Related Post: Keutamaan dan Manfaat Puasa Ramadan bagi Kesehatan
IMMIMPANGKEP – This Hadith is about Travelling
Narrated `Aisha (Radi Allahu Anha), Hamza bin `Amr Al-Aslami asked the Prophet (peace be upon him), “Should I fast while traveling?” The Prophet (peace be upon him) replied, “You may fast if you wish, and you may not fast if you wish.”
(Reference : Sahih al-Bukhari 1943, In-book reference : Book 30, Hadith 50)
Fasting while travelling is a choice. If you are able to manage it and want to, then you will get the reward of it. If you are unable to and choose not to fast when travelling but make up the missed fasts later, you’ll get the rewards of your intentions Insha’Allah. The Duas of the traveller are one of those that are accepted and precious.
Terjemah:
Hadits adalah tentang Bepergian (Musafir)
Diriwayatkan oleh `Aisha (Radi Allahu Anha), Hamzah bin `Amr Al-Aslami bertanya kepada Nabi (saw),
"Haruskah saya berpuasa saat bepergian?" Nabi (saw) menjawab, "Kamu boleh berpuasa jika kamu mau,
dan kamu boleh tidak berpuasa jika kamu mau."
(Referensi: Kitab Sahih al-Bukhari 1943, Referensi dalam Kitab: Buku 30, Hadits 50)
Puasa sambil bepergian adalah sebuah pilihan. Jika Anda mampu mengelolanya dan mau, maka Anda akan
mendapatkan pahalanya. Jika Anda tidak mampu dan memilih untuk tidak berpuasa saat bepergian tetapi
mengqadha puasa yang terlewat di kemudian hari, Anda akan mendapatkan pahala dari niat Anda, Insya Allah.
Doa para musafir adalah salah satu doa yang diterima dan berharga.
(*)
Source: WA Group, Quotes of Dakwah.
Tinggalkan Komentar