Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Pelarangan atau pembatasan ketat penggunaan Handphone (HP)/Smarphone pada anak dan remaja bukan sekadar masalah “takut kecanduan game,” tetapi memiliki alasan fundamental yang berkaitan dengan aspek saraf, psikologis dan sosiologis. “Mengapa kami selalu dibatasi pakai HP?” begitu biasa ungkapan yang seringkali terlontar dari mulut anak-anak dan remaja kita saat dibatasi menggunakan HP, baik oleh orangtua maupun gurunya?
Secara biologis, otak pada usia remaja sedang mengalami masa perombakan besar-besaran (terutama di bagian Prefrontal Cortex). Bagian otak ini bertanggung jawab atas pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan penilaian risiko. Karena bagian ini belum matang, remaja sangat sulit menolak dorongan impulsif untuk terus browsing dan scrolling jika dibiarkan terus menggunakan HP. Secara tidak langsung, HP memberikan “hadiah” instan (like, kemenangan game, video lucu). Jika otak remaja terbiasa dengan dosis dopamin tinggi setiap saat, mereka akan kehilangan minat pada aktivitas nyata yang membutuhkan usaha keras (seperti belajar atau membaca), karena dianggap tidak memberikan kepuasan instan.
Penggunaan HP juga bersinggungan dengan Mental dan Emosional. HP adalah pintu masuk ke dunia dewasa yang seringkali belum mampu difilter oleh mental anak-anak dan remaja. Media sosial adalah ladang perbandingan sosial. Remaja yang belum stabil mentalnya sangat rentan terkena depresi dan kecemasan karena merasa hidupnya tidak “sesempurna” orang lain di internet. Belum lagi berpotensi terpapar Konten Berbahaya. Tanpa pengawasan, anak-anak dan remaja kita sangat mudah terpapar pornografi, judi online, hingga paham radikalisme yang dapat merusak pola pikir mereka secara permanen.
Penggunaan HP juga berkaitan dengan erat reduksi pembentukan Karakter dan penurunan Fokus. Kehadiran HP di dekat seseorang menurunkan kapasitas kognitifnya meskipun HP itu dalam keadaan mati. Remaja butuh kemampuan Deep Work (fokus mendalam) untuk menguasai ilmu pengetahuan. HP adalah interupsi abadi yang membuat pikiran selalu dangkal dan berpotensi pula anak-anak dan remaja kita kehilangan Kemampuan Bersosialisasi. Bukankah Interaksi tatap muka mengajarkan membaca ekspresi wajah, nada suara, dan empati? Nah, Anak-anak dan Remaja yang terlalu banyak di HP seringkali canggung dalam komunikasi nyata dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar.
Khusus di lingkungan pendidikan atau pesantren, urgensinya lebih mendalam. Mengapa santri dilarang untuk ‘bermain’ HP? Pertama, untuk Menjaga Keikhlasan Hati. Keinginan untuk selalu pamer (riya) melalui status atau konten dapat merusak keikhlasan dalam belajar. Kedua, Penghormatan pada Waktu. Dalam dunia pendidikan, waktu dianggap sakral. HP seringkali mencuri “waktu emas” yang seharusnya digunakan untuk merenung, menghafal, dan berdiskusi dengan guru. Mengapa Dilarang? Pelarangan HP pada usia muda sebenarnya adalah bentuk investasi masa depan. Tujuannya adalah untuk memastikan Otak berkembang secara alami tanpa distorsi teknologi, Anak-anak memiliki ketangguhan mental untuk menghadapi realitas, bukan sekadar lari ke dunia maya, serta Mempertahankan kemampuan fokus manusiawi yang kini semakin langka.
***
Di era digital, HP atau smartphone telah menjadi perpanjangan tangan manusia. Namun, bagi anak-anak dan remaja, termasuk yang berstatus santri sekalipun, yang sedang dalam masa pertumbuhan intelektual dan spiritual, penggunaan HP/smarphone yang tidak terkontrol ibarat racun yang terbungkus madu. Penggunaan yang berlebihan dan tidak pada tempatnya bukan sekadar masalah kedisiplinan, melainkan ancaman serius bagi perkembangan akal dan kesehatan mental.
Pertama, Dampak pada Perkembangan Akal (Intelektual). Akal memerlukan proses untuk berkembang. HP/Smartphone, dengan segala kemudahannya, sering kali memangkas proses berpikir tersebut menjadi: (1) Tumpulnya Daya Nalar (Short-circuit Thinking). Informasi instan dari internet membuat anak malas melakukan riset mendalam atau berpikir kritis. Mereka terbiasa mendapatkan jawaban tanpa memahami prosesnya. (2) Penurunan Daya Konsentrasi. Scroll video pendek yang terus-menerus melatih otak untuk hanya fokus dalam durasi singkat (15-30 detik). Akibatnya, saat harus membaca kitab atau buku teks yang berat, otak menjadi cepat lelah dan kehilangan fokus. (3) Melemahnya Daya Ingat. Dalam tradisi pesantren, kekuatan hafalan adalah kunci. Ketergantungan pada mesin pencari membuat saraf memori jarang dilatih, sehingga kemampuan menghafal ayat, matan, atau kosa kata menjadi menurun.
Kedua, Ancaman bagi Kesehatan Mental. Mental yang sehat dibangun melalui interaksi nyata dan ketenangan batin, hal yang sering kali dirusak oleh paparan layar HP/Smarphone. Notifikasi dan konten hiburan memicu ledakan dopamin (adiksi) secara instan. Jika ini menjadi kecanduan, Anak dan remaja kita akan mudah cemas, marah, dan bosan luar biasa saat tidak memegang ponsel. Dampaknya adalah Kerapuhan Emosional. Ya, karena Media sosial sering kali menampilkan standar hidup semu. Anak atau santri yang belum matang secara mental rentan mengalami rasa rendah diri (insecurity) karena membandingkan dirinya dengan dunia maya. Selain itu, Penggunaan ponsel di tempat yang tidak semestinya (saat makan, saat berkumpul, atau saat pengajian) mematikan empati dan kepekaan sosial. Anak menjadi pribadi yang “antisosial secara fisik namun hiperaktif secara digital.”
Ketiga, Tinjauan Khusus bagi Santri: Kehilangan Berkah dan Adab. Bagi seorang santri, HP/smartphone yang tidak pada tempatnya bisa menjadi penghalang utama meraih ilmu yang manfaat. Bukankah Belajar di Pondok Pesantren membutuhkan kehadiran hati (hudhurul qalb). Adanya ponsel (HP)/Smarphone berpotensi memecah konsentrasi dari Allah dan guru. Belum lagi, Menggunakan ponsel secara diam-diam (melanggar aturan pondok) adalah bentuk ketidakjujuran. Dalam kitab Ta’lim Muta’allim, keberkahan ilmu sangat bergantung pada kejujuran dan ketaatan kepada guru. Ilmu yang didapat dengan cara melanggar aturan akan sulit membawa kemanfaatan. Terakhir, tentu Waktu yang Sia-sia (Idho’atul Waqti). Santri memiliki jadwal yang sakral dari subuh hingga malam. Satu jam yang terbuang untuk media sosial adalah satu jam yang hilang untuk mengulang hafalan atau mengabdi (khidmah).
Intinya, Smartphone adalah alat, bukan tujuan. Itu adalah pedang bermata dua. Jika digunakan sebagai sarana mengakses kitab digital atau memperluas wawasan secara terukur, ia menjadi berkah. Namun, jika ia mulai mengendalikan waktu, mengganggu ibadah, dan merusak fokus, maka ia telah berubah menjadi penghambat perkembangan akal dan perusak mental. Bagi anak dan santri, membatasi interaksi HP/Smarphone adalah upaya menjaga “fitrah” agar akal tetap tajam dan hati tetap bening. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 2 Januari 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar