IMMIMPANGKEP – Bagi santri, belajar sejarah semestinya tidak berhenti pada menghafal nama tokoh, tahun kejadian, nama kekhalifahan/dinasti, atau tempat berlangsungnya suatu peristiwa. Sejarah harus dipahami sebagai pengalaman manusia yang meninggalkan jejak, baik dalam bentuk bangunan, makam, artefak, manuskrip, tradisi, benteng, museum, maupun lanskap budaya. Karena itu, salah satu cara yang efektif untuk membuat pembelajaran sejarah lebih hidup adalah melalui studi wisata sejarah.
Studi wisata sejarah bukan sekadar kegiatan keluar sekolah, bepergian bersama teman, mengambil foto, kemudian kembali ke pesantren. Di dalamnya terdapat proses belajar yang mempertemukan santri dengan sumber sejarah secara langsung. Santri dapat melihat benda, bangunan, situs, museum, dan lingkungan yang selama ini hanya mereka kenal melalui buku pelajaran. Dengan demikian, perjalanan wisata sejarah sesungguhnya dapat menjadi ruang kelas yang lebih luas.
Bagi santri di Sulawesi Selatan, kesempatan itu sangat terbuka. Pangkep, Maros, Makassar, dan Gowa memiliki kekayaan sejarah yang sangat beragam: jejak manusia prasejarah, kerajaan lokal, perdagangan maritim, perkembangan Islam, perjuangan melawan kolonialisme, hingga perkembangan kebudayaan Bugis-Makassar.
Sejarah Tidak Cukup Hanya Dibaca
Ada perbedaan mendasar antara membaca sejarah dan mengalami ruang sejarah. Ketika seorang santri membaca bahwa Kerajaan Siang pernah menjadi pusat perdagangan penting di pesisir barat Sulawesi Selatan, informasi itu mungkin hanya menjadi sebuah paragraf dalam buku. Namun, ketika mereka datang ke kawasan bekas pusat Kerajaan Siang di SengkaE, Bori Appaka, Bungoro, Pangkep, mereka dapat membayangkan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi bagian dari jaringan politik dan perdagangan yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Pangkep mencatat bahwa bekas pusat Kerajaan Siang berada di SengkaE dan pernah dikunjungi kapal-kapal Portugis pada abad XVI. Temuan arkeologis di kawasan tersebut juga menunjukkan adanya fragmen keramik dari berbagai periode yang memberikan gambaran mengenai hubungan perdagangan dan kehidupan masyarakat masa lalu.
Di sinilah studi wisata sejarah mempunyai arti penting. Santri tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga mulai bertanya, “Mengapa terjadi di tempat ini?”, “Siapa yang terlibat?”, “Bagaimana kehidupan masyarakatnya?”, dan “Apa yang masih tersisa sampai sekarang?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan awal dari kesadaran sejarah.
Wisata Sejarah sebagai Laboratorium Pembelajaran
Dalam pembelajaran di kelas, guru dapat menjelaskan mengenai zaman prasejarah, kerajaan-kerajaan Nusantara, kolonialisme, perkembangan Islam, atau perjuangan kemerdekaan. Akan tetapi, kunjungan lapangan memungkinkan santri menghubungkan materi tersebut dengan bukti konkret.
Contohnya adalah Taman Prasejarah Leang-Leang di Maros. Situs ini menyimpan lukisan cadas, antara lain cap tangan dan gambar hewan, yang menjadi bukti penting mengenai kehidupan manusia pada masa prasejarah. Leang-Leang juga telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional.
Ketika materi sejarah membahas kehidupan manusia purba, santri yang berkunjung ke Leang-Leang dapat melihat langsung lingkungan karst dan gua tempat manusia masa lampau meninggalkan jejaknya. Pembelajaran menjadi lebih konkret: manusia prasejarah ternyata bukan sekadar gambar dalam buku, tetapi pernah hidup, beraktivitas, menghasilkan karya seni, dan meninggalkan jejak di ruang yang masih dapat dikunjungi sampai sekarang.
Dari sini guru dapat mengembangkan diskusi lintas mata pelajaran. Sejarah dapat dikaitkan dengan geografi, antropologi, seni, ilmu lingkungan, bahkan pendidikan agama. Santri dapat diajak merenungkan bagaimana manusia sejak masa lampau telah menggunakan akal, mengembangkan kemampuan simbolik, beradaptasi dengan lingkungan, dan membangun kebudayaan.
Pangkep: Belajar dari Jejak Siang dan Prasejarah
Pangkep merupakan salah satu wilayah yang sangat potensial untuk studi wisata sejarah. Selain situs Kerajaan Siang, terdapat kawasan gua prasejarah dan sejumlah situs budaya lainnya. Dokumen perencanaan Pemerintah Kabupaten Pangkep mencatat sejumlah kawasan cagar budaya, antara lain Taman Purbakala Sumpang Bita, Gua Bulu Sumi, serta berbagai gua lukisan purbakala seperti Leang Kassi, Leang Pattenung, Leang Limbubbuka, Leang Caddia, dan lainnya.
Bahkan wisata sejarah Pangkep tidak hanya berbicara mengenai kerajaan dan manusia purba. Santri dapat belajar tentang tradisi masyarakat, Bissu, makam tokoh, rumah adat, dan jejak kekaraengan. Dokumen daerah juga mencatat sejumlah objek wisata budaya seperti Arajang Bissu, Rumah Adat Labakkang, Situs Makam Somba Labakkang, Makam Andi Mauraga, Makam Arung Sabila, dan Makam Andi Maruddani. Dengan demikian, studi wisata sejarah di Pangkep dapat dirancang sebagai perjalanan lintas zaman: dari prasejarah, kerajaan lokal, perkembangan Islam, hingga sejarah sosial masyarakat.
Makassar: Membaca Sejarah dari Benteng dan Museum
Makassar menyediakan ruang belajar sejarah yang tidak kalah penting. Salah satu yang sangat potensial adalah Fort Rotterdam. Kawasan Benteng ini merupakan salah satu peninggalan penting yang merekam perubahan sejarah Gowa-Tallo, perkembangan Makassar sebagai kota pelabuhan, serta masuknya kekuatan kolonial.
Benteng tersebut kini juga menjadi bagian penting dari ruang pelestarian sejarah dan kebudayaan Kota Makassar, termasuk keberadaan Museum La Galigo di dalam kompleksnya. Pemerintah Kota Makassar mencatat perkembangan Makassar dari kawasan Tallo, perpindahan pusat aktivitas ke sekitar Jeneberang, perkembangan Somba Opu, hingga pembangunan Benteng Rotterdam.
Bagi santri, kunjungan ke Fort Rotterdam dapat dikaitkan dengan materi tentang kerajaan Islam di Nusantara, perdagangan maritim, hubungan Gowa-Tallo dengan bangsa Eropa, VOC, kolonialisme, dan perjuangan mempertahankan kedaulatan.
Penelitian mengenai Fort Rotterdam juga menegaskan bahwa situs tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar peserta didik untuk meningkatkan kesadaran sejarah dan nasionalisme. Dengan demikian, santri tidak hanya melihat benteng sebagai bangunan tua. Mereka harus belajar membaca benteng sebagai dokumen sejarah.
Gowa: Mengenal Kerajaan, Islam, dan Warisan Intelektual
Studi wisata sejarah kemudian dapat dilanjutkan ke Gowa. Museum Balla Lompoa merupakan salah satu tempat yang sangat relevan untuk mengenalkan sejarah Kerajaan Gowa. Balla Lompoa berarti “rumah besar” dan berkaitan dengan istana raja-raja Gowa. Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi sejarah, etnografi, numismatik, dan heraldik, termasuk benda-benda kebesaran kerajaan.
Santri dapat menghubungkan kunjungan ini dengan materi mengenai kerajaan Islam di Sulawesi Selatan, struktur pemerintahan tradisional, kebudayaan istana, hubungan antarkerajaan, serta perkembangan Islam di Gowa.
Kawasan Benteng Somba Opu juga penting. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memasukkannya bersama Museum Karaeng Pattingalloang, Museum La Galigo, dan sejumlah objek lainnya sebagai bagian dari destinasi sejarah-budaya.
Museum Karaeng Pattingalloang bahkan dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan keterbukaan intelektual. Karaeng Pattingalloang dikenal sebagai tokoh intelektual Gowa abad ke-17 yang memiliki ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan, matematika, astronomi, dan literatur Eropa. Ini menjadi pelajaran penting bagi santri: menjadi seorang muslim yang belajar agama tidak berarti menutup diri dari ilmu pengetahuan.
Belajar Sejarah Bersama M. Farid W. Makkulau
Dalam konteks Sulawesi Selatan, pengalaman studi wisata sejarah akan semakin bermakna apabila santri mendapatkan pendampingan dari orang yang memahami sejarah lokal, kebudayaan, sekaligus konteks masyarakatnya. Salah satu figur yang relevan untuk dibicarakan adalah M. Farid W. Makkulau, budayawan dan penulis yang banyak menaruh perhatian pada sejarah dan kebudayaan lokal.
Karya-karyanya antara lain Sejarah Kekaraengan di Pangkep, Sejarah Pangkep, dan kajian mengenai komunitas Bissu. Katalog Perpustakaan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar mencatat Sejarah Kekaraengan di Pangkep sebagai salah satu karya M. Farid W. Makkulau. Sementara penelitian mengenai “Sejarah Kerajaan Siang” juga mencantumkan buku tersebut sebagai karyanya bersama HM Taliu.
Yang menarik dari pendekatan M. Farid W. Makkulau adalah penekanannya bahwa sejarah tidak cukup hanya dipelajari secara tekstual. Dalam sebuah tulisannya mengenai penulisan sejarah Sulawesi Selatan, ia menekankan pentingnya memahami sejarah, bukan sekadar mempelajarinya, termasuk memahami aspek sosial dan kultural yang mewarnai suatu peristiwa.
Pandangan semacam ini sangat relevan dengan kegiatan studi wisata sejarah. Seorang pemandu sejarah yang baik tidak hanya menjelaskan tanggal dan nama tokoh. Ia membantu peserta didik memahami hubungan antara manusia, tempat, budaya, kekuasaan, agama, ekonomi, dan perubahan zaman.
Karena itu, ketika M. Farid W. Makkulau bertindak sebagai pemandu atau narasumber dalam kunjungan sejarah dan museum, pengalaman belajar santri dapat diarahkan menjadi dialog. Santri dapat bertanya, mengamati, mencatat, kemudian mendiskusikan apa yang mereka lihat dengan materi pelajaran di kelas.
Santri Harus Menjadi Peneliti Kecil
Studi wisata sejarah akan kehilangan makna jika santri hanya menjadi wisatawan. Mereka harus menjadi peneliti kecil. Sebelum berangkat, guru dapat memberikan tugas: setiap kelompok memilih satu objek sejarah yang akan dikaji. Mereka mencari informasi awal dari buku, kemudian menyusun pertanyaan untuk dijawab di lokasi.
Saat berada di lapangan, santri melakukan observasi, mencatat informasi, memotret objek yang diperbolehkan untuk didokumentasikan, membuat sketsa sederhana, mewawancarai pemandu, dan mencatat istilah lokal yang mereka temukan.
Setelah kembali ke pesantren, perjalanan tersebut tidak boleh selesai. Santri harus membuat laporan, presentasi, tulisan reflektif, podcast, video dokumenter, atau bahkan artikel sejarah lokal. Dengan cara ini, studi wisata berubah menjadi rangkaian pembelajaran: sebelum berangkat belajar, di lokasi mengamati, setelah kembali meneliti dan menulis.
Dari Wisata Menjadi Kesadaran Sejarah
Pada akhirnya, hal terpenting yang harus dipahami santri adalah bahwa wisata sejarah bukan sekadar rekreasi. Ia adalah cara untuk mengenali identitas, memahami perjalanan masyarakat, menghargai warisan budaya, dan menumbuhkan tanggung jawab untuk melestarikannya.
Santri yang mengunjungi Leang-Leang harus pulang dengan kesadaran tentang panjangnya perjalanan manusia. Santri yang datang ke situs Kerajaan Siang harus memahami bahwa Pangkep memiliki sejarah maritim dan politik yang penting. Santri yang mengunjungi Fort Rotterdam harus mampu membaca hubungan antara Gowa-Tallo, perdagangan internasional, dan kolonialisme. Santri yang berkunjung ke Balla Lompoa dan Somba Opu harus mampu memahami kebesaran kerajaan, kebudayaan, dan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.
Di sinilah studi wisata sejarah menemukan makna pendidikannya. Sejarah bukan masa lalu yang mati. Sejarah adalah percakapan antara masa lalu dan masa kini. Dan tugas santri bukan hanya mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi mengambil hikmah darinya untuk membangun masa depan.
Karena itu, ketika seorang santri berdiri di hadapan benteng tua, memasuki museum, melihat makam tokoh, menyusuri situs kerajaan, atau menatap lukisan tangan manusia purba di dinding gua, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan sebuah pesan besar: bahwa kehidupan hari ini dibangun oleh perjalanan panjang manusia sebelumnya. Maka, memahami sejarah berarti belajar menghargai masa lalu, membaca masa kini dengan lebih bijaksana, dan mempersiapkan masa depan dengan kesadaran identitas yang kuat. (*)
Tinggalkan Komentar