Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Kitab Nailul Authar fil Hadits

Meraih Ijazah Kitab Nailul Authar fil Hadits

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat terus melakukan interaksi keilmuan dari para ustadz, kyai dan ulama bersanad, demi meluaskan pemahaman beragam khazanah keilmuan Islam.

Adalah ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisi, Abu Abdillah al-Batawy (Markaz Thalabul Ilmi) yang berkenan menurunkan ijazah Kitab Nailul Authar fil Hadits dengan Ijazah Khusus dan syarat yang mu’tabar (Ahad, 19 Mei 2024 M – 9 DzulQa’dah 1445 H dengan Nomor Ijazah: 22/IJAZAH/MTI/V/24). Semoga Ustadzuna Dhani al-Farisi, Abu Abdillah al-Batawy senantiasa selalu diberikan ampunan, kesehatan dan perlindungan dari-NYA, keluarga serta para guru beliau.

Kitab Nailul Authar fil Hadits adalah kitab karya al-Qadhi Muhammad bin Ali Al-Shawkani, rahimahullah, yang mana beliau, Ustadz Dhani al-Farisi al-Batawy meriwayatkannya dari banyak masyaikh, diantaranya dari: Syaikhuna yang telah hidup lebih dari seratus tahun, Abdul Rahim Al-Sharabi, atas wewenang Syekh Muhammad Salem Al-Bayhani, atas wewenang Syekh Al-Hussein bin Ali Al-San’ani, atas wewenang Tuan. Ismail bin Muhammad Abdul Karim, atas wewenang Imam Muhammad bin Ali Al-Shawkani. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati, mengampuni dan memberikan perlindungan atasnya.

Kitab apa itu Kitab Nailul Authar fil Hadits? Kitab ini adalah Kitab Penjelas Hadits-hadits Pilihan, judul lengkapnya, “Nailul Authar Syarhu Muntaqal Akhbar min Ahaditsi Sayyidil Akhyar” yang bermakna, “Menggapai keinginan, penjelasan kitab Muntaqal Akhbar (berita pilihan) dari hadits-hadits pemuka orang yang terpilih.” Dari judulnya saja sudah bisa kita tebak bahwa kitab ini adalah penjelasan dari sebuah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya, Nailul Authar merupakan syarah dari hadits-hadits pilihan yang termaktub di dalam kitab “Al Muntaqa fil Ahkamisy Syar’iyyah min Kalami Khairil Bariyyah”, yaitu sebuah kitab karya seorang ulama besar yang bernama Majdudin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdillah bin Al Khadir bin Muhammad bin Ali Al Harraani Ibnu Taimiyyah. Beliau merupakan kakek dari Ahmad bin Abdil Halim Ibnu Taimiyah, yang sering kita dengar disebut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. “Pilihan hukum-hukum syariat dari ucapan sebaik-baik manusia.” Kurang lebih itulah arti dari judul kitab tersebut.

Imam Asy-Syaukani, penulis Kitab Nailul Authar sendiri bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdillah bin al Husain. Nama “Asy-Syaukani” dinisbahkan kepada Syaukan, sebuah kampung yang terletak di wilayah As Suhamiyyah, salah satu qabilah al Haulan yang terletak sekitar satu hari perjalanan (dengan unta) dari Shan’a, ibu kota Yaman.  Beliau, Asy Syaukani lahir pada tanggal 18 Dzulqa’dah 1173 H dan wafat dalam bulan Jumadil akhir pada tahun 1250 H.

Karena Nailul Authar merupakan syarah dari kitab Al Muntaqa, maka susunannya pun mengikuti kitab Al-Muntaqa. Di Bab Muqaddimah, Imam Asy-Syaukani menyebutkan secara singkat biografi penulis Al Muntaqa, dan menyelipkan kalimat pujian para ulama untuk penulis Al Muntaqa. Lalu beliau sebutkan biografi para penulis kitab-kitab induk hadits yang menjadi sumber rujukan dari kitab Al Muntaqa seperti kitab Shahih Bukhari-Muslim, Musnad Imam Ahmad, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An Nasai, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Ibnu Majah.

Sudah menjadi kebiasaan Imam Asy-Syaukani dalam mensyarah hadits, beliau menjelaskan beberapa makna kalimat dalam hadits sebelum membahas kandungan hadits tersebut. Pembahasan Kitab Nailul Authar berkisar tentang makna secara bahasa dan syar’i, juga disebutkan takhrij (sumber riwayat hadits tersebut) dari kebanyakan hadits yang sedang disyarah.

Maka demikianlah gaya mensyarah Imam Asy-Syaukani dalam Kitab Nailul Autharnya. Semisal, Djuz pertama dari kitabnya tentang kitab thaharah (bersuci) yang terdiri dari kurang lebih 125 bab, diikuti tentang Tayammum, lalu Nifas dengan jumlah bab berbeda satu sama lain. Pada jilid kedua membahas kitab Shalat dan Libas (pakaian). Pada jilid 3 masih pada Bab-bab shalat, lalu pembahasan tentang Shalatul maridh (Orang yang sakit), kemudian tentang Al ‘Idain (dua hari raya ‘id) dan Shalatul khauf. Pada jilid berikutnya membahas Janaiz, Zakat, Shiyam, I’tikaf, Manasik, dan seterusnya.

Semoga dengan pengijazahan sanad Kitab Nailul Authar fil Hadits ini menambah semangat belajar dan pemahaman penulis, dan terkhusus kepada Ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisi, Abdu Abdillah al-Batawy, semoga senantiasa diberikan kesehatan, rezeki yang barakah serta perlindungan dan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian catatan singkat ini, dan semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

KELUAR