Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Beberapa Nasehat Ulama dalam Menjalani Hidup

Beberapa Nasehat Ulama dalam Menjalani Hidup

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Berikut ini beberapa nasehat ulama dalam menjalani kehidupan dunia yang fana’ ini.

Hidup adalah Sebuah Perjalanan

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menuturkan:

 

الناس منذ خلقوا لم يزالوا مسافرين، وليس لهم حط عن رحالهم إلا في الجنة أو النار. والعاقل يعلم أن السفر مبني على المشقة وركوب الأخطار

 

Artinya:

“Sejak manusia dilahirkan, mereka akan memulai perjalanannya. Perjalanan ini tidak ada ujungnya melainkan kepada surga atau neraka. Orang yang memahami hal ini pasti menyadari bahwa safar adalah sesuatu yang penuh kesulitan dan menghadapi paparan risiko berbahaya.” [Sumber: Al-Fawaid, hlm. 165]

Dunia adalah Tempat Berpuasa Orang yang Bertaqwa

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata:

 

قال بعض السّلف: “صم الدُّنْيا، واجعل فطرك المَوْت” الدُّنيا كُلّها شهر صيام المُتقين، يصومون فيها عن الشهوات المُحرمات، فإذا جاءهُمُ المَوت، فقد انقضى شهر صيامهم، واستهلوا عيد فطرهم

 

Artinya:

Sebagian salaf berkata, “Berpuasalah di dunia dan jadikanlah kematian sebagai waktu berbuka.” Seluruh waktu di dunia adalah bulan puasa bagi orang yang bertakwa. Mereka berpuasa di dunia dari syahwat yang diharamkan. Jika kematian telah datang, selesailah puasa mereka, lalu tiba waktunya mereka berhari raya (dengan mendapatkan kenikmatan di akhirat). [Sumber: Latha’iful Ma’arif, hlm. 183]

Saat Mengenal Allah dan Mengetahui Hakikat Dunia

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

من عرف ربه أحبه، ومن عرف الدنيا زهد فيها

 

Artinya:

“Barang siapa mengenal Rabb-nya maka ia akan mencintai-Nya. Dan barang siapa mengetahui (hakikat) dunia, maka ia akan zuhud terhadapnya.” [Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 314]

Kematian Menghinakan Dunia

Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

فضح الموت الدنيا، فلم يترك لذي لب فيها فرحًا، وما ألزم عبد قلبه ذكر الموت إلا صغرت الدنيا عليه، وهان عليه جميع ما فيها

 

Artinya:

“Kematian telah menyingkap hakikat dunia. Karena itu, seorang hamba yang cerdas, ia (kematian) tidak menyisakan kebahagiaan di sana. Tidaklah hati seorang hamba selalu mengingat kematian, melainkan dunia ini akan terasa rendah baginya, serta akan hina segala yang ada di atasnya.” [Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 353]

Sikap yang Benar Terhadap Dunia

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:

 

رحم الله أقوامًا كانت الدنيا عندهم وديعةً، حتى ردوها إلى من ائتمنهم عليها، ثم راحوا خِفَافًا غير مثقلين

 

Artinya:

Semoga Allah merahmati suatu kaum yang menganggap dunia yang ada pada mereka sebagai titipan, hingga mereka mengembalikannya kepada Dzat yang mengamanahkannya. Kemudian, mereka dapat beristirahat dengan tenang, tidak ada beban berat. ولقد أدركت أقوامًا كانت الدنيا تتعرَّض لأحدهم، وإنه لمجهود، فيتركها مخافة الساعة Sungguh, aku menjumpai suatu kaum yang dunia datang kepada salah seorang mereka. Dia dipaksa menerimanya. Namun, dia meninggalkannya seperti seseorang yang takut kepada hari kiamat. [Sumber: Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawaizhuhu, hlm. 65]

Fitnah Dunia dan Wanita

Malik bin Dinar rahimahullah berkata:

 

حب الدنيا رأس الخطيئة و النساء حبالة الشيطان

 

Artinya:

“Cinta dunia adalah pangkal segala dosa, dan wanita adalah perangkap setan.” [Sumber: Aakamul Marjan, hlm. 165]

Hakikat Syahwat dan Syubhat yang Diikuti Seorang Hamba di Dunia

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan:

 

ولينظور الشبهات والشهوات التي تعوقه عن سيره على هذا الصراط المستقيم فإنها الكلاليب التي بجنبتي ذاك الصراط تخطفه وتعوقه عن المرور عليه فإن كثرت هنا وقويت فكذلك هي هناك

 

Artinya:

“Hendaklah seorang hamba memperhatikan syahwat dan syubhat (yang dia ikuti saat di dunia) yang menghalanginya untuk tetap berjalan di atas sirathal mustaqim (jalan yang benar). Sungguh, keduanya adalah kalalib (semacam gancu) yang berada di dua tepi jembatan sirath (di akhirat), yang akan mencabiknya dan menghalanginya untuk melintas. Seberapa banyak penghalang tersebut di dunia, sebanyak itu pula di sana (akhirat).” Sebagaimana dalam ayat: وما ربك بظلام للعبيد “Dan tidaklah Tuhanmu zalim terhadap hamba-Nya.” (QS Fushshilat [41]: 42) [Sumber: Madarijus Salikin, hlm. 16]

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Keutamaan Hari Jumat
Oleh : Immim pangkep

Keutamaan Hari Jumat

0 Komentar

KELUAR