Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
15 Agustus 2026

Mengapa Seorang Alumni Pesantren Perlu Menulis di Blog?

Sab, 15 Agustus 2026 Dibaca 72x

– Menggugat Narasi, Meluruskan Persepsi, dan Mengabarkan Kebaikan Pesantren

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Ada satu kegelisahan yang semestinya tidak boleh dianggap sepele oleh para alumni pesantren: mengapa cerita tentang pesantren sering kali lebih banyak ditulis oleh orang yang tidak pernah hidup di dalam pesantren, sementara mereka yang pernah merasakan denyut kehidupannya justru lebih banyak diam?

Pertanyaan ini penting. Sebab pesantren bukan sekadar bangunan, bukan sekadar asrama, bukan sekadar sekolah, dan bukan pula sekadar tempat seseorang belajar agama. Pesantren adalah sebuah ekosistem pendidikan yang memiliki tradisi panjang dalam membentuk manusia: membangun iman, memperdalam ilmu, melatih adab, membiasakan disiplin, menempa kemandirian, menguatkan mental, membangun solidaritas, dan menyiapkan peserta didik menghadapi kehidupan.

Namun ketika terjadi satu persoalan di sebuah pesantren, berita tentangnya dapat dengan cepat memenuhi ruang publik. Judul-judul yang sensasional lebih mudah menarik perhatian. Kasus tertentu yang sebenarnya bersifat lokal dapat dibaca seolah-olah mewakili keseluruhan pesantren. Peristiwa yang semestinya dilihat dalam konteks pendidikan dan pembinaan dapat dipotret hanya dari satu sisi.

Di sinilah alumni pesantren memiliki tanggung jawab moral. Jangan biarkan pengalaman panjang pesantren hanya tersimpan dalam ingatan alumni. Ayo Tuliskan. Ceritakan. Bagikan. Bukan untuk menutupi kesalahan. Bukan untuk membela setiap persoalan secara membabi buta. Bukan pula untuk mengatakan bahwa pesantren tidak pernah memiliki kekurangan. Tetapi untuk menghadirkan narasi yang lebih utuh, adil, kontekstual, dan berimbang.

Sebab jika mereka yang pernah mengalami kehidupan pesantren memilih diam, maka ruang publik akan diisi oleh narasi dari mereka yang mungkin hanya melihat pesantren dari satu peristiwa, satu berita, satu sudut pandang, atau bahkan satu prasangka.

Ketika Satu Peristiwa Dipakai untuk Menilai Sebuah Dunia Pendidikan

Kita perlu berhati-hati dalam membaca pemberitaan tentang pendidikan pesantren. Setiap lembaga pendidikan, termasuk pesantren, tentu tidak steril dari persoalan. Ada pesantren yang mungkin menghadapi persoalan pengelolaan, kedisiplinan, relasi antara pendidik dan peserta didik, fasilitas, manajemen, bahkan kasus-kasus serius yang memang harus diselesaikan secara hukum dan kelembagaan.

Jika ada pelanggaran, jangan ditutup-tutupi. Jika ada korban, jangan diabaikan. Jika ada kesalahan, harus ada evaluasi. Jika ada kejahatan, harus ada pertanggungjawaban. Tetapi satu hal yang juga harus dijaga adalah keadilan dalam membangun kesimpulan. Satu kasus tidak semestinya otomatis menjadi kesimpulan tentang seluruh pesantren.  Satu oknum tidak sama dengan seluruh komunitas. Satu lembaga tidak dapat dijadikan ukuran bagi ribuan pesantren lainnya.

Satu peristiwa tidak cukup untuk menggambarkan kehidupan jutaan santri yang setiap hari belajar, beribadah, menghafal Al-Qur’an, membaca kitab, mengikuti pembelajaran, berorganisasi, berlatih mandiri, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Inilah konteks yang sering hilang dalam pemberitaan yang hanya mengejar peristiwa. Dan alumni pesantren memiliki kemampuan untuk menghadirkan konteks itu.

Alumni adalah Saksi yang Pernah Mengalami

Seorang alumni pesantren memiliki posisi yang unik. Ia bukan sekadar pengamat. Ia pernah menjadi bagian dari sistem itu. Ia pernah bangun sebelum fajar. Ia pernah berjalan menuju masjid dalam suasana pagi yang sunyi. Ia pernah duduk di hadapan kiai dan ustaz. Ia pernah mengikuti pengajian. Ia pernah menghafal ayat. Ia pernah membaca kitab.

Seorang alumni pesantren pernah mendapatkan teguran. Ia pernah hidup bersama teman dari berbagai latar belakang. Ia pernah belajar mengatur waktu. Ia pernah mengalami rindu kepada orang tua. Ia pernah belajar mandiri. Ia pernah merasakan bagaimana kehidupan pesantren membentuk kebiasaan yang pada awalnya mungkin terasa berat, tetapi kemudian menjadi bagian dari karakter.

Karena itu, pengalaman alumni memiliki nilai yang tidak dimiliki oleh orang yang hanya membaca berita tentang pesantren. Alumni adalah saksi hidup. Kesaksiannya bukan berarti selalu benar dan tidak boleh dikritik. Tetapi pengalaman langsung tersebut penting untuk memperkaya pemahaman masyarakat.

Jika media mainstream berbicara tentang pesantren melalui berita peristiwa, alumni dapat berbicara tentang pesantren melalui pengalaman pendidikan. Keduanya seharusnya tidak dipertentangkan. Berita tentang persoalan harus tetap ada. Tetapi cerita tentang keberhasilan, pembinaan, pengabdian, perjuangan, dan transformasi kehidupan santri juga harus hadir.

Pesantren Tidak Hanya Membentuk Orang Pandai, tetapi Manusia Berintegritas

Salah satu kekuatan pesantren yang sering tidak terlihat dalam pemberitaan adalah proses pembentukan manusia secara menyeluruh. Sekolah formal pada umumnya memiliki struktur pembelajaran yang jelas. Ada jadwal, mata pelajaran, guru, ujian, dan target akademik. Pesantren memiliki itu semua, tetapi ditambah dengan dimensi kehidupan selama dua puluh empat jam.

Santri tidak hanya belajar ketika duduk di kelas. Ia belajar ketika berada di masjid. Ia belajar ketika makan bersama. Ia belajar ketika membersihkan kamar. Ia belajar ketika berinteraksi dengan teman. Ia belajar ketika mengikuti kegiatan organisasi. Ia belajar ketika mendapatkan tugas.

Seorang santri dituntut untuk belajar ketika menghadapi aturan. Ia belajar ketika menerima teguran. Ia belajar ketika harus menyelesaikan masalah tanpa selalu bergantung kepada orang tua. Dengan kata lain, pesantren menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari proses pendidikan. Inilah yang perlu diceritakan oleh alumni.

Dahsyatnya Pembinaan Keimanan

Banyak alumni pesantren mungkin baru menyadari nilai pendidikan keimanan setelah mereka keluar dari pesantren. Dahulu salat berjamaah mungkin terasa seperti rutinitas. Mengaji mungkin terasa sebagai kewajiban. Membaca Al-Qur’an mungkin merupakan bagian dari jadwal harian. Kajian keislaman mungkin terasa seperti kegiatan biasa.

Tetapi setelah berada di luar pesantren, alumni mulai memahami bahwa kebiasaan tersebut ternyata telah menjadi fondasi kehidupan. Pesantren berusaha membangun kesadaran bahwa agama bukan hanya pengetahuan yang dihafalkan, tetapi nilai yang harus dihidupkan.

Keimanan tidak hanya dibicarakan. Ia dilatih. Ia dibiasakan. Ia dipraktikkan. Dan proses seperti itu berlangsung terus-menerus. Alumni harus menceritakan hal tersebut. Sebab masyarakat perlu mengetahui bahwa pendidikan pesantren bukan hanya menghasilkan orang yang mengetahui hukum agama, tetapi berusaha membentuk pribadi yang memiliki kesadaran spiritual dalam menjalani kehidupan.

Dahsyatnya Pembinaan Keilmuan

Pesantren juga memiliki tradisi keilmuan yang panjang. Alumni pesantren tentu memiliki pengalaman tentang bagaimana membaca Al-Qur’an, mempelajari hadis, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, bahasa Arab, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Di banyak pesantren, santri juga bersentuhan dengan matematika, sains, teknologi, bahasa asing, literasi, organisasi, kewirausahaan, dan berbagai keterampilan modern. Karena itu, anggapan bahwa pesantren hanya mengajarkan ilmu agama merupakan gambaran yang terlalu sederhana.

Alumni perlu menunjukkan perkembangan tersebut melalui tulisan. Tuliskan bagaimana pesantren membentuk budaya membaca. Tuliskan bagaimana seorang santri dilatih berbicara di depan umum. Tuliskan bagaimana organisasi santri menjadi laboratorium kepemimpinan.

Tuliskan bagaimana kajian kitab membentuk tradisi berpikir. Tuliskan bagaimana bahasa Arab dan bahasa asing menjadi pintu menuju sumber-sumber pengetahuan. Tuliskan bagaimana santri belajar memadukan ilmu agama dengan ilmu umum. Dengan begitu, masyarakat akan melihat pesantren secara lebih lengkap.

Pembinaan Mental dan Spiritual yang Sering Tidak Terlihat Kamera

Media mudah memotret sebuah bangunan. Mudah memotret kegiatan. Mudah merekam peristiwa. Tetapi kamera tidak selalu mampu menangkap proses pembentukan karakter yang berlangsung setiap hari. Bagaimana seorang anak yang awalnya selalu bergantung kepada orang tua perlahan menjadi mandiri? Bagaimana seorang anak yang pemalu perlahan berani berbicara di depan umum?

Tentang Bagaimana seorang anak yang sulit mengatur waktu menjadi disiplin? Bagaimana seorang anak belajar hidup dengan teman yang berbeda karakter? Bagaimana seorang santri belajar menerima kegagalan? Bagaimana ia belajar bangkit setelah mendapat teguran? Bagaimana ia belajar bertanggung jawab terhadap amanah?

Semua itu adalah proses pendidikan. Dan proses semacam itu sering kali tidak menjadi berita. Padahal justru di sanalah salah satu kekuatan pendidikan pesantren. Alumni dapat menjadi narator bagi proses yang tidak selalu terlihat tersebut.

Jangan Hanya Menulis Ketika Pesantren Sedang Dipuji 

Namun ada hal yang perlu ditegaskan. Menulis tentang pesantren bukan berarti alumni harus selalu menulis pujian. Justru tulisan alumni akan menjadi lebih bernilai jika memiliki kejujuran. Jika ada kekurangan, tuliskan dengan santun. Jika ada persoalan, bahas dengan argumentasi. Jika ada kebijakan yang perlu diperbaiki, berikan kritik yang konstruktif.

Jika ada pengalaman buruk, ceritakan sebagai pelajaran—dengan tetap menghormati privasi dan hak semua pihak. Sebab membela pesantren tidak sama dengan membenarkan semua hal yang terjadi di pesantren. Cinta terhadap almamater tidak boleh mematikan nalar kritis.

Sebaliknya, kritik yang lahir dari kecintaan dapat menjadi bentuk pengabdian. Alumni yang menulis dengan jujur justru membantu pesantren berbenah sekaligus membantu masyarakat memahami bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan manusiawi yang juga terus belajar dan berkembang.

Blog adalah Ruang untuk Meluruskan Narasi

Mengapa harus blog atau website? Karena blog memberi ruang yang lebih luas daripada media sosial yang bergerak sangat cepat. Di media sosial, sebuah peristiwa sering diringkas menjadi beberapa kalimat. Konteks hilang. Latar belakang hilang. Sejarah hilang. Refleksi hilang. Blog memungkinkan alumni menjelaskan sesuatu secara lebih panjang.

Dengan Media Blog, satu kasus dapat dibahas dari berbagai sudut. Satu tradisi dapat dijelaskan sejarahnya. Satu metode pendidikan dapat diceritakan prosesnya. Satu pengalaman santri dapat direfleksikan maknanya. Satu keberhasilan alumni dapat ditelusuri hubungannya dengan pendidikan pesantren.

Blog memungkinkan alumni berkata, “Tunggu sebentar. Mari kita lihat persoalan ini secara lebih utuh.” Inilah pentingnya literasi digital di kalangan alumni pesantren.

Jangan Biarkan Algoritma Menjadi Sejarawan Pesantren

Ada bahaya lain yang harus disadari. Di zaman mesin pencari dan algoritma, apa yang paling sering muncul dapat dianggap sebagai gambaran paling benar. Jika internet lebih banyak dipenuhi berita negatif tentang pesantren, maka orang yang tidak pernah berinteraksi dengan pesantren dapat membangun persepsi bahwa pesantren identik dengan persoalan tersebut.

Padahal realitasnya jauh lebih kompleks. Jutaan santri menjalani kehidupan normal. Ribuan guru mengajar dengan penuh pengabdian. Banyak kiai membimbing umat tanpa sorotan kamera. Banyak pesantren mendidik anak-anak dari keluarga sederhana.

Banyak alumni pesantren menjadi guru, dokter, akademisi, pengusaha, birokrat, teknolog, profesional, ulama, dan pemimpin masyarakat. Namun keberhasilan itu sering kali tidak menjadi berita besar. Karena itu, alumni harus hadir mengisi ruang digital.

Jangan biarkan algoritma menjadi satu-satunya “sejarawan” yang menentukan bagaimana masyarakat mengenal pesantren. Alumni harus menulis sejarahnya sendiri melalui kesaksian, pengalaman, refleksi, dan dokumentasi yang bertanggung jawab.

Alumni Harus Menjadi Duta Literasi Pesantren

Setiap alumni sesungguhnya adalah duta pesantrennya. Tidak harus memakai seragam. Tidak harus membawa spanduk. Tidak harus berbicara di panggung. Kadang-kadang cukup dengan sebuah tulisan. Tulisan tentang guru yang menginspirasinya.

Seorang Alumni pesantren tentu memiliki banyak bahan untuk menulis, dikarenakan kenangan dan pengalamannya selama mondok. Mulailah menulis tentang kehidupan asrama, misalnya atau Tulisan tentang tradisi keilmuan. Tulisan tentang pengalaman menghafal Al-Qur’an. Tulisan tentang bagaimana pesantren membentuk kedisiplinan. Tulisan tentang sahabat seperjuangan. Tulisan tentang pengalaman menjadi santri.  Tulisan tentang perubahan diri setelah menjadi alumni.

Semua itu adalah cara memperkenalkan pesantren kepada masyarakat. Dan semakin banyak alumni menulis, semakin kaya pula gambaran tentang dunia pesantren. Tidak hanya satu pesantren. Tidak hanya satu tradisi. Tidak hanya satu perspektif. Tetapi berbagai pengalaman dari berbagai daerah dan generasi.

Menulis adalah Bentuk Pembelaan yang Berkelas

Ada banyak cara membela pesantren. Berteriak di media sosial adalah salah satunya. Membalas komentar negatif adalah salah satunya. Tetapi ada cara yang lebih kuat: menulis dengan data, pengalaman, argumentasi, dan kesaksian. Ketika ada anggapan bahwa pesantren tidak menghasilkan orang berprestasi, alumni dapat menunjukkan kisah para alumninya.

Menulislah dengan elegan ketika ada anggapan bahwa pesantren anti-sains, alumni dapat menunjukkan kiprah alumni pesantren di bidang kedokteran, teknologi, penelitian, dan berbagai bidang profesional. Ketika ada anggapan bahwa pesantren hanya mengajarkan hafalan, alumni dapat menjelaskan tradisi berpikir dan kajian keilmuan yang mereka alami.

Menulislah dengan kritis letika ada anggapan bahwa pesantren hanya membentuk anak menjadi patuh, alumni dapat menceritakan bagaimana organisasi santri melatih kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, tulisan alumni bukan propaganda. Tulisan alumni adalah kesaksian yang memperluas perspektif.

Alumni Harus Menulis Sebelum Semuanya Terlambat

Ada pengalaman yang semakin lama semakin sulit diingat. Guru-guru yang dahulu mengajar mungkin telah wafat. Kiai yang dahulu membimbing mungkin telah sepuh. Bangunan pesantren mungkin telah berubah. Tradisi tertentu mungkin telah hilang. Teman-teman telah tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Karena itu, alumni perlu menulis sekarang. Tuliskan kenangan. Dokumentasikan tradisi. Catat kisah guru. Ceritakan metode pendidikan. Rekam pengalaman generasi. Simpan foto dengan konteks yang jelas. Tuliskan Nama-nama orang yang berjasa. Sebab suatu hari nanti, tulisan-tulisan tersebut mungkin bukan hanya berguna bagi alumni, tetapi juga bagi sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Pesantren Perlu Memiliki Banyak Suara

Pesantren tidak membutuhkan satu narasi tunggal. Pesantren membutuhkan banyak suara.

Suara kiai. Suara ustaz. Suara guru.

Suara santri. Suara santriwati.

Suara orang tua. Dan tentu saja, suara alumni.

Alumni adalah generasi yang pernah merasakan sistem pendidikan pesantren, kemudian keluar dan berhadapan langsung dengan dunia yang lebih luas. Mereka dapat menjadi jembatan antara pesantren dan masyarakat. Mereka dapat menjelaskan apa yang sering tidak terlihat dari luar.

Para Alumni dapat mengkritik apa yang perlu diperbaiki. Mereka dapat membagikan apa yang patut diteladani. Mereka dapat memperkenalkan khazanah keilmuan pesantren. Dan mereka dapat menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional, melainkan salah satu kekuatan penting dalam membentuk manusia Indonesia.

Pada Akhirnya, Menulis adalah Bentuk Terima Kasih 

Bagi sebagian alumni, pesantren mungkin pernah terasa berat. Ada masa ketika aturan terasa membatasi. Ada masa ketika jadwal terasa melelahkan. Ada masa ketika rindu kepada orang tua terasa begitu kuat. Ada masa ketika teguran guru terasa menyakitkan.

Namun setelah bertahun-tahun meninggalkan pesantren, banyak alumni baru menyadari bahwa sebagian dari kekuatan mereka hari ini justru lahir dari proses tersebut. Kedisiplinan yang dahulu terasa berat menjadi kebiasaan. Kemandirian yang dahulu dipaksakan menjadi kekuatan.

Ilmu yang dahulu dipelajari karena kewajiban menjadi bekal kehidupan. Nasihat guru yang dahulu terasa biasa menjadi pegangan ketika menghadapi persoalan. Dan lingkungan pesantren yang dahulu dianggap sederhana ternyata telah memberikan fondasi yang luar biasa.

Maka menulis tentang pesantren dapat menjadi salah satu bentuk terima kasih. Bukan untuk mengidealkan pesantren secara berlebihan. Bukan untuk menutup mata terhadap kekurangan. Tetapi untuk mengatakan kepada dunia, “Saya pernah dididik di sana. Saya tahu bahwa pesantren tidak sempurna. Tetapi saya juga tahu bahwa di sana ada begitu banyak kebaikan yang tidak selalu terlihat.”

Dan kebaikan itu perlu diceritakan. Sebab jika alumni pesantren memilih diam, orang lain akan menceritakan pesantren menurut perspektif mereka. Jika alumni tidak menulis, ruang digital akan terus dipenuhi oleh narasi yang mungkin tidak selalu utuh. Jika alumni tidak berbagi pengalaman, generasi berikutnya mungkin hanya mengenal pesantren dari potongan-potongan berita.

Karena itu, wahai alumni pesantren, menulislah. Tuliskan pengalamanmu.

Tuliskan ilmu yang engkau peroleh. Tuliskan guru-gurumu.

Tuliskan tradisi pesantrenmu. Tuliskan perjuanganmu.

Tuliskan perubahan yang terjadi dalam dirimu. Tuliskan prestasi teman-temanmu.

Tuliskan kisah-kisah sederhana yang mungkin tidak pernah masuk berita, tetapi sesungguhnya mengandung nilai pendidikan yang besar. Dan jika ada persoalan, tuliskan pula secara jujur, proporsional, berimbang, dan bertanggung jawab.

Jangan biarkan pesantren hanya menjadi objek pemberitaan. Jadikan alumni sebagai subjek yang ikut menceritakan pesantren. Karena pesantren bukan hanya apa yang diberitakan tentangnya.

Pesantren adalah apa yang dialami, dipelajari, dihayati, dan diwariskan oleh orang-orang yang pernah hidup di dalamnya. Dan alumni adalah salah satu pewaris kesaksian itu.

Maka sebuah blog alumni bukan sekadar kumpulan artikel. Ia dapat menjadi arsip pengalaman, ruang dialog, perpustakaan kecil, jembatan komunikasi, sekaligus kesaksian sejarah tentang bagaimana pesantren membentuk manusia.

Barangkali tulisan pertama hanya dibaca beberapa orang. Tidak mengapa. Tulislah lagi. Tulisan kedua mungkin dibaca lebih banyak.

Tulisan ketiga mungkin ditemukan oleh seorang santri yang sedang mencari inspirasi. Tulisan kesepuluh mungkin dibaca seorang peneliti.

Tulisan keseratus mungkin menjadi rujukan seseorang yang ingin memahami pesantren. Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah tulisan akan pergi.

Tetapi kita tahu satu hal: ketika alumni menulis, pesantren mendapatkan kesempatan untuk berbicara melalui pengalaman orang-orang yang pernah dibentuknya.

Dan di tengah derasnya arus informasi yang sering bergerak cepat, pendek, emosional, dan kehilangan konteks, suara alumni yang tenang, jujur, kritis, reflektif, dan berbasis pengalaman menjadi semakin penting.

Sebab kadang-kadang yang dibutuhkan masyarakat bukan berita yang lebih keras, melainkan cerita yang lebih utuh. Dan siapa yang paling layak ikut menghadirkan cerita itu? Salah satunya adalah kami, pengasuh media pesantren dan sangat mungkin adalah kalian—para alumni pesantren. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077