Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (17): Pembatalan Shahifah dan Utusan dari Najran

Terjemah Nurul Yaqin (17): Pembatalan Shahifah dan Utusan dari Najran

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 16 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

Kemudian bangkit lima orang dari kalangan orang-orang terhormat kabilah Quraisy. Mereka menuntut supaya perjanjian yang tertera dalam shahifah yang isinya zalim itu dibatalkan. Mereka adalah Hisyam ibnu ‘Arnr ibnul-Harits al-‘Amiri, yang paling sengit di antara kelima orang itu dalam memperjuangkan tuntutan ini, kemudian Zuhair ibnu Abu Umayyah al-Makhzumi, anak bibi Rasulullah, ‘Atikah: Al-Muth’im ibnu ‘Addiy an-Naufalis AbulBukhturi ibnu Hisyam al-Asadi: dan Zam’ah Ibnul-Asad al-Asadi. Mereka mengadakan kesepakatan mengenai hal ini pada malam hari. Keesokan harinya mereka berangkat, kemudian Zuhair melakukan thawaf di Ka’bah sambil membawa perhiasan emas. Orangorang berdatangan kepadanya. Lalu ia berkata, “Hai penduduk Makkah, apakah kita tega makan kenyang dan berpakaian sepuasnya, sedangkan Bani Hasyim dan Banil-Muththalib kelaparan? Mereka tidak dapat melakukan jual-beli sama sekali. Demi Allah, saya tidak akan duduk dan bertopang dagu sebelum shahifah yang zalim dan memutuskan silaturrahim itu dirobek-robek.”

Abu Jahal berkata, “Engkau berdusta.” Tetapi Zam’ah menjawab perkataan Abu Jahal, “Engkau, demi Allah, adalah orang yang paling berdusta. Sebenarnya kami tidak rela ketika engkau menulis shahifah itu.” Kemudian Abul-Bukhturi berkata, “Benarlah apa yang dikatakan oleh Zam’ah.” Tak ketinggalan Muth’im ibnu ‘Abdi pun berkata, “Kalian berdua memang benar, dan dustalah orang yang mengatakan selain itu.” Kemudian Hisyam membenarkan apa yang telah dikatakan teman-temannya. Maka al-Muth’im ibnu ‘Abdi berdiri menuju tempat shahifah digantungkan untuk merobek-robeknya. Akan tetapi, sesampainya di tempat itu ternyata shahifah tersebut telah dimakan rayap: tiada suatu tulisan pun yang tertinggal kecuali nama Allah yang masih utuh.

Akan tetapi, sebelum kejadian tersebut Rasulullah saw. telah terlebih dahulu memberitahukan kepada Abu Thalib, pamannya, tentang rayap yang memakan shahifah tersebut. Setelah shahifah itu dibatalkan, kaum yang diasingkan itu kembali ke rumah mereka masing-masing sesudah sekian lama mereka menahan derita.

Setelah Rasulullah saw. bebas dari pengucilan itu, datanglah kepadanya utusan dari kaum Nasrani Najran. Mereka telah mendengar berita tentang Rasulullah saw. dari kaum Muslimin yang sedang melakukan hijrah ke Abesinia. Mereka bergegas datang menemui Rasulullah saw. supaya mereka melihat secara langsung sifat-sifat Rasulullah, lalu mereka sesuaikan dengan apa yang terdapat di dalam kitab suci mereka. Jumlah mereka kurang-lebih ada dua puluh orang laki-laki. Maka Rasulullah saw. membacakan kepada mereka Al-Quran. Akhirnya mereka semua beriman. Akan tetapi, Abu Jahal berkata kepada mereka, “Aku belum pernah melihat kafilah yang lebih bodoh daripada kalian. Kaum kalian mengutus kalian untuk mengetahui berita lelaki ini (Nabi Muhammad saw.), tetapi kemudian kalian memeluk agama baru.” Mereka menjawab perkataan Abu Jahal, “Semoga kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak menganggap bodoh kalian atas apa yang kalian lakukan, dan kami berhak memilih sesuai dengan kehendak kami.” Sehubungan dengan peristiwa tersebut Allah swt. menurunkan firman-Nya :

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Quran, mereka beriman (pula) dengan Al-Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al-Quran itu) kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya: sesungguhnya Al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(-nya). Mereka itu diberi pahala dua kali karena kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebahagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya, dan mereka berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil.” (Q.S. 28 Al-Gashash: 52-55)

Penduduk Makkah, setelah mereka tidak mampu menghadapi Rasulullah saw. dengan hujjah, akhirnya menuduh Rasulullah saw. dengan tuduhan yang bukan-bukan. Terkadang mereka menuduhnya sebagai seorang tukang tenung, terkadang sebagai pendusta atau orang gila, dan terkadang sebagai peramal. Semuanya itu hanyalah merupakan gambaran tentang orang yang lemah lagi ingkar hingga keingkarannya itu membuatnya tidak punya rasa malu lagi untuk mengatakan hal-hal berikut ini seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:

Ya Allah, jika betul (Al-Quran) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih (Q.9. 8 Al-Anfal: 32)

(*)

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR