Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Menjadi “Peace Educator”: TFPE Vol.4 2019

Menjadi "Peace Educator": TFPE Vol.4 2019

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Apa dan bagaimana itu “Peace Educator”? Apakah ada pelatihannya untuk menjadi seorang “Peace Educator”? Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, penulis dapat meluangkan waktu dan kesempatan untuk mengikuti Training for Peace Educator Vol. 4 yang diselenggarakan oleh Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika dan Peace Generation pada hari sabtu dan Ahad, 12-13 Oktober 2019 di Ruang VIP II Gedung Keuangan Negara, Kota Makassar.

Seorang Peace Educator (Pendidik Perdamaian) adalah sosok yang bertugas mengajarkan nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan untuk mencegah konflik, menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, serta membangun budaya damai di masyarakat. Menjadi seorang Peace Educator bukan sekadar mengajar di kelas, melainkan sebuah praktik terapan untuk mengubah pola pikir dan perilaku.

Apa dan bagaimana peran “Peace Educator” tersebut dijalankan? Secara esensial, Peace Educator adalah fasilitator perubahan sosial. Mereka percaya bahwa perdamaian bukan hanya “tidak adanya perang” (perdamaian negatif), tetapi juga adanya keadilan sosial, kesetaraan, dan rasa aman (perdamaian positif). Fokus utamanya adalah: (1) Transformasi Konflik. Mengubah konflik dari ancaman menjadi peluang untuk pertumbuhan dan pemahaman. (2) Anti-Kekerasan (Non-Violence). Mengajarkan strategi penyelesaian masalah tanpa menyakiti pihak lain. (3) Keadilan dan Hak Asasi. Membangun kesadaran tentang kesetaraan gender, toleransi beragama, dan penghapusan diskriminasi.

Seorang Peace Educator menggunakan metode yang berbeda dari guru konvensional. Mereka lebih mengedepankan pendekatan partisipatif daripada ceramah satu arah, diantaranya dengan: (1) Pemodelan Perilaku (Role Modeling). Tidak hanya bicara tentang damai, tapi mempraktikkannya. Seorang Peace Educator harus menjadi contoh dalam berkomunikasi dengan empati dan mendengarkan secara aktif. (2) Dialog dan Diskusi Kritis. Mengajak siswa atau komunitas untuk menganalisis akar penyebab kekerasan (seperti prasangka atau ketidakadilan) dan mendiskusikan solusinya bersama-sama. (3) Penyelesaian Masalah secara Kolaboratif. Bisa dengan menggunakan simulasi, role-play (bermain peran), dan mediasi teman sebaya untuk melatih keterampilan negosiasi di dunia nyata. (4) Menciptakan “Zona Damai”. Di sekolah atau komunitas, mereka menciptakan ekosistem di mana setiap orang merasa aman secara psikologis untuk berpendapat tanpa takut dirundung (bullying).

Keterampilan apa yang saja yang harus diajarkan seorang Peace Educator? Seorang Peace Educator biasanya membekali orang lain dengan beberapa “alat” berikut, yaitu menggunakan Komunikasi Asertif, bisa dalam bentuk Menyatakan perasaan dan kebutuhan tanpa menyerang orang lain. Selain itu, Tunjukkan Empati, yaitu Kemampuan untuk melihat dunia dari perspektif orang yang berbeda (suku, agama, atau latar belakang sosial). Setelahnya, lakukan Analisis Kritis, yaitu dengan mempertanyakan stereotip dan narasi kebencian yang sering memicu konflik di media sosial atau lingkungan sekitar.

Di Indonesia, peran ini sangat krusial dalam konteks masyarakat yang beragam. Banyak lembaga (seperti KITA Bhinneka Tunggal Ika atau organisasi lintas agama) mengadakan rekrutmen Peace Educator untuk masuk ke sekolah-sekolah guna melawan “tiga dosa besar pendidikan”: perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Peace Educator adalah seorang “arsitek perdamaian” yang membangun fondasi kedamaian dimulai dari pikiran manusia. Tertarik untuk mengikuti program pelatihan atau sertifikasi untuk menjadi seorang Peace Educator di Indonesia? Bisa dimulai dengan mengikuti program training Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika di Makassar.

***

Training for Peace Educator (TFPE) Vol. 4 adalah program intensif yang diselenggarakan oleh Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika pada tanggal 12-13 Oktober 2019. Acara ini bertempat di Ruang VIP II Gedung Keuangan Negara (GKN) II, Makassar. Berikut adalah poin-poin penting mengenai kegiatan tersebut:

1. Program ini dirancang untuk membekali para pendidik (guru, dosen, dan pegiat komunitas) dengan keterampilan khusus dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi. Fokus utamanya adalah melawan “Tiga Dosa Besar Pendidikan”: Perundungan (Bullying), Kekerasan Seksual, dan Intoleransi.

2. Metode Pelatihan. Berbeda dengan pelatihan guru pada umumnya, TFPE menggunakan pendekatan yang interaktif dan kreatif. Pada volume ke-4 ini, peserta dilatih menggunakan: (1) Modul 12 Nilai Dasar Perdamaian (NDP). Sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk membantu siswa memahami diri sendiri, orang lain, dan cara menyelesaikan konflik tanpa kekerasan,  (2) Media Pembelajaran Kreatif. Penggunaan modul yang dilengkapi dengan permainan (games) dan simulasi agar materi perdamaian lebih mudah diterima oleh murid di sekolah, dan (3) Pendekatan Disiplin Positif. Memberikan alternatif bagi guru untuk mengelola kelas tanpa menggunakan kekerasan fisik maupun verbal.

3. Peserta dan Dampak. Peserta TFPE Vol. 4 terdiri dari puluhan guru dari berbagai tingkatan sekolah dan latar belakang agama di Makassar. Pasca-pelatihan, para peserta diharapkan menjadi Peace Educator yang mampu: Mengintegrasikan nilai perdamaian ke dalam mata pelajaran di sekolah, Membuat proyek perdamaian (Peace Project) di lingkungan pendidikan masing-masing dan Membangun ekosistem sekolah yang aman dan inklusif.

4. Penyelenggara: Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika. Yayasan ini adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Makassar dan sangat aktif dalam isu pendidikan perdamaian. TFPE sendiri merupakan program rutin (tahunan) yang sejak 2017 telah melahirkan banyak agen perdamaian di Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Pelatihan “Traning for Peace Educator” ini menjadi salah satu tonggak penting bagi gerakan perdamaian di Makassar sebelum akhirnya program ini bertransformasi menjadi model daring pada masa pandemi untuk menjangkau skala nasional.

Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat kegiatan pelatihan “Peace Educator” yang telah diikuti.  Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

Makassar, 14 Oktober 2019

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

KELUAR