
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Ketahuilah, dendam itu akibat marah. Apabila manusia marah kepada seseorang dan tidak dapat membalas dendam kepadanya, kembalilah marah itu ke dalam batin, lalu dia menjadi dendam. Orang yang dendam tetap menunggu kesempatan hingga dia membalas dendam kepada orang yang dibencinya.
Sebagaimana penyair berkata:
Sesungguhnya musuh itu walaupun menunjukkan perdamaian Jika merasa kuat, pada suatu hari ia akan menyerang.
Dendam itu haram dan sangat tercela, seperti dengki. Artinya: Dia mengharapkan kehilangan kenikmatan dari orang yang menjadi sasaran dengki.
Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia?” yang Allah telah berikan kepada manusia itu?” (QS. An-Ni-sa’:54). “Dan dari kejahatan orang yang mendengki bila dia dengki” (QS. Al-Falaq:5).
Nabi saw. bersabda: “Dendam dan dengki itu memakan pahala berbagai kebaikan seperti api memakan kayu.” Beliau bersabda pula: “Orang mukmin itu tidak pendendam.” Sabdanya juga: “Bukan termasuk golonganku orang yang mempunyai rasa dengki, melakukan namimah (mengadu domba) mau pun pergi ke dukun, dan aku pun bukan dari golongannya.”
Adapun rasa iri, yaitu mengharapkan keadaan seperti Orang yang menjadi sasaran iri hatinya tanpa mengharapkan kehilangan kenikmatan itu, maka sifat itu terpuji, karena ia menimbulkan persaingan sehat. Rasa iri dalam berbagai urusan kebaikan justru dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman: “…. untuk hal yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin:26).
Dalam hadits disebutkan: “Orang mukmin itu iri hati, sedang orang munafik mendengki.” Dalam hadits yang lain: “Telah menjalar kepada kamu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu dengki dan kebencian. Itulah yang akan mencukur. Aku tidak mengatakan: la mencukur rambut, tetapi mencukur agama. Demi Allah’ yang menguasai nyawaku, kamu tidak akan masuk surga hingga beriman dan tidaklah kamu beriman hingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan Sesuatu yang jika kamu lakukan, maka kamu saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.”
2. Dendam dan dengki menyebabkan kepayahan hati dan bahaya tubuh. Sayyidina Ali ra. berkata: “Kesehatan tubuh disebabkan sedikit rasa dengki.” Imam Al-Ashma’i berkata: “Aku berkata kepada seorang dusun yang berusia 120 tahun: “Alangkah panjang umurmu!’Orang itu menjawab: ‘Aku tinggalkan rasa dengki, maka aku berumur panjang’.”
Tidaklah lebih menyenangkan bagi manusia dan tidaklah lebih menjauhkan kesusahannya daripada hidup dengan hati bersih, tidak mendengki dan tidak mendendam terhadap seorang pun. Dan seperti inilah keadaan Rasulullah saw. Dalam hadits dijelaskan: “Janganlah salah seorang di antara para sahabatku menyampaikan kabar sesuatu kepadaku tentang seseorang, karena aku ingin keluar menghadap kalian dalam keadaan bersih hati.”
Di antara doa Rasulullah saw.: “Ya Allah, setiap nikmat yang aku rasakan pada waktu pagi atau dirasakan oleh seorang makhluk-Mu, maka ia berasal dari-Mu saja, tiada sekutu bagi-Mu. Maka, bagi-Mu-lah segala puji dan syukur.”
Dalam hadits disebutkan: Rasulullah saw. ditanya: “Manusia manakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Setiap orang yang bersih hati dan benar lisannya.” Ada yang mengatakan: “Benar lisannya kami ketahui, maka apakah arti bersih hati’?” Rasulullah saw. menjawab: “la adalah orang yang bersih hatinya dan bertakwa, tidak berdosa dan tidak berbuat zalim, tidak mendendam dan tidak mendengki.”
Allah telah menggambarkan kaum muslimin yang benar melalui firman-Nya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr:10).
Penyair berkata:
Hai pencari kehidupan yang aman dan tentram, semata-mata tanpa kekeruhan, bersih tanpa kotoran
Bersihkan hatimu dari dendam dan dengki
Dendam di dalam hati, seperti belenggu di leher.
