Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Puisi: Palontaraq di Jalan Ilmu
IMMIMPANGKEP – Menuntut ilmu merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Islam yang tidak dibatasi oleh usia, jabatan, maupun capaian tertentu. Islam memandang ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus fondasi pembentukan peradaban. Ya, banyak sekali hadits yang secara tegas menyatakan bahwa menuntut ilmu adalah jalan menuju surga-NYA, bahwa belajar sepanjang hayat bukan sekadar anjuran moral, melainkan keyakinan teologis bahwa jalan ilmu adalah jalan paling membahagiakan menuju ridha dan surga Allah Swt.
Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah perintah membaca (iqra’), yang menandai bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Berbeda dengan pandangan pragmatis yang memandang belajar sebatas kebutuhan usia sekolah atau syarat administratif jabatan, Islam memandang menuntut ilmu sebagai proses seumur hidup yang bernilai ibadah.
Fenomena modern menunjukkan bahwa banyak orang berhenti belajar ketika usia bertambah atau ketika jabatan telah diraih. Padahal, dalam perspektif Islam, berhentinya proses belajar justru menjadi awal stagnasi intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, penting untuk menegaskan kembali ajaran Islam bahwa menuntut ilmu tidak mengenal batas usia, status sosial, maupun titik akhir tertentu.
Konsep Menuntut Ilmu dalam Islam
Menuntut ilmu dalam Islam mencakup ilmu agama (‘ulum ad-din) maupun ilmu dunia (‘ulum ad-dunya) selama membawa kemaslahatan. Ilmu tidak hanya berfungsi sebagai alat mencapai keberhasilan duniawi, tetapi juga sebagai sarana penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)
Hadits ini menegaskan hubungan langsung antara aktivitas menuntut ilmu dan jalan menuju surga. Jalan ilmu bukan sekadar metafora intelektual, tetapi merupakan jalan spiritual yang diberkahi dan dimudahkan oleh Allah Swt.
Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Usia dan Jabatan
Islam tidak pernah membatasi aktivitas menuntut ilmu pada usia tertentu. Prinsip ini tercermin dalam ungkapan yang sangat populer di kalangan ulama, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.”
Meskipun ungkapan ini diperselisihkan status haditsnya, substansinya sejalan dengan spirit ajaran Islam dan praktik para sahabat serta ulama klasik yang belajar hingga akhir hayatnya. Nabi Muhammad Saw. juga bersabda, “Tidaklah seseorang menuntut ilmu melainkan Allah akan meninggikan derajatnya dengannya.” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya menaikkan derajat sosial, tetapi juga derajat spiritual di sisi Allah Swt. Oleh karena itu, usia lanjut, kedudukan tinggi, atau gelar akademik tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Ilmu sebagai Jalan Kebahagiaan dan Keselamatan
Dalam Islam, kebahagiaan sejati (sa‘adah) tidak diukur dari harta atau kekuasaan, tetapi dari kedekatan kepada Allah Swt. Menuntut ilmu menjadi jalan menuju kebahagiaan tersebut karena ilmu melahirkan pemahaman, ketenangan batin, dan keikhlasan dalam beramal. Rasulullah Saw. bersabda, “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2685)
Hadits ini menegaskan bahwa ibadah tanpa ilmu dapat kehilangan arah, sedangkan ilmu menuntun ibadah agar bermakna dan bernilai tinggi. Dengan demikian, menuntut ilmu adalah jalan yang membahagiakan karena ia menyatukan akal, iman, dan amal.
Implikasi terhadap Pendidikan Sepanjang Hayat
Konsep menuntut ilmu sebagai jalan menuju surga memiliki implikasi besar terhadap sistem pendidikan Islam. Pendidikan tidak boleh berhenti pada institusi formal, melainkan harus menjadi budaya hidup. Pesantren, majelis taklim, kajian kitab, diskusi ilmiah, dan aktivitas menulis merupakan wujud nyata pendidikan sepanjang hayat. Ulama seperti Imam al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan manusia kepada Allah dan memperbaiki akhlaknya. Dengan demikian, orientasi belajar dalam Islam tidak hanya kognitif, tetapi juga spiritual dan etis.
Kesimpulan
Menuntut ilmu dalam Islam adalah kewajiban sekaligus jalan menuju surga. Ia tidak mengenal batas usia, jabatan, atau titik akhir, karena selama manusia hidup, selama itu pula ia membutuhkan ilmu. Hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. menegaskan bahwa jalan ilmu adalah jalan yang dimudahkan menuju surga dan merupakan sumber kebahagiaan sejati. Oleh karena itu, menuntut ilmu harus dipahami sebagai ibadah seumur hidup dan fondasi utama dalam membangun peradaban Islam yang beradab dan berkemajuan.
Daftar Bacaan:
Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah.
al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
An-Nawawi. Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
at-Tirmidzi. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi. Jakarta: Logos.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar al-Fikr.
Minasatene-Pangkep, 25 Januari 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar