Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (28): Turun di Tempat Abu Ayyub, Tempat Tinggal Kaum Muhajirin, dan Persaudaraan Islam

Terjemah Nurul Yaqin (28): Turun di Tempat Abu Ayyub, Tempat Tinggal Kaum Muhajirin, dan Persaudaraan Islam

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 27 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

Rasulullah saw. dan para pengiringnya melanjutkan perjalanannya. Setiap kali Rasulullah saw. melewati rumah orang Anshar, penghuninya meminta agar ia singgah di rumahnya dan tinggal bersama mereka. Mereka berebutan mengambil kendali kendaraan Rasulullah saw. untuk dituntun ke rumahnya. Akan tetapi, Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia (kendaraannya) karena sesungguhnya dia mendapat perintah (dari Allah).” Rasulullah saw. terus berjalan hingga sampai di halaman tempat Bani ‘Addi ibnun-Najjar. Bani ‘Addi ibnun Najjar adalah pamanpaman dari pihak ibu Rasulullah saw. karena buyut Rasulullah saw., Hasyim, kawin dengan seorang wanita dari kalangan Bani ‘Addi.

Tiba-tiba unta kendaraan Rasulullah saw. berhenti di suatu pekarangan milik mereka, tepatnya di hadapan rumah Abu Ayyub al-Anshari yang nama aslinya Khalid ibnu Zaid.” lalu di tempat itu dibangun Masjid Nabawi. Rasulullah saw. bersabda, “Di sinilah rumahku, insya Allah.” Selanjutnya Rasulullah saw. berdoa seraya membacakan firman-Nya : Rabb-ku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (Q.S. 23 AlMu’minun: 29)

Kemudian Abu Ayyub al-Anshari membawa pelana dan perbekalan Rasulullah saw., lalu ditempatkannya di rumahnya. Kemudian datanglah As’ad ibnu Zarrarah, lalu ia membawa hewan kendaraan Rasulullah saw. untuk ditambatkan di kandang miliknya.

Gadis-gadis Bani Najjar keluar seraya mengatakan: Kami adalah gadis-gadis dari Bani Najjar: alangkah bahagianya Muhammad berada di samping kami. Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Apakah kalian mencintai diriku?” Mereka menjawab, “Ya.”

Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian.” Rasulullah memilih tinggal di salah satu rumah milik Abu Ayyub yang terletak di daerah bagian bawah supaya memudahkan bagi orang-orang yang ingin mengunjunginya. Akan tetapi, sahabat Abu Ayyub al-Anshari tidak merelakan hal tersebut karena menghormati Rasulullah saw. Sebab, bilamana Rasulullah saw. tinggal di bagian bawah, niscaya akan terkena debu yang ditimbulkan oleh kaki orang-orang yang berjalan di bagian atasnya, atau akan terkena air yang dituangkan dari bagian atasnya.

Secara kebetulan pada suatu malam gentong tempat air istri Abu Ayyuh pecah, kemudian Abu Ayyub dan istrinya membersihkan pecahannya seraya mengelap air yang tertuang karena mereka takut akan mengenai Rasulullah saw. Oleh sebab itu, Abu Ayyub r.a. terus membujuk Rasulul. lah saw. untuk tinggal di bagian atas. Lama-kelamaan Rasulullah saw. mau menerima permintaannya. Kiriman hidangan selalu datang di tempat ting. gal Rasulullah saw. dari para sahabat Anshar yang mampu seperti Sa’d ibnu ‘Ubadah, As’ad ibnu Zarrarah, dan ibu sahabat Zaid ibnu Tsabit. Tiada suatu malam pun yang terlewat, di depan pintu tempat Rasulullah saw selalu terdapat tiga atau empat fabsi makanan.

Tatkala sebagian besar dari kaum Muhajirin yang ikut bersama Rasulullah saw. sampai di Madinah, orang-orang Anshar berlomba-lomba menerima mereka. Akhirnya diputuskan melalui undian di antara mereka sehingga tiada seorang Muhajir pun yang tinggal di tempat orang Anshar tanpa melalui undian.

Barang siapa memperhatikan kecintaan ini, mustahil disebabkan oleh pe ngaruh manusia, tetapi berkat kemurahan dan rahmat Allah swt., dan niscaya ia akan memahami mengapa mereka mampu menang melawan kaum musyrikin dan kaum ahli kitab yang menentangnya sekalipun bilangan dan perlengkapan mereka sedikit.

Orang Anshar lebih mementingkan kaum Muhysjirin daripada diri mereka sendiri seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. 59 Al-Hasyr: 9)

Ini jelas merupakan derajat persaudaraan yang paling tinggi. Semua perlakuan itu dianggap oleh sahabat Anshar masih belum memadai kewajiban yang harus mereka suguhkan kepada kaum Muhajirin. Hal ini berkat pengaruh Rasulullah saw. yang mampu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, sehingga setiap orang Anshar bersama tamu Muhajirinnya merupakan dua saudara karena Allah swt. Sia-sialah jika kami memaksakan diri untuk menjelaskan kepada para pembaca bahwa persaudaraan ini lebih tinggi rasa solidaritasnya daripada persaudaraan kefanatikan. Akan tetapi, hal tersebut tiada lain adalah berkat perasaan Islam yang telah memateri di hati mereka. Hanya kenyataan inilah yang dapat kami ungkapkan.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa hati mereka telah dipersatukan oleh Allah swt. sehingga seolah-olah mereka adalah satu hati sekalipun jasad mereka berbeda. Mudah-mudahan saja Allah swt. mempersatukan pula hati umat Islam pada zaman kita sekarang, sehingga mereka memiliki pengaruh seperti pengaruh yang dimiliki oleh kaum Muslimin zaman dahulu yang telah bersatu.

Persaudaraan ini berlandaskan asas saling menolong menegakkan perkara yang hak, dan hendaknya mereka saling mewarisi sekalipun tanpa adanya hubungan kekerabatan.

Rasulullah saw. berpesan kepada setiap dua orang di antara mereka (seorang Muhajir dan seorang Anshar): Bersaudardiah kalian berdua di jalan Allah setiap dua orang bagaikan dua bersaudara.

Sistem pewarisan ini terus berlangsung pada permulaan Islam sehingga turunlah firman Allah swt.: Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewaris) dalam kitab Allah ….. (Q.S. 33 Al. Ahzab: 6)

(***)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Bacaan Mahallul Qiyam Lengkap
Oleh : Immim pangkep

Bacaan Mahallul Qiyam Lengkap

0 Komentar

KELUAR