
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Apa dan Bagaimana CSR itu?
BLOGGURU – Sejak Tahun 2015, penulis bekerja sebagai Konsultan Pemberdayaan Masyarakat pada CSR PT. Semen Tonasa (Persero). Bidang Pekerjaan ini kadang lebih akrab disebut sebagai Pendamping Desa di masyarakat, meski secara tertulis di perusahaan, lebih dikenal dengan sebutan LCO (Local Community Organizer). Perusahaan semen terbesar di Indonesia Bagian Timur ini setiap tahunnya menggelontorkan dana CSR untuk berbagai kebutuhan dan kepentingan masyarakat ring 1 pabrik, yaitu Desa Biringere, Desa Taraweang, Kelurahan Sapanang, Kelurahan Bontoa, Kelurahan Kalabbirang, Desa Mangilu, Desa Bori Appaka, Kelurahan Samalewa, Desa Bowong Cindea, Desa Tabo-tabo, dan Desa Bulu Tellue. Kebutuhan dan kepentingan masyarakat terhadap perusahaan itulah yang diwadahi atau dijembatani oleh LCO.
Baca pula: My Life by Design
Baca pula: Sejarah di Seputar Tonasa
Pada Tahun pertama (2015), penulis ditempatkan di wilayah desa ring 1 baru PT. Semen Tonasa, yaitu Desa Bulu Tellue (Lihat: Sekilas Sejarah Bulu Tellue). Pada Tahun kedua (2016-2017), penulis diamanahi menangani dua desa dampingan, yaitu Desa Bulu Tellue dan Desa Biringere (Lihat: Sekilas Sejarah dan Budaya Biringere), sedang pada Tahun ketiga (2017-2018), penulis diberi tugas untuk menangani Kelurahan Kalabbirang, selain mempertahankan Desa Biringere sebelumnya.
Alhamdulillah, banyak suka citanya menjadi pendamping desa (LCO), terutama karena banyak pendamping desa menghindari untuk ditempatkan di desa yang menjadi wilayah tugas saya. Namun, penulis sendiri tidak memilih-milih desa/kelurahan tempat tugas. Bagi penulis, semua daerah memiliki keunikan dan tantangannya tersendiri. Memang perlu seni dan kemampuan manajerial tersendiri untuk mendekati masyarakat di desa, terutama persoalan pemudanya yang kerap mementingkan egonya sendiri dalam mengegolkan satu program yang ingin dikerjakannya. Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat intinya adalah penguatan masyarakat dari segala aspeknya, baik fisik maupun non fisik, serta harus ada dampak keberlanjutannya (sustainable).
Baca pula: CSR: Charity or Empowerment?
Berikut ini beberapa kegiatan CSR yang sempat terdokumentasikan saat penulis menjadi LCO/Pendamping Desa:
Program Tonasa Bersahaja dan Keswadayaan Masyarakat
400 KK Warga Biringere Terima Bantuan CSR Pasar Murah Ramadhan
Forum Mitra Amanah Tuntaskan Kegiatan RKAPM 2017
Upacara Adat Menre Baruga Budaya Turiolo
Biringere tegaskan Identitas Lokal lewat Sanggar Seni
Forum Desa Lingkar Tonasa gelar Pelatihan di Malino
CSR Tonasa gelar Penguatan Forum di Malino
CSR Tonasa gelar Pasar Murah Ramadhan
Taruna Melati Salurkan Sembako Pasar Murah Ramadhan CSR ST
CSR Tonasa Salurkan Bantuan Olahraga dan Daur Ulang Sampah
“Taruna Melati” Serahkan Bantuan CSR Tonasa
Melirik Potensi Wisata Alam Kalabbirang
Idris, Pemandoling “Kamasea” di Buknea
PT. Semen Tonasa gelar Workshop Penguatan Kapasitas Tim CSR
Ada banyak pengalaman dan prestasi selama menjadi LCO di CSR PT. Semen Tonasa, beberapa diantaranya tidak sempat publikasikan di media internet.
43 Perusahaan bersaing dalam ISDA Award 2017, ST borong 6 Penghargaan
Pada 17 Oktober 2022 lalu, penulis mengikut Training yang diselenggarankan oleh Aktualisasi Caunsalting untuk menyegarkan pemikiran, pemahaman dan pengalaman penulis di bidang CSR. Di akhir training, bagi peserta yang menuntaskan tugasnya dalam Training CSR ini akan mendapatkan gelar “Certified Corporate Social Responsibility (C.CSR)”, dan Alhamdulillah, ternyata penulis dapat melewatinya dengan mudah. (*)