Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama
BLOGGURU – Perjuangan dalam belajar dan menuntut ilmu itu banyak tantangannya. Bagi yang sedang futur, rendah diri, bingung dalam menuntut ilmu, gundah gulana dan selalu bertanya didalam hati “Kok saya bodoh banget ya, banyak banget ilmu yang belum saya ketahui. Kok saya telah muraja’ah berkali-kali tapi belum hafal-hafal juga ya?”. Ingatlah, bahwa setiap manusia itu tidak mungkin lahir dari background yang sama seluruhnya, maka tetaplah berproses. Jangan patah semangat!
Thalib itu artinya orang yang mencari, mengejar, memburu dan berjuang. Thalibul ilmi berarti pencari atau penuntut ilmu. Nah, kalau sudah disuguhkan didepan mata tapi tidak tergiur untuk mengambil, terus kita siapa? Nah, karena itu, jangan malas belajar dan mencatat ilmu yang disampaikan oleh para guru. Tidak ada seorangpun yang dilahirkan dipermukaan bumi ini langsung berilmu, maka jangan pernah bosan dan malu untuk belajar. Orang diluar sana, baik arab atau non arab semuanya melalui proses belajar dulu.
Jangan pernah menganggap diri sudah berumur, tak lagi muda seperti yang lain, lantas itu membuat semangat belajar kita menjadi kendor. fokuslah belajar dan berguru. Kuasai satu bidang ilmu, secara bertahap dan istiqamah, baru kemudian pindah belajar bidang ilmu lainnya. Fokus juga pada satu guru untuk bidang ilmu tertentu, baru setelah tamat baru pindah ke guru lainnya. Orang yang suka berpindah dari satu guru ke guru lain (tanpa menyelesaikan), maka orang ini tidak akan mendapatkan ilmu secara utuh (sampai kapanpun), melainkan ia hanya mendapatkan redaksi ilmu (gambaran ilmu secara sekilas).
Tidak semua bidang ilmu mesti dipelajari, tapi semua pokok-pokok ilmu menjadi sangat baik jika dapat dipelajari dan dipahami dengan baik. Untuk menjadi paham khazanah keilmuan Islam yang sangat banyak pokok dan cabang-cabangnya, maka dasar dari semuanya itu sangat baik jika dapat dipelajari dan dipahami dengan baik, yaitu Nahwu-Shorof. Sangat penting bagi kita belajar Islam dengan ikut paham kaidah-kaidah Bahasa Arab, yang tentu juga merupakan Bahasa Al-Qur’an dan Hadits.
Ingatlah selalu bahwa menuntut ilmu itu bukan hanya mengejar pemahaman, tapi juga mengejar keberkahan. Apa gunanya ilmu yang dipelajari tidak berberkah. Ilmu yang berberkah itu ialah ilmu yang mudah diamalkan, ilmu yang membuat kita tenang dan aman, ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah dan Rasul-NYA, ilmu yang mendekatkan kita dengan manusia lainnya dengan adab, ilmu yang membuat etika dan moral kita terjaga, ilmu yang memberikan penghormatan dan kehormatan kepada para guru dan ulama.
Buruknya adab murid itu mempengaruhi seberapa berkah ilmu yang ia dapat. Terkadang sebagian para penuntut ilmu itu dikisahkan cenderung malas dan berat hati menghadiri majelis ilmu, hanya karena ada satu atau beberapa orang yang tidak disenanginya itu ikut hadir dalam majelis/dauroh. Begitu pula halnya dengan guru atau ustadz, akan senantiasa diuji seberapa ikhlas dan tulus dalam menyampaikan ilmu di majelisnya.
Ingatlah selalu perkataan ulama bahwa Bagi mereka yang menginginkan ketenangan, cukuplah Allah baginya. Barangsiapa yang mengingingkan teman duduk, Al-Qur’an sudah cukup baginya. Barangsiapa yang ingin kaya, senantiasa merasa cukup itu sudah cukup baginya. Bagi yang menginginkan pengingat, maka kematian cukup menjadi pengingat baginya. Barangsiapa yang merasa tidak cukup dengan ini dan itu, maka nerakalah yang membuatnya merasa cukup.
Lihat pula: Cara Mudah dan Cepat Bisa Membaca Kitab Kuning
Ketika kita ingin belajar Al-Qur’an terkadang kita sibuk mencari-cari guru yang istimewa, namun lupa bertanya didalam hati siapa guru yang siap mengajari, menyelesaikan dan berlama-lama hingga selesai 30 juz. Belajar itu taufik dari Allah, jika sudah dimudahkan tinggal disyukuri.
Artinya:
“Niscaya Allah SWT akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Qs. Al-Mujadilah: 11)
Dalam suatu riwayat dari Mu’awiyah Radhiyallahu anhu disebutkan, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:
“Barang siapa dikehendaki Allah SWT dengan kebaikan (dunia dan akhirat) maka Allah akan memahamkannya dalam (urusan) agama”. (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 2948 dan Muslim, no. 1037).
Semoga sedikit nasehat ini, selalu mengingatkan diri penulis sendiri untuk selalu semangat belajar dan menuntut ilmu. Jika nasehat ini dapat menyentuh orang lain, maka itu semata-mata hidayah dari Allah. Penulis sendiri merasa bodoh dan terlalu banyak aib dalam pelajaran, begitu pula dalam pergaulan kehidupan. Ibnu Athaillah (Kitab al-Hikam) mengatakan bahwa Bukti kebodohan seseorang adalah selalu menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang dilihat dan menyebut semua yang diketahui. Semoga kita semua selalu mawas diri dan Allah-lah sebaik-baik nama yang disebut saat salah, khilaf dan dosa.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Ditakdirkan jadi Guru, meski merasa diri masih Santri.
Tinggalkan Komentar