Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
30 Maret 2026

Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (3)

Sen, 30 Maret 2026 Dibaca 88x

Related Post:  Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (2)

IMMIMPANGKEP – Nabi saw. telah dianugerahi sifat disegani, dikagumi oleh hati masyarakat, dan diagungkan. Hal ini telah menyatu dengan pribadinya sejak Zaman Jahiliah dan sesudahnya. Kaumnya mendustakan dan menyakiti para sahabatnya serta secara diam-diam mereka bermaksud mencelakakannya. Apabila mereka bertujuan demikian, lalu berhadap-hadapan dengannya, maka keadaan menjadi sebaliknya, lalu mereka segan terhadapnya dan mau memberikan kepadanya apa yang diperlukannya seperti yang sering kami sebutkan di muka.

Seseorang yang belum pernah mengenalnya, ketika pertama kali memandangnya ia langsung akan gemetar dan gugup karena melihatnya, seperti sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qublah. Disebutkan dajam hadis tersebut bahwa ketika pertama kali QGublah melihat Nabi saw. ia menjadi gugup dan gemetar, lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya: Kasihan engkau ini, tenanglah.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Mas’ud disebutkan bahwa ada seorang lelaki ketika berhadapan dengan Rasulullah saw. karena ada suatu keperluan, tiba-tiba tubuhnya gemetar karena ketakutan. Lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya:

Tenanglah engkau, karena sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Adapun derajat yang agung oleh sebab kenabian, kedudukan yang mulia karena kerasulan, dan pangkat yang tinggi oleh sebab menjadi makhluk yang terpilih dan dimuliakan di dunia, mencapai puncak kesempurnaannya, sedangkan di akhirat dia adalah penghulu umat manusia.

Hal-hal yang penilaiannya berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi, dalam arti kata bahwa hal tersebut dapat dijadikan sebagai subjek pujian dan kebanggaan serta keutamaan, sebagai contoh ialah harta benda. Pemilik harta benda semuanya dihormati oleh kalangan awam karena mereka mempunyai keyakinan bahwa harta benda itu dapat mengantarkan pemiliknya untuk meraih keperluan dan untuk mencapai tujuan. Apabila tidak demikian, maka ia bukan merupakan keutamaan.

Bilamana harta benda itu seperti demikian, kemudian pemiliknya membelanjakannya untuk kepentingan dirinya dan kepentingan orang-grang yang menjadi tujuan dan dambaannya, maka ia membelanjakannya pada tempat yang Sebenarnya dengan tujuan untuk memperoleh keluhuran dan pujian yang baik serta tempat di hati. Berarti harta benda tersebut merupakan keutamaan bagi pemiliknya menurut penduduk dunia. Apabila pemilik harta membelanjakannya untuk tujuan-tujuan kebajikan dan ia mengintakannya ke jalan kebaikan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan pahala di akhirat, maka harta benda merupakan keutamaan bagi pemiliknya dalam semua kondisi dan situasi menurut penilaian seluruhnya.

Bilamana pemilik harta benda memegangnya erat-erat tanpa membelanjakannya kepada hal-hal yang semestinya karena sangat getol mengumpulkannya, maka memiliki harata yang banyak sama saja dengan tidak mempunyai harta sama sekali, dan merupakan aib dan cela bagi pemiliknya karena ia tidak menggunakannya untuk keselamatan dirinya, bahkan menggunakannya sebagai sarana untuk menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kekikiran dan keajaiban yang hina.

Harta benda bukanlah tujuan melainkan sarana untuk meraih hal yang lain dan untuk meng-infak-kannya ke jalan yang sebenarnya, sesuai dengan fungsinya. Nabi kita telah diberi semua perbendaharaan bumi dan kunci berbagai negeri: semua ghanimah telah dihalalkan baginya, dan semasa hidupnya telah dibukakan untuknya negeri Hijaz, Yaman, dan semua kawasan Jazirah Arabia serta negeri-negeri yang berdekatan seperti Syam dan negeri Irak juga diserahkan kepadanya semua harta khumus, Jizyah, dan zakat dari negeri-negeri tersebut sebagaimana telah dihadiahkan kepadanya dari kebanyakan raja yang berada di Jazirah Arabia. Akan tetapi, ia tidak pernah menggunakan sesuatu pun untuk kepentingan pribadinya, dan tidak pernah pula ia memegang satu dirham pun yang tidak dibelanjakannya kepada hal-hal yang semestinya, dan menginfakkannya untuk diri orang lain serta untuk memperkuat kaum Muslimin.

Rasulullah saw. telah berkata: Tidaklah aku merasa gembira andaikata aku mempunyai emas sebanyak Gunung Uhud, lalu ada satu dinar daripadanya yang sempat menginap di sisiku, yang tidak aku infak-kan untuk kepentingan agamaku. Pada suatu hari Rasulullah saw. mendapat banyak uang dinar sehingga hatinya merasa tidak tenang, karena itu beliau cepat-cepat membagi-bagikan nya dan disisakannya sedikit, sisa yang sedikit itu pun langsung beliau bagikan kepada istri-istrinya, setelah itu beliau berkata: “Sekarang aku merasa tenang”.

Sewaktu Rasulullah saw. wafat, baju besi miliknya masih dalam keadaan tergadai untuk menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya. Dalam hal nafkah, pakaian, dan tempat tinggal, ia selalu membatasi diri hanya pada keperluan yang penting saja. Hal-hal yang lebih dari itu selalu dijauhinya. Dia selalu berpakaian apa adanya. Sebagian besar pakaiannya terdiri dari kain tenun yang sederhana dan kain bulu yang kasar. Dia membagi-bagikan kain-kain sutera yang diberi bordelan benang emas kepada orang-orang yang hadir di hadapannya, dan mengirimkannya kepada orang-orang yang tidak hadir di antara para sahabat.

Seperti yang telah pembaca saksikan sendiri, Rasulullah saw. telah memperoleh keutamaan dari harta benda miliknya dengan cara menjauhinya dan menginfak-kannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Adapun watak yang bersifat kasbi, berupa akhlak yang terpuji dan etika yang mulia, semuanya tersimpul ke dalam kategori akhlak yang baik. Semuanya telah berada di dalam diri Nabi saw. dalam bentuk yang sangat sempurna dan stabil sehingga Allah swt. sendiri memujinya melalui firman-Nya:  Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. 68 Al-Galam: 4)

Siti ‘Aisyah r.a. telah meriwayatkan dalam salah satu hadits: Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran: ia rida demi Al-Quran, dan ia marah demi Al-Quran (pula). Rasulullah saw. dalam salah satu hadis telah berkata: Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia. Sahabat Anas r.a. dalam hadis yang diriwayatkannya mengatakan: Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya.

Bagi Rasulullah saw., semua(nya) etika yang mulia tadi adalah seperti yang terdapat pula di dalam diri saudara-saudaranya yang terdiri dari para nabi. Mereka telah diciptakan mempunyai watak yang mulia itu, kemudian semakin mengakar di dalam diri mereka, dan sentuhan-sentuhan dari Allah yang datang secara beruntun membuat cahaya pengetahuan makin bersinar cemerlang di dalam hati mereka. Setelah itu mereka dapat mencapai tujuan dan berhasil meraih derajat kenabian di dalam mengamalkan akhlak yang mulia itu tanpa batas dan latihan. Akhlak yang terpuji dan watak yang indah ini cukup banyak, tetapi kami akan mengetengahkan pokok-pokoknya saja dan mengisyaratkan seginya saja untuk menyatakan sifat Rasulullah saw. yang mencakup kesemuanya itu seperti pembahasan berikut ini.

Pokok cabangnya, unsur sumbernya, dan titik lingkarannya adalah akal. Dari akal muncullah ilmu dan pengetahuan, dan dari akal serta pengetahuan timbullah ketajaman pandangan, kepandaian yang cemerlang, ketepatan dalam berpikir, dugaan yang tepat, dapat melihat akibat segala sesuatu dan kemaslahatan diri. Ilmu dan pengetahuan itu dapat pula mendorong kemampuan pemiliknya dalam melawan hawa nafsu dirinya, me. miliki giasat dan pengaturan yang baik, dan selalu mencari keutamaan serta menjauhi kerendahan.

Dalam hal ini Rasulullah saw. telah mencapai puncak kesempurnaan yang belum pernah dicapai oleh manusia lainnya. Hal tersebut dapat diketahui oleh orang yang mau menelusuri sejarah kehidupannya, hadis-hadis yang diucapkannya, akhlak-akhlaknya yang baik, serta semua sepak terjangnya yang menakjubkan. Dapat pula diketahui melalui hikmah-hikmah yang terkandung dalam hadis-hadisnya, pengetahuannya mengenai isi kitab Taurat, kitab Injil, dan kitab-kitab yang diturunkan Allah swt., yang dapat diketahui melalui pengetahuannya tentang hikmah-hikmah yang dikatakan oleh orang-orang yang bijak, pengetahuannya tentang perjalanan umat-umat terdahulu dan kejadian-kejadian yang telah dialami oleh mereka. Hal itu dapat diketahui melalui tamsil-tamsil yang telah dikemukakannya, kebijaksanaannya dalam mengatur umat manusia, ketetapan-ketetapan syariat yang telah diputuskannya, dan melalui akhlak-akhlak yang agung serta sifat-sifat yang terpuji, di samping berbagai cabang ilmu yang menggunakan kata-kata Nabi saw. sebagai teladan dan hujjah bagi orang-orang yang menekuninya.

Cabang-cabang ilmu tersebut ialah ilmu tabib, ilmu hisab, ilmu faraidh (bagi waris), ilmu nasab (keturunan), dan lain-lain yang semuanya dapat di kuasai oleh Nabi saw. tanpa melalui proses pendidikan, tanpa belajar, tanpa membaca kitab-kitab umat terdahulu, dan pula tanpa bergaul dengan para ulama mereka. Dia adalah seorang nabi yang ummi dan tidak mengetahui sedikit pun tentang hal-hal tersebut, tetapi Allah swt. melapangkan dadanya dan menjelaskan hal-hal tersebut kepadanya serta mengajarkannya kepadanya.

Semua pengetahuan Rasulullah saw. yang bersumberkan akalnya sendiri ditunjang pula oleh semua yang telah diajarkan Allah swt. dan apa yang diperlihatkan kepadanya, berupa ilmu mengenai yang bakal terjadi dan yang telah terjadi serta mengenai keajaiban-keajaiban kekuasaan Allah serta kebesaran kerajaan-Nya. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. telah berfirman: Dan Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah sangat besar atasmu. (Q.S. 4 An-Nisa: 113)

Adapun sifat penyantun, menguasai diri, pemaaf, mampu dan sabar dalam menghadapi semua hal yang tidak disukai, termasuk etika yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi-Nya. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. telab berfirman: Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Q.S. 7 Al-A’raf: 199)

Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada malaikat Jibril a.s. tentang penakwilan ayat di atas. Malaikat Jibril a.s. menjawab: Hai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu supaya kamu menghubungkan silaturrahim kepada orang yang memutuskannya dari kamu, dan hendaknya kamu memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, serta hendaknya engkau memaafkan orang yang telah berbuat aniaya kepada dirimu.

Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa dirimu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Q.S. 81 Lugman: 17). Berfirman pula dalam ayat lainnya, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.5. 24 An-Nur: 22). Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Q.S. 42 AsySyura: 43).

 

(Bersambung ….. )

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077