Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, tidak dapat dilepaskan dari peran para ulama dan mubalig yang dalam tradisi masyarakat dikenal sebagai Wali Sanga atau Wali Songo. Mereka dipandang sebagai tokoh penting dalam proses Islamisasi Jawa pada sekitar abad ke-14 hingga ke-16. Kehadiran mereka berlangsung dalam konteks masyarakat Jawa yang sebelumnya telah dipengaruhi oleh tradisi Hindu-Buddha, kepercayaan lokal, serta kebudayaan keraton dan masyarakat agraris-pesisir.
Namun, Wali Sanga perlu dipahami secara proporsional. Dalam historiografi modern, sebagian kisah mengenai para wali bercampur dengan tradisi lokal, babad, legenda, dan cerita keramat, sehingga tidak seluruh detail biografis mereka dapat dipastikan secara historis. Karena itu, pembahasan Wali Sanga perlu membedakan antara tradisi keagamaan yang hidup dalam masyarakat dan fakta sejarah yang memiliki dukungan sumber. M.C. Ricklefs, misalnya, menempatkan Islamisasi Jawa sebagai proses panjang yang mulai berkembang sejak sekitar abad ke-14 dan terus mengalami pendalaman dalam periode-periode berikutnya.
Dalam konteks tersebut, Wali Sanga dapat dipahami sebagai simbol penting dari jaringan ulama yang berperan dalam membangun komunitas Muslim, pendidikan Islam, dakwah, kebudayaan, dan pusat-pusat kekuasaan Islam di Jawa.
A. Pengertian Wali Sanga
Secara umum, istilah Wali Sanga berasal dari kata wali dan sanga/songo. Kata wali berasal dari bahasa Arab walī, yang antara lain berarti orang yang dekat dengan Allah, orang saleh, pelindung, atau orang yang memiliki kedudukan tertentu dalam konteks keagamaan. Adapun sanga atau songo dalam bahasa Jawa berarti sembilan.
Dengan demikian, Wali Sanga secara sederhana berarti sembilan wali atau sembilan tokoh ulama yang dikenal dalam tradisi Islam Jawa sebagai penyebar Islam. Literatur tentang Wali Sanga juga menunjukkan bahwa mereka dikenang sebagai tokoh yang menggunakan pendekatan persuasif, pendidikan, kebudayaan, dan kesenian dalam menyampaikan ajaran Islam.
Akan tetapi, istilah “sembilan” tidak harus dipahami bahwa sepanjang sejarah selalu terdapat tepat sembilan wali yang aktif secara bersamaan. Susunan nama Wali Sanga yang dikenal masyarakat merupakan hasil pembentukan tradisi historiografis Jawa. Yang lebih penting adalah memahami jaringan ulama dan pusat-pusat dakwah yang berkembang pada masa Islamisasi Jawa.
Wali Sanga juga bukan satu-satunya pembawa Islam ke Jawa. Islam telah hadir melalui jaringan perdagangan dan ulama sebelum periode mereka. Karena itu, peran Wali Sanga lebih tepat dilihat sebagai penguat, pengembang, dan pelembagaan Islam dalam masyarakat Jawa, bukan sebagai satu-satunya pihak yang memperkenalkan Islam ke Nusantara. Penelitian mengenai pendidikan Islam juga menunjukkan bahwa Islam sebelumnya telah berkembang melalui pedagang dan ulama dari berbagai kawasan, sedangkan Wali Sanga memperkuatnya melalui pendekatan pendidikan dan budaya.
B. Nama-Nama Wali Sanga
Nama-nama Wali Sanga yang paling umum dikenal dalam tradisi sejarah Islam Jawa adalah:
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Dikenal sebagai salah satu tokoh awal penyebaran Islam di Jawa. Basis dakwahnya berada di wilayah Gresik dan sekitarnya.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat), Berpusat di Ampel, Surabaya. Pesantren Ampel menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting dan memiliki hubungan dengan sejumlah tokoh penyebar Islam berikutnya.
3. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Putra Sunan Ampel. Ia dikenal sebagai ulama yang menggunakan pendekatan seni dan kebudayaan dalam dakwah, terutama melalui musik dan tradisi masyarakat.
4. Sunan Drajat (Raden Qasim/Syarifuddin), Dikenal karena perhatian terhadap kehidupan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Dakwahnya sering dikaitkan dengan penguatan kepedulian sosial dan solidaritas.
5. Sunan Giri (Raden Paku/Ainul Yaqin), Berkembang sebagai ulama dan pendidik yang memiliki jaringan luas. Giri menjadi salah satu pusat pendidikan dan dakwah yang pengaruhnya melampaui Jawa.
6. Sunan Kalijaga (Raden Said), Salah satu tokoh yang paling kuat dikaitkan dengan dakwah melalui seni dan budaya Jawa. Wayang, tembang, dan tradisi lokal digunakan sebagai sarana penyampaian pesan keislaman.
7. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq), Berbasis di Kudus dan dikenal memiliki pendekatan dakwah yang mempertimbangkan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said), Berdakwah terutama di kawasan pedesaan dan pegunungan sekitar Gunung Muria. Pendekatannya dekat dengan masyarakat lapisan bawah.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), Berkaitan erat dengan Cirebon dan perkembangan Islam di Jawa Barat. Ia juga memiliki peranan dalam perkembangan kekuasaan Islam di Cirebon dan Banten.
Daftar tersebut merupakan daftar Wali Sanga yang paling luas diterima dalam tradisi historiografi populer dan keagamaan. Sumber-sumber modern mencatat sembilan nama tersebut, tetapi juga mengingatkan adanya percampuran antara sejarah, tradisi, dan legenda dalam narasi Wali Sanga.
C. Peranan Wali Sanga dalam Penyebaran Islam di Indonesia
Walaupun aktivitas Wali Sanga terutama berpusat di Jawa, pengaruhnya memiliki arti lebih luas bagi perkembangan Islam di Indonesia.
1. Mengembangkan Pendidikan Islam
Salah satu kontribusi terpenting Wali Sanga adalah pengembangan lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren. Sunan Ampel, misalnya, dikaitkan dengan perkembangan pesantren Ampel yang menjadi tempat belajar banyak calon ulama dan tokoh Islam.
Sunan Giri juga dikenal memiliki jaringan pendidikan yang luas. Pusat Giri tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga memiliki pengaruh sosial-politik. Tradisi pendidikan inilah yang kemudian berkembang menjadi salah satu karakter utama Islam Indonesia: dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi melalui pembentukan lembaga dan kader ulama.
2. Mengembangkan Dakwah Kultural
Wali Sanga dikenal karena kemampuannya melakukan dialog dengan kebudayaan lokal. Dakwah tidak selalu disampaikan melalui penolakan langsung terhadap tradisi masyarakat, tetapi melalui proses seleksi, transformasi, dan pemberian makna baru.
Sunan Kalijaga sering dikaitkan dengan penggunaan wayang, tembang, seni pertunjukan, dan simbol-simbol budaya sebagai media dakwah. Dalam tradisi kebudayaan Jawa, proses tersebut kemudian menghasilkan berbagai bentuk akulturasi Islam dan budaya lokal.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mencatat bahwa tradisi tertentu yang berkembang di Jawa dan Madura menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam diinternalisasikan ke dalam narasi dan kesenian lokal sebagai media syiar.
3. Membangun Jaringan Sosial dan Politik
Dakwah Wali Sanga tidak hanya berlangsung di tengah masyarakat biasa, tetapi juga berhubungan dengan elite kerajaan dan pusat-pusat kekuasaan. Perkembangan Demak, Cirebon, dan Banten, misalnya, tidak dapat dipisahkan dari jaringan ulama, pedagang, bangsawan, dan masyarakat Muslim.
Hubungan antara dakwah dan politik tersebut memungkinkan Islam berkembang dari komunitas-komunitas pesisir menjadi kekuatan sosial-politik yang lebih luas.
4. Mengembangkan Tradisi Islam Nusantara
Pengaruh Wali Sanga juga tampak dalam pembentukan tradisi Islam yang berinteraksi dengan kebudayaan Jawa. Sekaten merupakan salah satu contoh tradisi yang dalam historiografi Jawa sering dikaitkan dengan media dakwah sejak masa Demak. Penelitian tentang Sekaten menunjukkan bagaimana unsur budaya lokal diberi nuansa dan fungsi keislaman.
Dengan demikian, Islamisasi bukan sekadar perubahan keyakinan, tetapi juga proses pembentukan kebudayaan baru.
D. Konsep Dakwah Wali Sanga
Konsep dakwah Wali Sanga dapat diringkas dalam beberapa karakter utama.
1. Dakwah Bil-Hikmah
Pendekatan dakwah dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat. Para wali tidak sekadar menyampaikan doktrin, tetapi memahami bahasa, kebiasaan, struktur sosial, dan cara berpikir masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Al-Qur’an dalam QS. al-Nahl [16]: 125 tentang berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dengan cara yang terbaik.
2. Dakwah Kultural
Dakwah Wali Sanga menunjukkan pentingnya budaya sebagai media komunikasi. Seni pertunjukan, tembang, arsitektur, tradisi masyarakat, dan berbagai simbol budaya menjadi ruang untuk menyampaikan nilai-nilai Islam.
Penelitian mengenai strategi kultural Wali Sanga menunjukkan bahwa proses tersebut berkontribusi terhadap terbentuknya tradisi Islam Nusantara.
Namun, dakwah kultural bukan berarti menerima seluruh unsur kebudayaan tanpa seleksi. Unsur budaya yang digunakan sebagai media dakwah dapat diberi makna baru, sedangkan unsur yang bertentangan dengan prinsip Islam secara bertahap diarahkan untuk berubah. Dengan demikian, terdapat proses adaptasi, transformasi, dan seleksi budaya.
3. Dakwah melalui Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu warisan penting dari model dakwah ini. Pendidikan memungkinkan ajaran Islam tidak berhenti pada hubungan antara seorang dai dengan masyarakat, tetapi diwariskan melalui generasi baru ulama dan santri.
Model pendidikan semacam ini kemudian menjadi salah satu fondasi penting perkembangan Islam Indonesia.
4. Dakwah melalui Keteladanan dan Kehidupan Sosial
Dakwah juga dilakukan melalui perilaku sosial. Nilai kejujuran, kerja keras, kepedulian terhadap masyarakat, solidaritas, dan kesederhanaan menjadi bagian dari komunikasi dakwah.
Karena itu, dakwah tidak hanya berbentuk qaul atau perkataan, tetapi juga hal atau keteladanan. Masyarakat melihat bagaimana ajaran agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Dakwah secara Bertahap
Islamisasi Jawa bukan proses yang berlangsung seketika. Ricklefs menunjukkan bahwa Islamisasi masyarakat Jawa merupakan proses panjang yang mengalami perkembangan sejak munculnya komunitas Muslim pada abad ke-14 dan terus berlanjut pada masa-masa berikutnya.
Karena itu, keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat masyarakat berpindah agama, tetapi dari sejauh mana nilai Islam kemudian mengakar dalam kehidupan sosial, pendidikan, politik, dan kebudayaan.
Penutup
Wali Sanga merupakan salah satu fenomena terpenting dalam sejarah Islam Jawa. Mereka dikenal sebagai sembilan tokoh ulama yang memiliki peran besar dalam memperluas dan memperkuat Islam di Jawa melalui pendidikan, dakwah, perdagangan, hubungan politik, perkawinan, seni, dan kebudayaan.
Keberhasilan dakwah Wali Sanga terutama memperlihatkan pentingnya kemampuan membaca konteks masyarakat. Islam disampaikan bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan masyarakat, tetapi melalui bahasa dan kebudayaan yang telah mereka pahami. Karena itu, pendekatan kultural, pendidikan, keteladanan, dan dakwah bertahap menjadi karakter penting dalam proses Islamisasi Jawa. Kajian akademik juga menempatkan pendekatan kultural masyarakat Jawa sebagai salah satu faktor penting dalam keberhasilan penyebaran Islam melalui jaringan Wali Sanga.
Pada akhirnya, warisan terpenting Wali Sanga bukan semata-mata kisah tentang sembilan orang wali, tetapi model transformasi masyarakat melalui ilmu, keteladanan, pendidikan, dan kebudayaan. Dari proses tersebut lahir tradisi Islam Jawa yang kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam pembentukan wajah Islam Indonesia.
Dengan demikian, mempelajari dakwah Wali Sanga bukan hanya mempelajari sejarah para tokoh masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana Islam berinteraksi dengan masyarakat lokal, bagaimana agama membentuk kebudayaan, dan bagaimana kebudayaan dapat menjadi medium komunikasi nilai-nilai keagamaan.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi/Bahan Bacaan:
Abdullah, Taufik, ed. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali, 1983.
Ambary, Hasan Muarif. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Arif, Masykur. Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah hingga Fakta Sejarah. Yogyakarta: Laksana, 2016.
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana, 2004.
Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.
Ricklefs, M. C. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013.
Sunyoto, Agus. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan. Jakarta: Transpustaka, 2011.
Sunyoto, Agus. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Depok: Pustaka IIMaN dan LTN PBNU, 2016.
Susmihara. “Wali Songo dan Perkembangan Pendidikan Islam di Nusantara.” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 5, no. 2 (2017).
Muliana, Siti, dan Muhammad Nasruddin. “Treading The Footsteps of Wali Songo as The Shaper of Islam Nusantara Tradition.” Sunan Kalijaga: International Journal of Islamic Civilization 4, no. 1 (2021): 1–21.
A’yuni, Milatun Nuril, dan Nur Laila Syarifah. “Manajemen Pengorganisasian Dakwah dalam Perayaan Budaya Sekaten di Keraton Yogyakarta.” Jurnal Manajemen Dakwah 6, no. 2 (2020).
Marsono. “Pergumulan Islam dalam Sistem Nilai Budaya Jawa.” Religi: Jurnal Studi Agama-agama 2, no. 2 (2003).
Tinggalkan Komentar