
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Siapa tak kenal Asdar Muis RMS (alm)? Seniman multi-talenta Sulsel ini sejak berpulangnya dalam Bulan Oktober 2014, setiap tahun dikenang karyanya, baik dalam bentuk bedah buku maupun senin pertunjukan di kota kelahirannya, Pangkajene. Tahun ini, lewat Pekan Literasi Pangkep (PLP) 2022 kembali dikenang sosok dan karyanya di Panggung Utama PLP, Tugu Bambu Runcing Pangkajene. Almarhum Asdar Muis RMS memang banyak menyimpan kenangan dan dikenang banyak orang, bukan hanya karena karya bukunya, tetapi juga karena sosoknya senantiasa hadir dalam berbagai momentum kegiatan seni budaya di Pangkep.
Sebagai orang yang pernah akrab dengan Asdar Muis RMS (alm), penulis kebagian undangan PLP untuk ikut serta membedah karya esainya, “Tuhan Masih Pidato”. Ya, sepintas judul buku, yang juga menjadi salah satu esai dalam buku tersebut menyiratkan pertanyaan di benak orang, tapi itulah Asdar Muis RMS, selalu ingin meninggalkan kesan mendalam dan pelajaran tak terduga dari apa yang ditulisnya. Ada suasana kebatinan dan keprihatinan yang menyertai untaian kata demi kata serta kalimat demi kalimat dari esai yang ditulisnya.
Bagi penulis, setiap esai Asdar Muis RMS adalah bukan sekadar esai. Esai itu juga sebenarnya adalah materi seni pertunjukan, yang kadang dipentaskannya di ruang terbuka ataupun disuarakannya lewat udara, melalui siaran radio. Buku Kumpulan Esai “Tuhan Masih Pidato”, penulis kira hanya bisa dipahami secara utuh jika esai itu telah ditampilkan, dan ketika itu ditampilkan itulah, esai itu terasa semakin hidup dan punya nyawa menghentakkan ruang kesadaran dan sanubari pembacanya. Apalagi jika Asdar Muis RMS sendiri yang mementaskannya, maka esai itu tak hanya sekadar hidup, malahan bisa menari-nari dan memberi kesan mendalam. Ya, itulah Asdar Muis RMS, seorang penulis, seniman, sastrawan, pemerhati budaya dan juga seorang Antropolog. Kesemua identitas yang melekat pada dirinya tersebut, bisa dibaca dalam ruang terbuka dan memukau pada banyak situasi sosial yang ditulisnya.
Semoga beliau tenang dalam pelukan tuhan-NYA. *Teriring al-Fatihah buat beliau, kakakku yang tercinta, Asdar Muis RMS.
Pangkajene, 09 September 2022
Artikel/tulisan terkait:
Bersemedi dan Berlari Mencari Kata: In Memoriam Asdar Muis RMS
Esai Asdar Muis RMS: Tuhan Masih Pidato
Esai: Dunia Dipenuhi Orang Bodoh (Tribute to Asdar Muis RMS)
Tribute To Asdar Muis RMS: Pekan Literasi, Ikhtiar Kolektif Mewujudkan Pangkep Cerdas