Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (8): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (8): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian kedelapan ini memuat Terjemah dari Bab (1): Nasehat yang Berisi Dua Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

Ada yang mengatakan:

“Ingkar nikmat adalah kehinaan dan bersahabat dengan orang tolol adalah si,

Orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah swt. merupakan pertanda dirinya hina, begitu juga bersahabat dengan orang yang tolol, yakni orang yang selalu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, meskipun dia mengetahui kejelekannya.

Dalam masalah ini, Ath-Thabrani meriwayatkan dari Basyir, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Janganlah engkau bersahabat dengan si tolol.”

Yakni memutuskan hubungan dengan orang yang tidak memberikan manfaat. Maksudnya, tidak bersahabat dengan orang yang bertingkah laku jelek untuk menghindari kejelekan wataknya, karena watak seseorang dapat mempengaruhi orang lain.

At-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Dua hal, jika keduanya dimiliki seseorang, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang syukur dan sabar, sedang orang yang tidak memiliki kedua-duanya, maka Allah tidak mencatatnya sebagai orang yang tahu syukur dan tidak sabar, ialah: Barangsiapa membandingkan kualitas agama dirinya dengan orang yang berkualitas lebih tinggi dan membandingkan dunianya dengan orang yang lebih rendah, kemudian memuji Allah atas kelebihan yang dimilikinya itu, maka Allah akan  mencatatnya sebagai orang yang tahu syukur dan sabar, dan barangsiapa membandingkan kualitas agama dirinya dengan orang yang lebih rendah dan membandingkan dunianya dengan orang yang lebih tinggi, kemudian merasa gundah karena belum memperoleh setinggi (dunia orang itu), maka Allah tidak’mencatatnya sebagai orang yang bersyukur dan tidak sabar.”

Hadis ini mencakup segala kebaikan.

 

 

Seorang penyair berkata, “Hai, orang yang sibuk mengurusi dunia! Sungguh, engkau telah tertipu oleh angan-anganmu yang panjang. Mengapa senantiasa lupa? Hingga datang kepadamu. ajal. Maut itu akan datang kepadamu dengan tiba-tiba. dan kubur itu adalah peti segala amal. Sabarlah terhadap ketakutan-ketakutan yang ada di dunia. Tiada kematian, melainkan ajalnya kan tiba.”

Ad-Dailami meriwayatkan hadis, sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Meninggalkan dunia itu lebih pahit daripada jadam dan lebih pedih daripada goresan pedang di medan sabilillah dan tiada bagi yang mau meninggalkannya, melainkan Allah memberi orang itu seperti yang dignugerahkannya kepada para syuhada. Meninggalkan dunia adalah dengan cara mempersedikit makan dan kenyang dan tidak suka dipuji manusia, karena barangsiapa suka dipuji manusia, berarti ia suka dunia dan nikmatnya. Barangsiapa suka memperoleh kenikmatan yang paling nikmat, maka hendaklah meninggalkan dunia dan pujian dari manusia.”

Ibnu Majah meriwayatkan, sesungguhnya Nabi-saw. bersabda:

“Barangsiapa berniat untuk memperoleh akhirat, maka Allah menghimpunkan potensinya, membuatnya kaya jiwa dan dunia pun datang padanya dengan melimpah. Tetapi, barangsiapa berniat memperoleh dunia, maka Allah menceraiberaikan urusannya, membuat kemelaratan di depan matanya dan tidak memperoleh dunia, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya.”

 

Abu Bakar Asy-Syibli r.a. berkata dalam suatu munajatnya:

“Wahai Tuhanku, sungguh aku senang menghaturkan kepada-Mu seluruh kebajikanku berikut kemelaratan dan kelemahanku, maka bagaimana lagi Engkau oh Tuhanku, tidak suka menganugerahkan kepadaku seluruh kejelekanku berikut kemahakayaan-Mu untuk tidak menyiksa aku.”

Kemelaratan di sini diartikan dengan keperluan untuk memperoleh kebajikan dan kelemahan dimaksudkan dengan kelemahan untuk memperbanyak ibadah. Sedang permohonan agar tidak disiksa, karena sesungguhnya kejelekan hamba itu tidak merugikan Allah sebagaimana kebajikan juga tidak menguntungkan-Nya.

Abu Bakar Dalf bin Jahdar Asy-Syibli r.a. termasuk tokoh makrifat kepada Allah swt., dilahirkan di Baghdad dan bermazab Maliki, hidup selama 87 tahun. Pada masa mudanya beliau menemui Al-Junaidi dan orang-orang yang semasa dengannya. Beliau wafat pada tahun 334 H. dan dimakamkan di Baghdad.

Sebagian orang yang mulia telah memberikan ijazah kepadanya agar membaca tujuh kali tiga bait Bahar Wafir setelah salat Jumat sebagai berikut, “Wahai, Tuhanku! Aku bukan ahli Firdaus. Namun aku tidak kuat dengan neraka Jahim. Maka terimalah tobatku dan ampunilah Dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun dosa yang besar. Perlakukanlah diriku dengan perlakuan orang yang mulia. Dan tetapkanlah aku di jalan yang lurus.”

Sebuah hikayat:

Asy-Syibli datang kepada Ibnu Mujahid. Ibnu Mujahid seraya merangkulnya dan mencium kening di antara kedua matanya. Asy-Syibli bertanya kepada Ibnu Mujahid: Mengapa kamu melakukan hal itu?

Ibnu Mujahid menerangkan: Ketika sedang tidur aku bermimpi melihat Nabi saw., beliau berdiri menghampirimu dan mencium kening antara kedua matamu. Aku bertanya kepada beliau: Ya, Rasulullah, mengapa Tuan melakukan hal ini kepada Asy-Syibli? Beliau saw. menjawab: Aku melakukan itu karena setiap dia selesai salat fardu, dia selalu membaca:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu “Sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orangorang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia, dan hanya kepada-Nya aku berserah diri dan Dia-lah Tuhan pemilik Arsy yang agung.” (Q.S. At-Taubah: 128-129).

Dilanjutkan dengan membaca, “Semoga salawat Allah dilimpahkan kepadamu, wahai, Muhamamd.” Selanjutnya Ibnu Mujahid menyatakan, telah bertanya kepada AsySyibli tentang bacaan setelah salat fardu, dan ternyata Asy-Syibli menjawab seperti dalam impian tersebut di atas.

 

 

Asy-Syibli berkata, “Jika kamu ingin bersenang-senang kepada Allah, maka patahkanlah kecintaanmu terhadap dirimu sendiri.”

Maksud pernyataan di atas: Jika hatimu merasa senang kepada Allah dan tidak lari darinya, maka kamu harus memutuskan kecintaanmu terhadap dirimu sendiri.

Setelah Asy-Syibli wafat, pernah dalam suatu impian ditanyai tentang keadaan nasib dirinya. Beliau menjelaskan dan katanya: Allah menanyai aku dengan firman-Nya:

“Wahai, Abu Bakar, mengapa Aku mengampunimu?

Aku pun menjawab: “Dengan amal salehku.”

Allah berfirman: “Bukan.”

Lalu aku berkata: “Dengan keikhlasan ibadahku.”

“Allah berfirman: “Tidak juga.”

Aku berkata: “Dengan haji, puasa dan salatku.” ‘

Allah berfirman: “Juga bukan.”

Aku berkata: “Dengan kepergianku kepada orang saleh dan mencari ilmu.”

Allah tetap berfirman: “Tidak.”

Kemudian aku ganti bertanya: “Oh, Tuhanku, lantas dengan apakah itu?”

Allah berfirman: “Ingatkah kamu di kala tengah berjalan menelusuri Baghdad, lalu kamu temukan seekor kucing yang tidak berdaya lantaran menggigil kedinginan, kemudian karena kasihan kamu pungut ia dan kamu selamatkan di dalam kehangatan jubah tebalmu itu!”

Aku pun menjawab: “Benar Tuhan, aku ingat!”

Allah pun berfirman lagi: “Lantaran kasih sayangmu terhadap kucing itu, Aku pun kasih sayang kepadamu.”

 

 

Asy-Syibli berkata, “Apabila kamu telah mencicipi manisnya dekat dengan Allah, niscaya kamu mengetahui tentang pahitnya putus hubungan.”

Maksudnya, seandainya kita telah merasakan nikmatnya dekat kepada Allah swt., maka kita akan merasakan betapa pahitnya jika kita jauh dari Allah swt. Memang, menurut ahli Allah jauh dari Allah itu merupakan siksaan yang cukup berat.

Di antara doa yang’dipanjatkan oleh Nabi saw: “Ya Allah, anugerahilah kami kelezatan memandang wajah-Mu Yang Maha Mulia dan kelezatan rasa rindu bertemu dengan Engkau.” (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR