Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 2 (2)

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 2 (2)

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 2, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

5. Sekelumik Akhlaq Nabi Muhammad SAW 

a. Sesungguhnya Nabi SAW. adalah teladan yang baik bagi kaum muslimin, baik perkataan-perkataan beliau, perbuatan-perbuatannya, peri hidup bahkan juga dalam ibadahnya. Allah Ta’ala telah berfirman : “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik untuk dirimu” (Al Ahzab : 21), Maka wajib bagimu untuk meneladani dan mengikuti beliau supaya engkau memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, dan memperoleh kemuliaan lahir dan batin.

b. Sesungguhnya termasuk akhlak Nabi SAW. adalah berkata jujur. Nabi SAW. tidak pernah berdusta, baik dalam keadaan sungguh-sungguh maupun pada waktu bersenda gurau. Sifat ini telah termasyhur pada beliau sejak masa kecilnya dan disaksikan sendiri baik oleh lawan-lawan beliau, lebih-lebih oleh kawannya sendiri. Di awal masa kenabiannya beliau naik di bukit shafa dan mengundang suku-suku kaumnya dengan suara yang lantang. Ketika mereka berkumpul, Nabi.SAW. berseru kepada mereka : “Jika aku beritahu-kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang akan menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku ?”

Maka dengan serentak mereka pun menjawab: “Kami tidak pernah mendengar darimu, kecuali perkataan yang benar.”

Nabi SAW. dikenal dengan sifatnya yang bertanggung jawab sehingga tersohor di antara kaumnya dengan gelar Muhammad Al-Amien (yang jujur). Ketika kaum Quraisy memperbaiki bangunan Ka’bah, mereka berselisih paham tentang siapa yang paling berhak meletakkan Al-Hajarul Aswad di tempat semula, sampai sampai mereka saling mengancam untuk berperang. Sampai akhirnya mereka sepakat bahwa orang yang pertama kali masuk pintu masjid, Itulah yang berhak memutuskan.

Ketika mereka tahu Rasulullah orangnya yang kali pertama masuk pintu masjid, betapa gembira hati mereka dan mereka sama berkata, “Inilah dia orang yang jujur, kita semua rela ia menjadi penengah.” Maka Rasulullah pun lalu meletakkan batu itu di atas selembar kain seraya berkata, “Hendaknya setiap pimpinan Suku memegang ujung masing-masing kain.”

Akhirnya mereka sepakat dengan pendapat Nabi SAW. Nabi yang bersama-sama mereka angkat batu itu, baru kemudian meletakkan Al-Hajarul Aswad di tempat semula dan hilanglah semua perselisihan.

Banyak orang Quraisy menitipkan barang berharga di kediaman Rasulullah. Ketika beliau hendak hijrah ke Madinah,yang paling menjadi fikirannya adalah siapa orang yang mewakilinya untuk mengembalikan semua titipan itu kepada pemiliknya. Maka beliau lalu memerintahkan Sayyidina Ali r.a. untuk melakukannya. Kata Rasulullah kepadanya, “Jangan tinggalkan Makkah hingga engkau selesai melaksanakan tanggung jawab.”

Dalam hadits: “Demi Allah, Sesungguhnya akulah orang yang jujur di langit dan di bumi.”

c. Menepati janji juga menjadi akhlak Rasulullah SAW. Abdullah bin Abil Hamsaa’ berkata, “Pernah aku menjual sesuatu kepada Nabi SAW. sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan masih ada sisa baginya. Maka aku berjanji untuk . membawanya kepada beliau di tempat yang telah ditentukan. Ternyata aku lupa. Dan baru teringat setelah 3 hari kemudian. Ketika aku datang, ternyata beliau masih berada di tempatnya.”

Maka beliau berkata, “Wahai anak muda, engkau telah. memberatkanku. Aku di sini selama 3 hari menantimu.” Begitu pula sifat tawadhu’ (rendah hati) maka sering Rasulullah duduk bersama para sahabat-sahabatnya dimana pun beliau mendapati majlis itu berada dan berbaur berjalan di antara mereka serta tidak minta tempat khusus diantara sahabatnya.

Maka sewaktu Nabi SAW. memasuki Makkah bersama 10.000 prajuritnya beliau duduk diatas untanya sambil – menundukkan kepala menatap pelana untanya karena. merendahkan diri dan takut kepada Allah.

Dan juga ketika Nabi SAW. menunaikan haji pada Haji Wada’ bersama 100.000 sahabatnya, beliau menaiki unta yang pelananya sudah usang dan di atasnya dilapisi alas yang – harganya cuma 4 dirham, padahal waktu itu beliau sudah menguasai Jazirah Arab.

Pernah diserahkan harta yang banyak kepadanya, tapi beliau nafkahkan semuanya di jalan Allah. Dan waktu berhaji beliau menyembelih 100 ekor unta.

Dalam suatu perjalanan yang panjang, Rasulullah memerintahkan para sabahat. menyiapkan seekor kambing. Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, aku yang menyembelihnya.” Yang lain berkata, “Aku yang mengulitinya.” Yang lain lagi berkata, “Aku nanti yang memasaknya.” Jawab Rasulullah SAW., “Aku nanti yang mengumpulkan kayu untuk membakarnya.” Maka para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang bekerja mencukupimu.”

Nabi SAW. berkata, “Aku tahu bahwa kalian melayani aku, tapi aku tidak suka diistimewakan oleh kalian. Sesungguhnya Allah SWT. tidak suka bila diantara hambaNya diistimewakan di antara teman-temannya.”

Di antara sifat tawadhu’ Nabi SAW. ialah, apabila melewati anak-anak kecil, beliau memberi salam kepada mereka dan tidak berkenan seseorang berdiri dari duduknya untuk menyambutnya. Beliau menambal bajunya, memperbaiki sandalnya, memerah susu kambingnya, menyapu rumahnya, dan melayani keluarganya.

Nabi SAW. membawa sendiri barang yang dibelinya dari pasar. Melihat hal itu sahabatnya bersimpati, “Berikan barang itu kepadaku biar aku yang membawanya.” Maka jawab beliau, “Pemilik barang lebih berhak untuk membawanya.”

d. Dan termasuk di antara akhlak Nabi SAW. yang lainnya ialah sifat sabar, tenggang rasa dan pemaaf. Ketika beliau sedang shalat di dekat Ka’bah dan sekelompok orang Quraisy sedang duduk di majelis mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Tidakkah kalian lihat orang yang riya’ (mencari pujian) ini ! siapa di antara kalian yang sanggup ke tempat pembantaian unta si Fulan, ambil kotoran, darah dan isi jerohannya, lalu bawa kemari dan tunggu sampai ia sujud, lalu letakkan ia di antara kedua pundaknya ?” Maka bangkitlah orang yang paling sengsara di antara mereka, Ugbah bin Abi Mu’aith. Ketika Nabi SAW. sujud, dia letakkan kotoran itu di antara kedua pundaknya sehingga Nabi SAW. tetap bertahan sujud. Mereka pun tertawa dengan keras sampai masing masing mereka saling bersandar kepada yang lainnya. Begitu Sayyidatina Fatimah (putri Nabi) yang masih kecil itu tahu tentang kejadian itu, bergegaslah dia ke tempat Nabi SAW. yang tetap sujud, dia mengambil jerohan itu dan dilemparkannya kearah mereka. Dia maki mereka dan dia do’akan mereka agar binasa.

Setelah beliau diangkat menjadi Nabi, beliau tinggal di Makkah selama 13 tahun. Nabi SAW mereka ganggu dengan berbagai macam gangguan. Mereka melempari dengan batu hingga sandalnya berlumuran darah. Akan tetapi Nabi SAW. masih tetap juga mendo’akan mereka, “Ya Allah, berilah kaumku petunjuk, karena mereka belum tahu.” Nabi SAW. mereka lempari sampai patah gigi gerahamnya dan mereka lukai mukanya serta mereka jatuhkan.ke dalam lubang. Akan tetapi beliau masih memaafkan mereka dan tidak mendo’akan kebinasaannya.

Begitu pula Nabi SAW. memaafkan wanita Yahudi yang, mencoba menghidangkan: daging kambing beracun supaya ‘peliau memakannya, dan peristiwa lain. Ketika sukses menaklukkan Makkah, beliau maafkan . penduduknya, sedang mereka sudah menyangka Rasulullah akan membalas atas perlakuan mereka dengan membunuh mereka atau dengan cara lainnya.

e. Diantara kesabaran Nabi SAW. ialah beliau di didik dalam hidup sederhana di rumah pamannya Abu Thalib, dan merasa puas dengan apa yang diterimanya, tidak suka berebut makanan dengan teman-temannya. Telah disaksikan sendiri seperti yang oleh pengasuhnya Ummu Aiman. Dan ketika Allah memberinya kekayaan, beliau malah menjauhi kesenangan duniawi dan hanya mengambil sekedar kebutuhan.

Maka Rasulullah tidur di atas selembar tikar yang tiada – sesuatu apa pun di bawahnya. Dengan bantal yang terbuat dari kulit berisi sabut, dan pakaian yang terbuat dari wool yang tebal, dan hanya makan kurma dan gandum. Sering selama sebulan, dua bulan keluarganya tidak menyalakan api. Mereka cukup makan kurma dan air saja. Bahkan beliau terbiasa tidur dalam keadaan lapar dan paginya beliau niati berpuasa.

Untuk menjaga dari lapar, Nabi SAW. mengikat batu pada perutnya dan kalau Rasulullah dibawakan harta yang banyak, beliau tidak menyimpan sedikitpun untuk dirinya. Bahkan sewaktu beliau wafat baju besinya masih tergadai pada seorang Yahudi hanya untuk membeli 30 sha’ gandum. (Ukuran 1 sha’ = 2,5 kg, jadi 30 sha’ = 75 kg).

Seandainya Nabi SAW. ingin bersenang-senang di dunia, niscaya beliau sanggup melakukannya. Akan tetapi beliau lebih-lebih memilih hidup zuhud, (zuhud artinya : meninggalkan kesenangan duniawi dan memilih kesenangan akhirat dan sabar).

f. Di antara akhlak Nabi SAW. yang lain adalah rasa malu dan menjaga penglihatan. Rasa malu Rasulullah lebih besar dibanding rasa malunya gadis dalam pingitan sekalipun. Apabila Nabi SAW. tidak menyukai sesuatu, hal itu dapat diketahui pada wajahnya.

Beliau tidak pernah berbicara dengan seseorang tentang sesuatu yang tidak disukainya dan tidak sekali-kali menatap wajah lawan bicaranya. Jika sampai kepadanya tentang ucapan seseorang yang tak disukainya, beliau tidak lalu mengatakan : “kenapa si Fulan mengatakan begitu.” Akan tetapi beliau hanya berkata, “Kenapa orang-orang suka melakukan dan mengatakan begitu ?” Rasulullah melarang perbuatan-perbuatan itu dan tidak menyebut pelakunya. Beliau pantang dari menyebutkan siapa yang tidak berkata baik.

Rasulullah SAW. juga sangat memelihara kehormatan diri dan qana’ah/merasa cukup. Sehingga tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan wanita seorangpun yang bukan ‘ mahramnya. Beliau reta dengan pakaian dan makanan seadanya, “ tidak meminta yang tidak ada, apalagi mencobanya, tetapi bila Rasulullah suka, beliau makan dan jika tidak berkenan cukup ditinggalkannya tanpa menyuruh orang lain membencinya.

Dan akhlak Rasulullah yang lain adalah sifat pemberani, inilah yang merangsang beliau untuk masuk kancah perang karena dekatnya beliau dari musuh. Disamping itu beliau teguh dalam membela prinsip dalam menunaikan kewajiban serta tidak memperdulikan hambatan-hambatan yang berat dan gangguan-gangguan yang besar.

Dalam membela agama, beliau sering diganggu begitu pula keluarga dan para sahabatnya oleh para musuh sehingga . beliau menyuruh mereka hijrah ke Habasyah. (Ethiopia), sampai dua kali. Pernah beliau di masukkan oleh kaum kafir Quraisy ke dalam Asy-Syi’ib (perkampungan yang besar) selama 3 tahun. Maka putuslah makanan dan tidak sampai kepada mereka, kecuali secara sembunyi sehingga mereka hanya makan dedaunan.

g. Kedermawanan dan kemurahan hati. Nabi SAW. tidak pernah menghardik orang yang meminta sesuatu darinya. Apabila tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan, beliau berjanji untuk memberinya di lain waktu.

Pernah suatu hari kepadanya dibawakan uang sebanyak 90.000 dirham. Belum sampai beliau duduk uang sudah dibagikannya. Kemudian datang seorang peminta. Maka Nabi SAW. berkata kepadanya, “Berhutanglah, nanti kami yang akan melunasi hutangmu itu.”

Pada suatu hari Nabi SAW. memberikan kambing yang banyak kepada seorang laki-laki sampai jumlahnya menutupi celah antara dua gunung. Kemudian ia pulang kepada kaumnya dan berkata, “Masuklah kalian semua dalam Islam, karena Muhammad memberi suatu pemberian sebagai orang yang tidak takut miskin.” Nabi SAW. sangat belas kasih dan sayang Kepada: semua makhluk. Sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Al-Anbiyaa’ : 107).

Di antara kasih sayang Nabi SAW. ialah pada suatu saat ketika beliau sedang shalat dan ia menggendong Umamat di atas pundaknya seorang cucu perempuannya dari putrinya Zainab. Apabila sedang sujud beliau meletakkan sang cucu dan pada waktu berdiri beliau menggendongnya lagi.

Diceritakan Anas bin Malik r.a. Mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Abu ‘Umair. Ia mempunyai teman bermain seekor burung kecil berparuh merah. Pada suatu hari burung itu mati Pada saat Nabi SAW. masuk dan melihat anak Itu sedang bersedih.

Beliau bertanya, “Kenapa dia ?” Dikatakan kepada beliau, “Burungnya mati.” Nabi SAW. berkata, “Hai Aba ‘”Umair, apa yang dilakukan si burung Nughair ?”

h. Setia, menepati janji, silaturrahim dan bergaul dengan baik. Apabila Nabi SAW. mendapat hadiah, beliau berkata, “Bawalah itu kepada si Fulanah, karena ia adalah teman Khadijah dan ia mencintai Khadijah.”

Pada suatu hari ketika Nabi SAW. sedang duduk datang ayahnya (suami ibu susunya). Maka beliau gelarkan selembar bajunya dan duduklah sang ayah di atasnya. Kemudian datang pula ibu susunya, maka digelarnya bajunya yang lain pada sisi yang lain, sehingga sang ibu duduk di atasnya. Kemudian datang menyusul kepadanya saudaranya sesusuan. Maka berdirilah Rasulullah SAW. dan mendudukkannya di hadapannya.

Nabi SAW. sangat menghormati pamannya Al-Abbas sebagaimana hormat beliau terhadap ayah dan ibunya sendiri. Beliau selalu tersenyum kepada para sahabatnya dan menghormati semua teman duduknya. Apabila tidak berjumpa dengan salah seorang sahabatnya selama 3 hari, beliau akan menanyakannya. Jika sedang pergi, beliau mendo’akan keselamatannya. Tapi jika ada di rumah, beliau mengunjunginya. Dan jika sakit beliau menjenguknya.  (*)

 

(Bersambung …. )

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR