Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Sanad Kitab Matn ‘Aqidatul Awwam dan Kitab Jalaul Afham Syarh ‘Aqidatul Awwam

Meraih Ijazah Sanad Kitab Matn 'Aqidatul Awwam dan Kitab Jalaul Afham Syarh 'Aqidatul Awwam

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Meraih Ijazah Sanad Mandzumah ‘Aqidatul Awwam

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, penulis masih dapat menyempatkan diri mengikuti Dauroh Kitab Matn (Nadhom) ‘Aqidatul Awwam karya Syaikh Ahmad al-Marzuki dan Kitab Jalaul Afham Syarh ‘Aqidatul Awwam, dan setelahnya Syaikhul Mujiz, Syaikh Mahmud ‘Abidin al-Azhari al-Maliki memberikan ijazah sanad untuk kedua kitab Tauhid tersebut.

Dauroh yang dilaksanakan pada malam 11 Ramadhan 1447 H bertepatan 1 Maret 2026 M ini diselenggarakan oleh Qibaltussalam Center for Qur’anic and Sharia Studies (Qiblatussalam.id) bekerjasama dengan Qilsan Academy (Ruang Pecinta Sanad) merupakan salah satu ikhtiar penulis juga dalam mengisi malam-malam Ramadhan dengan berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Mengapa mengikuti Dauroh Matn ‘Aqidatul Awwam untuk kesekian kalinya dan bukankah pada dauroh sebelumnya penulis telah mendapatkan ijazah sanad kitabnya? Ya, tentu ini pertanyaan yang pantasnya diajukan kepada mereka yang belajar dan mengikuti dauroh hanya untuk mendapatkan ijazah sanad.

Bagi penulis, tentu yang paling utama dan paling penting dari semua itu adalah silaturrahim dan interaksi keilmuan. Satu kesyukuran tersendiri dapat mengenal Syaikh Mahmud ‘Abidin al-Azhari al-Maliki dan menyambung sanad darinya. Hal ini terkait keutamaan menyambung sanad dari para ulama yang sanadnya juga bersambung sampai ke Rasulullah SAW, dan jika itu sanad kitab, bersambung sampai ke penulis kitabnya.

Apakah memiliki ijazah “sanad kitab” berarti seseorang itu sudah pasti alim dan menguasai isi kitab tersebut dengan baik? Jawabannya, belum tentu dan tidak talazum. Pertama, sanad kitab itu babnya riwayat, ketepatan transmisi lafazh dan tulisan, bukan kualitas ilmu dan pemahaman. Kedua, kadang orang mendapatkan sanad kitab hanya dari satu majelis pengijazahan kitab, yang kitabnya dibaca secara cepat tanpa penjelasan yang memadai. Bahkan banyak juga, cuma diijazahkan tanpa dibacakan. Ketiga, bahkan seandainya kitab itu diajarkan dalam majelis ilmu dan mulazamah sampai khatam, baru diberikan sanad riwayat kitab tersebut, belum pasti juga yang mendapatkannya punya pemahaman paripurna terhadap isi kitab dan cabang ilmu yang dibahas.

Karena alasan yang penulis sebutkan tersebutlah, sehingga seorang “thalabul ilmi” tidaklah boleh berhenti untuk terus belajar, belajar, dan belajar terus. Untuk betul-betul memahami suatu kitabnya ulama, memang harus selalu diulang-ulang, berulang kali dipelajari, dan akan lebih bagus lagi bahwa untuk suatu kitab yang dipelajari dan mau dikuasai, dan bagi seorang guru yang mau mengajarkannya, mestilah belajar dari banyak syaikh, banyak mujiz, banyak guru, dan  itu tidak mengapa dan boleh jadi justru itu akan lebih memperkaya pemahaman, karena belajar dari masyaikh, dari banyak syekh, dari banyak mujiz dan guru.

Kitab Matn  Aqidatul Awam yang menjadi kitab tauhid yang didaurohkan ini familiar dinadhomkan dan karenanya dengan jalan dinadhomkan akan lebih mudah dihafalkan pada tiap-tiap baitnya (terdiri atas 57 bait), apalagi memang Kitab  ‘Aqidatul Awwam ini cukup populer di kalangan santri dan penghuni Pondok Pesantren. Kitab ‘Aqidah yang dikarang oleh al-Imam al-‘Allâmah Ahmad bin Muhammad Ramadhân bin Manshûr al-Makki al-Marzûki al-Mâliki al-Husaini al-Hasani ini adalah mufti madzhab Maliki di Makkah. Semoga dengan mengikuti dauroh ini, penulis semakin bisa lebih baik mengakrabi dan menghafalkan kitab matan ini. 

Lihat Sertifikat Daurohnya disini: Qiblatussalam – Sanad Aqidatul Awwam – Muhammad Farid Wajdi

Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat dauroh/majelis ilmu yang telah diikuti. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

Minasatene-Pangkep, 2 Maret 2026

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

KELUAR