ mengharapkan kepada Allah-swt., agar rasa takut tersebut dapat mencegahnya dari perbuatan maksiat. Sedangkan harapannya kepada Allah dapat membangkitkan semangat untuk mengerjakan amal saleh.

Ibadah orang yang berharap kepada Allah swt. lebih utama, karena dalam dirinya terdapat rasa cintanya kepada Allah, melebihi orang yang takut. Seorang raja akan membedakan antara seorang pelayan yang melayaninya karena takut akan siksanya, seorang yang melayani karena mengharapkan kebaikan hatinya dan pelayan yang melayaninya tanpa mengharapkan sesuatu pun. Perkara-perkara dunia akan terbuka sebab adanya kenyang. Sedangkan perkara-perkara akhirat akan terbuka sebab adanya lapar.

 

 

 

Ada yang mengatikan, “Ibadah adalah kesempatan kerja, kiosnya menyepi diri dan modalnya adalah takwa.”

Menyepi diri, yaitu konsentrasi di kesepian untuk dapat dengan tenang hatinya berhadapan langsung dengan Allah.

Modal ibadah yaitu takwa, ini berarti tanpa takwa, maka ibadah tidak akan membawa untung besar. Takwa di sini adalah dalam arti menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang mendatangkan siksa, baik sesuatu itu berwujud perbuatan maupun meninggalkan perbuatan.

 

 

 

Malik bin Dinar r.a. berkara, “Agar anda termasuk kaum mukmin, cegalah tiga sikap dengan tiga cara: Cegahlah sikap sombong dengan tawaduk, cegahlah sikap rakus dengan qanaah dan cegahlah sikap dengki dengan nasihat.”

Manusia harus menolak tiga perkara yang dicela dengan tiga perkara yang dipuji, agar tersifati oleh hakikat iman yang sebenarnya seperti orangorang mukmin. –

Sombong ialah memandang dirinya sendiri dengan pandangan mulia dan memandang orang lain dengan pandangan rendah. Kebalikan sombong adalah tawaduk. Sombong terjadi akibat kedudukan, sedangkan ujub terjadi akibat keutamaan.”

Rakus adalah merasa tidak puas dengan apa adanya. Sedangkan qanaah adalah rida atas segala yang ada.

Dengki (hasud) adalah mengharapkan hilangnya kenikmatan orang yang didengkinya, agar berpindah pada dirinya.

Nasihat yaitu: Mendorong berbuat kebaikan dan melarang berbuat kerusakan.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Iman dan dengki tidak akan dapat bersatu di dalam rongga seorang hamba.”

Maksudnya iman dalam hadis tersebut, adalah iman kepada takdir Allah.

Mu’awiyah berkata: Aku mampu untuk menjadikan semua orang rida kepadaku, kecuali orang yang dengki terhadap nikmatku, sesungguhnya orang yang dengki masih belum merasa puas, kecuali jika nikmat itu hilang dariku.

Sebagaimana seorang penyair menyatakan.dari bahar Thawil:

Setiap orang dapat kubuat puas

Tetapi orang dengki kepadaku

sulitlah membuat ia puas

dan berat mencapai kepuasan itu

Bagaimana seseorang dapat membuat puas

Orang yang dengki terhadap nikmatnya,

jika si dengki itu sendiri memang tak pernah puas

sebelum nikmat itu hilang dari pemiliknya. [*]

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Obat Hati
Oleh : Immim pangkep

Obat Hati

0 Komentar

KELUAR