Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (31): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (31): Nasehat yang Berisi Lima Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama Kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Ketiga Puluh Satu ini memuat Terjemah dari Bab (4): Nasehat yang Berisi Lima Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

 

Dari sebagian bukama rahimakumullah, “Di hadapan takwa ada lima jenjang, siapa yang berhasil melintasi seluruhnya, maka dia memperoleh ketakwaan yang sempurna, yaitu: Pertama memilih kesukaran atas kenikmatan: Kedua memilih kesungguhan atas kebebasan, Ketiga memilih kelemahan atas keperkasaan, Keempat memilih diam atas bicara yang tidak berguna, Kelima memilih maut atas kehidupan.”

Di hadapan takwa terbentang lima jenjang, seperti jalan-jalan di atas bukit. Barangsiapa yang dapat melewati jenjang tersebut, maka dia memperoleh ketakwaan yang sempurna, yaitu dengan cara meninggalkan perbuatan yang dikehendaki nafsu dan menjauhi larangan Allah swt.:

1. Memilih kesukaran atas kenikmatan, yaitu dengan cara memilih beban ibadah untuk meninggalkan segala sesuatu yang menyenangkan.

2. Memilih kesungguhan atas kebebasan, maksudnya kesungguhan dalam beribadah dengan cara meninggalkan kesenangan dunia.

3. Memilih kelemahan atas keperkasaan, yaitu bersikap tawadhu’.

4. Memilih diam atas kelebihan bicara, yaitu meninggalkan ucapan yang di dalamnya tidak mengandung kebaikan.

5. Memilih maut atas kehidupan.

Menurut pandangan ahli Allah, maut adalah mengekang keinginan nafsu. Barangsiapa keinginan nafsunya mati, maka dia hidup. Maut terbagi empat bagian:

1. Maut merah, yaitu menentang ajakan hawa nafsu.

2. Kematian putih, yaitu perut lapar, karena lapar itu dapat menerangi batin dan memutihkan hati nurani: Barangsiapa tidak pernah kenyang, maka hiduplah kecerdasannya.

3. Kemarian hyau, yaitu memakai pakaian usang penuh tambalan yang telah afkir dan tidak berharga, demi memenuhi sikap zuhud dan qanaah.

4. Kemauan hitam, yaitu memikul penderitaan dari perbuatan orang lain yang disebut Fanaa billah (merasa lenyap dirinya, karena tenggelam kepada Allah), yaitu menyadari penderitaan itu pada hakikatnya berasal dari Allah swt., sebab melihat lenyapnya semua perbuatan tenggelam dalam perbuatan yang sangat dicintainya.

 

 

Dari Nabi saw., “Munajat dapat melindungi rahasia-rahasia, sedekah dapat melindungi harta, ikhlas dapat melindungi amal perbuatan, kejujuran dapat melindungi ucapan, dan musyawarah dapat melindungi pendapatpendapat.”

Munajat dapat melindungi rahasia-rahasia, sedang menyimpan rahasia itu menjadi sebab terpenting untuk mencapai kesuksesan. Dalam sebuah hadis Nabi saw. bersabda:

“Mainta bantuanlah dengan merahasiakan untuk meraih keperluan-keperluan, karena sesungguhnya bagi setiap orang yang memperoleh kenikmatan, ada orang yang hasud.”

Tentang sedekah dapat melindungi harta, seperti riwayat dari Abu Darda’ dan Nabi saw., sabdanya:

“Tiada hari yang telah terbenam mataharinya, melainkan ada dua malaikat yang menyeru atau mendoakan: ‘Ya, Allah, berilah pengganti bagi orang yang menginfakkan dan berilah kerugian kepada orang yang menahan’.

Sehubungan dengan hal itu telah diturunkan ayat Alqur-an: ‘Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Q.S. Al-Lail: 5-7)’.”

Tentang ayat ini, Ibnu Abbas r.a. berkata: Siapa yang memberikan sedekah sesuai dengan yang diperintahkan dan bertakwa dalam menangani apa yang ada, serta membenarkan adanya pengganti dari apa yang telah diberikannya itu, maka Allah akan mempersiapkannya menuju tempat yang penuh dengan kesenangan.

Adapun keikhlasan sebagai pelindung amal perbuatan, maka perlulah kiranya diketahui tingkat-tingkat keikhlasan tersebut:

1. Tingkat tertinggi, yaitu memurnikan amal perbuatan dari campuran makhluk, dalam arti melakukan ibadah semata-mata dengan menjunjung tinggi perintah Allah dan memenuhi hak pengabdian, tanpa ada maksud mencari jasa dari sesama manusia, baik berupa simpati, pujian, sumbangan materiil maupun yang lain.

2. Tingkat menengah, yaitu melakukan sesuatu karena Allah, dengan maksud agar memperoleh imbalan di akhirat, misalnya dijauhkan dari neraka, dimasukkan surga dan menerima berbagai kenikmatan di surga.

3. Tingkat terendah, yaitu melakukan sesuatu karena Allah, dengan maksud agar memperoleh imbalan duniawi, semacam lapang rezekinya, tertolaknya berbagai mara bahaya dan sebagainya.

Kejujuran dapat melindungi ucapan, karena orang yang berdusta tidak dapat diterima ucapannya, baik oleh Allah maupun di depan manusia. Dalam hal ini Ibnu Abbas mengatakan mengenai firman Allah swt., “Dan jaganlah kamu. mencampuradukkan yang hak dengan y yang baca.” (Q.S. Al-Baqarah: 42).

Maksudnya, tidak mencampuradukkan ucapan yang benar dengan yang bohong. Sagian hukuma mengatakan!

“Membasi lebih baik daripada dusta dan kejujuran lisan itu awal dari kebahagiaan.” | –

Sebagian pujangga mengatakan, “Orang yang jujur dilindungi dan disukai, sedangkan orang yang bohong ucapannya direndahkan dan dihinakan”

Tentang musyawarah, Nabi bersabda, “Musyawarah itu benteng penangkal penyesalan, juga pengaman dari cercaan.”

“Sebaik-baik gotong royong adalah musyawarah, dan seburuk-buruk persiapan adalah kesewenang-wenangan.”

 

 

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya terdapat lima perkara tercela dalam kegiatan pengumpulan harta, yaitu sengsara dalam mengumpulkan, terlupa mengingat Allah dalam mengelola harta, khawatir perampokan dan pencurian, karena harta, maka seseorang dapat disebut kikir dan demi harta, maka seseorang dapat berpisah dari orang-orang saleh. Dan terdapat lima perkara terpuji dalam melepas harta, yaitu kesenggangan diri dari kesibukan mencarinya, karena tidak mengelola harta, maka banyak kesempatan untuk mengingat Allah, aman dari perampokan dan pencurian, karena melepas harta, maka seseorang dapat disebut orang mulia dan karenanya pula, maka orang dapat bersahabat dengan orang-orang saleh,” .

Segolongan orang-orang fasih berkata:

“Kemurahan seseorang itu dapat membuatnya dikasihi oleh lawanlawannya, sedang kekikiran seseorang dapat membuatnya dibenci oleh putra-putrinya.”

Kata mereka pula, “Sebaik-baik harta adalah yang dapat membuat orang merdeka dikuasainya dan sebaik-baik amal adalah yang berhak disyukuri.”

 

 

Sufyan Ats-Tsauri r.a., “Pada zaman ini, tiada harta pada seseorang, melainkan dibarengi oleh lima hal tercela, yaitu: Lamunan melantur, tamak yang menguasainya, kikir yang sangat, menipisnya wira’i, dan lupa akhirat.”

Dalam mengumpulkan harta pada zaman ini, terdapat lima sifat yang tercela, yaitu:

1. Menantikan perkara yang sulit diperolehnya.

2. Dikuasai oleh sifat tamak. Orang yang mencintai dunia dicela, sedangkan orang yang mencari kelebihannya dikritik. Mencintai dunia dikhususkan pada segala hal yang melewati batas keperluan, sedangkan kelebihan dunia ialah merasa gembira dengan segala hal yang melebihi ukuran keperluannya. Nabi saw. bersabda:

“Tidak termasuk yang lebih baik di antara kamu, orang yang meninggalkan dunia karena akhirat saja, begitu pula orang yang meninggalkan akhirat karena dunia saja. Tetapi yang lebih baik di antara kamu adalah orang yang mengambil ini dunia dan ini akhirat (pertengahan).”

Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa sesungguhnya beliau bersabda, “Sebaik-baik tunggangan adalah dunia, maka naikilah ia, ia akan menyampaikan kamu ke akhirat.”

Ali bin Abi Thalib “karramallahu wajhahu-mengatakan, “Dunia itu tempat kebenaran bagi orang yang membenarkannya, tempat keselamatan bagi orang yang memahaminya dan tempat kecukupan bagi orang yang menjadikannya sebagai bekal.”

3. Dikuasai oleh kekikiran.

4. Hilang sifat waraknya. Warak ialah menjauhi perkara-perkara ydng subhat, karena takut jatuh ke dalam perkara-perkara yang haram. Menurut pendapat lain, warak ialah selalu melakukan amal yang baik.

5. Lupa pada akhirat. Seorang penyair menyatakan:

Wahai, peminang dunia untuk diri sendiri

sungguh menjadi kekasihnya di setiap hari. Dunia minta agar suami segera menikahi

dan sebenarnya ia telah digauli.

Di tempat lain ia punya ganti suami

Aduhai, dunia pun menerima para peminangnya,

tiada lain untuk membunuh mereka

dan mereka pun terbunuh semua

Sungguh aku telah tertipu

dan sungguh petaka menjebak diriku sedikit demi sedikit

Himpunlah bekal untuk mari

bekal, sungguh bekal!

Karena pengundang telah menyeru

Berangkarlah, ayo berangkat

 

 

Dari Hatim Al-Asham r.a., dia berkata, “Terpesa-gesa itu dari setan, selain dalam lima tempat, maka sesungguhnya tergesa-gesa dalam hal itu termasuk sunah Rasulullah saw., yaitu: Memberi makan kepada tamu, jika menginap, mengurusi mayat orang yang mati, mengawinkan anak perempuan jika telah balig: membayar utang jika telah jatuh tempo pembayarannya, dan tobat dari dosa jika terlanjur mengerjakannya.”

Bergegas-gegas dalam segala perkara itu timbul dari setan, namun tergesa-gesa dalam lima tempat termasuk sunah Rasulullah saw., yaitu:

1. Memberi makan kepada tamu dengan makanan seadanya, jika tamu telah datang. Abu Hurairah r.a. mengatakan, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang memberi makan kepada saudaranya yang muslim dengan makanan seleranya, maka Allah swt. mengharamkan dia ke neraka.” Pada hadis lain diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a., bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang memberi roti saudaranya yang muslim hingga merasa kenyang dan memberi air hingga merasa segar, maka dijauhkan dari neraka -yang jarak antara keduanyatujuh parit, jarak tiap parit ke parit yang lain adalah perjalanan tujuh ratus tahun.” (H.R. An-Nasai, Ath-Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

2. Mengurusi mayat, yaitu memandikan, mengafani, menyalati dan menguburkan jika yakin telah mati. Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya imbalan orang mukmin yang diberikan pertama kali setalah ia mati, ialah diampuninya dosa seluruh orang yang mengantarkan jenazahnya.” (H.R. Al-Baihaqi). Pada hadis lain diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, “Apabila seorahg warga surga meninggal dunia, maka Allah merasa malu menyiksa orang yang memikul jenazahnya, orang yang mengantarkan jenazahnya dan orang yang menyalatinya.” (H.R. Ad-Dailami).

3. Tergesa-gesa mengawinkan anak perempuan jika telah baligh. Dari Aisyah r.a., bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengawinkan anak perempuannya, maka Allah memakaikan mahkota kepadanya dengan mahkota raja-raja.” (H.R. Ibnu Syahin).

4. Membayar utang jika telah datang waktu untuk membayarnya.

5. Bertobat, didapat dari riwayat Ibnu Umar r.a., yang menyatakan bahwa la sempat menghitung, Rasulullah saw. dalam satu majelis mengucap. kan seratus kali sebagai berikut, “Wahai, Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Tuhan Yang Maha Menerima tobat dan Maha Pengampun.” (H.R. Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud).

(*)

 

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR