Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Certificate of Completed Training Risk Management

Meraih Certificate of Completed Training Risk Management

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Meraih Certified Risk Management (C.RM)

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri akhirnya penulis dapat menuntaskan Pelatihan Risk Management dan QHSE Awareness yang diselenggarakan oleh PT. Borneo Indo Safety (BISA) yang dilaksanakan selama dua hari, Tanggal 15-16 Januari 2022

Adapun materi Pelatihan Risk Management yang telah diikuti (Completed Training) tersebut adalah:

Basic Risk Management

Basic Risk Management adalah konsep dan praktik dasar dalam mengidentifikasi, menilai, mengendalikan, serta memantau risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi, proyek, maupun individu. Tujuannya adalah Mencegah kerugian (finansial, operasional, reputasi), Mengurangi dampak bila risiko terjadi, dan Memanfaatkan peluang yang muncul dari ketidakpastian.

Apa Saja yang Dipelajari di dalamnya? (1) Pengertian Risiko dan Manajemen Risiko, menyangkut Definisi risiko: kemungkinan terjadinya peristiwa yang berdampak negatif/positif dan Peran manajemen risiko dalam organisasi dan kehidupan sehari-hari. (2) Jenis-Jenis Risiko, menyangkut Risiko finansial (keuangan, investasi), Risiko operasional (proses, sistem, SDM), Risiko strategis (persaingan, perubahan pasar), Risiko hukum dan kepatuhan, Risiko teknologi (cybersecurity, sistem TI), dan Risiko lingkungan dan sosial. (3) Proses Manajemen Risiko (Risk Management Cycle), menyangkut Identifikasi risiko → mengenali sumber dan faktor risiko, Analisis risiko → menilai kemungkinan (likelihood) dan dampak (impact), Evaluasi risiko → menentukan prioritas risiko (tinggi, sedang, rendah), Mitigasi/penanganan risiko → memilih strategi (menghindari, mengurangi, memindahkan, menerima), dan Monitoring & review → meninjau ulang efektivitas pengendalian risiko.

Juga dipelajari tentang (4) Alat dan Teknik Dasar, menyangkut Risk Matrix (peta risiko: kemungkinan vs dampak), SWOT Analysis (strength, weakness, opportunity, threat), dan Checklists dan brainstorming. (5) Prinsip-Prinsip Dasar, menyangkut Proaktif → risiko dikelola sebelum terjadi, Sistematis → dilakukan dengan proses terstruktur, Terintegrasi → masuk dalam strategi organisasi, dan Dinamis → harus terus diperbarui sesuai kondisi, serta (6) Studi Kasus & Penerapan, terkait Risiko proyek (keterlambatan, biaya membengkak), Risiko bisnis (perubahan regulasi, krisis ekonomi), dan Risiko personal (kesehatan, keuangan pribadi).

Intinya, Basic Risk Management mengajarkan kerangka kerja dasar untuk memahami risiko, cara menilai tingkat bahayanya, dan strategi mengendalikan dampak agar organisasi atau individu bisa tetap mencapai tujuan dengan lebih aman dan efektif.

Risk Management (Bow Tie)

Bow Tie Risk Management adalah metode visual untuk menganalisis dan mengelola risiko dengan cara menggambarkan: Penyebab (causes) di sisi kiri, Dampak/konsekuensi (consequences) di sisi kanan, dan Peristiwa utama/kejadian risiko (top event) di tengah. Disebut “bow tie” (dasi kupu-kupu) karena diagramnya menyerupai bentuk dasi kupu-kupu: sisi kiri = penyebab, sisi tengah = kejadian, sisi kanan = akibat. Metode ini menggabungkan pendekatan dari Fault Tree Analysis (FTA) (analisis penyebab) dan Event Tree Analysis (ETA) (analisis dampak).

Bagaimana Cara Kerjanya? (1) Identifikasi Risiko Utama (Top Event). Tentukan kejadian sentral yang menjadi fokus (misalnya: “Kebocoran gas di pabrik”). (2) Penyebab Risiko (Threats) – sisi kiri. Faktor-faktor yang bisa menyebabkan top event (contoh: peralatan rusak, kesalahan operator, kurang perawatan). (3) Konsekuensi (Consequences) – sisi kanan. Dampak yang bisa terjadi jika top event benar-benar terjadi (contoh: ledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan). (4) Pengendalian Pencegahan (Preventive Barriers). Ditempatkan di antara penyebab dan top event. Tujuannya: mencegah penyebab agar tidak berkembang menjadi kejadian. Contoh: inspeksi rutin, sensor kebocoran, SOP ketat. (5) Pengendalian Mitigasi (Mitigative Barriers). Ditempatkan antara top event dan konsekuensi. Tujuannya: mengurangi dampak jika top event terjadi. Contoh: sistem pemadam kebakaran, prosedur evakuasi, asuransi.

Apa yang Dipelajari dalam Risk Management (Bow Tie)? (1) Teknik Visualisasi Risiko → memahami hubungan antara penyebab, kejadian, dan dampak. (2) Analisis Penyebab & Dampak → berpikir sistematis dari hulu ke hilir. (3) Identifikasi Barrier → menentukan langkah preventif & mitigatif. (4) Evaluasi Efektivitas Kontrol → menilai apakah barrier cukup kuat atau ada celah. (5) Komunikasi Risiko → memudahkan pemangku kepentingan (non-teknis sekalipun) memahami risiko yang kompleks.

Kelebihan Metode Bow Tie adalah: (1) Sederhana & intuitif → mudah dipahami oleh manajer, teknisi, maupun staf non-ahli, (2) Holistik → melihat risiko dari dua sisi sekaligus (penyebab & dampak), (3) Praktis → dapat dipakai dalam berbagai sektor (kesehatan, industri, migas, penerbangan, pendidikan, dan lain-lain), (4) Fokus pada pengendalian → menekankan apa yang bisa dilakukan sebelum dan sesudah risiko terjadi. Jadi, Risk Management dengan Bow Tie adalah teknik yang membantu organisasi memetakan risiko secara visual, jelas, dan mudah dipahami, sekaligus mengidentifikasi titik pencegahan dan mitigasi yang paling efektif.

Risk Management~Job Safety Analysis (JSA)

Apa itu Risk Management – Job Safety Analysis (JSA)? Job Safety Analysis (JSA) adalah metode manajemen risiko yang digunakan untuk menganalisis suatu pekerjaan atau tugas secara rinci guna mengidentifikasi: Potensi bahaya yang mungkin muncul, Risiko dari bahaya tersebut, dan Langkah pengendalian yang perlu dilakukan agar pekerjaan bisa dilaksanakan dengan aman. JSA sering dipakai di dunia kerja (industri, konstruksi, migas, manufaktur, laboratorium) untuk memastikan setiap langkah pekerjaan dilakukan dengan meminimalkan risiko kecelakaan dan cedera.

Bagaimana Proses JSA Dilakukan? (1) Pilih Pekerjaan yang Akan Dianalisis. Biasanya pekerjaan yang berisiko tinggi, sering menimbulkan kecelakaan, atau jarang dilakukan. (2) Pecah Pekerjaan ke dalam Langkah-langkah Kecil. Setiap tahapan kerja ditulis secara berurutan (misalnya: menyalakan mesin → melakukan pemotongan → membersihkan sisa material). (3) Identifikasi Potensi Bahaya di Setiap Langkah. Contoh: terkena percikan api, terjepit mesin, tersengat listrik. (4) Nilai Risiko. Menentukan tingkat keparahan (severity) dan kemungkinan (likelihood). (5) Tentukan Tindakan Pengendalian. Elimination (menghilangkan bahaya), Substitution (mengganti metode/alat lebih aman), Engineering control (pelindung mesin, ventilasi), Administrative control (SOP, pelatihan), PPE (alat pelindung diri: helm, sarung tangan, kacamata, APD). (6) Dokumentasi & Komunikasi. Hasil JSA dicatat dalam form JSA dan disosialisasikan kepada semua pekerja terkait.

Apa yang Dipelajari dalam JSA? (1) Metodologi Identifikasi Bahaya → bagaimana melihat potensi bahaya di setiap langkah kerja, (2) Analisis Risiko → menilai tingkat kemungkinan & dampak, (3) Hierarki Pengendalian Risiko → teknik pencegahan mulai dari eliminasi hingga penggunaan APD, (4) Penyusunan Formulir JSA → dokumentasi resmi yang bisa digunakan dalam audit K3 (Keselamatan & Kesehatan Kerja), (5) Budaya Keselamatan → meningkatkan kesadaran pekerja agar selalu berpikir aman sebelum bekerja.

Kelebihan JSA: Praktis & terstruktur, Membantu pekerja “think safety first” sebelum memulai pekerjaan, Dapat mengurangi angka kecelakaan kerja, Meningkatkan keterlibatan pekerja dalam keselamatan kerja, serta Menjadi dokumen legal & bukti kepatuhan terhadap peraturan K3. Contoh Sederhana JSA, misalnya dalam Pekerjaan: Mengoperasikan mesin pemotong kayu. Langkah kerja: Menyalakan mesin → Memotong kayu → Membersihkan area. Bahaya: Tersayat mata pisau, debu kayu terhirup, percikan ke mata. Pengendalian: Pelindung pisau, exhaust fan, kacamata safety, masker debu, SOP operasi mesin.

Jadi, Risk Management dengan metode JSA adalah cara sistematis untuk memecah pekerjaan menjadi langkah-langkah kecil, mengidentifikasi bahaya di tiap langkah, dan menetapkan kontrol agar pekerjaan bisa dilakukan dengan aman.

Risk Management~Hazard and Operability Study (HAZOP)

Risk Management~Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)

Risk Management~Fault Tree Analysis (FTA)

Demikianlah sedikit catatan terkait kegiatan pelatihan Risk Management yang diikuti serta gambaran masing-masing Risk Management. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

 

Minasatene-Pangkep, 17 Januari 2022.

(* Muhammad Farid Wajdi, Pimred Blog Guru/Konsultan Risk Management dan QHSE

KELUAR