
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Di antara materi nahwu dasar patut untuk diberikan perhatian adalah Nadhom ad-Durrah al-Yatiimah yang ada di hadapan kita sekarang ini. Boleh dibilang Nadhom ini merupakan Ajurumiyyah versi madzhab Bashrah. Seringkali kitab ini dibandingkan dengan Ajurumiyyah karena kesamaan keringkasan materi pada keduanya. Meskipun begitu, tetap terdapat beberapa perbedaan corak bahasa antara keduanya. Kita tahu bahwa Ajurumiyyah lebih condong pada asas madzhab Kufah sedangkan al-Yatiimah ini lebih condong kepada madzhab Bashrah.
Nadhom ad-Durroh al-Yatiimah ini ini termasuk materi yang jarang dibahas padahal di dalamnya sarat akan ilmu dan hikmah. Untuk mempemudah para pembelajar untuk mengenal nadhom tersebut dan juga memahami kaidah dasar nahwu, penyusun membuat terjemah dan juga syarah ringkasnya.
Artinya:
Kalam menurut ahli nahwu : lafad yang berfaidah ( mufid ) tersusun (murokab) , disengaja (wado’) dan berbahasa arab. Seperti : اتى زيد وذا يزيد.
Dan kalam dengan di fatha kafnya itu sesuai dengan yg dikehendaki dalam bab ini, bila di dhommah kafnya berma’na bumi yang keras الأرض الصعبة ) ( dan bila di baca kasro kafnya berma’na luka . ( الجرح )
Definisi kalimat adalah lafad yang mufrod (tidak murokab ) yang menunjukkan arti. dan kalimat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu :
1. Kalimat isim ( kata benda ) seprti : زيد و رجل
2. Kalimat fi’il ( kata kerja ) seperti : ضرب ونصر
3. Kalimat huruf seperti :هل ولن ولم
Tanpa qoyyid ( baik berupa al ma’rifat atau al zaidah ),isnad( ال) *Kalimat isim di tandai dengan tanwin , jer, alif lam ilaih ( mubtada’, fa’il,naibul fa’il dan asma’un nawasikh).
Tanda bahwa fi’il tersebut fi’il mudhori’ apabiladapat jatuh setelah lam لم) ( seperti : لم يضرب
dan fi’il mudhori’ adalah fiil yang menyerupai isim fa’il, baik serupa dari segi lafad dan ma’na. adapun dari segi lafadz itu karena fi’il mudhori’ dan isim fa’il itu cocok atas bilangan hurufnya, harokatnya dan sukunnya. Sedangkan dalam segi ma’na sama – sama mempunyai zaman hal dan istiqbal.
Tanda bahwa fi’il tersebut fi’il madi apabila dapat menerima ta’ta’nis تأ التأنيث) ( seperti : ضربت
Tanda bahwa fi’il tersebut fi’il Amar apabila dapat menerima ya’muannatsah mukhotobah ياء المؤنّثة المخاطبة) ( seperti : إقرأ وخافى الخبيثة
Tanda bahwa kalimat tersebut kalimat huruf apabila sepi dari tandanya kalimat fi’il dan kalimat isim. Seperti : لم , هل , لن
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Nahwu-Shorof/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.