Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Bertempat di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Hari ini, Kamis malam (24/7/2025), Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas oleh Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A., resmi diluncurkan untuk pertama kalinya. Apa itu Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)? KBC adalah sebuah konsep pendidikan transformatif yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan sebagai prinsip dasar kehidupan. Gagasan ini diluncurkan sebagai respons terhadap fenomena sosial berupa fanatisme dan kebencian yang masih sering muncul, khususnya yang bersumber dari pemahaman keagamaan yang sempit.
Peluncuran KBC ini merupakan langkah awal Kementerian Agama (Kemenag) RI dalam menyusun ulang orientasi pendidikan keagamaan di Indonesia. Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA menegaskan bahwa KBC bertujuan menanamkan nilai-nilai cinta, kebersamaan, toleransi, dan tanggung jawab ekologis sejak usia dini, dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Pada acara peluncuran tersebut, secara simbolis diserahkan buku panduan Kurikulum Cinta kepada sejumlah guru sebagai acuan dasar untuk mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang dalam proses belajar mengajar. Silakan lihat video ini: [LIVE] LAUNCHING | Kurikulum Berbasis Cinta.
Secara konseptual, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah kerangka pendidikan yang menekankan bahwa cinta harus menjadi roh utama (spirit) dalam seluruh sistem pendidikan, khususnya di lingkungan Kementerian Agama (madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagamaan). Tujuan utamanya adalah: (1) Mencetak Insan Humanis dan Toleran. Melahirkan generasi yang memiliki hati yang penuh kasih, bertanggung jawab sosial, dan mampu memandang perbedaan (pluralitas) sebagai kekayaan bangsa yang harus dirawat. (2) Menetralisir Fanatisme. Meluruskan pemahaman keagamaan yang cenderung formalistik-ritualistik semata, dan menggantinya dengan penekanan pada nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. (3) Menghilangkan Kebencian Dini: Memastikan bahwa pendidikan agama tidak menanamkan kebencian terhadap penganut agama lain atau kelompok yang berbeda sejak usia dini.
KBC berakar pada tiga dimensi cinta kasih yang mencakup hubungan secara holistik, yaitu:
1. Cinta kepada Tuhan (Hablun minallah): Menekankan kedekatan dan kesadaran spiritual yang mendalam, yang seharusnya bermuara pada implementasi cinta di dunia nyata.
2. Cinta kepada Sesama Manusia (Hablun minannas): Menanamkan rasa empati, solidaritas, dan penghargaan terhadap perbedaan (agama, suku, gender). Hal ini diwujudkan dengan prinsip “Jangan meng-oranglain-kan orang lain.”
3. Kepedulian terhadap Lingkungan (Hablun bi’ah): Mengajarkan bahwa mencintai dan menjaga kelestarian alam semesta adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi.
Bagaimana Implementasi KBC? Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukanlah sekadar penambahan mata pelajaran baru, melainkan sebuah pendekatan kultural dan pedagogis yang harus diintegrasikan dan dihadirkan dalam seluruh aspek pendidikan, yaitu:
1. Integrasi Materi. Nilai-nilai cinta dan toleransi diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, seperti:
2. Pembudayaan Sekolah. Implementasi KBC harus menjadi budaya di sekolah, madrasah, dan kampus, tidak terbatas pada ruang kelas:
3. Transformasi Pola Pikir. KBC berusaha mengubah pola pikir penguasa/penakluk (ego-dominan) menjadi pola pikir pengayom/perawat (berbasis kasih sayang) dalam menjalani kehidupan bersama di alam semesta, sesuai dengan konsep kekhalifahan manusia yang diemban.
Prof. Nasaruddin Umar meyakini bahwa dengan menjalankan ajaran agama secara mendalam yang berlandaskan cinta, diskriminasi, konflik horizontal, dan ujaran kebencian akan dapat dieliminasi. Berikut ini video yang mengulas/menggambarkan secara langsung dari Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, terkait gagasan Kurikulum Cinta yang dicanangkannya. Kurikulum Cinta ala Menteri Agama Nasaruddin Umar
Demikian catatan singkat ini terkait pencanangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), bagaimana dasar pemikiran dan bentuk implementasinya. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Makassar, 24 Juli 2025
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar