Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (28): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (28): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Kedua Puluh Delapan ini memuat Terjemah dari Bab (4): Nasehat yang Berisi Lima Perkara.

 

 

Diriwayatkan dari Nabi saw., “Barangsiapa yang meremehkan lima perkara, maka dia rugi lima perkara, yaitu barangsiapa yang meremehkan para ulama, maka rugi agamanya: Barangsiapa yang meremehkan umara (para pemimpin) maka rugi dunianya, barangsiapa yang meremehkan tetangga-tetangga, maka rugi manfaat-manfaatnya, barangsiapa yang meremehkan kerabat-kerabatnya, maka rugi kecintaannya, dan barangsiapa yang meremehkan ahlinya, maka rugi kemanisan hidupnya.”

Mengabaikan ulama dapat mengakibatkan kerugian agama, sebab para ulama adalah sumber pengetahuan agama. Sedang mengabaikan pejabat (penguasa) dapat mengakibatkan rugi dunia, sebab di tangan merekalah urusan dunia dan kendali menanganinya.

Tentang mengabaikan tetangga, Nabi bersabda:

“Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Tidak beriman seorang hamba, sehingga ia menyukai tetangganya, seperti dia menyukai dirinya sendiri.” (H.R. Muslim).

Dalam hadis lain Nabi bersabda:

“Sesungguhnya menyukai orang yang mempunyai tetangga jahat dan karena Allah ia tetap bersabar menghadapi gangguan kejahatannya itu, sehingga Allah beri imbalan secukupnya, dengan tetap hidup atau mematikannya.”

Barangsiapa yang meremehkan saudara atau famili, maka merusak kecintaan mereka. Barangsiapa yang meremehkan istrinya, maka rugi kemanisan hidupnya.

 

 

Nabi saw. bersabda, “Bakal datang suatu masa di mana umatku menyukai lima hal dan melupakan lima lainnya: Mereka suka dunia dan lupa akhirat, suka rumah dan melupakan kubur, suka harta dan melupakan perhitungannya, suka keluarga serumah dan lupa bidadari surga, suka dirinya sendiri dan lupa Allah, mereka adalah orang-orang yang berlepas diri dariku dan aku pun berlepas diri dari mereka.”

Maksud hadis di atas, jika orang-orang telah mencintai lima hal dan melupakan lima perkara sebagai bandingannya, maka mereka adalah orang-orang yang jauh dari Nabi saw., dan Nabi saw. pun jauh dari mereka. Lima hal yang dimaksud yaitu:

  1. Sibuk dengan dunia dan melupakan amal untuk bekal di akhirat.
  2. Menghias rumah-rumah dan meninggalkan amal yang akan digunakan untuk menerangi kuburnya.
  3. Sibuk mengumpulkan harta benda dan melupakan perhitungan Allah swt. untuk harta benda mereka. Sesungguhnya dari harta benda itu, yang halal akan dihisab dan yang haram akan menjadi siksa.
  4. Mencintai istri dan anak-anaknya, melupakan pahala yang ada di surga. ,

5. Mengikuti kehendak dirinya sendiri dan meninggalkan perintahperintah Allah swt.

 

 

Nabi saw. bersabda, “Allah tidak memberikan lima kepada seseorang, melainkan telah mempersiapkan lima hal yang lain, yaitu Dia tidak memberikan syukur kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya tambahan, Dia tidak memberikan doa kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya ijabah, Dia tidak memberikan kepadanya istigfar, melainkan telah menyediakan untuknya ampunan, Dia tidak memberikan untuknya tobat, melainkan telah menyediakan penerimaan tobat, dan Dia tidak memberikan kepadanya sedekah, melainkan Dia telah menyediakan untuknya menerima (sedekah itu).”

Allah telah mempersiapkan tambahan kenikmatan sebelum seseorang berbuat syukur, seperti dalam firman Allah, “…. jika kalian bersyukur, niscaya aku menambah (nikmat) untuk kalian ….”

Tentang ijabah doa, Allah berfirman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, maka Aku berkenan mengabulkan doa kalian.”

Dalam suatu hadis Nabi berdoa, “Ya, Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang serta mengimankan terjadinya perjumpaan dengan Engkau, rela menerima keputusan-Mu dan qanaah pada pemberian-Mu.” (H.R. Ath-Thabrani).

Tentang ampunan yang telah disediakan sebelum istigfar dipanjatkan, Allah berfirman, “Bacalah istigfar kepada Tuhanmu, Sesungguhnya Dia Maha. Pemberi Ampun.”

Dalam sebuah hadis Nabi bersabda, “Andaikata kamu membuat kesalahan hingga kesalahan-kesalahanmu itu mencapai langit, kemudian kamu bertobat, niscaya Allah menerima tobatmu.” — (H.R. Ibnu Majah).

Tentang diterimanya tobat, Nabi bersabda, “Sebelum dunia diciptakan empat ribu tahun lagi, di sekeliling Arasy ditulis: ‘Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, kemudian dia mendapatkan petunjuki’.” (H.R. Ad-Dailami).

Tentang diterimanya sedekah, Nabi bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya, hingga hisab antara sesama manusia selesai.” . (H.R. Imam Ahmad).

Selain itu dalam hadis lain diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Tidaklah seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah semaramata mengharapkan rida Allah, melamkan Allah berfirman pada hari Kiamat: Har, hamba-Ku! Kamu mengharapkan pahala-Ku, maka Aku tidak akan merendahkanmu, Aku mengharamkan neraka atas tubuhmu dan masuklah kamu ke surga dari pintu mana saja yang kamu inginkan.” (H.R. Ibnu Laal).

 

 

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., “Gelap ada lima dan lampu penerangnya pun ada lima, yaitu cinta pada dunia adalah gelap, lampunya adalah takwa, dosa adalah gelap, lampunya adalah tobat: kubur adalah gelap, lampunya adalah bacaan: ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah’, akhirat adalah gelap, lampunya adalah amal saleh: jembatan di atas neraka adalah gelap, lampunya adalah yakin.”

Cinta dunia menjadi kegelapan, karena kecintaan di sini dapat menjebak pada hal-hal subhat (diragukan halal-haramnya), perkaraperkara makruh, kemudian ke perkara-perkara haram.

Nabi saw. bersabda, “Cinta pada dunia adalah pangkal semua kesalahan.” (H.R. Al-Baihaqi dari Hasan Basri).

Sehubungan dengan hal ini Imam Al-Ghazali berkomentar: Kalau cinta pada dunia menjadi pangkal segala kesalahan, maka benci pada dunia menjadi pangkal segala kebajikan. Takwa, yaitu menjaga diri dari siksaan Allah dengan taat kepada-Nya, dalam sebuah hadis diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Sesungguhnya kamu tidaklah meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah -Azza wa Jalla-, melainkan Dia memberikan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripadanya.” (H.R. Imam Ahmad dan An-Nasai).

Tentang tobat berfungsi sebagai lampu penerang terhadap kegelapan dosa, sebagaimana Nabi bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah berbuat suatu dosa, maka diukirkan setitik noda hitam di dalam hatinya, apabila dia menghentikannya dan beristigfar serta bertobat, maka hatinya jernih. Tetapi apabila dia kembali pada dosa, maka ditambah noda hitam di dalam hatinya, hingga noda-noda hitam itu menentukan hatinya dan nodanoda itulah yang oleh Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka’.” (Q.S. Al-Muthaffifin: 14) (H.R. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Tentang kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ berfungsi sebagai lampu penerang bagi kegelapan kubur, sebagaimana sahda Nabi, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan pada neraka orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illaallah’ semata-mata mengharapkan rida Allah swt.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, diriwayatkan bahwa sesungguhnya beliau saw. juga bersabda, “Barangsiapa yang mengucap ‘Laa Ilaaha Illallaah’ dengan ikhlas, maka dia masuk surga. Para sahabar bertanya: ‘Ya, Rasulullah, bagaimanakah ikhlasnya itu?’ Beliau saw. bersabda: “Bila kalimat iru mencegahmu dari setiap perkara yang diharamkan Allah kepadamu’.” (H.R. Al-Khathib).

Ada yang mengatakan: “Tujuh perkara yang akan menerangi kubur, – yaitu ikhlas dalam ibadah, berbuat baik kepada kedua orangtua, silaturahmi, tidak menyia-nyiakan umurnya dengan melakukan maksiat, tidak menuruti hawa nafsunya, bersungguh-sungguh menaati segala perintah Allah dan banyak zikir kepada Allah.”

Adapun amal saleh berfungsi sebagai lampu penerang terhadap kegelapan akhirat, sebagaimana sabda Nabi saw., “Sesungguhnya Allah mencintai, jika kemurahan-kemurahan-Nya diambil sebagaimana jika fardu-fardunya dilaksanakan. SesungguhnyaAllah mengutusku untuk menyampaikan agama yang lurus lagi murah, yaitu agama Ibrahim.” (H.R. Ibnu Asaakir).

Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Kerjakanlah hal-hal yang fardu, terimalah kemurahan-kemurahanNya dan biarkanlah orang-orang, maka sungguh kamu dipelihara dari gangguan mereka.” (H.R. Al-Khathib).

Diriwayatkan juga, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak menerima kemurahan Allah, maka berat dosa yang ditanggungnya, seperti gunung-gunung di Arafah.” (H.R. Ahmad).

Yakin yang berfungsi sebagai lampu penerang kegelapan jembatan di atas neraka, ialah mempercayai hal yang gaib dengan menghilangkan keragu-raguan.

 

 

Umar r.a. berkata, “Seandainya tiada kekhawatiran dituduh mengetahui hal yang gaib, niscaya aku bersaksi bahwa golongan berikut adalah penghuni surga, yaitu fakir yang mempunyai keluarga, istri yang diridai suaminya dan istri yang menyedekahkan mahar kepada suaminya, orang yang diridai kedua orangtuanya dan orang yang bertobat dari dosa.”

Hadis di atas adalah hadis mauguf. Hadis mauquf adalah hadis yang diriwayatkan sahabat, namun tidak sampai kepada Rasulullah saw., sedang hadis marfu’ adalah hadis yang diberitakan oleh para sahabat dari sabda Rasulullah saw.

Tentang tobat dosa, Nabi saw. bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa, seperti orang yang tidak mempunyai dosa.” (H.R. Al-Baihaqi).

Pada hadis lain diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Setiap anak Adam banyak berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa, adalah orang-orang yang bertobat.” (H.R. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Dalam hadis lain Nabi juga bersabda, “Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat seseorang daripada gembiranya orang yang sangat haus datang ke tempat air, orang mandul yang beranak dan orang sesat di perjalanan yang bisa menemukan jalan yang benar. Dan barangsiapa yang bertobat kepada Allah dengan tobat Nasuha, maka Allah menjadikan para malaikat pencatat amal, anggota badannya dan tempat-tempat yang digunakan berbuat dosa lupa akan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya.” (H.R. Abul Abbas).

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR