Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
29 Maret 2026

Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (2)

Ming, 29 Maret 2026 Dibaca 86x

Related Post: Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (1)

IMMIMPANGKEP – Rasulullah saw. telah bersabda, Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada: imbangilah perbuatan buruk dengan amal baik, niscaya amal baik akan menghapus perbuatan buruknya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. Dan perkara yang sebaik-baiknya adalah yang paling pertengahan. Cintailah kekasihmu biasa saja, barangkali dia kelak akan menjadi orang yang engkau benci. Perbuatan zalim itu (akan menjadi) kegelapan yang pekat pada hari kiamat (nanti).

Rasulullah saw. dalam salah satu doanya mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rahmat yang dapat memberikan petunjuk kepada hatiku, yang dapat menghimpun perkaraku, yang dapat merapikan kekacauanku, yang dapat memperbaiki semua keinginanku, yang dapat membersihkan amalku, yang dapat memberikan ilham kepada jalan petunjuk, yang dapat mengembalikan kecintaanku, dan yang dapat memelihara diriku dari semua perbuatan jelek. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu keberuntungan di dalam gadha-Mu, kedudukan para syuhada, kehidupan yang bahagia, dan kemenangan atas musuh-musuh(-Mu)”.

Masih banyak lagi hal lain yang diceritakan oleh para ulama tanpa kecuali berupa ceramah-ceramah, khotbah-khotbah, doa-doa, surat-surat, dan perjanjian-perjanjian yang telah dibuatnya. Semuanya itu secara sepakat menyimpulkan bahwa Nabi saw. dalam hal ini menduduki tempat yang tiada bandingannya dan menjadi pendahulu yang tak dapat digambarkan keagungannya.

Pada suatu hari para sahabat berkata kepada Rasulullah saw. “Kami belum pernah melihat seseorang yang lebih fasih dasipada engkau.” Rasulullah saw. menjawab, “Tiada sesuatu pun yang dapat mencegahku karena sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan memakai bahasaku, yaitu bahasa Arah yang jelas.”

Dalam riwayat yang lain ditambahkan, “Hanya saja aku berasal dari kabilah Quraisy dan aku ditumbuhkan di Kalangan Bani Sa’d.” Dengan demikian terhimpunlah di dalam dirinys daya talar bahasa orang Badui dan keanggunan gaya bahasanya. Hal tersebut dibarengi pula oleh kecemerlangan kata-kata orang perkotaan dav keindahan gaya bahasanya. Hal itu diperkuat oleh dukungan Illahi melalw wahyu-Nya yang tidak dapat diliputi oleh ilmu manusia.

Adapun mengenai keagungan nasab (keturunan) Nabi saw. dan kemujaan negeri tempat ia dibesarkan tidak perlu bukti lagi karena sudah jelas dan tidak diragukan. Rasulullah saw. berasal dari keturunan Bani Hasyim, salah satu golongan dari kabilah Quraisy, dan bahkan merupakan intinya.

Ayah dan ibu Rasulullah saw. berasal dari golongan orang Arab yang paling terhormat dan paling dimuliakan, dan tempat kelahirannya adalah kota Makkah yang disucikan oleh Allah swt. buat hamba-hambaNya. Penjelasan secara rinci telah kami kemukakan pada permulaan kitab ini, karena itu kami tidak akan mengulanginya kembali.

Adapun mengenai hal-hal yang terdorong oleh keharusan dalam hidup, sikap Rasulullah saw. dalam hal ini antara lain ada yang dinilai utama bilamana sedikit, dan ada yang dinilai utama bilamana banyak, dan ada pula hal-hal yang penilaiannya bergantung pada situasi dan kondisi. Mengenai jenis yang pertama, yaitu sesuatu yang dinilai utama bilamana sedikit, menyangkut masalah makan dan tidur.

Sehubungan dengan kedua hal itu orang-orang Arab dan orang-orang yang bijak pada zaman dahulu menganggap bahwa mengurangi diri dari kedua hal tersebut merupakan suatu hal yang terpuji, sedangkan memperbanyak diri dari kedua hal tersebut merupakan hal yang tercela. Terlalu banyak makan dan minum mencerminkan bahwa pelakunya berwatak rakus, tamak, buas, dan selalu memperturutkan kemauan hawa nafsu, dapat menyebabkan kemudaratan di dunia dan akhirat, mengundang banyak penyakit pada tubuh, kekeruhan dalam jiwa, dan tersumbatnya pemikiran. Mempersedikit diri dalam hal tersebut merupakan cermin bahwa pelakunya bersifat menerima apa adanya, dapat menguasai diri, dan dapat menekan hawa nafsunya. Kemudian hal ini akan mendatangkan kesehatan, kejernihan hati, dan ketajaman berpikir. Sebagaimana terlalu banyak tidur merupakan cermin yang menunjukkan bahwa pelakunya orang yang malas, lemah, tidak pandai, dan tidak cerdik. Tentu saja kebanyakan tidur dapat menyebabkan malas, lemah, menyia-nyiakan umur untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, dapat menyebabkan hati menjadi keras, lali, dan mati

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah saw. berkata dalam salah satu hadits, “Tiada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam (manusia) yang lebih jelek daripada perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak Adam hanya beberapa suap (makanan) guna menegakkan tulang shulbinya (menguatkan badannya). Apabila tidak ada pilihan lain baginya, maka sepertiga dari (perut)-nya untuk makanannya, dan sepertiga lagi untuk minumannya, serta sepertiga yang lain untuk napasnya”.

Lagi pula banyaknya tidur itu diakibatkan oleh terlalu banyak makan dan minum. Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa perut Nabi saw. sama sekali belum pernah penuh karena kekenyangan. Bilamana berada di rumah istri-istrinya, ia belum pernah meminta kepada mereka makanan, dan tidak pula mengemukakan keinginannya untuk makan. Bilamana mereka memberinya makan, ia memakannya: dan bilamana mereka tidak memberinya makan, ia diam saja, dan bilamana mereka memberinya minum, ia minum. Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa Nabi saw. pernah berkata: Adapun aku, belum pernah makan sambil bersandar.

Pengertian kata al-ittika (bersandar) pada hadis di atas ialah duduk dengan posisi yang memberikan keleluasaan untuk makan banyak, seperti bersila dan cara duduk yang serupa. Duduk dalam posisi tersebut dapat memberikan dorongan untuk makan banyak, dan sesungguhnya duduk yang dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika makan ialah duduk dalam posisi yang tidak memberikan keleluasaan untuk makan banyak. Nabi saw. berkata: Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, aku makan bagaikan seorang hamba sedang makan.

Demikian pula tidur Rasulullah saw. sangat sedikit. Dalam hal ini ia telah berkata pula: Sesungguhnya kedua mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur. Adapun mengenai hal-hal yang dinilai utama bilamana banyak, sebagai contohnya ialah kedudukan. Kedudukan merupakan suatu hal yang terpuji di kalangan orang-orang yang berakal, demikianlah kebiasaannya. Ia ditentukan oleh kadar kehormatan dan keagungan seseorang di hati orangorang banyak. Sehubungan dengan hal ini Allah swt. berfirman mengenai sifat Nabi ‘Isa a.s., yaitu: Seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 45) (*)

 

(Bersambung ….. )

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077