3. Ketahuilah, pengaruh-pengaruh buruk dari dendam dan dengki tidak menimpa seorang saja, tetapi meluas kepada masyarakat. Maka hal itu menyebabkan berbagai bahaya yang sangat dan menimbulkan api fitnah serta permusuhan, Sehingga terjadi pemutusan hubungan antar saudara dan angGota keluarga serta suku.
Rasulullah saw. mencela pemutusan hubungan: “ya. nganlah kamu saling membenci, mendengki, menjauhi dan memutuskan hubungan. Akan tetapi, jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Diharamkan bagi Seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari.” Dalam hadits lain: “Barangsiapa menjauhi sauda. ranya lebih dari tiga hari, lalu dia mati, maka dia masuk neraka.”
Rasulullah saw. bersabda pula: “Dibuka pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis. Maka, setiap hamba . yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, diampuni dosanya, kecuali orang yang masih berlangsung permusuhan antara dia dan saudaranya. Maka dikatakan: “Tundalah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tundalah kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”
Rasulullah saw. pun bersabda: “Allah Azza wa Jalla mengawasi hamba-hamba-Nya di malam pertengahan (Nisfu) Sya’ban, lalu mengampuni orang-orang yang memohon ampun dan merahmati orang-orang yang memohon rahmat serta menunda orang-orang yang menJendam, sebagaimana keadaan mereka.”
4. Sebab-sebab dengki itu banyak, di antaranya: Permusuhan dan kebencian. Orang yang dengki tidak ingin musuhnya memiliki suatu keutamaan. Oleh karena itu, dia mendengki terhadapnya atas kenikmatan itu. Meninggikan diri dan bersikap sombong. Dia tidak rela seseorang menampakkan suatu sifat baik, agar tidak menyombongkan sifat itu kepadanya. Oleh sebab itu, dia mengharapkan tidak ada kebaikan padanya (orang lain).
Takut tidak mencapai maksudnya. Ini biasanya terjadi antar kerabat dan teman. Sesama saudara saling mendengki atas timbulnya kedudukan di dalam hati ayah dan ibu. Sesama murid saling mendengki karena mendapat kedudukan di sisi guru. Sesama pedagang saling mendengki karena banyak langganan, dan lain-lain. Sebagaimana dikatakan: Musuh manusia ialah orang yang bekerja seperti pekerjaannya.
Jiwa yang jahat dan watak yang rendah. Ini adalah sebab terpenting dan paling buruk. Dia tidak menginginkan kebaikan bagi seseorang dan merasa berat atas terlihatnya kenikmatan Allah atas hamba-hamba-Nya. Dia pun bersedih bila melihat orang-orang dalam keadaan sehat dan afiat, tentram dan aman. la gembira bila mereka ditimpa musibah, sehingga kacau urusannya, harga-harga menjadi mahal dan tersebar di antara mereka penyakit serta permusuhan. Orang ini adalah musuh kenikmatan-kenikmatan Allah dan dengkinya mantap, sedangkan pengobatannya sulit sekali, karena dia tidak senang, kecuali nikmat-nikmat Allah lenyap dari para hamba-Nya.
5.Sungguh baik penyair yang berkata: Setiap permusuhan dapat diharapkan menohilangkannya, kecuali permusuhan orang yang memusuhimu karena dengki karena di dalam hati ada ikatan yang membelitnya, tiada seorang pun yang dapat membukanya untuk selamanya, Kecuali Tuhan, jika Dia mengasihani, dilepaskannya. Jika Dia menolak, maka jangan mengharapkannya dari seorang pun.
Di antara mereka ada orang-orang yang memusuhi orang-orang yang memperbaiki negeri dan memberi manfaat bagi umat. Mereka menentang pekerjaan-pekerjaan dan menghambat proyek-proyeknya karena dengki dan berniat jahat. Oleh karena itu, janganlah kamu bergaul dengan mereka dan jauhilah, seperti orang sehat yang menjauhi penderita – Sakit kudis, serta dukunglah orang sehat yang menjauhi penderita sakit kudis, serta dukunglah orang-orang yang mengadakan perbaikan itu dengan kekuatan yang ada padamu.
6. Di antara sifat-sifat yang menyertai dendam, adalah buruk sangka, menyelidiki aib (cela) dan suka menyiarkan perbuatan keji. Allah Ta’ala berfiman: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An. Nuur:19).
Dari Ibnu Umar ra., dia berkata: Rasulullah saw. naik mimbar, lalu beliau berseru dengan suara sekeras-kerasnya: “Hai, orang masuk Islam dengan lisannya, namun iman tidak masuk ke hatinya. Janganlah kamu mengganggu kaum muslimin, menjelekkan, dan menyelidiki aib (cela) mereka, karena barangsiapa menyelidiki aib (cela) saudaranya muslim, maka Allah menyelidiki aib (cela)nya. Dan barangsiapa yang diselidiki Allah aibnya, maka Allah akan menyingkapnya (membuka rahasianya) walaupun di dalam rumahya.”
Pada suatu hari Ibnu Umar memandang Ka’bah, lalu berkata: “Alangkah agung kamu dan alangkah agung kehormatanmu, sedang orang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah daripada kamu (Ka’bah).”
Termasuk karunia Allah atas hamba-hamba-Nya ialah Dia (Allah) suka menutupi kejelekan-kejelekan dan menamakan diri-Nya As-Sattar (Yang Maha Menutupi kejelekan). Dalam hadits dijelaskan: “Tidaklah seorang hamba menutupi kejelekan seorang hamba lainnya di dunia, melainkan Allah Ta’ala menutupi kejelekannya di hari Kiamat.”
7. Maka, wajiblah kamu waspada dari dendam dan dengki sekuat tenaga. Apabila kamu terjerumus ke dalamnya, segeralah bertobat dan obatilah hatimu yang sakit dengan . obat-obat yang manjur berikut:
Pertama: Hendaklah kamu ketahui, bahwa dengki itu membahayakan dalam agama dan duniamu. Adapun bahaya di dunia, maka dengan sebab dengki itu kamu selalu berada dalam kesusahan dan keresahan, kekeruhan dan kesedihan.
Kamu ingin mengganggu orang lain dengan dengkimu, tetapi sebenarnya kamu mengganggu dirimu sendiri. Maka, siksaan yang kamu kehendaki bagi musuhmu, justru menimpamu, sedangkan nikmat-nikmat Allah SWT. tetap tidak hilang dari orang yang menjadi sasaran dengkimu. la berkata sebagaimana kata penyair:
Jika mereka dengki kepadaku, maka Sesungguhnya aku tidak menyalahkan mereka.
Sebelum aku, orang-orang yang baik telah menjadi sasaran dengki.
Tetaplah padaku dan mereka apa yang aku dan mereka alami.
Kebanyakan kita mati karena jengkel alas apa yang dirasakan.
Adapun bahayanya dalam agama, maka dengan dengki kamu tidak menyukai keputusan Allah dan tidak menyukai kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Dengan itu kamu berbuat kejahatan besar kepada dirimu dan melakukan dosa besar serta patut mendapat siksa yang pedih atas hal itu di akhirat.
Penyair berkata:
Hai orang yang dengki pada nikmatku, tahukah kamu, kepada siapa kamu berlaku buruk?
Kamu berlaku buruk kepada Allah
Mengenai hukum-Nya karena engkau tidak senang atas karunia-Nya bagiku
Maka, Tuhanku membalasnya dengan menambah nikmatku dan menutupi berbagai permintaanmu.
Kedua: Hendaklah kamu memperlakukan orang yang menjadi sasaran dengkimu dengan kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh kedengkian itu. Maka, paksakanlah lisanmu untuk memuji dan menampakkan kegembiraan atas nikmat nikmat Allah padanya.
Bersikap rendah hatilah kepadanya dan tersenyum didepannya serta mengajukan alasan kepadanya atas kekurangan dalam menunaikan hak haknya. Mulailah memberi salam jika bertemu dengannya. Ringkasnya, tunjukkanlah kasih sayang kepadanya dengan segenap kemampuanmu. Harus memaksakan diri dengan perlakuan ini dan memerangi dirimu untuk melakukan Itu pada permulaan, sehingga akhu. nya menjadi perilaku dan watak.
Dengan demikian, Insya Allah hatimu menjadi sehat dari penyakit dengki dan kamu pun dicintai oleh hati orang yang menjadi sasaran dengki. Di samping itu, hati kalian akan saling menyayang dan berakibat setan menjadi hina.
Telah disebutkan dalam hadits, bahwa manusia tidak luput dari dengki, buruk sangka dan firasat buruk (sikap pesimis). Akan tetapi ia tidak boleh berbuat menurut ketiga sifat ini. Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga perkara, yang seorang pun tidak luput darinya, yaitu dengki, sangkaan dan firasat buruk.
Maukah kalian kuberitahu tentang jalan keluar dari itu? Apabila kalian mendengki, jangan berbuat zalim. Jika menyangka, jangan memastikan. Dan jika berfirasat buruk, maka teruskanlah.” Yakni jangan mundur sebab firasat buruk dari perkara yang kamu inginkan.
Apabila kamu senang pada nikmat seseorang, maka mohonlah dari Allah seperti itu, karena Allah Ta’ala Maha Pemurah dan Maha Pemberi. Berusahalah untuk memperolehnya, karena barangsiapa bersungguh-sungguh, dia pun berhasil.
Penyair berkata:
Apabila kamu senang dengan sifat-sifat seseorang maka jadilah seperti dia dan kamu mendapat apa yang kamu senangi.
Tidaklah ada hambatan yang menghalangimu bila kamu ingin mencapai kebesaran dan kemuliaan.
1. Abdullah bin Ubay bin Salul ingin diberi mahkota oleh bani Khazraj dan dijadikan raja mereka. Kemudian Rasulullah saw. hijrah ke Madinah dan gagallah pemahkotaannya. Maka dia pun mendengki kepada Rasulullah saw. dan menyembunyikan permusuhan terhadapnya. Dia masuk Islam pada Iahirnya, padahal sebenarnya dia termasuk tokoh munafikin, bahkan pemimpin mereka.
Dia mengganggu Rasulullah saw. dengan gangguan yang keras, hingga ia mati dalam keadaan kafir. Semoga Allah melindungi kita. Allah melarang Nabi-Nya menyalatinya melalui firman-Nya: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalati (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah:84) Kalau saja dia tidak dengki, tentulah dia masuk Islam dan baik Islamnya, serta menjadi seperti kaum orang Anshar yang membela agama.
2. Begitu pula keadaan iblis. Ketika ia mendengki Adam atas pilihan yang dikhususkan Allah dan menolak sujud kepadanya, maka Allah melaknatnya hingga hari Kiamat dan mengusirnya di antara malaikat yang dekat dengan Allah serta menurunkannya ke bumi. Maka, ia pun menjadi teladan bagi orang-orang yang kafir dan fasik. Begitu pula keadaan kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka mengetahui kebenaran Rasulullah.
Sebagaimana Aliah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenainya (Muhammad) seperti mereka mengenali anakanaknya sendiri…” (QS. Al-An’am:20). Akan tetapi, mereka tidak beriman padanya karena dengki. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “….maka se. telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ke. tahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah. lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah:89).
Begitu pula orang-orang kafir Makkah. Sifat dengki mencegah mereka untuk beriman, sebagaimina Allah memberi tahu tentang mereka melalui firman-Nya: “Dan tatkala kebenaran (Al-Gur’an) itu datang kepada mereka, maka mereka berkata: ‘Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.” (QS. Az-Zukhruf:30)
“Orang-orang kafir dari Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan orang yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian) dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah:105).
3. Seperti kedengkian di atas termasuk kedengkian Qabil, putra Sayyidina Adam as., terhadap saudaranya, Habil, lalu membunuhnya secara aniaya. Maka dia adalah manusia pertama yang terbunuh di muka bumi ini.
Dalam hadits disebutkan: “Tidak ada jiwa yang terbunuh secara aniaya, kecuali putra Adam yang pertama menanggung dosa dari pembunuhnya, karena dia adalah orang pertama yang mengadakan pembunuhan.”
Disebutkan pula: “Barang siapa mengadakan contoh perbuatan yang baik dalam Islam, maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sesudahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengadakan contoh perbuatan buruk dalam Islam, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
(Bersambung …. )