Syaikh Abdul Qodir al-Arna`uth -Rahimahullahu- menekankan apa yang disebut sebagai “Aqidah Salaf”. Termasuk diantara aqidah salaf adalah, pendapat mereka bahwa Iman adalah ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota tubuh, dan keyakinan dengan hati, serta iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Termasuk diantara aqidah salaf adalah bahwasanya kebaikan dan kejahatan adalah dengan keputusan (Qodlo”) Allah dan ketentuan-Nya (Qodar), namun Dia tidaklah memerintahkan keburukan. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, Seluruhnya adalah dengan perintah Allah, karena Allah Ta”ala memerintahkan kebaikan dan melarang dari keburukan, Dia tidak memerintahkan kepada kekejian namun ia melarangnya. Dan manusia tidaklah dipaksa, ia mampu memilih perbuatan dan keyakinannya, dan ia berhak atas siksaan dan pahala sesuai dengan ikhtiarnya, ia dapat memilih perintah dan
larangan. (Lihat Qs. al-Kahfi : 29).
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin yang berdosa, walaupun mereka melakukan dosa besar, kecuali jika ia menentang sesuatu dari agama yang telah diketahui akan urgensinya, dan ia mengetahui mana yang khusus dan mana yang umum, dan perkara ini telah tetap dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma” salaful ummah dan para imamnya. Termasuk diantara aqidah salaf adalah, mereka beribadah kepada Allah Ta”ala semata dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tidaklah mereka meminta melainkan hanya kepada Allah, mereka tidak pula beristighotsah dan beristi”anah melainkan kepada-Nya Subhanahu. Mereka tidak bertawakal melainkan kepada-Nya Jalla wa “Ala dan mereka bertawasul kepada Allah dengan ketaatannya, ibadahnya, dan amal-amal shalihnya. (Lihat Qs. al-Maidah : 35).
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, sholat boleh di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir selama zhahirnya masih benar. Dan kita tidak menetapkan seorangpun siapapun dia dengan surga atau neraka kecuali terhadap orang-orang yang telah ditetapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Akan tetapi kami mengharapkan kebaikan dan takut akan keburukan. Kami mempersaksikan sepuluh orang yang diberitakan masuk surga sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mempersaksikan mereka. Dan setiap orang yang dipersaksik an oleh Nabi dengan surga maka kami turut mempersaksikannya, karena beliau tidaklah berucap dari hawa nafsu kecuali wahyu yang diwahyukan. Kami memberikan loyalitas/kecintaan kepada para sahabat Rasulullah SAW dan menahan diri dari memperbincangkan percekcokan dan perselisihan dinatara mereka. Dan urusannya adalah pada Rabb mereka.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, tidak wajib bagi seorang muslim untuk mengikatkan dirinya kepada madzhab fikih tertentu, dan boleh baginya keluar dari satu madzhab ke madzhab lainnya berdasarkan kekuatan dalil. Tidak ada madzhab bagi orang awam, madzhabnya adalah madzhab muftinya. Bagi penuntut ilmu, jika dia memiliki keahlian dan mampu untuk mengetahui dalil-dalil para imam maka hendaklah ia melakukannya, dan berpindah dari madzhabnya seorang imam dalam suatu masalah kepada madzhab imam lain yang memiliki dalil lebih kuat dan pemahaman lebih rajih di dalam masalah lainnya. Yang demikian ini dikatakan sebagai muttabi” bukanlah mujtahid, karena ijtihad adalah menggali hukum langsung dari Kitabullah dan as-Sunnah sebagaimana para imam yang empat melakukannya ataupun selain mereka dari para ahi fikih dan ahli hadits.
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, bahwasanya para sahabat yang empat, yaitu : Abu Bakar, “Umar, “Utsman dan “Ali Radhiyallahu “anhum, mereka adalah para khalifah yang lurus lagi mendapatkan petunjuk (Khulafa”ur Rasyidin al-Mahdiyin). Mereka yang memegang kekhalifahan nubuwah selama 30 tahun ditambah kekhilafahan Husain Radhiyallahu “anhum, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Kekhilafahan pada ummatku selama 30 tahun, kemudian akan berbentuk kerajaan setelahnya.”
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, wajib mengimani seluruh yang berada di dalam al-Qur’an dan Allah Ta”ala memerintahkan kita dengannya, dan meninggalkan setiap apa yang dilarang Allah kepada kita baik secara global maupun terperinci. Kami mengimani segala apa yang diberitakan oleh Nabi SAW , dan yang telah shahih penukilan darinya baik yang dapat kita saksikan maupun yang tidak dapat, sama saja baik yang dapat kita nalar maupun yang tidak kita ketahui dan tidak pula dapat kita telaah hakikat maknanya. Kita melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya SAW dan kita menjauhi terhadap segala apa yang Allah dan Rasul-Nya melarangnya. Kita berhenti pada batasan-batasan (Hudud) Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah SAW, dan yang datang dari Khalifah ar-Rasyidin al-Mahdiyin. Wajib bagi kita mengikuti segala apa yang datang dari Rasulullah SAW baik berupa keyakinan, amal perbuatan, dan ucapan, serta meniti jalannya Rasulullah SAW dan jalannya para Khalifah ar-Rasyidin al-Mahdiyin yang empat baik berupa keyakinan, amal perbuatan mapun ucapan. Inilah dia sunnah yang sempurna itu, dikarenakan sunnah Khalifah ar-Rasyidin diikuti sebagaimana mengikuti Sunnah Nabi SAW.
Demikianlah ‘Aqidah generasi pertama dari ummat ini, dan aqidah ini adalah aqidah yang murni seperti murninya air tawar, aqidah yang kuat seperti kuatnya gunung yang menjulang tinggi, aqidah yang kokoh seperti kokohnya tali simpul yang kuat, dan ia adalah aqidah yang selamat, jalan yang lurus di atas manhaj al-Kitab dan as-Sunnah serta di atas ucapan Salaful Ummah dan para imamnya. Dan ia adalah jalan yang mampu menghidupkan hati generasi pertama umat ini, ia merupakan aqidah Salafush Shalih, Firqoh Najiyah (Golongan yang selamat) dan Ahlus Sunnah wal Jama”ah. Aqidah ini merupakan ‘aqidahnya para imam yang empat dan pemegang madzhab yang masyhur serta para pengkutnya, aqidahnya jumhur ahli fikih dan ahli hadits serta para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan aqidahnya Orang-orang yang meniti jalan mereka hingga saat ini dan hingga hari kiamat. Sesungguhnya telah berubah Orang-orang yang merubah ucapan-ucapan mereka, oleh sebagian mutaakhirin (Orang-orang generasi terakhir) yang menyandarkan diri mereka kepada madzhab mereka.
Maka wajib atas kita kembali kepada aqidah salafiyah yang murni, kepada sumbernya yang telah direguk oleh orang-orang terbaik dari Salaf Sholih. Maka kita diam terhadap apa yang mereka diamkan, kita menjalankan ibadah sebagaimana mereka menjalankannya, dan kita berpegang dengan al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma” Salaful Ummah dan para imamnya serta qiyas yang shahih
pada perkara-perkara yang baru (kontemporer).
Imam an-Nawawi berkata di dalam al-Adzkar, yang artinya : “Ketahuilah, bahwa kebenaran yang terpilih adalah apa yang para salaf Radhiyallahu “anhum berada di atasnya.” Demikian pula Abu Ali al-Fudhail bin “Iyyadh berkata, “Tetapilah jalan-jalan petunjuk dan tidaklah akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menitinya. Jauhilah olehmu jalan-jalan kesesatan, dan janganlah dirimu terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa”. Inilah satu-satunya jalan yang akan memperbaiki keadaan ummat ini. Telah benar apa yang dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullahu, ketika berkata : “Tidaklah akan baik akhir ummat ini kecuali mereka mengikuti baiknya awal ummat ini.” Tidaklah akan musnah kebaikan di dalam ummat ini, karena
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda di dalam haditsnya yang artinya : “Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang menampakkan kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang mencela, mereka tetap dalam keadaan demikian sampai datangnya hari kiamat.”
Inilah Aqidah Shalafush Sholih yang telah disepakati oleh sejumlah besar para ulama, diantaranya adalah Abu Ja”far ath-Thahawi, yang telah disyarah aqidahnya oleh Ibnu Abil Izz al-Hanafi salah seorang murid Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, yang dinamakan dengan “Syarh Aqidah ath-Thahawiyah”. Diantara mereka juga Abul Hasan al-Asy”ari di dalam kitabnya “al-Ibanah “an Ushulid Diyaanah”, yang di dalamnya terhimpun aqidah beliau yang terakhir, beliau berkata, “Pendapat yang kita berpendapat dengannya dan agama yang kita beragama dengannya adalah : kita berpegang dengan Kitabullah Azza wa Jalla dan dengan Sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, serta dengan apa yang diriwayatkna dari para sahabat, tabi”in dan para imam hadits. Kami berpegang dengan itu semuanya, dan dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dan orang-orang yang menyelisihi ucapannya adalah orang yang sesat.”
Termasuk pula tulisan tentang aqidah salafus shalih adalah apa yang ditulis oleh Ash-Shabuni dalam kitabnya “Aqidah Salaf Ashabul hadits”, dan juga diantaranya adalah Muwafiquddin Abu Qudamah al-Maqdisy al-Hanbali dalam kitabnya “Lum”atul I”tiqod al-Haadi ila Sabilir Rosyad”, dan selain mereka dari para ulama yang mulia. Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan. Kami memohon kepada Allah untuk menunjuki kami kepada Aqidah yang murni, jalan yang terang benderang lagi suci dan akhlak yang mulia terpuji. Dan kita memohon supaya menghidupkan kita di atas Islam dan mematikan kita di atas syariat nabi kita Muhammad alaihi Sholatu wa Salam. Ya Allah, tetapkanlah kami sebagai muslim dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang shalih bukan orang-orang yang hina lagi terfitnah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami serta seluruh kaum mukminin pada hari ditegakkannya perhitungan. Kami memohon kepada Allah Ta”ala agar senantiasa mengilhamkan kepada kami kebenaran di dalam berkata dan beramal, sesungguhnya Ia Maha Mampu atas segala hal dan Dialah Dzat satu-satunya yang layak dipinta. Demikianlah akhir seruan kami, segala puji hanyalah milik Allah pemelihara alam semesta.
Demikianlah apa yang diuraikan Syaikh Abu Muhammad Abdul Qodir al-Arna`uth yang disebut-sebut sebagai Pelayan Sunnah Nabawiyah. Syaikh Abdul Qodir al-Arnauthi pernah tinggal di Damaskus, Suriah dan pernah didaulat sebagai imam sekaligus khatib di beberapa masjid. Sikap dan pandangannya sangat berkarakter dan berprinsip. Ia terkenal gigih mempertahankan kebenaran. Banyak sekali sikap dan pandangan al-Arna’uth yang menunjukkan kegigihannya dalam membela sunnah Rasulullah SAW dan menentang bid’ah sekaligus kemungkaran para pelakunya. Ini setidaknya tergambar dari berbagai karya yang berhasil ia karang, di antaranya Zaadul al-Ma’ad dan al-Wajiz fi Manhaj Salaf as-Shalih wa Washaya Nabawiyah.







