
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat terus berbagi pengetahuan dan pengalaman sebagai seorang relawan pendidikan dan pegiat trauma healing pada beberapa lokasi bencana yang pernah terjadi, baik yang terjadi dalam wilayah Sulawesi Selatan maupun pada gempa bumi yang pernah terjadi di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Masih teringat jelas, begitu banyak relawan yang terjun langsung di daerah bencana gempa bumi di Lombok pada Juli-Agustus-September 1998. Penulis sendiri menempati pos kerelawanan di Desa Obel-obel Lombok Timur, dibawah bendera Aliansi Relawan Pendidikan Sulawesi Selatan (ARPSS) dan berkolaborasi dengan kesatuan relawan yang tergabung dalam MRI-Aksi Cepat Tanggap (ACT). (Lihat: ARPSS Goes to Lombok)
Beberapa bulan kemudian, sepulang dari Lombok, NTB, Teman-teman relawan dari ARPSS bermetamorfosis menjadi Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) dan dideklarasikan di Makassar, sekaligus sebagai pusat komando relawan, dibawah kepemimpinan Ahmad Yani Dzhuhimma, S.S., M.Pd. Penulis sendiri didaulat sebagai Pembina RPI.
Salah satu kegiatan RPI yang sempat penulis ikuti adalah Training of Trainer (ToT) Relawan Pendidikan Indonesia (RPI), dimana penulis diberi kepercayaan memberikan suntikan motivasi dan energi bagi relawan. Kegiatan ToT RPI tersebut diselenggarakan pada Hari Jum’at, 27 November 2020 di Gedung A Four Cafe, Makassar.
Sebagai pembina RPI, tak banyak yang dapat penulis sampaikan selain keteguhan dan semangat pantang menyerah ketika berada di medan juang. “Karena yang namanya relawan, dasar paling utama berbuat, turun tangan membantu korban bencana atau musibah adalah keikhlasan. Namanya juga relawan, berbuat sesuatu kebaikan dan membantu semampunya dengan dasar rela dan sukahati, dan bahkan turun tangan dengan biaya sendiri, tak ragu mengeluarkan biaya pribadi demi membantu saudara yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak pengalaman relawan di lapangan, yang karena keikhlasan dan ketulusannya itulah, yang kemudian mendapatkan umpan balik yang luar biasa dari masyarakat yang dibantu, dan tentu dari sesama relawan sendiri”.
Pembekalan dalam ToT RPI ini bukan hanya menyangkut keteguhan hati dan keikhlasan dalam turun tangan membantu saat bencana atau musibah terjadi, tetapi juga menyangkut manajemen kebencanaan dan segala hal terkait mitigasi bencana. Penulis berharap agar selalu ada jiwa-jiwa tulus dan ikhlas yang turun tangan membantu saat masyarakat terjebak dalam banyak kejadian darurat, tak terduga dan berdampak sosial cukup besar bagi kehidupannya.
Mari, jangan takut menjadi relawan, yang siap turun tangan membantu kapanpun dibutuhkan. Panjang umur relawan, panjang umur kemanusiaan. (*)
Makassar, 28 November 2020.
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembina RPI/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.