Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (36): Tahun Kedua Hijriyah (3): Tawanan Perang Badar

Terjemah Nurul Yaqin (36): Tahun Kedua Hijriyah (3): Tawanan Perang Badar

BLOGGURU  – Berikut ini lanjutan dari Part 35 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin

TAWANAN PERANG BADAR

Ketika pasukan Muslimin telah memasuki kota Madinah, Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap para tawanan. Sahabat ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, mereka telah mendustakanmu, memerangi dan mengusirmu. Menurut pendapatku, biarkanlah aku menguasai si Fulan yang ada hubungan famili denganku, lalu aku penggal lehernya. Biarkanlah Hamzah menguasai saudaranya, Al-‘Abbas, serta ‘Ali menguasai saudaranya, ‘Ugail.

Demikian Seterusnya sehingga semua orang mengetahui bahwa di dalam hati kami Ini tidak ada kecintaan terhadap kaum musyrikin. Aku tidak mempunyai pendapat lain kecuali semua tawanan harus aku penggal leher mereka. Mereka adalah para pendekar, para pemimpin dan para panglima kaum musyrikin.” Pendapat sahabat ‘Umar itu disetujui oleh Sahabat Sa’d ibnu Mu’adz dan ‘Abdullah ibnu Rawwahah.

Akan tetapi, Sahabat Abu Bakar berpendapat, “Wahai Rasulullah, mereka adalah keluarga dan kaum engkau. Allah telah memberikan keme. nangan dan pertolongan-Nya kepada engkau atas mereka. Menurut penda. patku, sebaiknya engkau biarkan mereka hidup, kemudian ambil tebusan mereka. Dengan demikian, apa yang kita ambil dari mereka akan menjadi kekuatan bagi kita untuk melawan orang-orang kafir. Mudah-mudahan Al. lah swt. memberikan hidayah kepada mereka melalui engkau. Dengan demikian, mereka akan menjadi pembantu engkau.”

Kemudian Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya Allah telah melunakkan hati beberapa kaum sehingga jadilah mereka orang yang berhati lunak seperti air susu. Sesungguhnya Allah telah memperkeras hati beberapa kaum yang lain sehingga mereka menjadi orang yang lebih keras hatinya daripada batu. Sesungguhnya perumpamaan engkau itu, hai Abu Bakar, adalah seperti Nabi Ibrahim, yaitu sewaktu dia mengatakan: Maka barang siapa yang mengikutiku, sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.5. 14 Ibrahim: 36)

Sesungguhnya perumpamaan engkau itu, hai ‘Umar, seperti Nabi Nuh a.s,, yaitu ketika ia mengatakan: Ya Rabb-ku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Q.S. 71 Nuh: 26)

Ternyata Rasulullah saw. memilih pendapat Sahabat Abu Bakar setelah terlebih dahulu memuji pendapat kedua sahabat itu, karena tujuan kedua pendapat tersebut sama, yaitu memperkuat agama dan menghinakan orang-orang musyrik. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya, “Kalian sekarang adalah orang-orang yang menanggung beban, maka jangan biarkan seorang pun dari tawanan kalian dilepaskan selain dengan tebusan.”

Berita tentang apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah saw. sehubungan dengan para tawanan itu terdengar oleh orang Quraisy, lalu mereka bermaksud untuk menangisi orang-orang mereka yang telah mati dalam Perang Badar selama satu bulan. Tetapi salah seorang dari pembesar mereka memberikan isyarat bahwa janganlah mereka mengerjakan hal itu sebab, jika beritanya terdengar oleh Muhammad dan para sahabatnya, niscaya mereka akan bersorak gembira karenanya.

Akhirnya mereka diam dan bertekad untuk tidak menangisi orang-orang mereka yang telah mati sehingga nanti tiba saatnya untuk membalas dendam untuk menebus kekalahannya. Di antara sesama mereka saling berpesan supaya jangan terburu-buru melakukan tebusan terhadap orang-orang mereka yang ditawan sebab, jika terburu-buru, niscaya kaum Muslimin akan memasang harga yang tinggi untuknya.

(***)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR