Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Sanad Silsilah Kutub Islamiyah

Meraih Ijazah Sanad Silsilah Kutub Islamiyah

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Istilah “Silsilah Kutub Islamiyah” yang dimaksud disini ialah majelis kajian kitab yang pengajarnya memiliki sanad riwayah dan dirayah yang bersambung antara dia dan penulis kitab, dan sanad yang sama melalui jalur sang pengajar akan diberikan hadir (peserta majelis) yang mengikuti kajian.

Pada masa lalu, di masa tradisi penulisan kitab masih menggunakan tulis tangan, selalu diawali kegiatan penyalinan untuk mengoreksi dan memverifikasi ketepatan hasil tulisan tersebut dengan tulisan yang ditulis oleh muallifnya,  baik dengan dibacakan isi teks yang benar oleh muallifnya, ataupun penyalin yang membacakan pada muallifnya, atau sekadar menyalin dari salinan muallifnya kemudian “diijazahkan” oleh sang muallif, dan seterusnya.

Tradisi kepenulisan dan penyalinan isi kitab itu berlangsung dari generasi ke generasi, dan dari situlah mulai berkembang apa yang kita kenal saat ini sebagai “sanad kitab”.  Jadi sanad kitab itu lebih kepada kegiatan verifikasi dan penjagaan ketepatan isi kitab yang diriwayatkan dan disalin, sesuai dengan yang ditulis atau didiktekan oleh muallif.  Dari situ kita bisa melihat salah satu sisi ilmiahnya.

Adapun di masa sekarang, saat proses verifikasi kitab secara ilmiah lebih mengandalkan tahqiq manuskrip, dan kitab dicetak dan disebarkan besar-besaran dengan mesin cetak, maka sisi ilmiah “sanad kitab” itu sudah berkurang. Lebih-lebih, banyak yang memiliki sanad kitab, tapi tak pernah berupaya mengecek kecocokan naskah kitab yang dia miliki dengan milik gurunya. Boleh dikatakan, “sanad kitab” saat ini lebih banyak ke tabarruk (mengambil berkah), karena nama kita disandingkan dengan nama para ulama dan shalihin, yang semoga kita dihitung menjadi bagian dari mereka. Sekaligus menjaga tradisi ilmiah dalam dunia Islam, meski urgensinya sendiri sudah jauh berkurang.

Apakah punya “sanad kitab” berarti dia pasti alim dan menguasai isi kitab tersebut dengan baik? Jawabannya, belum tentu dan tidak talazum. Pertama, sanad kitab itu babnya riwayat, ketepatan transmisi lafazh dan tulisan, bukan kualitas ilmu dan pemahaman. Kedua, kadang orang mendapatkan sanad kitab hanya dari satu majelis pengijazahan kitab, yang kitabnya dibaca secara cepat tanpa penjelasan yang memadai. Bahkan banyak juga, cuma diijazahkan tanpa dibacakan. Ketiga, bahkan seandainya kitab itu diajarkan dalam majelis ilmu dan mulazamah sampai khatam, baru diberikan sanad riwayat kitab tersebut, belum pasti juga yang mendapatkannya punya pemahaman paripurna terhadap isi kitab dan cabang ilmu yang dibahas.

Maka demikian pulalah kondisi penulis mendapatkan kumpulan sanad kitab dalam pengijazahan sanad “silsilah kutub islamiyah” beberapa waktu lalu. Tanpa mengurangi rasa hormat, ta’dzim, dan kebanggaan kepada guru penulis, Ustadzuna Abu Abdillah Dhani al-Farisy bin Suhandi al-Batawi, penulis masih memerlukan waktu dan kerja keras yang banyak untuk memahami secara mendalam dari kitab yang telah diijazahkan. Hal ini mengingat pengijazahan sanad melalui majelis sama’ yang cepat dan terbatas waktunya, serta pada saat pengijazahan sanad kitab, beberapa dari kitab yang diijazahkan tersebut belum penulis pelajari.

Jadi “sanad kitab” ini perlu didudukkan pada posisi yang tepat. Tidak direndahkan dan dicibir, karena bagaimana pun, ia ada faidahnya dan merupakan tradisi umat Islam yang perlu dilestarikan. Sebagai bagian dari pembelajaran khazanah keilmuan Islam, baik guru maupun murid, sebagaimana adanya penulis yang masih terus belajar dan belajar, penurunan sanad tetap perlu dihargai sebagai upaya pemantik dan penyemangat belajar kutub dari para ulama, menjaga ilmu para imam di era salaf.

Penulisan catatan ini, penulis maksudkan juga sebagai upaya mengenali lebih jauh dari kitab-kitab yang telah diijazahkan sanadnya. Berikut ini gambaran dari kitab-kitab yang telah diijazahkan tersebut, sebagai berikut:

1. Musnad Abi Hanifah Nu’man bin Tsabit, Jami’ul Haritsi Ma’ruf rahimahullah

2. Musnad Imam Syafi’i, Lihat: Mengenal Musnad Imam Syafi’i

3. Musnad Abi Daud Ath-Thayalisi

4. Mushannaf Abdur Razak

5. Musnad al-Humaidi

6. Sunan Sa’id bin Mansyur (Wikipedia: Sa’id ibn Mansur)

7. Mushannaf Ibni Abu Suaebah

8. Hilyatut Thalibul Ilmi

9. al-Madkhal ila Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal

10. Al-Ma’ani

11. Ushulu Sunnah lil Humaidi, Lihat: Matn Ushulu Sunnah Imam al-Humaidi dan Terjemahnya

12. Ushulu Sunnah Imam Ahmad bin Hanbal, Lihat: Matn Ushulu Sunnah Imam Ahmad bin Hanbal dan Terjemahnya

13. Musnad Harits bin Abi Usamah

14. Tuhfatul Qurra

15. Ad-Daruri al-Lawamiy fi Qiraati Imam Nafiy

16. Tafsili ‘Aqud Daruri fi Thariqi Nafiy Asyr

17. Risalah Qashrul Munfashil min Thariqi Tayyibah

18. Mandzumah Dzamzamiy fi Ushuli Tafsir

Demikianlah gambaran atau profil singkat dari 18 kitab “Silsilah Kutub Islamiyah” yang telah penulis peroleh ijazahnya dari guru penulis, ustadzuna Abu Abdillah Dhani al-Farisy bin Suhandi al-Batawi. Semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

KELUAR