Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Matan Jazariyah dan Terjemahnya – 2

Matan Jazariyah dan Terjemahnya - 2

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Pada postingan pertama telah diperkenalkan Apa dan siapa penyusun Kitab Matan Aljazariyah, serta terjemahnya untuk Bab Muqaddimah, Makharijal Huruf, dan Sifat Huruf. Pada postingan kedua ini, akan diketengahkan Terjemah 3 Bab setelahnya.

 

(27) وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لاَزِمُ ۞ مَنْ لَمْ يُجَوْدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

 

Artinyaa:

Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al- Quran, maka ia berdosa.

 

(28) لأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ ۞ وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

 

Artinya:

Karena bersama dengan tajwid Allah menurunkan Al-Quran dan cara membacanya. Serta bersama dengan tajwid pula Al-Quran dan cara membacanya sampai kepada kita.

 

(29) وَهُوَ أَيْضاً حِلَْيةُ التِّلاَوَةِ ۞ وَزِينَةُ الأَدَاءِ وَالْقِرَاءَةِ

 

Artinya:

Dan tajwid juga merupakan penghias bacaan Al-Quran. Bacaan Al-Quran menjadi indah karena tajwid, bukan sekedar karena indahnya suara atau langgam.

Baik itu saat tilawah (tadarrus/ wiridan), adaa (talaqqi/ mengambil bacaan dari guru), ataupun qiraah, yakni membaca secara umum. Artinya, Al-Quran mesti dihiasi dengan tajwid dalam keadaan apapun.

 

(30) وَهُوَ إِعطْاءُ الْحُرُوفِ حَقَّهَا ۞ مِنْ صِفَةٍ لَهَا وَمُستَحَقَّهَا

 

Artinya:

Tajwid adalah memberikan setiap huruf hak, berupa sifat-sifatnya dan juga mustahaknya.

 

(31) وَرَدُّ كُلِّ وَاحِدٍ لأَصلِهِ ۞ وَاللَّفْظُ فِي نَظِيرِهِ كَمِثْلهِ

 

Artinya:

Tajwid juga artinya adalah mengembalikan setiap huruf ke makhraj asalnya. Yakni tidak mengucapkan huruf hijaiyah sembarangan bukan dari tempat keluar yang sebenarnya.

Serta konsisten dalam membaca lafazh-lafazh yang sama hukumnya, tidak membeda-bedakan satu sama lainnya (dalam sekali baca). Misalnya kita membaca mad wajib dengan 5 (lima) harakat pada satu ayat, maka bila bertemu dengan mad wajib di ayat yang lain, kita harus membacanya 5 (lima) harakat, dengan hitungan yang sama. Begitu pula pada hukum-hukum tajwid yang lain.

 

(32) مُكَمِّلاً مِنْ غَيْرِ مَا تَكَلُفِ ۞ بِاللُطْفِ فِي النُّطْقِ بِلاَ تَعَسُّف

 

Artinya:

Tajwid juga bermakna membaca Al-Quran dengan sempurna, baik dari sisi makhraj, sifat, dan hukum-hukumnya tanpa berlebih-lebihan, seperti orang yang mengucapkan Hamzah terlalu ditekan sehingga mirip orang yang muntah, atau mengucapkan mad yang dua harakat menjadi empat hingga enam harakat.

Jadi usaha kita adalah mengerahkan kemampuan sekuat tenaga hingga tercapai kesempurnaan bacaan, bukan untuk melebihi kapasitas dari apa yang disyari’atkan. Lalu mengalirkan bacaan dengan pengucapan yang lembut tanpa serampangan, yakni dengan mudah dan ringan saat mengucapkannya, namun tetap memenuhi kadar ketentuan yang telah ditetapkan. Bukan mengucapkannya sembarangan dan asal-asalan semau kita.

 

(33) وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ تَرْكِهِ ۞ إِلاَّ رِيَاضَةُ امْرِئٍ بِفَكِّه

 

Artinya:

Dan tidak ada yang membedakan antara orang yang mengamalkan tajwid dengan orang yang meninggalkannya, kecuali latihan terus menerus secara konsisten dengan lisannya. Artinya, seseorang yang mempelajari tajwid tidak akan mendapatkan apa-apa. Ia tidak akan berbeda dengan orang yang tidak mempelajari tajwid kecuali bila ia rajin melatih ilmu yang dipelajarinya dengan konsisten dan diiringi dengan kesabaran.

 

 

(34) … فَرقَّقَنْ مُسْتَفِلاً مِنْ أَحْرُفِ … وَحَاذِرَنْ تَفْخيِمَ لَفْظِ الأَلِفِ

 

Dan tarqiq-kanlah (tipiskan) suara pada huruf-huruf Istifal, karena kondisi asal mereka adalah tipis (kecuali Alif, Lam, dan Ra). Serta berhati-hatilah jangan sampai men- tafkhim-kan (menebalkan) lafazh Alif bila sebelumnya huruf-huruf tarqiq.

 

(35) … كَهَمْزِ أَلْحَمْدُ أَعُوذُ إِهْدِنَا … أللَّهَ ثُمَّ لاَمَ لِلَّهِ لَنَا

 

Juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Hamzah, seperti pada kata “Alhamdu”, “A’uudzu”, “Ihdinaa”, dan kata “Allaah”. Kemudian berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Lam pada kata “Lillaahi”, “Lanaa”. ‘

 

(36) … وَلْيَتَلَطَّفْ وَعَلَى اللَّهِ وَلاَ الضْ … وَالمِيمِ مِنْ مَخْمَصَةٍ وَمِنْ مَرَضْ

 

Juga kata “Walyatalaththaf”, “’Alallaahi”, dan pada kata “Waladh”. Juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Mim, seperti pada kata “Makhmashah”, dan “Mim Maradh”.

 

(37) … وَبَاءَ بَرْقٍ بَاطِلٍ بِهِمْ بِذِي … وَاحْرِصْ عَلَى الشِّدَّةِ وَالجَهْرِ الَّذِي

 

Juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Ba, seperti pada kata “Barqin”, “Baathil”, “Bihim”, dan “Bidzi”. Lalu jagalah baik-baik sifat Syiddah dan Jahr yang ada pada.

 

(38) … فِيهَا وَفِى الْجِيِمِ كَحُبِّ الصَّبْرِ … ورَبْوَةٍ اجْتُثَّتْ وَحَجِّ الْفَجْرِ

 

Huruf Ba dan Huruf Jim, seperti kalimat “Hubbi”, “Ash-Shabri”, “Rabwatin”, “Ujtutstsat”, “Hajji”, dan “Al-Fajri”. Maksudnya jangan sampai menjadikan huruf Ba menjadi huruf yang Rakhawah atau Hams, begitu pula huruf Jim, jangan sampai menyerupai huruf “C”.

 

(39) … وَبَيِّنَنْ مُقَلْقَلاً إِنْ سَكَنَا … وَإِنْ يَكُنْ فِي الْوَقْفِ كَانَ أَبْيَنَا

 

Dan jelaskanlah sifat Qalqalah bila hurufnya berada pada posisi sukun, dan bila berada di akhir kalimat (waqaf), maka Qalqalah-nya mesti lebih jelas lagi.

 

(40) … وَحَاءَ حَصْحَصَ أَحَطْتُ الْحَقُّ … وَسِينَ مُسْتَقِيمِ يَسْطُوا يَسْقُوا

 

Dan juga berhati-hatilah jangan sampai menebalkan huruf Ha, seperti pada kata “Hash-hasha”, “Ahath-tu”, “Al-Haqqu”. Begitu pun pada huruf Sin, jangan sampai menebalkannya, seperti pada kata “Mustaqiim”, “Yasthu”, dan “Yasqu”.

 

 

(41) … وَرَقِّقِ الرَّاءَ إِذَا مَا كُسِرَتْ … كَذَاكَ بَعْدَ الْكَسْرِ حَيْثُ سَكَنَتْ

 

Dan tipiskanlah suara huruf Ra bila berharakat kasrah. Begitu pula tipiskan huruf Ra bila berada pada posisi sukun dan huruf sebelumnya kasrah (atau Ya).

 

(42) … إِن لَّمْ تَكُنْ مِنْ قَبْلِ حَرْفِ اسْتِعْلاَ … أَوْ كَانَت الْكَسْرَةُ لَيْسَتْ أَصْلاَ

 

Huruf Ra yang berada pada posisi sukun dan sebelumnya kasrah (atau Ya) itu dibaca tipis bila huruf Ra-nya tidak berada sebelum huruf Isti’la. Adapun bila setelah huruf Ra-nya adalah huruf Isti’la, maka Ra dibaca tebal.

Begitu pun bila setelah huruf Ra-nya bukan huruf Isti’la, namun kasrah yang ada sebelum huruf Ra sukunnya bukanlah kasrah asli, melainkan kasrah ‘aridh (palsu) atau Hamzah washal, maka Ra dibaca tebal bukan tipis.

 

(43) … وَالْخُلْفُ فِي فِرْقٍ لِكَسْرٍ يُوجَدُ … وَأَخْفِ تَكْرِيراً إِذَا تُشَدَّدُ

 

Dan para Ulama berbeda pendapat pada kata “firqin” bila dibaca bersambung (washal). Apakah ia dibaca tebal atau tipis. Karena walaupun di sana setelah huruf Ra- nya terdapat huruf Isti’la (Qaf), namaun huruf Isti’la tersebut berada pada posisi kasrah, dimana ia berada pada derajat tafkhim yang sangat lemah.

Dan sembunyikanlah sifat takrir pada huruf Ra saat ia ditasydidkan. Jadi mengucapkan huruf Ra yang bertasydid bukanlah dengan memperbanyak getarannya seperti menahan huruf “R” dalam bahasa Indonesia, melainkan dengan menyembunyikan getarannya.

 

Bersambung ……

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Ilmu Tajwid/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Teks dan Terjemah 'Usfuriyah (2)
Oleh : Immim pangkep

Teks dan Terjemah ‘Usfuriyah (2)

0 Komentar

KELUAR