Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Pemenuhan Tugas Kokurikuler Untuk SMA di Pangkep
IMMIMPANGKEP – Koordinator Kokurikuler adalah posisi strategis dalam struktur sekolah atau pesantren yang berfungsi sebagai jembatan antara kurikulum intrakurikuler (tatap muka di kelas) dengan pengayaan karakter serta wawasan siswa di luar jam pelajaran formal. Jika intrakurikuler fokus pada penyelesaian materi buku teks, maka kokurikuler fokus pada pendalaman materi tersebut melalui kegiatan yang lebih kontekstual, seperti kunjungan lapangan, proyek penelitian, atau seminar penguatan kompetensi.
Secara umum, tugas dan tanggung jawab seorang koordinator Kokurikuler mencakup perencanaan hingga evaluasi kegiatan pengayaan. Berikut ini rinciannya: (1) Perencanaan Program. Menyusun kalender kegiatan kokurikuler yang selaras dengan tema pembelajaran di kelas. Misalnya, jika pelajaran Sejarah membahas Kerajaan Islam, koordinator merancang ziarah situs sejarah. (2) Sinkronisasi Materi. Memastikan kegiatan luar kelas tidak berdiri sendiri, melainkan memperkuat apa yang diajarkan guru di kelas (tidak sekadar jalan-jalan). (3) Manajemen Sumber Daya. Mengatur anggaran, perizinan, transportasi, hingga penentuan narasumber atau tempat kunjungan. (4) Pemantauan & Evaluasi. Menilai apakah kegiatan tersebut efektif meningkatkan pemahaman siswa atau hanya menjadi beban tambahan, dan (5) Pelaporan. Melaporkan progres dan capaian karakter siswa kepada Kepala Sekolah atau Pengasuh Pondok.
Sebagai seorang koordinator, sikapnya tentu saja berperan dalam menentukan keberhasilan program. Karena itu, seorang koordinator Kokurikuler harus adaptif dan kreatif, mampu mengubah materi yang membosankan menjadi kegiatan yang seru (misal: mengubah tugas menulis laporan menjadi proyek konten video kreatif). Selain itu, seorang koordinator adalah “penengah”, harus aktif berkomunikasi dengan guru mata pelajaran agar tugas kokurikuler tidak bentrok satu sama lain. Seorang koordinator juga harus mampu bersikap empatik, dalam artian memahami beban belajar siswa. Jangan sampai kegiatan kokurikuler justru membuat siswa stres atau kehabisan waktu istirahat. Begitu pula terkait administrasi, harus disiplin. Hal ini karena melibatkan mobilitas (keluar kelas/sekolah), ketertiban surat-menyurat dan SOP keamanan adalah harga mati.
Lihat pula: Panduan Membuat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Tugas Kokurikuler
Agar kegiatan kokurikuler memiliki nilai pedagogis yang kuat, berikut langkah-langkah pembelajaran dalam Tugas Kokurikuler yang bisa diambil: Pertama, Menganalisis Kebutuhan (Mapping). Identifikasi materi pelajaran mana yang paling sulit dipahami jika hanya di dalam kelas. Fokuskan kegiatan kokurikuler pada titik tersebut. Kedua, Menentukan Indikator Capaian. Tentukan apa yang ingin dicapai. Apakah peningkatan soft skill (kerjasama tim), atau pemahaman praktis (misal: cara pembuatan pupuk organik di program Eco-Pesantren)? Ketiga, Pelaksanaan Berbasis Proyek (PBL). Gunakan pendekatan Project Based Learning. Biarkan siswa terjun langsung. Misalnya: Dalam kunjungan ke museum, siswa tidak hanya mencatat, tapi ditugaskan membuat narasi sejarah singkat atau wawancara dengan kurator.
Setelah kegiatan selesai, wajib ada sesi refleksi. Siswa diminta menceritakan apa yang mereka rasakan dan pelajari. Ini penting agar pengalaman berubah menjadi pengetahuan yang menetap. Dalam lingkungan Pondok Pesantren, kegiatan kokurikuler bisa sangat efektif jika dikaitkan dengan Literasi Digital dan Budaya, misalnya dengan mengajak santriwati mendokumentasikan kearifan lokal Pangkep melalui tulisan atau video. Atau bisa pula dengan Integrasi Sains dan Agama, semisal membuat kegiatan pengamatan astronomi (falaq) atau penelitian lingkungan di area pesantren. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Koordinator Kokurikuler 2025, bertema: “Jaga Cagar Budaya”/Guru dan Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar