WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
Anda disini : Home - Blog - Mengenal Isim Ghoiru Munshorrif
25Juni2024
Mengenal Isim Ghoiru Munshorrif
Sel, 25 Juni 2024 Dibaca 30749x
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Ada yang tahu apa itu Isim ghoiru munshorif sebagai bagian dari Isim yang Mu’rob? Isim ghoiru munshorif adalah kalimat isim yang tidak menerima tanwin dalam Bahasa Arab, disebut pula isim laa yanshorif dan al mamnu’ minash-sharf. Tanda i’robnya berbeda dengan isim munshorif. Alamat i’rob isim ghoiru munshorif yaitu rofa’ dengan dhommah, dan dalam keadaan nashob serta jar, tandanya dengan fathah. Kecuali jika menjadi mudhof, atau didahului alif lam, tanda jernya dengan kasroh.
Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu tanda dari kalimat isim adalah adanya tanwin, Namun, ada beberapa kondisi, suatu isim tidak menerima tanwin, yaitu:
1. Didahului alif lam (al)
Jika suatu ism sudah ada al di depannya, maka tidak boleh ditanwin. Contohnya: الْمُسْلِمُ, tanpa tanwin.
Jika pakai tanwin, maka tidak boleh pakai Al, Contohnya: مُسْلِمٌ.
2. Menjadi mudhof
Isim dicegah dari penggunakan tanwin, juga jika menjadi mudhof. Contohnya: كِتَابٌ + الْأُسْتَاذُ, menjadi كِتَابُ الْأُسْتَاذِ
كِتَابُ menjadi mudhof sehingga tidak menerima tanwin.
3. Isim ghairu munsharif
Isim ghairu munsharif, tidak menerima tanwin. Contohnya: فَاطِمَةُ، اِبْرَاهِيْمُ, Tidak memakai tanwin.
4. Mabni
Isim-isim yang mabni, tidak bertanwin. Contohnya: هَذَا، الَّذِي.
Nah, jadi selain isim laa yansharif, ada 3 jenis isim lain yang tidak menerima tanwin.
Pengertian Isim Ghoiru Munshorif
Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Isim Ghoiru Munshorif adalah isim yang tidak menerima tanwin. Dalam ilmu nahwu, definisi isim ghairu munshorif dijelaskan sebagai berikut:
الاسم الذي لا ينصرف وهو ما فيه علتان من تسع؛ كأحسن، أو واحدة منها تقوم مقامهما؛ كـ”مساجد، وصحراء”؛
Artinya:
Isim ghoiru munshorif adalah isim yang di dalamnya terdapat dua illat (alasan) dari 9 illat, seperti lafadz ahsanu, atau salah satu illat dari 9 illat yang menempati posisi 2 illat tadi.
Yang dimaksud ‘illat di sini adalah dasar alasan kenapa suatu isim tidak diberikan tanwin di akhir kalimatnya, serta pada saat jer tidak menggunakan alamat kasroh.
Apa Saja 9 ‘illat Pada Isim Ghairu Munsharif? Sembilan alasan kenapa isim tidak ditanwin yaitu:
1. Shighot Muntahal Jumu’
Shighot muntahal jumu’ adalah setiap jamak taksir yang setelah alif taksirah-nya, jatuh dua huruf, atau tiga huruf tapi huruf tengahnya sukun. Wazannya ada dua, melihat dari definisi tersebut.
Wazan مَفَاعِلُ, setelah alif taksirah, jatuh dua huruf yaitu ‘ain dan lam. Contohnya: مَسَاجِدُ، مَصَانِعُ، حَدَائِقُ.
Wazan مَفَاعِيْلُ, setelah alif taksirah, jatuh 3 huruf (‘ain, ya, dan lam), tapi huruf tengahnya mati (ya disukun), contohnya: مَفَاتِيْحُ، مَصَابِيْحُ، تَمَاثِيْلُ، مَوَاقِيْتُ.
Jika setelah alif taksirah jatuh 3 huruf, tapi huruf tengahnya tidak sukun, maka bukan isim ghairu munsharif.
Contohnya: مَلَائِكَةٌ، صَيَارِفَةٌ، فَلَاسِفَةٌ.
2. Wazan Fi’il
Isim alam dan isim shifat yang berwazan fiil termasuk ghairu munshorif. Contohnya:
Isim alam: اَحْمَدُ، يَزِيْدُ.
Isim shifat: اَحْمَرُ، اَبْيَضُ.
3. Ziyadah Alif dan Nun
Tambahan alif dan nun menjadi salah satu isim alam atau isim shifat menjadi ghairu munshorif. Contohnya:
Isim alam: سُلَيْمَانُ.
Isim shifat: عَطْشَانُ.
4. ‘Udul
‘Udul adalah keluarnya isim dari bentuk aslinya. Isim alam dan isim shifat yang udul, adalah ghairu munshorif. ‘Udul sendiri terbagi menjadi dua:
– Udul haqiqi: mengikuti wazan فُعَلُ dan مَفْعَلُ, digunakan pada isim ‘adad (hitungan) 1 s.d. 4. Contohnya: مَثْنَى، ثُنَاءُ dari kata bentuk aslinya اِثْنَان.
– Udul taqdiri: mengikuti wazan فُعَلُ dari asalnya فَاعِلٌ, contohnya زُحَلُ dari bentuk aslinya زَاحِلٌ.
5. Tarkib Mazji
Tarkib mazji adalah gabungan dari dua kata yang membentuk suatu nama, misal jadi nama kota seperti: حَضْرَ مَوْت. Yang masuk ke dalam kategori isim ghoiru munshorif adalah tarkib mazji selain yang berakhiran waih (وَيْهِ), karena jika berakhiran وَيْهِ maka mabni ala kasroh, seperti سِيْبَويْهِ.
6. Ta`nits
‘Illat ta’nits di sini bisa berupa alif (maqshurah dan mamdudah) maupun ta’.
– Isim yang diakhiri dengan alif ta’nits mamdudah, adalah isim laa yanshorif, contohnya: صَحْرَاءُ، فُقَرَاءُ.
– Isim yang diakhiri dengan alif ta’nits maqshurah, adalah termasuk laa yanshorif, contohnya: كُبْرَى، سَلْمَى، ذِكْرَى.
– Ta’ ta’nits, contohnya: طَلْحَةُ، فَاطِمَةُ.
7. ‘Ajam
Ajam artinya bukan arab. Isim alam (nama) yang bukan asli dari Bahasa Arab, bersifat ghoiru munshorif. Contohnya: اِبْرَاهِيْمُ.
8. ‘Alamiyah
Isim alam menjadi ghairu munsharif jika bersamaan dengan salah satu dari 6 illat yang telah disebutkan di atas. Penjelasan lengkapnya ada di bawah. Contohnya: عُثْمَانُ،سَلْمَانُ
9. Shifat
Isim shifat menjadi ghairu munsharif jika bersamaan dengan salah satu dari 3 ‘illat di atas.
Macam Macam Isim Ghoiru Munshorif
Tabel. Pembagian isim ghoiru munshorif
Melihat dari definisi di atas, maka isim ghoiru munshorif dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
Isim ghoiru munshorif yang mempunyai satu illat
Yang cukup dengan satu ‘illat, ada 2 kelompok besar:
1. Shighot muntahal jumu‘, dengan wazan مَفَاعِلُ dan مَفَاعِيْلُ sebagaimana telah disebutkan di atas.
2. Ta’nits, berupa alif yang jatuh setelah 3 huruf asli:
mamdudah: contohnya حَسْنَاء, dari 3 hurur asli حَسُنَ.
maqshuroh: contohnya سَلْمَى dari 3 huruf asli سَلِمَ.
Untuk ta’nits berupa ta’, perlu 2 illat untuk menjadi ghairu munsharif.
Isim ghoiru munshorif mempunyai dua illat
Terbagi menjadi dua, yaitu Lil ‘Alamiyyah dan Lil Washfiyyah
Lil ‘Alamiyah
Bagi isim ‘alam, dia harus bersama 6 ‘illat untuk menjadi ghairu munsharif. Ke-enam illat tersebut yaitu
1. Al ‘alamiyyah ma’at-ta’nits
Yang pertama, isim ‘alam yang menunjukkan makna ta’nits atau terdapat tanda ta ta’nits. Contohnya: زَيْنَبُ، مَرْيَمُ
Termasuk juga nama-nama lelaki yang menggunakan ta’ ta’nits seperti حَمْزَةُ، عُبَيْدَةُ، مُعَاوِيَةُ، طَلْحَةُ.
2. Al ‘alamiyyah ma’a ziyadatil alif wan nun
Yang kedua yaitu isim alam yang mendapat tambahan alif dan nun di akhir katanya. Contohnya: عُثْمَانُ،سَلْمَانُ، عِمْرَانُ،غَطَفَانُ،رَمَضَانُ،مَرْوَانُ، سُلَيْمَانُ
3. Al ‘Alamiyyah ma’al ‘ujmah
Isim alam yang berasal dari Bahasa Ajam, bukan Bahasa Arab asli. Contohnya: إِبْرَاهِيْمُ، إِسْمَاعِيْلُ، إِسْحَاقُ، يَعْقُوْبُ، يُوْسُفُ، جِبْرِيْلُ، مِيْكَائِيْلُ، هَارُوْتُ
Di dalam Al Quran, ada 6 nama Nabi yang bukan ghairu munsharif: Muhammadun, Sholihun, Syu’aibun, Huudun, Nuuhun, Luuthun.
4. Al ‘Alamiyyah ma’a waznil fi’li
Isim ‘alam dengan wazan fi’il. Utamanya wazan fi’il mudhori. Contohnya:
أَحْمَدُ dengan wazan أَفْعَل
يَثْرِبُ dengan wazan يَفْعِلُ
5. Al ‘alamiyyah ma’at-tarkib al mazji
Isim alam yang tersusun dari dua kata. Contohnya:
حَضْرَ مَوْتُ dari kata حضر dan موت.
بَعْلَبَكُّ dari kata بع dan لبك.
6. Al ‘alamiyyah ma’al ‘udul
Isim ‘alam dengan wazan فُعَل yang diturnkan dari wazan فَاعِل. Contohnya:
عُمَرُ dari wazan عَامِر
مُضَرُ diturunkan dari wazan مَاضِر
Lil washfiyyah
Isim sifat menjadi ghoiru munshorif jika bersamaan denga 3 illat lainnya:
1. Al washfiyyah ma’a ziyadatil alif wan nun
Isim shifat yang mendapatkan tambahan alif dan nun di akhir katanya. Seperti: غَضْبَانُ، عَطْشَانُ، سَكْرَانُ، شَبْعَانُ
Yaitu wazan فُعَال dan مَفْعَل dari bilangan 1 sampai 4 (ada pendapat juga yang mengatakan sampai 10) dan lafadz أُخَرُ. Contohnya: أُحَادُ، مَوْحَدُ، ثُنَاءُ، مَثْنَى، ثُلَاثُ، مَثْلَثُ، رُبَاعُ، مَرْبَعُ
Itulah pembagian isim ghoiru munshorif lengkap.
I’rob Isim Ghoiru Munshorif
Tanda atau alamat i’rob isim ghoiru munshorif hanya ada dua: dhommah dan fathah.
Isim ghoiru munshorif ketika marfu‘ ditandai dengan dhommah.
Isim ghoiru munshorif ketika majrur ditandai dengan fathah. Begitu juga saat manshub, dengan fathah
Contohnya:
Rofa‘: جَاءَ إِبْرَاهِيْمُ, Ibrahim telah datang.
Nashob: رَأَيْتُ إِبْرَاهِيْمَ, aku melihat Ibrahim.
Jer: مَرَرْتُ بِإِبْرَاهِيْمَ, aku lewat berpapasan dengan Ibrahim.
Syarat Isim Ghoiru Munshorif
Dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik, ada nadhom isim ghoiru munshorif berikut ini:
Dijarkan dengan fathah, isim laa yansharif, sepanjang tidak menjadi mudhof atau ada setelah al.
Jadi, isim ghairu munsharif tetap dijarkan dengan fathah, dengan syarat:
1. Tidak menjadi mudhof
Jika isim ghairu munsharif dimudhofkan kepada isim lain, pada saat jar, tanda jarnya dengan kasroh, bukan dengan fathah. Contohnya:
مَرَرْتُ بِأَحْمَدِكَ
Aku lewat berpapasan dengan Ahmad-mu.
Karena Ahmad menjadi mudhof, maka tanda jarnya dengan kasroh.
Bukan dengan fathah lagi.
2. Diawali dengan al
Isim ghairu munsharif yang diawali alif lam, juga dijarkan dengan kasroh.
Contohnya:
مَرَرْتُ بِالْأَحْمَدِ
Ahmad, karena didahului Alif Lam, maka majrur dengan kasroh. Bukan fathah.
Contoh Kalimat Isim Ghoiru Munshorif
Berikut ini contoh kalimat isim ghoiru munshorif di dalam Al Qur’an beserta surat dan ayatnya:
Marfu’
Surat Al Baqarah ayat 69: قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاۤءُ. Dia (Allah) berfirman, bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya.
Surat Al Baqarah ayat 266: وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُ. Sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil.
Surat Al An’am ayat 104: قَدْ جَاۤءَكُمْ بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْ. Sungguh, bukti-bukti yang nyata telah datang dari Tuhanmu.
Manshub
Surat Al Baqarah ayat 143: لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ. agar kamu menjadi saksi. Manshub karena menjadi khobarnya kana.
Surat An Naml ayat 60: فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ حَدَاۤىِٕقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ. Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah.
Surat Al An’am ayat 91: تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا. Kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya).
Majrur
Surat Al Baqarah ayat 249: قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ. mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.”.
Surat At-Taubah ayat 25: لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ فِيْ مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍۙ. Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang.
Surat Al Waqi’ah ayat 18: بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ. Dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir.
Sebagai kesimpulan, Dari sisi penerimaan tanwin, isim dibedakan menjadi munshorif dan ghoiru munshorif. Isim munshorif: bisa menerima tanwin, sedang Isim ghoiru munshorif: tidak menerima tanwin. Isim ghoiru munshorif ketika majrur ditandai dengan fathah, dan itulah yang membedakannya dengan munshorif.
Demikianlah sedikit catatan tentang Isim Ghoiru Munshorrif. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiik. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Bahasa Arab/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar