Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Dalam tradisi Peradaban Islam, seni khat (khat) bukan sekadar teknik menulis huruf Arab dengan indah. Khat adalah manifestasi dari penghormatan terhadap Kalamullah (Al-Qur’an). Para ulama terdahulu menyebutkan bahwa “Al-Khattu lisanul yad” (Khat adalah lisan bagi tangan). Jika lisan berbicara melalui suara yang menggetarkan udara, maka khat bicara melalui goresan yang menggetarkan jiwa.
Bagi seorang santri, menguasai seni khat adalah bentuk ibadah visual. Ia menggabungkan kedisiplinan geometris, ketenangan batin, dan ketajaman estetika. Menulis khat adalah proses meditasi; setiap tarikan napas harus seirama dengan tekanan pena di atas kertas. Tulisan ini pada akhirnya ingin membedah bagaimana seorang pemula dapat bertransformasi menjadi seorang khattath (penulis kaligrafi) yang mumpuni dengan memperhatikan kaidah-kaidah klasik yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Seni khat memiliki kedudukan yang sangat mulia karena ia lahir dari kebutuhan untuk mengabadikan wahyu. Allah SWT berfirman: “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena” (QS. Al-Alaq: 3-4). Keindahan khat dianggap sebagai “geometri spiritual”. Pengamat seni Barat, Titus Burckhardt, menyebutkan bahwa kaligrafi Islam adalah sarana untuk memvisualisasikan ritme Al-Qur’an. Oleh karena itu, bagi mereka yang ingin mengembangkan bakat ini, niat utama harus diletakkan pada upaya mengagungkan asma Allah, bukan sekadar mengejar pujian manusia atau nilai komersial.
***
Sebelum mulai menggores, seorang santri harus mengenal karakter dari berbagai gaya tulisan (khat). Setiap jenis memiliki jiwa dan kegunaan yang berbeda-beda. Gaya penulisan khat tersebut adalah: (1) Khat Naskhi. Ini merupakan gaya yang paling dasar dan paling banyak digunakan untuk menulis mushaf Al-Qur’an dan buku teks. Karakternya jelas, mudah dibaca, dan proporsional. Ini adalah gerbang pertama bagi setiap pemula. (2) Khat Tsuluts. Gaya penulisan khat ini disebut juga sebagai “Rajanya Khat”. Memiliki anatomi yang rumit, dinamis, dan sangat artistik. Biasanya digunakan untuk dekorasi masjid atau sampul kitab. Tingkat kesulitannya sangat tinggi. (3) Khat Diwani. Gaya khat ini lahir dari masa Daulah Utsmaniyah. Karakternya melengkung, lembut, dan tumpang tindih secara indah. Dulunya digunakan untuk surat-surat resmi kerajaan.
Selain ketiga jenis penulisan khat diatas, dikenal pula: (4) Khat Riq’ah. Gaya khat tulisan tangan cepat namun tetap elegan. Sangat fungsional untuk catatan harian bagi mereka yang ingin tulisan Arabnya tetap rapi meski dalam tempo cepat. (5) Khat Kufi. Gaya penulisan khat tertua yang bersifat geometris dan kaku (menggunakan penggaris). Sangat kuat kesan arsitekturalnya. (6) Khat Farisi (Nasta’liq). Gaya penulisan khat ini berasal dari Persia. Sangat menggantung dan miring ke arah kanan bawah, memberikan kesan menggantung yang puitis.

Dua santriwati Putri IMMIM Kelas IX SMP menunjukkan hasil karya seni khatnya. (foto: ist/*)
Mengembangkan bakat seni penulisan khat tanpa alat yang tepat adalah seperti melukis tanpa kuas. Hal-hal teknis yang harus diperhatikan adalah: Pertama, Qalam (Pena). Pena kaligrafi klasik terbuat dari batang bambu (handam) atau batang pohon jati. Ujung pena dipotong miring (manqath) dengan sudut tertentu (biasanya 35-45 derajat) tergantung jenis khat yang akan ditulis. Kedua, Lika (Tinta dan Wadah). Tinta kaligrafi berbeda dengan tinta bolpoin biasa. Tinta khat harus kental namun mengalir lancar. Di dalam wadah tinta biasanya diletakkan lika (serat sutra atau benang) agar pena tidak mengambil tinta terlalu banyak dan mencegah tumpah. Ketiga, Kertas Muqahhar, yaitu jenis kertas khusus yang telah dilapisi (biasanya dengan campuran putih telur dan tawas) agar permukaannya licin. Kertas ini memungkinkan penulis menghapus goresan yang salah dengan sedikit air tanpa merusak serat kertas.
Bagaimana langkah-langkah mengembangkan seni menulis khat? Tentu yang pertama adalah Menemukan Guru (Al-Ustadz). Seni khat adalah seni musyafahah (diwariskan secara langsung). Sangat sulit menjadi khattath otodidak karena banyak detail sudut pena yang hanya bisa dipahami dengan melihat langsung goresan sang guru. Guru akan memberikan ijazah atau lisensi setelah murid mampu meniru kaidah dengan sempurna. Yang kedua adalah belajar memahami Metode Titik (Nuqthah). Dalam khat, ukuran setiap huruf diukur menggunakan “titik” dari ujung pena itu sendiri. Misalnya, tinggi huruf Alif dalam khat Naskhi adalah 5 titik. Santri harus patuh pada ukuran ini. Inilah yang disebut dengan presisi matematis dalam seni. Ketiga, tentu harus banyak latihan (Masyq). Istilah Masyq berarti mengulang-ulang satu huruf atau kata hingga ribuan kali sampai tangan memiliki “memori otot”. Seorang khattath tidak berpikir saat menggores; tangannya bergerak secara intuitif karena latihan yang intensif.

Dua santriwati Putri IMMIM Kelas VIII SMP menunjukkan hasil karya seni khatnya. (foto: ist/*)
Agar bakat khat berkembang secara maksimal, perhatikan aspek-aspek berikut: Sudut Pena (Zawiyatul Qalam). Kesalahan paling umum pemula adalah tidak konsisten menjaga sudut kemiringan pena. Jika sudut berubah sedikit saja, tebal-tipisnya huruf akan rusak, Ketenangan Tangan dan Napas. Menulis khat membutuhkan ketenangan. Banyak khattath menahan napas sejenak saat melakukan tarikan garis panjang yang melengkung agar goresan tidak bergetar (tremor), Keseimbangan (Tawazun). Perhatikan ruang kosong di antara huruf. Dalam kaligrafi, ruang kosong (negatif) sama pentingnya dengan goresan tinta (positif). Menulis khat adalah proses yang lambat. Jangan terburu-buru ingin membuat karya besar. Kuasai huruf tunggal (mufradat) sebelum masuk ke merangkai huruf (murakkabat), dan perhatikan pula aspek kebersihan. Tinta yang tercecer atau kertas yang kotor akan merusak nilai estetika. Kebersihan adalah bagian dari adab menulis khat.
Bagi santri yang ingin mendapatkan pengakuan internasional atau nasional sebagai seorang yang mahir dalam seni menulis khat (khaligrafi), silakan mulai dari sekarang perbanyak latihan dan secara bertahap memberanikan diri mulai mengikuti Lomba Musabaqah Khaththil Qur’an (MKQ). Di Indonesia, ajang ini berjenjang dari tingkat kecamatan hingga nasional, setelah itu Daftarkan diri untuk belajar jarak jauh dengan master khat dari Turki atau Mesir (seperti IRCICA) untuk mendapatkan ijazah resmi yang diakui dunia. Biasakan diri dan bersama penulis khat lainnya untuk menggelar Pameran Bersama. Aktiflah di komunitas kaligrafi seperti LEMKA atau Noqtah untuk mengikutkan karya dalam pameran-pameran seni Islam. Terakhir, Digitalisasi Khat. Pelajari cara mengolah goresan manual ke dalam perangkat lunak (vektor), sehingga karya Anda bisa digunakan untuk desain grafis profesional.
Intinya, Seni menulis khat (khaligrafi) adalah warisan emas peradaban Islam. Dengan menekuni bidang ini, seorang santri sebenarnya sedang menjaga identitas keislamannya. Ingatlah nasihat para ahli khat: “Seni menulis yang indah adalah perhiasan bagi orang kaya, dan harta bagi orang miskin.” Ia tidak akan pernah lekang oleh waktu, bahkan di era kecerdasan buatan sekalipun, sentuhan tangan manusia di atas kertas tetap memiliki ruh yang tak tergantikan. Semoga goresan pena kalian menjadi saksi kecintaan kalian pada Al-Qur’an di akhirat kelak. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Juri Lomba Menulis Khat (Khaligrafi)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar