Dari Nabi saw., “Munajat dapat melindungi rahasia-rahasia, sedekah dapat melindungi harta, ikhlas dapat melindungi amal perbuatan, kejujuran dapat melindungi ucapan, dan musyawarah dapat melindungi pendapatpendapat.”
Munajat dapat melindungi rahasia-rahasia, sedang menyimpan rahasia itu menjadi sebab terpenting untuk mencapai kesuksesan. Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda:
“Mainta bantuanlah dengan merahasiakan untuk meraih keperluan-keperluan, karena sesungguhnya bagi setiap orang yang memperoleh kenikmatan, ada orang yang hasud.”
Tentang sedekah dapat melindungi harta, seperti riwayat dari Abu Darda’ dan Nabi saw., sabdanya:
“Tiada hari yang telah terbenam mataharinya, melainkan ada dua malaikat yang menyeru atau mendoakan: ‘Ya, Allah, berilah pengganti bagi orang yang menginfakkan dan berilah kerugian kepada orang yang menahan’.
Sehubungan dengan hal itu telah diturunkan ayat Alqur-an: ‘Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Q.S. Al-Lail: 5-7)’.”
Tentang ayat ini, Ibnu Abbas r.a. berkata: Siapa yang memberikan sedekah sesuai dengan yang diperintahkan dan bertakwa dalam menangani apa yang ada, serta membenarkan adanya pengganti dari apa yang telah diberikannya itu, maka Allah akan mempersiapkannya menuju tempat yang penuh dengan kesenangan.
Adapun keikhlasan sebagai pelindung amal perbuatan, maka perlulah kiranya diketahui tingkat-tingkat keikhlasan tersebut:
1. Tingkat tertinggi, yaitu memurnikan amal perbuatan dari campuran makhluk, dalam arti melakukan ibadah semata-mata dengan menjunjung tinggi perintah Allah dan memenuhi hak pengabdian, tanpa ada maksud mencari jasa dari sesama manusia, baik berupa simpati, pujian, sumbangan materiil maupun yang lain.
2. Tingkat menengah, yaitu melakukan sesuatu karena Allah, dengan maksud agar memperoleh imbalan di akhirat, misalnya dijauhkan dari neraka, dimasukkan surga dan menerima berbagai kenikmatan di surga.
3. Tingkat terendah, yaitu melakukan sesuatu karena Allah, dengan maksud agar memperoleh imbalan duniawi, semacam lapang rezekinya, tertolaknya berbagai mara bahaya dan sebagainya.
Kejujuran dapat melindungi ucapan, karena orang yang berdusta tidak dapat diterima ucapannya, baik oleh Allah maupun di depan manusia. Dalam hal ini Ibnu Abbas mengatakan mengenai firman Allah swt., “Dan jaganlah kamu. mencampuradukkan yang hak dengan y yang baca.” (Q.S. Al-Baqarah: 42).
Maksudnya, tidak mencampuradukkan ucapan yang benar dengan yang bohong. Sagian hukuma mengatakan!
“Membasi lebih baik daripada dusta dan kejujuran lisan itu awal dari kebahagiaan.” | –
Sebagian pujangga mengatakan, “Orang yang jujur dilindungi dan disukai, sedangkan orang yang bohong ucapannya direndahkan dan dihinakan”
Tentang musyawarah, Nabi bersabda, “Musyawarah itu benteng penangkal penyesalan, juga pengaman dari cercaan.”
“Sebaik-baik gotong royong adalah musyawarah, dan seburuk-buruk persiapan adalah kesewenang-wenangan.”