
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Adab pada Waktu Duduk
Anak perempuan dapat diketahui apakah ia seorang anak yang beradab atau tidak beradab, dengan gerakangerakan dan diamnya.
Maka bila engkau duduk, wajiblah engkau mengikuti hasihat-nasihat ini:
1. Hendaklah engkau duduk dengan cara yang baik. Duduklah dengan tegak dan tenang. Janganlah membungkukkan kepala atau badanmu, jangan mengulurkan kedua kakimu dan jangan pula membunyikan jari-jarimu, begitu pula jangan mempermainkan, mengaitkan atau menggunting kuku di hadapan orang banyak.
Apabila engkau duduk di atas kursi, maka janganlah meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain dan jangan menggerakkannya. Apabila engkau ingin memanggil seseorang, maka janganlah menunjuk kepadanya dengan jari atau kepalamu, tetapi panggillah dia dengan suaramu yang halus agar tidak mengganggu orang yang hadir. Janganlah engkau bergurau dengan cara yang tidak pantas atau tertawa tanpa alasan, atau juga banyak bergurau dan tertawa.
Dalam tafsir disebutkan bahwa ketika sebagian sahabat radhiyallahu “anhum banyak bergurau turunlah firman Allah Ta’ala: “Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” (Al Hadiid: 16).
Janganlah engkau berbicara dengan suara keras, menggunjing seseorang, memakinya atau menyebar luaskan rahasianya. Nabi SAW. bersabda: “Majelis-majelis itu harus disertai dengan amanat.”
Janganlah engkau berbicara dusta guna memancing orang-orang yang hadir untuk tertawa. Dalam hadits disebutkan: “Celakalah orang yang menceritakan suatu cerita dengan berbohong supaya orang-orang tertawa. Celakalah baginya, celakalah baginya.”
2. Hendaklah engkau perhatikan suasana majelis.
Apabila merupakan majelis gembira, maka ikutlah bergembira dengan para hadirin yang lain. Begitu pula sebaliknya. Janganlah engkau tertawa di majelisnya orang-orang berduka, atau bersedih di saat orang-orang berada dalam majelis gembira. Ini tidak sesuai dengan perasaan lagi tidak pantas.
Hendaklah engkau melapangkan tempat bagi siapapun yang hendak duduk, sesuai dengan firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: berlapang-lapanglah di dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu” (Al-Mujaadilah: 11).
Hendaklah engkau perlakukan teman-teman dudukmu secara baik. Engkau tersenyum kepadanya, mendengarkan perkataannya dan tidak mengganggunya. Engkau hormati setiap orang yang hadir di majelis, terutama ayah ibumu juga gurumu.
Apabila datang orang yang lebih tua darimu, maka berdirilah untuk menghormatinya, dahulukanlah ia di majelis dan mundurlah sedikit darinya. Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi SAW. memerintahkan kepada orang-orang Anshar r.a.: “Berdirilah untuk menyambut pemimpinmu.” yakni Sa’ad bin Mu’adz r.a.
Datang seorang tua yang sudah lanjut usia hendak menemui Nabi SAW., agaknya orang-orang sedikit lambat memberi tempat untuknya. Maka Nabi SAW. bersabda: “Tidaklah termasuk golonganku, siapa yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.”
Apabila engkau memasuki suatu majelis, maka berilah salam kepada para hadirin perempuan dan berjabat tanganlah dengan mereka. Mulailah dengan mereka yang di sebelah kahan. Apabila engkau hendak keluar, maka berilah salam pula.
Nabi SAW. bersabda: “Apabila seseorang dari kamu tiba di suatu majelis, maka berilah salam dan bila akan berdiri, hendaklah pula ia memberi salam. Tidakkah salam yang pertama lebih patut dilakukan daripada yang terakhir.”
3. Janganlah engkau menyuruh seseorang berdiri dari tempatnya, karena perbuatan itu haram.
Disebutkan dalam hadits: “Janganlah seseorang dari kamu menyuruh seseorang berdiri dari majelisnya, kemudian ia duduk di situ, tetapi lapangkanlah tempatmu.” Apabila seseorang berdiri dari tempatnya, lalu engkau duduk di tempat itu, kemudian ia ingin kembali ke situ, maka janganlah mencegahnya, karena ia lebih berhak atas tempat duduknya yang pertama.
Dalam hadits disebutkan: “Apabila seseorang dari kamu berdiri dari suatu majelis, kemudian ia kembali ke majelis itu, maka ia lebih berhak atasnya.” Janganlah engkau memisahkan duduk antara dua orang perempuan, kecuali dengan izin mereka. Dan apabila engkau masuk dalam suatu majelis yang khusus bagi mereka yang ada di tempat itu, maka janganlah mengganggu mereka dengan mendesak mereka, dan bila engkau mendapati tempat yang lapang, maka duduklah di tempat itu.
Janganlah engkau duduk di tengah lingkaran. Dalam hadits disebutkan: “Orang yang duduk di tengah lingkaran itu terkutuk (dilaknat).” Hal itu disebabkan bila ia duduk di tengahnya dan membelakangi sebagian dari mereka dengan punggungnya, maka ia pun telah mengganggu mereka sehingga mereka memaki dan melaknatnya.
4. Hendaklah engkau duduk sesuai dengan kemampuan sambil menghadap kiblat. Dalam hadits disebutkan: “Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.” Hendaklah engkau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghadiri majelis-majelis kebaikan yang mana engkau akan mendapat faedah dalam urusan-urusan agama dan duniamu.
Hindarilah majelis-majelis yang buruk atau majelis-majelis tak berguna, yang tidak disebut nama Allah di dalamnya. Nabi SAW. bersabda: “Tidaklah suatu kaum berdiri dari suatu majelis di mana orang-orang tidak menyebut nama Allah, melainkan mereka berdiri seperti meninggalkan bangkai keledai dan majelis itu akan menimbulkan penyesalan atas mereka di hari kiamat.”
Hendaklah engkau menjauhi majelis-majelis yang terdapat kemunkaran, seperti halnya permainan judi atau terdapat khamar/minuman keras di situ. Dalam hadits disebutkan: “Nabi SAW. melarang duduk di majelis hidangan, yang ada orang minum khamar di tempat itu.”
Apabila engkau tidak menemukan teman duduk perempuan yang shalihah, maka hendaklah engkau menyendiri, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.: “Tinggal sendirian lebih baik dari pada duduk berteman dengan yang jahat, dan teman yang baik lebih baik daripada menyendiri.”
Janganlah engkau masuk majelis rahasia sedangkan engkau tidak diundang. Sehingga orang-orang yang hadir tidak marah kepadamu, karena engkau dianggap memata-matai mereka. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka tidak menyukainya, maka pada hari kiamat nanti akan dituangkan timah cair ke kedua telinganya.”
5. Hendaklah engkau duduk di tempat yang terdekat denganmu dan jangan memaksakan duduk di tengah majelis. Sebab Nabi SAW. sendiri tidak punya tempat duduk khusus dari para sahabatnya, karena beliau duduk di mana pun ada tempat duduk kosong.
Begitu pula yang dilakukan sahabat-sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ketika mereka hendak duduk. Apabila engkau duduk di masjid, maka berniatlah untuk i’tikaaf supaya engkau mendapat pahala. Bersikaplah sopan di dalamnya dan jangan bermain atau berteriak, atau mengganggu seseorang yang sedang shalat. Sibukkan dirimu dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir atau membaca shalawat Nabi SAW.
Janganlah bicara urusan duniawi di dalam masjid, apalagi hal-hal yang diharamkan. Dalam hadits disebutkan: “Akan terjadi di akhir zaman nanti, suatu kaum yang membicarakan urusan mereka di masjid-masjid, sedang Allah tidak butuh kepada mereka.”
Dalam hadits lain disebutkan: “Berbicara di dalam masjid dapat menghabiskan pahala amal kebaikan, Sebagaimana hewan memakan rumput.”
Janganlah melangkahi bahu orang-orang yang sudah duduk berbaris, kecuali bila engkau menemukan tempat yang kosong di baris depan. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa melangkahi bahu orang-orang pada hari Jum’at, maka ia telah membuat jembatan menuju jahannam.”
Para ulama berkata, “Sesungguhnya pengharaman melangkahi bahu orang-orang adalah bersifat umum untuk semua majelis, karena perbuatan itu mengganggu orangorang yang duduk dan merendahkan mereka.”
6. Jauhilah kebiasaan-kebiasaan buruk pada waktu engkau duduk.
Maka janganlah memasukkan jarimu ke dalam telinga, ke dalam hidung atau pun ke dalam mulutmu. Jangan mengeluarkan sisa makanan diantara gigigigimu dan jangan membuang ingus dengan tanganmu, tetapi bersihkanlah dengan sapu tangan yang bersih sambil menutup hidung tanpa mengeraskan suara.
Apabila engkau batuk, maka letakkan sapu tanganmu di atas mulutmu supaya air ludahmu tidak bertebaran keluar. Apabila engkau menguap, maka tahanlah sekuat tenagamu dengan meletakkan tangan kirimu pada mulut atau dengan menutup kedua bibirmu.
Jika engkau tidak sanggup, maka tutuplah mulutmu dengan punggung telapak tangan kirimu dan jangan menimbulkan suara. Nabi SAW. bersabda: “Apabila seseorang dari kamu menguap, hendaklah ia letakkan tangan di atas mulutnya, karena syaitan masuk waktu ia menguap.”
Dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila seseorang dari kamu menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin dan jangan mengatakan: “Hah, hah,” karena hal itu termasuk perbuatan syaitan yang mentertawainya.
Para ulama berkata, “Karena bersin menunjukkan ringannya badan dan kegiatan, sedangkan menguap biasanya menunjukkan-badan yang berat dan penuhnya perut, sehingga menimbulkan kemalasan. Maka Nabi SAW. mengaitkannya dengan syaitan, karena syaitan menyukainya.”
7. Apabila engkau bersendawa’ (mengeluarkan bunyi dan udara dari kerongkongan sehabis makan kenyang atau bersin), maka letakkanlah tanganmu atau sapu tangan di atas mulutmu supaya tidak bertebaran air ludahmu dan mengganggu orang karena sendawamu.
Janganlah mengeraskan suara ketika bersendawa. Dalam hadits disebutkan: “Apabila seseorang dari kamu bersendawa atau bersin, maka janganlah mengeraskan suara, karena syaitan menyukai bersendawa atau bersin dengan suara keras.”
Apabila engkau bersin, ucapkanlah Alhamdulillah. Telah disebutkan dalam hadits: “Apabila seseorang dari kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan: Alhamdulillah. Dan hendaklah saudara atau temannya menjawabnya: Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu).
Apabila temannya mengatakan: Yarkamukallahu, maka orang yang bersin sunnah menyahuti: Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberi petunjuk kepada kamu dan memperbaiki hatimu).
Apabila seorang anak yang belum baligh bersin di dekatmu, lalu mengatakan: Alhamdulillahi robbil ‘alamien, maka jawablah: Baarokallahu fiika ya ghulaam (semoga Allah memberkatimu wahai anak kecil).” Demikianlah disebutkan dalam hadits.
8. Janganlah engkau duduk di jalanan. Sebab Nabi SAW. telah melarang kita untuk melakukan itu. Apabila harus dilakukan, maka berilah jalanan itu haknya, yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits: “Menjaga pandangan (dari yang terlarang), mencegah gangguan, menjawab salam, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.”
Apabila engkau berdiri dari tempat duduk, maka bacalah do’a yang diriwayatkan dari Nabi SAW.: “Subhanakallahumma wa bihamdika, Asyhaduan laa ilaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Barangsiapa mengucapkan itu diampunilah dosanya yang terdapat di majelis itu. (*)
(Bersambung …. )