
Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Related Post: Ilmu Riwayah: Definisi dan Ruang Lingkupnya (Studi Hadits)
BLOGGURU – Hari itu, Pukul 10.00 WITA waktu Makassar, kelas daring Studi Hadits bagi Mahasiswa S2 Non Reguler Dirasah Islamiyah dimulai. Tema kuliah pekan ini terdengar serius: “Ilmu Riwayah: Definisi dan Ruang Lingkupnya.” Namun, sebagaimana biasanya dalam perkuliahan Zoom mahasiswa S2, yang serius di awal hanyalah nama meeting-nya.
Dosen membuka dengan suara lantang, “Baik, bismillāh, Pagi ini kita akan bahas ‘Ilmu Riwayah’. Siapa yang bisa menjelaskan definisinya?”
Tiba-tiba muncul suara, “Bu, tolong beliin Nasi Kuning dulu, belum sempat sarapan nih. tambah telur asin satu ya…”
Seluruh layar langsung hening. Ternyata itu bukan interupsi akademik, tapi open mic dari salah satu mahasiswa yang lupa men-mute mikrofonnya.
Dosen hanya berkata dengan tenang, “Baik, saudara… itu mungkin riwayah lisan yang belum tatsabbut (diverifikasi).” 😆
Setelah itu, dosen meminta tiap mahasiswa memberi definisi singkat tentang ilmu riwayah. Mahasiswa pertama berkata, “Ilmu riwayah adalah ilmu yang membahas cara penyampaian hadits secara lafadz dan makna dari Rasulullah ﷺ.”
Mahasiswa kedua berkata, “Menurut saya, ilmu riwayah adalah proses dokumentasi hadits secara kritis melalui jalur periwayatan.”
Mahasiswa ketiga yang baru bangun dari tidur Zoom berkata dengan percaya diri, “Kalau saya, ilmu riwayah itu… ilmu yang membahas tentang… riwayat hidup Nabi.”
Langsung chat box meledak dengan emoji 😂🤣
Dosen menatap layar dan berkata pelan, “Saudara, itu sirah nabawiyyah, bukan riwayah hadits. Tapi semangat Anda luar biasa, hampir shahih.”
3. PowerPoint yang Tak Pernah Terbuka
Dosen melanjutkan, “Baik, saya share PowerPoint…” Setelah lima menit hening, layar tetap kosong. Dosen berkata, “Sudah terlihat PowerPoint-nya?”
Mahasiswa menjawab kompak, “Belum, Prof.”
Dosen bingung, “Tapi di layar saya sudah ada.”
Mahasiswa lain berkata pelan, “Mungkin itu riwayah mutawatir versi lokal, Prof … hanya berlaku di layar Prof saja.” 😄
4. Perdebatan Epistemologis yang Berakhir di Sambal Cumi
Saat membahas ruang lingkup ilmu riwayah, dosen bertanya, “Apa perbedaan fokus ilmu riwayah dan ilmu dirayah?”
Mahasiswa menjawab dengan serius, “Kalau riwayah fokus pada penyampaian hadits, sedangkan dirayah pada pemahaman kandungan.”
Tiba-tiba seorang mahasiswa lain yang lagi makan malam ikut bicara sambil kunyah, “Kalau saya lebih fokus ke Sop Saudara Pangkep, Pak…”
Seluruh kelas kembali meledak. Dosen menahan tawa, “Baik, itu dirayah kulineriyyah, saudara.”
Menjelang akhir kelas, dosen memberi tugas, “Silakan buat analisis tentang ruang lingkup ilmu riwayah menurut ulama klasik dan kontemporer.”
Namun tiba-tiba sinyal mahasiswa terputus satu per satu. Dosen berkata:, “Loh, kenapa tinggal tiga orang?”
Salah satu mahasiswa menjawab, “Prof, mungkin mereka sedang menerapkan konsep ittishāl sanad… koneksi belum muttasil, Prof.”
Dosen menutup dengan tawa, “Baik, kalau begitu tugas dikirim sebelum koneksi antum semua jadi munqathi‘ (terputus total).”
Penutup
Kelas malam itu ditutup dengan doa singkat dan gelak tawa panjang. Sebelum Zoom ditutup, dosen sempat berkata, “Ilmu riwayah itu penting, tapi ingat… riwayah mic terbuka tanpa izin itu tidak sahih sanad-nya.”
Pesan Cerita
Pesan yang ingin disampaikan cerita lucu ini adalah bahwa Belajar ilmu riwayah via Zoom bukan hanya tentang tahammul wa ada’ al-hadits (menerima dan menyampaikan hadits), tapi juga tentang tahammul wa ada’ sinyal internet yang kadang lebih menuntut kesabaran daripada ujian komprehensif. 😄
Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel