Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Sanad Kitab Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr Imam Ibnul Jazari

Meraih Ijazah Sanad Kitab Al-Nasyr fi Al-Qira'at Al-'Asyr Imam Ibnul Jazari

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat menerima ijazah khusus dengan syarat yang mu’tabar untuk kitab Kitab Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr  karya Imam Ibnul Jazari (Nomor Sertifikat: No. 07/IJAZAH/MTI/V/24, Tanggal 04 Mei 2024 / 25 Syawwal 1445 H dari ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisy, Abu Abdillah al-Batawy, Founder Markaz Thalabul Ilmi (MTI).

Kitab al-Nasyar fi al-Qira’at al-‘Asyar karya Ibnul al-Jazari adalah kitab yang membahas tentang Qira’at sepuluh. Salah satu faktor yang melatar belakangi penyusunan kitab ini adalah untuk menepis anggapan sebagian masyarakat bahwa hanya qira’at tujuhlah yang memiliki sanad yang shahih sedang yang selebihnya itu adalah syadz. Mari mengakrabi kitab karya Imam Ibnul Jazari ini dan mengkajinya dari aspek, yaitu:  Pertama, Dasar Ibn al-Jazari dalam menilai kualifikasi sepuluh qira’at sehingga harus diterima oleh umat Islam. Kedua, bagaimana hubungan sab’ah ahruf dengan perbedaan qira’at sepuluh yang dikualifikasikan Ibn al-Jazari dan konsep sinonimitas dalam al-Qur’an.

Kitab al Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr karya Ibn al-Jazari, boleh dibilang merupakan kitab representatif dalam kualifikasi qira’at sepuluh. Dalam kualifikasi yang dilakukannya, Ibn al-Jazari menerapkan tiga syarat, yaitu kesesuaian qira’at dengan bahasa Arab, kesesuaian dengan rasm mushaf, dan keshahihan sanad. Namun dalam keshahihan sanad misalnya,  Imam Ibn al-Jazari tidak menerapkan kriteria. mutawatir. Baginya jika kriteria ini diterapkan, maka justru akan menghapus banyak qira’at itu sendiri, termasuk qira’at tujuh. Sebuah qira’at yang memiliki sanad shahih, sesuai dengan mushaf dan bahasa Arab, maka dihukumi sebagai qira’at shahih yang harus diterima dan boleh dibaca dalam shalat, bahkan qira’at ini disertakan pula pada jajaran qira’at yang mutawatir, meskipun tidak sampai derajat mutawatir.

Ibn al-Jazaii berasumsi bahwa qira’at mutawatir ataupun qira’at shahih tersebut sama-sama mengandung keyakinan dan kepastian. Dua hal inilah yang menjadi i’tibar dalam penerimaan sebuah qira’at. Dengan dasar ini Ibn al-Jazari termasuk ulama mutasahil dalam kualifikasi qira’at. Dalam memaknai sab’ah ahruf, Ibn al-Jazari menunjukkan bentuk perbedaan qira’at yang tidak lepas dari tujuh segi. Namun menurut Abu Syuhbah tujuh segi tersebut terlalu dipaksakan. Tujuh segi yang dipaparkan Ibn al-Jazari masih berpotensi mengalami penambahan ataupun pengurangan.

Sab’ah ahruf sebenarnya tidak menunjukkan makna bilangan dalam arti yang sebenarnya, tapi mengisyaratkan adanya kemudahan dan kelonggaran dalam pembacaan al-Qur’an yang variatif. Bentuk kemudahan tersebut tidak lepas dari penggantian huruf, perubahan harakat, taqdim dan ta’khir, ataupun penambahan dan pengurangan, serta perbedaan dialek. Sab’ah ahruf dalam hadits Nabi saw tersebut tidak menunjukkan adanya sinonimitas dalam al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama. Sab’ah ahruf tersebut sebenarnya menunjukkan adanya lafaz mutabayin mutawasil dalam al-Qur’an. Hal inilah yang mengisyaratkan adanya potensi tafsir dalam Qira’at.

 

***

Teruntuk Ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisy. Abu Abdillah al-Batawy yang telah mengijazahkan kitab Kitab Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr karya Imam Ibnul Jazari ini semoga senantiasa diberikan ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala, dilimpahkan nikmat kesehatan kepada beliau, keluarga dan para gurunya, serta terkhusus waktu luang dan kesempatan kepada beliau untuk selalu mendakwahkan agamaNYA dalam mewariskan sanad keilmuannya.

Untuk Kitab Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr Imam Ibnul Jazari ini, beliau meriwayatkannya dari banyak masyaikh diantaranya dari:

 

 الشيخ علي بن محمد توفيق النحاس، عن والده، عن محمد بخيت المطيعي، عن محمد عليش المالكي، عن الأمير الصغير،

عن الأمير الكبير، عن علي السقاط، عن عبد الله سالم البصري، عن محمد بن علآء الدين البابلي، عن محمد بن أحمد بن حمزة الرملي،

عن زكريا بن محمد بن أحمد الأنصاري، عن أبي نعيم رضوان العقبي، *عن الإمام محمد ابن الجزري.*.

Semoga catatan singkat ini dapat menjadi pengingat ijazah dalam mempelajari dan mengkaji secara khusus Kitab Al-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr Imam Ibnul Jazari  tersebut. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

Tanggal 04 Mei 2024 / 25 Syawwal 1445 H

 

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

KELUAR