Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
23 Februari 2026

Mengenal Kitab Ilmu Tauhid Dasar: ‘Aqidatul Awwam

Sen, 23 Februari 2026 Dibaca 681x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Soal Dasar Ilmu Tauhid (‘Aqidah) – Pemahaman Kitab Kuning

IMMIMPANGKEP – Apa itu Ilmu Tauhid? Ya, Ilmu Tauhid atau Ilmu ‘Aqidah merupakan salah satu pelajaran wajib di lembaga pendidikan Islam, madrasah atau Pondok Pesantren di Indonesia. Hanya saja buku-buku pelajaran kepesantrenan saat ini mengonversinya menjadi Pelajaran “Aqidah-Akhlaq” sesuai Kurikulum Kementerian Agama. Ilmu Tauhid atau Ilmu ‘Aqidah membahas hal paling fundamental dalam Islam, yakni Iman atau Keimanan.  Jika Fiqih mempelajari status hukum perbuatan lahiriah seorang mukallaf, Tasawuf membahas aktivitas batin, maka Tauhid atau ‘Aqidah membahas soal keyakinan. Ketiga unsur inilah yang disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya yang sangat masyhur mengenai Iman, Islam, dan Ihsan—ketiganya lalu diderivasikan menjadi Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, dan Ilmu Tasawuf.

Hukum mempelajari Ilmu Tauhid adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap mukallaf untuk mengetahui ‘Aqidah yang benar beserta dalilnya walaupun secara global saja. Adapun dalilnya secara rinci, hukumnya adalah fardhu kifayah. Imam an-Nawawi memasukkan perihal sehatnya keyakinan ke dalam 4 pilar dalam Ajaran Islam yang terkumpul dalam satu bait:

 

أمورلدين صدق قصد وفا العهد # وترك المنهي كذا صحة العقد

 

Artinya:

Beberapa perkara bagi agama itu benarnya tujuan, menepati janji, meninggalkan yang dilarang, begitu juga sehatnya keyakinan. (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfâtul Murîd Syarh Jauharah at-Tauhîd, Beirut: Dâr el-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 2004, h. 21).

Syekh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan bahwa, Maksud dari benarnya tujuan adalah melaksanakan ibadah dengan niat dan keikhlasan; menepati janji adalah menunaikan kewajiban yang ditetapkan; meningalkan larangan adalah menjauhi perkara yang diharamkan; dan sehatnya keyakinan adalah menetapi aqidah Ahlusunnah wal Jamaah (Syekh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfâtul Murîd Syarh Jauharah at-Tauhîd, Beirut: Dâr el-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan kedua, 2004, h. 21).

Keterangan di atas sudah mewakili pentingnya mempelajari ilmu tauhid bagi seorang mukallaf, tegasnya mempelajari ‘Aqidah yang sesuai dengan tuntunan Ahlussunnah wal Jamaah. Sebagaimana kita ketahui bahwa Ahlussunnah wal Jamaah itu berpegangan kepada Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam ‘Aqidah, Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dalam hal Fiqih, serta Imam al-Ghazali dan Imam Junaidi dalam hal Tasawuf. Di Pondok Pesantren, untuk mengaji persoalan ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, para santri/santriwati biasanya menggunakan Kitab Mandzhumah ‘Aqidatul Awwam beserta syarahnya (PenjelasannyA) untuk Tingkat Tsnawiyah dan Kitab Kifâyatul ‘Awâm, Tuhfatul Murîd Syarh Jauharah at-Tauhîd, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Nadham Kharîdah al-Bahiyyah, dan lain-lain untuk Tingkat Aliyah.

Lihat pula: Mengenal Pengarang, Isi dan Terjemah Aqidatul Awwam

Tentang Penulis Kitab Matn ‘Aqidatul Awwam

Kitab Matn ‘Aqîdatul ‘Awâm dikarang oleh al-Imam al-‘Allâmah Ahmad bin Muhammad Ramadhân bin Manshûr al-Makki al-Marzûki al-Mâliki al-Husaini al-Hasani. Salah seorang mufti mazhab Maliki di Makkah. Syekh Ahmad al-Marzûqi lahir di Mesir pada tahun 1205 H. Beliau menuntut ilmu di Makkah, kemudian menjadi pengajar di Masjidil haram dan diangkat menjadi Mufti dalam Mazhab Maliki. Syekh Ahmad al-Marzûqi terkenal dengan kezuhudan dan ketakwaannya, serta karangaan-karangannya yang sangat bermanfaat (Syekh Hisyâm al-Kâmil, Fath al-‘Allâm Syarh Mandhûmah ‘Aqîdatul ‘Awâm, Dar el-Manâr, cetakan pertama, 2013, h. 11).

Di antara guru-gurunya adalah Syekh Ibrâhim al-‘Abîdi—kepadanya beliau mempelajari qirâah al-’asyrah. Dan murid-muridnya yang masyhur di antaranya adalah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Ahmad ar-Rifâ’i, dan Syekh Ahmad Dahman. Karangan Syekh Ahmad al-Marzûqi yang terkenal selain Mandhûmah ‘Aqîdatul ‘Awâm adalah Tahshîl Naylil Marâm, yaitu kitab syarah dari ‘Aqîdatul ‘Awâm. Kemudian al-Fawâid al-Marzûqiyah, sebuah kitab syarh atas kitab Jurûmiyah. Selain ‘Aqîdatul ‘Awâm, karyanya yang berbentuk nadham (syair) adalah Mandhûmah ‘Ilmi Falak dan Mandhûmah ‘Ishmat al-Anbiyâ’.

Syekh Ahmad al-Marzûqi wafat di Makkah pada tahun 1281 H dan dimakamkan di Jannatul Mu’alla atau pemakaman Ma’la. Proses disusunnya kitab ini sangat menarik. Kisah ini banyak diceritakan ketika mengaji ‘Aqîdatul ‘Awâm di pesantren, dan dapat ditemukan dalam kitab-kitab syarahnya. Salah satu syarah yang memuat kisah ini adalah kitab Jalâul Afhâm Syarh ‘Aqîdatul ‘Awâm karya KH. M. Ihya’ ‘Ulumiddin. Dikisahkan Syekh Ahmad al-Marzûqi dalam mimpinya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berdiri mengelilinginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata, “Bacalah sebuah mandhumah ilmu tauhid, yang mana siapa pun yang menghafalnya, maka ia akan masuk surga dan mendapatkan sesuatu yang ingin dicapainya berupa segala kebaikan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits.”

Syekh Ahmad Al-Marzûqi bertanya, “Syair apa itu wahai Rasulullah?” Para Sahabat pun berkata, “Dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka Rasulullah berkata, katakanlah:

, أَبْدُ بِاسْمِ الله وَالرَّحْمنِ

hingga bait:

 وَصُحُفُ الْخَلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ # فِيْهَا كَلَامُ الْحَكَمِ الْعَلِيْمِ

 

Maka Syekh Ahmad Al-Marzûqi mengikuti bait yang diucapkan Rasul seraya Rasulullah mendengarnya, yaitu bait:

 

أَبْدُ بِاسْمِ الله وَالرَّحْمنِ

 

hingga bait:

وَصُحُفُ الْخَلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ # فِيْهَا كَلَامُ الْحَكَمِ الْعَلِيْمِ

 

Maka Syekh Ahmad Al-Marzûqi bangun dari tidurnya, beliau pun membaca kembali Mandzhumah yang didapatkannya dalam mimpi, spontan beliau utuh menghafalnya dari awal bait hingga akhir. Dan terjadi lagi kedua kalinya, Syekh Ahmad Al-Marzûqi bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya. Ketika itu mimpi terjadi pada waktu sahur atau sepertiga malam. Rasulullah SAW berkata, “Bacalah apa yang telah kau himpun di dalam hatimu”.  Syekh al-Marzûqi pun membacanya dari awal hingga akhir di hadapan Rasul, sedangkan para sahabat mengelilinginya seraya mengucap “آمين” di setiap akhir bait Mandhumah yang dibaca Syekh al-Marzûqi. Tatkala beliau menyelesaikan bacaannya, Rasulullah SAW berkata, “Semoga Allah memberikan taufik pada sesuatu yang diridhai-Nya, dan menerima madhumah itu, serta memberikan keberkahankepadamu dan orang-orang yang beriman, juga mereka bisa mengambil manfaat darinya, Amiin”.

Setelah peristiwa itu, orang-orang kian mengetahui akan mandhumah yang didapat oleh Syekh Ahmad Al-Marzûqi, maka banyak yang menanyakannya. Beliau pun menjawabnya dengan mandhumah yang didapatkan dalam mimpinya, sekaligus menambahkannya dengan bait:

 

وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُوْلُ # فَحَقُّهُ التَّسْلِيْمُ وَالْقَبُوْلُ

hingga selesai yaitu sampai pada bait:

أبْيَاتُهَا مَـيْـزٌ بِـعَدِّ الْجُمَّل # تَارِيْخُها لِيْ حَيُّ غُرّ جُمَّلِ سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَام # مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَمَامِ

 

(Sumber: KH. M. Ihya` ‘Ulumuddin, Jalâul Afhâm Syarh ‘Aqîdatul ‘Awâm, Riyâdh, cetakan ke-2, 1425 H).

Lihat pula: Meraih Ijazah Sanad Mandzumah ‘Aqidatul Awwam

Isi Pokok Aqidatul Awam

Mandzhûmah ‘Aqîdatul ‘Awâm memuat 57 bait. Dimulai dengan pujian kepada Allah dan Rasululullah serta para sahabat dan keluarga Nabi, kemudian kewajiban mengetahui sifat-sifat wajib bagi Allah yang dua puluh, sifat-sifat mustahil, serta sifat jaiz. Setelah itu disebutkan sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi para Rasul dan nama-nama 25 Nabi. Kemudian sifat malaikat secara umum dan nama-nama malaikat yang 10, Nama-nama kitab yang 4, kewajiban menerima setiap apa yang disampaikan Rasul, iman kepada hari kiamat, setelah itu nama-nama keluarga Nabi, Isra Mi’raj dan kewajiban shalat, kemudian penutup.

Dalam syarah Nur Al-Zholam, Syekh Nawawi menyebut kitab ini penting untuk dipelajari setiap mukallaf. Sebab dengan mengenal Allah, manusia akan mengenal dirinya sendiri dan senantiasa menjalankan perintah Sang Pencipta dan menjauhi larangannya. Mengutip Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid dalam Kitab ‘Aqidatul Awam tulisan Syarifatun Nurul Maghfiroh (2016), nilai pendidikan tauhid yang ada dalam pasal II berkaitan dengan kewajiban umat Muslim untuk mengetahui sifat wajib, mustahil, dan sifat jaiz bagi Allah. Inti dari bab tersebut adalah bahwa Allah SWT tidak memiliki kekurangan, karena Ia mempunyai sifat sempurna yang tidak terhingga. Dalam pasal III terdapat pembahasan tentang sifat wajib bagi Rasul, yaitu shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas).  Kemudian terdapat pelajaran tentang sifat mustahil Rasul yang terdiri dari kidzib (dusta), khianat (bohong/melanggar), kitman (menyembunyikan), dan baladah (bodoh). Sementara itu pembahasan pasal IV berisi kewajiban mengetahui nama-nama malaikat beserta tugasnya, serta nama 25 Nabi dan Rasul.

Dalam Kitab Mandzhumah Aqidatul Awam, Nilai-nilai pendidikan yang perlu dipelajari antara lain soal: (1) Iman, yang berarti keyakinan akan eksistensi Allah Yang Maha Sempurna. Keyakinan ini akan membuat seseorang percaya akan adanya Malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, Nabi dan Rasul, dan takdir kehidupan sesudah mati. (2) Islam, sebagai kelanjutan iman. Ditandai dengan sikap meyakini bahwa apapun yang berasal dari Allah pasti mengandung hikmah kebaikan yang tidak mungkin diketahui seluruh wujudnya oleh manusia yang lemah. (3) Ihsan, yaitu Kesadaran bahwa Allah selalu bersama umat-Nya. Oleh sebab itu umat Islam harus menjalankan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab, dan pastinya menjaga diri dari hal-hal yang tidak diridhaiNya. (4) Taqwa. Seseorang yang menanamkan taqwa dalam hatinya akan merasa takut untuk melakukan larangan-larangan Allah serta senantiasa melaksanakan apa yang telah diperintah-Nya. (5) Ikhlas. Semua perbuatan dan pekerjaan yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh ridho Allah. Dengan cara ini seseorang bebas dari pamrih lahir dan batin, baik tertutup maupun terbuka. (6) Tawakkal, bersandar kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa Ia akan menolong umat-Nya dalam menemukan jalan terbaik. Tawakal ini adalah amalan hati yang dilakukan setelah seseorang berusaha dengan sungguh-sungguh. (7) Syukur, suatu sikap penuh rasa terima kasih atas segala nikmat dan karunia yang dianugerahkan Allah. Ini merupakan sikap optimis seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Banyak para ulama yang menyusun kitab syarah (penjelasan) dari Kitab Mandzhûmah ‘Aqîdatul ‘Awâm, salah satunya adalah Syekh al-Marzûqi sendiri dengan kitabnya yang bernama Tahshîl Naylil Marâm. Selain itu ada Nurudl Dlalam ‘alâ Mandhûmah ‘Aqîdah al-‘Awâm karya Syekh Nawawi al-Bantani, Jalâul Afhâm Syarh ‘Aqîdatul ‘Awâm karya KH. M. Ihya` ‘Ulumuddin, Tashîl al-Marâm li Dâris ‘Aqîdatil ‘Awâm karya Syekh Ahmad al-Qath’âni, dan masih banyak lagi.

Demikian pengantar singkat mengenal Kitab Mandzhumah atau Matan ‘Aqidatul Awwam, suatu kitab dasar Ilmu Tauhid yang sudah tidak asing lagi tentunya bagi para santri/santriwati dan warga Pesantren. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

Minasatene-Pangkep, 23 Februari 2026.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077