Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Jejak Lingua Franca: Analisis Filologis Istilah Melayu dalam Naskah Lontara sebagai Bukti Islamisasi Awal di Sulawesi Selatan

Jejak Lingua Franca: Analisis Filologis Istilah Melayu dalam Naskah Lontara sebagai Bukti Islamisasi Awal di Sulawesi Selatan

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kehadiran istilah-istilah Melayu dalam naskah Lontara bukan sekadar fenomena linguistik biasa, melainkan sebuah “fosil sejarah” yang merekam jejak awal masuknya Islam di Sulawesi Selatan. Sebagai salah satu langkah dan proses awal penelitian Islamisasi Masa Kerajaan Siang di Pangkep, analisis kosakata serapan (loanwords) ini menjadi bukti empiris yang sangat kuat untuk membuktikan bahwa orang Melayu adalah agen intelektual pertama dalam proses Islamisasi di Sulawesi Selatan.

Proses Islamisasi di Nusantara memiliki karakteristik unik yang sangat bergantung pada peran bahasa Melayu sebagai lingua franca. Di Sulawesi Selatan, transisi dari kepercayaan lokal (Attoriolong) menuju Islam meninggalkan jejak yang sangat nyata dalam literatur tertulis mereka, yaitu naskah Lontara. Sebelum syariat Islam dilembagakan secara resmi oleh Kerajaan Gowa-Tallo pada 1605, masyarakat pesisir seperti di Kerajaan Siang (Pangkep) telah lebih dulu berinteraksi dengan saudagar Melayu.

Analisis terhadap istilah-istilah Melayu (loanwords) dalam naskah Lontara berfungsi sebagai bukti sinkretisme budaya dan strategi dakwah. Melalui peminjaman kata, konsep-konsep abstrak Islam yang sebelumnya asing bagi telinga masyarakat Bugis-Makassar menjadi lebih mudah diterima melalui perantara bahasa Melayu yang sudah populer dalam jaringan niaga.

Dalam studi filologi, analisis ini menggunakan pendekatan komparatif antara kosakata asli Bugis/Makassar dengan kosakata serapan dari bahasa Melayu-Arab. Fokus analisis diarahkan pada tiga kategori utama, yaitu Terminologi Ibadah dan Syariat, Istilah Etika dan Sosial-Keagamaan, dan Gelar dan Struktur Administrasi.

***

Salah satu bukti terkuat kontribusi Melayu adalah penggunaan kata “Sembahyang”. Meskipun bahasa Bugis memiliki kata Mappakaraja (memuliakan), penggunaan kata “Sembahyang” (dari bahasa Melayu/Sanskerta: Sembah dan Hyang) diadopsi untuk membedakan ritual Islam dengan ritual pemujaan leluhur.

Selain itu, munculnya istilah: Puasa: Menggantikan konsep puasa tradisional, Kiamat: Istilah eskatologi yang tidak dikenal dalam mitologi La Galigo, dan Syurga dan Neraka: Menggantikan konsep dunia atas dan dunia bawah dalam kosmologi lokal. Penggunaan kata-kata ini dalam naskah Lontara Pangkep menunjukkan bahwa para penyebar agama (saudagar Melayu) lebih memilih menggunakan istilah yang sudah mapan di Malaka atau Sumatera daripada mencari padanan kata baru dalam bahasa Bugis yang berisiko menimbulkan salah persepsi teologis.

Pengaruh Melayu sangat kuat dalam pembentukan etika sosial baru. Kata-kata seperti “Sabar”, “Ikhlas”, “Adil”, dan “Zalim” sering muncul dalam naskah-naskah Pappaseng (wasiat) yang ditulis pasca-kedatangan Islam. Kata “dzalim” (dari Arab via Melayu) sering disandingkan dengan konsep kekuasaan raja. Dalam naskah Lontara Siang, raja yang baik digambarkan sebagai raja yang tidak zalim. Peminjaman kata ini membuktikan adanya pergeseran nilai politik dari kekuasaan absolut berdasar kasta menuju kekuasaan yang berlandaskan keadilan moral Islam.

Untuk Gelar dan Identitas Sosial, Istilah “Datuk” atau “Dato” adalah bukti fisik kehadiran orang Melayu. Dalam struktur tradisional Pangkep, gelar kepemimpinan adalah Pua, Arung, atau Karaeng. Munculnya nama “Dato’ ri Bandang” atau “Dato’ ri Pattimang” dalam naskah Lontara menegaskan kedudukan istimewa orang Melayu sebagai guru spiritual. Selain itu, istilah “Tuan” dan “Sayyid” yang ditemukan dalam catatan perdagangan di pelabuhan Labakkang menunjukkan adanya stratifikasi sosial baru yang diperkenalkan oleh komunitas Melayu-Muslim.

Kabupaten Pangkep saat ini, dengan pusatnya di Kerajaan Siang di masa lampau, adalah zona kontak utama. Naskah Lontara mencatat bahwa pedagang Melayu tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga membawa teks-teks keagamaan yang ditulis dalam aksara Jawi (Arab-Melayu). Para penyalin naskah Lontaraq di Pangkep melakukan proses “Transkreasi”: mereka menyerap kosakata Melayu ke dalam aksara Lontara. Hal ini menjelaskan mengapa dalam naskah Lontara, kita sering menemukan kata-kata yang secara fonetis terdengar seperti Melayu namun ditulis dengan huruf Bugis/Makassar. Proses ini membuktikan bahwa Islamisasi di Pangkep bersifat intelektual dan berbasis literasi.

Adanya loanwords Melayu mengubah cara orang Bugis-Makassar menulis sejarah. Sebelum pengaruh Melayu-Islam masuk, naskah Lontara lebih banyak berisi mitos asal-usul. Setelah Islamisasi rintisan oleh orang Melayu, naskah mulai menggunakan sistem penanggalan yang lebih presisi dan narasi yang lebih logis-kausalitas (mirip dengan gaya historiografi Melayu seperti Sejarah Melayu).

Jadi, Istilah-istilah Melayu dalam naskah Lontara adalah “saksi bisu” yang paling otentik mengenai kontribusi orang Melayu di Pangkep. Penyerapan kosakata ini membuktikan tiga hal, yaitu Bahasa Melayu sebagai jembatan dakwah sebagai jalan mempermudah pemahaman ajaran Islam, Eksistensi Komunitas Melayu, menunjukkan adanya pemukiman permanen orang Melayu di wilayah Kerajaan Siang, serta Intelektualisasi Budaya Lokal yang mengangkat derajat literasi lokal menuju standar peradaban Islam global.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi:

Studi Linguistik dan Serapan

Gonda, Jan. (1973). Sanskrit in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture. (Membahas akar kata Melayu-Sanskerta yang masuk ke Sulawesi).

Jones, Russell. (2007). Loan-words in Indonesian and Malay. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Yatim, Nurdin. (1983). Subsistem Fonologi Bahasa Makassar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kassim, Ahmad. (1982). Sistem Tulisan Lontara: Suatu Tinjauan Linguistik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Historiografi dan Naskah Lontara

Hadjrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep: Edisi Teks dan Kajian Filologis. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Abbas, Irwan. (2013). Siang dalam Arus Sejarah Sulawesi Selatan. Makassar: De La Macca.

Caldwell, Ian. (1988). South Sulawesi A.D. 1300-1600: Ten Bugis Texts. Thesis: Australian National University.

Pelras, Christian. (2006). The Bugis (Manusia Bugis). Jakarta: Nalar.

Macknight, C.C. (2016). The Bugis Lontara’ Script. Canberra: ANU Press.

Matthes, B.F. (1859). Makassaarsch-Hollandsch Woordenboek. Amsterdam: Muller. (Kamus klasik yang mencatat banyak kata serapan).

Islamisasi dan Peran Melayu

Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana.

Andaya, Leonard Y. (2004). The Heritage of Arung Palakka. Leiden: KITLV Press.

Putuhena, M. Shaleh. (2003). Islamisasi di Sulawesi Selatan. Makassar: IAIN Alauddin Press.

Reid, Anthony. (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680. New Haven: Yale University Press.

Sweeney, Amin. (1987). A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Berkeley: University of California Press.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR