Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (23): Nasehat yang Berisi Empat Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (23): Nasehat yang Berisi Empat Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Kedua Puluh Tiga ini memuat Terjemah dari Bab (3): Nasehat yang Berisi Empat Perkara,  sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

16. Panji-panji Keimanan Ada Empat

 

Segolongan para hukama mengatakan: “Sesungguhnya panji-panji keimanan ada empat: Takwa, rasa malu, syukur dan sabar.”

Takwa adalah taat dan ikhlas melaksanakan segala perintah Allah swt. dan menjauhi maksiat. Ada yang mengatakan, takwa adalah memelihara kesopanan-kesopanan menurut syarak.

Malu terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Malu jenis kejiwaan, yakni malu yang diciptakan Allah swt. dalam semua jiwa, seperti malu karena terbuka aurat atau bersetubuh di hadapan orang banyak.

2. Malu jenis iimaani (berdasarkan keimanan), yakni seorang mukmin mencegah dirinya berbuat maksiat, karena takut kepada Allah swt.

Syukur yaitu memuji kepada yang berbuat kebaikan dengan menyebut-nyebut kebaikannya. Dengan demikian seorang hamba harus bersyukur kepada Allah swt.

Sabar yaitu tidak mengeluh kepada selain Allah swt. bila ditimpa bencana. Dalam hal ini kita perlu berdoa dengan doa Tamiim Ad-Daari bin Habib yang telah diajarkan Nabi Khidhir ketika kembali dari dasar tanah, karena diculik jin ke Madinah Musyarofah, sebagai berikut:

“Ya, Allah, semoga Engkau memberi nikmat kepadaku dengan rezeki dari Engkau, semoga Engkau menjagaku dari perkara-perkara yang Engkau larang, semoga Engkau tidak menjadikan aku butuh kepada orang yang Engkau jadikan tidak memerlukan kami. Semoga Engkau mengumpulkan aku dalam rombongan umat: junjunganku, Nabi Muhammad saw., semoga Engkau memberi minum kepadaku dengan gelasnya, semoga Engkau menjauhkanku dari maksiat-maksiat kepadaMu, semoga Engkau mematikanku dalam keadaan takwa, semoga Engkau menunjukkan agar aku selalu mengingat-Mu, semoga Engkau menjadikanku pewaris-pewaris surga tempat kenikmatan, semoga Engkau menjadikanku orang yang bahagia dan tidak menjadikanku orang yang celaka, wahai, Yang Mempunyai keagungan dan kemuliaan.”

Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Puncak iman ada empat hal: Sabar menerima keputusan Allah, rela menerima takdir, ikhlas bertawakal dan pasrah sepenuh diri kepada Allah.” (H.R. Abu Nu’aim).

 

 

Nabi saw. bersabda, “Induk ada empat: induk obat, induk tata adab, induk ibadah dan induk harapan, Induk obat adalah sedikit makan, induk tata adab adalah sedikit bicara, induk ibadah adalah sedikit dosa dan induk harapan adalah sabar menanti.”

Sedikit makan menjadi induk segala obat, sebab memantang makanan yang dapat membahayakan kesehatan itu lebih baik daripada memakan makanan itu, lalu berobat untuk menawarkannya.

Sedikit dosa menjadi induk ibadah, sebab memang dosa itu dapat menggusur pahala ibadah. Sabar itu lebih pahit daripada jadam, sebagaimana diungkapkan, “Dengan kesabaran anda akan memperoleh apa-apa yang kamu kehendaki dan dengan takwa anda dapat melunakkan besi.”

 

 

 

Nabi saw bersabda, “Empat macam permata yang terdapat pada tubuh anak Adam akan hilang oleh empat perkara. Adapun permata-permata itu adalah akal, agama, malu dan amal saleh: Marah akan menghilangkan akal, hasud akan menghilangkan agama, tamak akan menghilangkan malu dan mengumpat akar menghilangkan amal saleh.”

Empat perhiasan yang ada pada watak manusia yang berharga, akan hilang oleh sifat-sifat yang tercela. Akal adalah suatu mutiara bersifat rohani, yang berhubungan dengan jasmani, yang diciptakan Allah swt. dan akan hilang oleh marah.

Agama, yakni suatu perkara yang mengajak orang-orang berakal untuk menerima segala sesuatu yang datang dari Rasul saw. dan akan hilang oleh hasud. Sedang, amal saleh akan hilang dengan mengumpat.

Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Wahai, Mu’awryah, janganlah marah-marah, karena kemarahan dapat merusak keimanan, seperti jadam merusak madu.” (H.R. Al-Baihaqi).

Hasud akan menghilangkan agama, yakni mengharapkan hilangnya kenikmatan orang lain, diin dalam hadis ini artinya syariat.

Diriwayatkan Nabi saw. bersabda, “Hati-hatilah kalian pada hasud (dengki), karena kedengkian itu dapat melalap habis kebijak-kebijkan, sebagaimana api melalap kayu bakar”

Dalam Bahar Mutaqarab, seorang penyair mengatakan:

Ahai….!

katakan kepada orang yang dengki kepadaku

tahukah kamu kepada siapa sesungguhnya engkau bersikap jahat?

kamu telah berbuat jahat

kepada Allah terhadap takdir-Nya

ketika kamu tidak senang

melihat nikmat yang diberikan oleh-Nya kepadaku,

maka Tuhankulah yang membalasmu

dengan cara menambah kenikmatan kepadaku

dan menutup seluruh jalanmu,

ya, jalan pencarianmu.

Tamak, yakni ingin selalu mendapatkan sesuatu lebih banyak untuk dirinya sendiri dan tamak akan menghilangkan malu.

Mengumpat (menggunjing) ialah menceritakan kejelekan-kejelekan orang lain yang benar-benar terjadi. Kalau kejelekan yang diceritakan itu tidak nyata terjadi, maka perbuatan. itu disebut buhtan (memfitnah). Dan jika penyebutan tersebut dilakukan di depan orang yang bersangkutan, maka disebut caci maki.

 

 

Nabi saw. bersabda, “Empat yang berada di surga lebih baik daripada surga, yaitu: Kekal di dalam surga lebih baik daripada surga, pelayanan para malaikat di surga lebih baik daripada surga, bertetangga dengan para nabi di surga lebih baik daripada surga dan keridaan Allah swt. di surga lebih baik daripada surga.”

Hadis di atas selanjutnya:

“Empat yang berada di neraka lebih jelek daripada neraka, yaitu: Kekal di neraka lebih jelek daripada neraka, celaan para malaikat pada orangorang kafir di neraka lebih jelek daripada neraka, bertetangga dengan setan di neraka lebih jelek daripada neraka dan kemurkaan Allah swt. lebih jelek daripada neraka.”

Berdekatan dengan para nabi di dalam surga, lebih baik daripada surga itu sendiri, sebagaimana dalam firman Allah, “Dan mereka, para nabi itulah teman yang und bagus.”

Para ahli Allah tidak memikirkan lagi, apakah ia akan masuk neraka, sebab yang penting, asal telah memperoleh rida Allah. Dengan rida Allah inilah, walaupun mereka di neraka misalnya, maka ular dan kalajengking neraka yang melalap kulit mereka tidak lagi merasa sakit.

 

 

Dari sebagian hukama, ketika dia ditanya: “Bagaimana keadaan tuan?” Dia menjawab, “Saya selalu taat kepada Tuhan, terhadap hawa nafsu selalu menentang, terhadap makhluk selalu memberi nasihat dan terhadap perkara duniawi hanya sebatas keperluan darurat.

Maksud hadis di atas, para hukama berpendapat, bahwa beserta Zat Yang Maha Pengatur ada kecocokan untuk mengerjakan perintahperintah-Nya. Beserta nafsu ada perbedaan dengan perkara-perkara yang dikehendaki oleh nafsu. Beserta makhluk ada nasihat, yaitu mengajak mereka untuk melakukan kebaikan dan melarangnya dari kejelekan beserta dunia juga terdapat keperluan yang tidak dapat ditolak. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR