Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (24): Nasehat yang Berisi Empat Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (24): Nasehat yang Berisi Empat Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Kedua Puluh Empat ini memuat Terjemah dari Bab (3): Nasehat yang Berisi Empat Perkara,  sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

 

Segolongan hukama telah memilihkan empat kalimat dari dalam empat kitab, yaitu: “Dari kitab Taurat ialah kalimat: Barangsiapa yang rida atas apaapa yang diberikan Allah swt. kepadanya, maka dia beristirahat di dunia dan akhirat.’ Dari kitab Injil ialah kalimat: ‘Barangsiapa yang telah merobohkan syahwatnya, maka dia kuat di dunia dan akhirat.’ Dari kitab Zabur ialah kalimat: ‘Barangsiapa yang menyendiri dari manusia, maka dia selamat.’ Dan dari Al-Furgaan (Alqur-an): ‘Barangsiapa yang memelihara ucapannya, maka dia selamat di dunia dan akhirat.”  (H.R. Al-Baihaqi).

Tentang memelihara lisan, Nabi saw. bersabda, “Amal (perbuatan) yang paling disukai Allah, adalah memelihara ksan.” (H.R. Al-Baihaqi).

Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Kesejahteraan ada sepuluh bidang: Sembilan pada diam dan bidang kesepuluh pada pengasingan diri dari manusia.” (H.R. Ad-Dailami).

 

 

Dari Umar r.a., dia berkata, “Demi Allah, setiap kali aku tertimpa bencana, maka di situ selalu terdapat empat nikmat dari Allah, yaitu: Satu, karena bencana itu tidak mengenai agamaku, Dua, karena bencana itu tidak lebih berat daripadanya: Tiga, karena bencana itu tidak menghalangi rida Allah: Dan empat, lantaran bencana itu aku dapat mengharap pahala dari Allah.”

Menurut Umar r.a., bahwa di dalam ujian (cobaan) yang menimpa pada dirinya, terkandung empat kenikmatan:

1. Cobaan itu tidak menimpa terhadap agamanya, karena cobaan yang menimpa agama lebih berat daripada cobaan yang menimpa pada badan dan harta kekayaan.

2. Cobaan tidak lebih berat daripada cobaan yang menimpa dirinya pada zaman dahulu (sebelum Islam).

3. Cobaan tidak menghalangi keridaan Allah swt. kepadanya.

4. Besar harapan mendapatkan pahala karena ujian tersebut.

 

 

Dari Abdullah bin Mubarak, dia berkata, “Ada seorang bijaksana yang telah mengumpulkan beberapa hadis dan memilih empat puluh ribu hadis dari hadis tersebut. Lalu dia memilih darinya empat ribu hadis, lalu dia pilih lagi empat ratus hadis. Dari empat ratus, ia pilih lagi empat puluh hadis dan dari empat puluh hadis, dia pilih empat kalimat saja.”

Adapun empat kalimat tersebut adalah:

“Kalimat kesatu, yaitu “kamu jangan mempercayakan segala sesuatu separonya kepada perempuan.” Kalimat kedua: “Kamu jangan teperdaya oleh harta benda atas segala sesuatu.” Kalimat ketiga: Janganlah kamu membebani perut dengan perkara yang di luar batas’ dan kalimat keempat: Janganlah kamu mengumpulkan ilmu yang tidak bermanfaatbagimu’.”

Ada empat intisari dari empat puluh ribu hadis, sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, yaitu:

1. Jangan mempercayakan sepenuhnya semua urusan kepada wanita.

2. Jangan menduga tidak tertipu dengan harta kekayaan, tetapi harus : berhati-hati dengan diberikannya harta kekayaan kepada kita.

3. Jangan memasukkan makanan atau minuman yang perut kita tidak kuat menerimanya.

Sebagaimana sabda Nabi saw., “Semua asal penyakit, adalah kurang baiknya pencernakan makanan.” (H.R. Daruguthni).

Hadis di atas diriwayatkan Anas dan Ibnu As-Suni dan Abu Nu’aim dari Ali, dari Ibnu Sa’id dan dari Aj-Juhri. Artinya: Asal setiap penyakit berhubungan dengan perut.

Selain menumpuk makanan dalam perut, termasuk pangkal segala penyakit juga adalah minum setelah -atau di tengahmakan sebelum makanan yang telah masuk diproses pencernakan. Mestinya penyakit yang menyangkut organ perut.

Tentang mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, ada seorang yang bertanya kepada Abu Hurairah: Saya ingin belajar, tapi khawatir ilmuku nanti sia-sia belaka, lalu jawabnya: Dengan engkau meninggalkan ilmu itu berarti telah menyia-nyiakan ilmu.

Imam Syafi’i berkata: Termasuk tipu muslihat setan, yaitu meninggalkan perbuatan karena khawatir orang lain menganggap riya, karena menyucikan perbuatan sampai 10096 terlepas dari unsur setan secara keseluruhan itu sulit. Andaikata kita memahami ibadah secara sempurna, kita akan sulit melakukan satu ibadah pun. Hal tersebut menimbulkan pengangguran, sedangkan pengangguran itu merupakan akhir tujuan setan.

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, “Berjalanlah kamu kepada Allah, sekalipun dalam keadaan pincang dan terseok-seok.”

Imam Syafii r.a. berkata, “Barangsiapa yang belajar Alqur-an, besarlah harga dirinya, barangsiapa yang belajar fikih, mulialah kedudukannya: barangsiapa yang menulis hadis, kuatlah hujahnya: barangsiapa yang belajar hisab (hitungan), sehatlah pikirannya, barangsiapa yang belajar bahasa Arab, haluslah tabiatnya: dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, ” tidaklah bermanfaat ilmu baginya.”

 

 

Dari Muhammad bin Ahmad r.a., dia berkomentar mengenai firman Allah Azza wa Jalla, “…. menjadi ikutan, menahan diri dan seorang Nabi dari keturunan orang-orang saleh.” (Q.S. Aali Imran: 39).

Beliau berkomentar, “Allah menyebutkan, bahwa si hamba bernama Yahya menjadi ikutan, karena kemenangannya atas empat hal: Hawa nafsu, iblis, lisan dan kemarahan.”

 

 

Sayidina Ali r.a., dia berkata, “Agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak, selama ada empat perkara: Yaitu selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apaapa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orangorang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.”

Jadi, agama dan dunia akan tetap utuh selama orang-orang kaya tidak menahan untuk memberi kepada orang yang meminta sebagian rezeki rang telah diberikan Allah swt. kepada mereka dan mereka tidak menahan kewajiban atas mereka, selama para ulama memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, selama orang-orang bodoh tidak merintangi orang yang belajar tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui dan selama orang-orang fakir tidak meninggalkan agama dengan mengambil perkara-perkara dunia. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR